Dipulangkan

1292 Kata
Kapsul yang ditembakkan itu seketika terbuka. Aku pun keluar dengan tubuh melayang-layang, posisi tubuhku saat ini benar-benar lemah dan hanya kubiarkan seperti sedang terapung-apung begitu saja. Setelah kapsul berada sedikit berjauhan dariku, maka ia pun meledak. Aku sampai pada tempat yang seperti aku baru sampai di awal tadi. Samudera gelap dengan kehampaan. Aku lalu terhisap ke dalam sebuah terowongan panjang seperti awal aku tadi. Alarm di kepalaku asih terus saja menyala. Aku mencoba memukul-mukulnya sejak tadi agar berhenti, namun tindakanku tidak berhasil. Sebab tanganku pun sudah sengat lemah, mungkin tidak cukup tenaga untukku benar-benar memberikan benturan keras kepadanya. Aku lalu berada di ujung terowongan. Aku lalu tersembur keluar dan jatuh di suatu tempat yang sudah familiar bagiku. Ini adalah stadion tempat semua bermula. Aku jatuh terbentur di lantai arena. Kali ini benar-benar terasa sakit. Suara alarm di kepalaku semakin melambat kemudian seiring dengan hilangnya baju baja di tubuhku, menghilang pula suara alarm itu. Kini aku sudah kembali dengan tubuh manusiaku tanpa berbalutkan pakaian baja itu. Perlahan spektrum warna suasana di sekelilingku kembali seperti semula. Seperti aku melihatnya dari kamera infrared dengan seluruh peserta yang semakin terlihat jelas. Anehnya, mereka semua terdiam seperti patung dengan mulut yang menganga, mata yang terbuka namun tidak berkedip. Aku perlahan melayang kembali ke kursi di tribun sebagaimana yang tadi aku duduki. Aku kini benar-benar dapat melihat para peserta benar-benar mematung. Tatapan mata mereka kosong, seperti tubuh-tubuh tanpa jiwa. Setelah aku sampai di tempat duduk, spektrum pencahayaan kembali menormal. Orang-orang di sekitarku kembali bergerak dan bertingkah normal. Semua ini benar-benar membingungkan untukku. “Hei, Bung, apakah kau mengalami hal-hal yang aneh tadi?” tanya seorang peserta yang mencolek punggungku. “Ya, tentu saja. Seperti bermain di sebuah game bukan?” jawabku. “Iya! Benar! Itu yang kumaksud. Tapi sayangnya saya telah gagal dan baru saja saya ditikam. Tapi ternyata setelah kembali ke sini, tidak ada apapun yang terjadi dengan tubuhku yang tadi sudah luka-luka,” jelasnya. “Begitu ya? Apakah kau tadi sampai ke perang antariksa?” tanyaku. “Apa itu? Antariksa? Tidak, permainan hanya berlangsung di arena itu, di depan sana,” jawabnya. Aku pun menanyakan hal yang sama ke beberapa orang di samping kananku, samping kiriku, dan di depanku. Mereka semua menjawab tidak ada yang ikut bermain game dengan latar tempat yang berbeda. Semuanya bertarung di arena, tidak ada yang berpindah tempat hingga ke antariksa. Ini benar-benar membuatku tertarik dan penasaran. Lagipula, status misiku yang terakhir tadi tidak jelas, tidak ada pemberitahuan berhasil atau tidaknya. Acara pun berakhir. Rasa lemas yang aku alami sudah tidak ada lagi. Aku pikir mungkin tadi teknologi game yang dipasangkan di tubuhku telah kehabisan daya, atau habis batrainya. Setelah berakhir, para peserta pun bubar. Panitia yang menjaga di lorong-lorong meminta gelang untuk dilepaskan dan ditaruh di kotak-kotak yang mereka bawa serta. Setelah acara berakhir, aku pun dapat mengambil kembali barang-barang yang sebelummnya telah aku simpan di loker. Acara yang benar-benar aneh. Mereka tidak menyediakan makanan atau minuman untuk para undangan. Lagipula itu tidak menjadi masalah sih bagiku, karena aku benar-benar tidak merasa lapar atau haus, atau merasa ingin buang air pun tidak. Setelah bubar, para undangan jarang ada yang berkerumun untuk mengobrol atau bertukar informasi, berkenalan dan sebagainya. Mereka langsung pulang begitu saja. Ada yang menggunakan mobil, motor, dan ada yang berjalan kali kemudian naik kendaraan umum. Aku pun keluar dari pintu stadion. Aku sudah tidak menemukan kehadiran Awang lagi di manapun. Ini sudah menunjukkan pukul 00.12. Jelas saja Awang sudah pulang, sebab ia tak akan tahan menunggu selama 4 jam. Aku telah berada pada titik flow state selama berjam-jam seperti itu, jadi definisi waktu menurut otakku dan para undangan lain akan mengalami pergeseran. Sebab aku dan para undangan tadi mempergunakan otaknya dalam konsentrasi tinggi. Astaga, teori relativitas waktu menurut Einstein benar-benar baru saja aku alami. Waktu melengkung atau terlipat dan seseorang menembus jalan pintasnya begitu saja seperti sebuah jarum yang ditusukkan ke sebuah kain yang terlipat. Entahlah mengapa sepulang dari acara tadi pikiranku terus saja meracau mengenai fenomena-fenomena sains yang begitu menakjubkan itu. Aku kembali ke hotel dan aku benar-benar ingin tidur sekarang. Waktu pun berlalu, pagi ini aku dan Awang bertemu kembali. Kami pun bertemu di restoran untuk sama-sama sarapan pagi. “Serius lu? Jadi elu masuk dalam game dan bertarung di sana cuma dengan memakai sebuah gelang karet?” Awang berdecak sambil menggeleng. “Gila banget ya. Teknologi apa coba yang gua pakai semalam? Semalam ini gua bisa ngerasain sensasi jadi Power Ranger, Iron Man, Star Wars, pokoknya gila!” ucapku. Aku begitu ingin mengeluarkan seluruh emosi yang benar-benar mirip dengan apa yang baru saja kualami semalam, tapi aku terbatas dengan kata-kata. “Power Ranger gimana maksud lu? Iron Man? Star Wars?” tanya Awang dengan sangat bersemangat. “Iya Power Ranger. Lu bayangin lu bisa ngendaliin robot raksasa dari dalam kepalanya,” ucapku. “Oh, iya, iya. Pas Power Ranger ngendaliin robot raksasa dari dalam semacam ruangan kokpit di kepala robot. Gua tau, paham, paham. Kalau Iron Man? Apa elu bisa berubah jadi bertubuh besi gitu? Dan Star Wars, elu ada di luar angkasa buat adu tembak gitu?” lanjutnya. “Iyap, kaya gitu! Eh, soal Iron Man bertubuh besi itu elu salah, Wang. Bukan besi itu campuran baja sama emas. Kalau bertubuh besi, doi akan kesulitan buat terbang, soalnya kerjaannya kan terbang-terbang gitu. Terus pas kehujanan doi bakal karatan dong? Terus pas kesembur api, sinar laser, doi bakal meleleh dong?” jelasku. “Oke, oke. Tubuh berbahan campuran baja dan emas ya, bukan besi ya? Ah, elu mah ga berubah-berubah ya sejak SMA lu jago fisika, sampai sekarang tetep aja. Tapi sayang ya kok malah elu masuk jurusan Ekonomi Bisnis,” ucapnya. “Khan elu udah tahu sendiri gimana bokap gua, Wang? Emangnya gua senang masuk ke jurusan itu? Kagak! Empet, gua masuk tu jurusan,” keluhku. “Sabar-sabar lah ya lu Tong. Eh, ngomong-ngomong soal Fisika, mungkin itu salah satu alasannya lu terpilih jadi undangan di acara super-keren semalam. Iya ga sih?” lanjut Awang. “Bisa jadi juga sih. Jadi permainan-permainan di dalamnya, termasuk waktu gua baru nyobain versi online-nya di hape gua itu, ada part-part tertentu yang memerlukan taktik dengan background ilmu fisika Wang,” jawabku. “Kayak gimana kita ngondisiin otak kita biar bisa ngeluarin ekspresi kimia tertentu, soal gimana cara ngatasi rasa takut, rasa serakah ga jelas, bahkan ada misi yang di situ pemainnya dituntuk untuk mengalahkan dirinya sendiri, tahu ga lu?” jelasku. “Gua ga paham-paham banget sih, tapi gua bisa nangkap kok gimana suasana elu itu,” ujar Awang. “Nah, ada juga satu part, di mana gua dihadapi sama monster api. Itu gimana cara ngalahin doi, sementara senjata yang dipegang itu laser?” ujarku. “Api lawannya air dong ya? Laser mah gimana ya, kaya kagak nyambung sih. Terus? Terus?” tanyanya penasaran. “Terus terus mentok, nabrak tembok, bamper penyok Bro!” ujarku. “Eh, dikata Kang Parkir kali?” balasnya. “Lah elu terus terus aja! Jadi, gua ngalahi tu monster dengan cara ngeruntuhin kubah stadion pake laser, jadi doi terkurung gitu. Nah, pas sebelum tu kubah benar-benar nutup, gua sedot semua APAR dan gua selipin noh di dalamnya sambil gua bocorin biar meledak. Jadi pas doi terkurung, Buum!! APAR-APARnya pada meledak. Mati deh doi,” jelasku. “Mati ya. Iya, secara logika khan api kalau dimasukin ruang tertutup bakal mati ya, apalagi dikasih gas yang di dalam APAR tu, apa tu ya, karbon bukan?” ucapnya. “Karbondioksida. Bukan gas juga sih kalo yang ada di dalam APAR,” ujarku. “Iya itu deh pokoknya. Gila gila gila... Memang cocok dah elu terseleksi masuk ke acara semalam,” ucapnya. Obrolan kami pagi ini benar-benar seru. Aku senang bisa berbagi cerita ini kepada Awang. Seandainya aku bisa mengajak Awang semalam, tapi nyatanya tidak bisa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN