Hari-hari yang menyenangkan kemarin sudah berlalu. Kini aku harus kembali ke rutinitas yang menjemukan ini. Ya, aku sudah berada di Jakarta kembali.
“Bim, elu udah belajar ya? Sikap lu santai banget?” ucap salah seorang teman sekelasku yang duduk di sampingku.
Aku hanya membalas pertanyaan temanku itu dengan sebuah senyuman. Bukan sebuah penggambaran perasaan santai karena sudah percaya diri dengan ujian yang akan berlangsung ini, melainkan sebagai bentuk ketidakpedulianku.
Suasana seperti ini sudah aku anggap biasa, mendapatkan nilai bagus atau buruk sebenarnya aku tidak memperdulikannya. Aku hanya menjalani semua rutinitasku ini seperti sebuah boneka, nyaris tanpa nyawa.
Dosen ini, seorang pria tua yang berlagak berjiwa muda, ia yang sangat ditakuti oleh teman-temanku, ia sedang membagikan lembar ujian. Aku melihat wajah-wajah gugup beberapa teman sekelasku, seakan-akan pria tua itu baru saja membagikan reaktor nuklir yang begitu hati-hati untuk disentuh oleh mereka.
Waktu ujian pun dimulai. Soal-soal ini terdiri dari pilihan ganda, sialan. Aku harus berhadapan dengan hafalan-hafalan teori. Sebagian besar soal-soal ini aku anggap sampah. Mungkin aku hanya akan tertolong oleh silogisme yang bisa aku mainkan untuk menjawabnya.
Waktu berlalu. Dering bel di koridor kelas menandakan bahwa waktu kegiatan tatap muka pun berakhir. Mike, Sam, dan Jo pun mendekatiku.
“Yok, cus kantin,” ucap Sam.
Aku lantas berdiri dan Mike merangkul pundakku, kami pun beriringan.
Kami berjalan bersama-sama, empat sekawan yang terkenal good looking dan begitu dipuja. Para gadis-gadis tersenyum-senyum saat kami lewati, ada pula yang saling berbisik. Bagiku, itu tidak terlalu berarti. Mereka hanya pemuja yang menyukai kesempurnaan. Seumpama ada cacat di diriku yang terlihat, aku yakin puja-puji dari mereka akan seketika berganti menjadi cela.
Kami hendak berjalan ke kantin, tiba-tiba langkah kami terhenti oleh beberapa orang gadis yang menghampiri. Salah satu di antaranya terkenal sebagai mahasiswi populer, sedangkan lainnya hanya dayang-dayangnya.
“Hay Viona,” sapa hangat Sam kepada gadis populer itu. Ia tak menjawab sapaan Sam, melainkan langsung berujar kepadaku.
“Bimo, elu kemana aja dua hari kemarin? Kok ga masuk kuliah?” tanya Viona kepadaku sembari memainkan ujung rambutnya yang kelokan-kelokannya tampak berkilau.
Banyak lelaki yang tertarik dengan Viona, termasuk aku. Siapa yang tidak tergoda dengan kemolekan tubuhnya ditambah lagi selalu dibalut dengan pakaian ketatnya. Ya, aku sekedar menyukainya sebatas fisik yang dimilikinya, tapi tidak pernah benar-benar tertarik dengannya secara personal.
Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum tipis kemudian berlalu. Langkahku lalu diikuti oleh Sam, Mike dan Jo.
“Siuwit.. Kita pergi dulu ya cantik,” ucap Jo yang berjalan paling terakhir. Seperti biasa, caranya berbicara dengan gadis-gadis cantik pasti sambil memainkan mata dan mengusap rambutnya.
Aku tidak terganggu dengan masing-masing gaya teman-temanku ini. Meski mereka mengerubungiku seperti para pelayan yang selalu menanti titahku, aku lantas tak pernah melarang apapun yang mereka lakukan selagi tidak membuat ku terganggu.
Seperti itulah hari-hariku di kampus. Hingga pada suatu ketika, di beberapa hari berikutnya.
Di sebuah tangga gedung kampus yang sepi, aku dan teman-teman berkumpul. Tempat ini benar-benar tempat yang pas untuk menghabiskan sebatang rokok tanpa perlu ditegur siapapun.
“Tuh, gua bilang juga apa. Dari sekian mata kuliah, ‘makul’ ini lah yang paling berabe! Eneg gua, sumpah,” keluh Mike.
“Gua memang g*blok ya Bray, tapi untung kali ini walaupun jelek, nilai gua masih ada di range lulus,” timpal Jo.
Percakapan yang tidak ingin aku gandrungi. Aku sangat tidak tertarik membahas hasil ujian kali ini. Sebab aku ini sudah dianggap raja bagi mereka bertiga, lalu bagaimana bila paduka mereka sendiri memiliki nilai yang paling rendah di antara mereka?
“Elu gimana, Bim?” tanya Mike kepadaku.
Belum sempat aku menjawabnya, dan memang aku tidak ingin menjawabnya, tiba-tiba seseorang meneriaku kami.
“Woi! Kalian!”
Itu adalah Pak Security yang mendapati kami sedang melakukan hal yang dilarang di kampus. Kami pun berlari menghindarinya.
Tiba-tiba..
“NGIIING..”
Suara mendenging di kepalaku seakan membuat semua suara di lingkunganku menghilang, perlahan cahaya pun menyilau, seiring dengan degup jantungku yang semakin kencang.
“SIUUW..”
Aku tiba-tiba berada kembali di kelas, tepat sesaat ujian akan dimulai. Aku pun melihat ke lembar ujian, di situ tertera tanggal yang sudah lewat. Rupanya aku kembali ke beberapa hari yang lalu. Aku pikir ini sangat aneh dan tidak normal. Aku pun menggeleng dan menyangkal apa yang tengah terjadi ini.
“SIUUW..”
Tiba-tiba aku sedang berlari karena menghindari Pak Security yang tadi mendapati kami di tangga sudut kampus. Syukurlah, aku ternyata aku sudah kembali ke keadaan normal, di waktu yang semestinya.
Waktu bergulir. Kini sudah malam, semuanya seakan berlalu dengan cepat. Saat ini aku hendak menutup mata dan kembali pada rutinitas seperti biasanya esok hari. Keadaan yang benar-benar menjemukan.
Namun pikiranku masih tergelitik dengan kejadian aneh tadi siang. Aku sangat yakin aku tidak dalam keadaan mengantuk atau melamun. Jelas tidak juga sedang kesurupan, sebab aku sangat tidak mempercayainya.
Di atas ranjangku ini aku perhatikan kedua tanganku baik-baik. Kupikir, apakah kejadian tadi siang ada kaitannya dengan permainan canggih yang sudah aku ikuti sewaktu di Surabaya itu?
Saat itu aku menggunakan gelang silikon berdaya tenaga tinggi. Aku lalu menghayal bagaimana kalau gelang itu masih ada di pergelangan tanganku saat ini. Aku pun menatap tajam bekas tempat gelang itu pernah melingkar.
“ZEEESSTT..”
Sebuah setrum ringan aku rasakan dan sempat terlihat sekelibat mata melalui telapak tanganku.
Aku lantas terperanjat. Apakah semua ini nyata?
Aku jadi teringat kejadian di pesawat sewaktu aku baru saja akan terbang kembali ke Jakarta. Ketika itu petugas pesawat memberitahukan bahwa pesawat terdeteksi sedang terganggu oleh sebuah gelombang radio, dan ia berulang-ulang menghimbau agar sambungan ponsel dimatikan.
Perjalanan terhambat beberapa waktu. Seluruh penumpang diperiksa ponselnya serta alat elektronik yang tengah dibawa agar benar-benar dimatikan seluruhnya. Aku pun saat itu ingin pergi ke toilet, dan semua berlangsung normal kembali setelah aku kembali dari toilet.
Apa yang aku lihat di toilet aku anggap sebagai halusinasi, karena aku begitu merasa mengantuk ketika itu. Aku waktu itu melihat air seniku berubah menjadi biru pekat lalu kembali berwarna normal dalam hitungan detik.
Saat ini aku menjadi berpikiran bahwa semua yang aku alami itu saling berhubungan. Apakah aku kini sedang terkontaminasi zat misterius yang terperangkap di tubuhku seusai aku bermain game canggih itu?
Lantas aku pun menghubungi temanku, ia adalah seorang praktisi robotik di salah satu kampus di Bandung. Akupun menceritakan semua yang terjadi, termasuk cerita mengenai permainan canggih yang aku ikuti itu.
“Pokoknya kita harus ketemu, secepatnya!” ucapnya. Ia begitu khawatir dengan keadaanku. Esok, aku berencana akan pergi ke lab-nya yang ia sebut ‘bengkel’ itu, sebagaimana yang ia minta, ia akan memeriksaku.
**