Hari berganti. Aku menuju Bandung. Di tengah perjalanan tiba-tiba ponselku bergetar.
“Halo?”
“Bimo? Kamu ada di mana, Sayang?”
“Mama. Bimo sudah bilang, Bimo pergi ke tempat teman sebentar,” jawabku.
“Apa tempatnya jauh?” tanya Mama.
“Bandung, Ma,” jawabku.
“Sekarang kamu ada di mana, Sayang?” ucap Mama.
“Bimo baru sampai...”
“Egh...” Mama mengaduh.
“Ada apa, Ma?” tanyaku panik.
“d**a Mama sesak, Sayang,” jawabnya terengah-engah.
Aku yang sedang dalam perjalanan pun seketika itu berpikir untuk langsung kembali pulang. Aku paham betul situasi saat ini.
Papa selalu tidak bisa diandalkan untuk saat-saat seperti ini. Ia terlalu sibuk mengurusi bisnisnya. Seperti biasa pasti mama sudah malas mengabari papa, sehingga hanya mengabariku seperti ini.
“Tunggu Bimo, Ma. Bimo segera pulang sekarang,” jawabku tegas.
Benar saja, setelah aku sampai di rumah, mama sedang berbaring di kamarnya. Beberapa pelayan sedang menemaninya.
“Mama...”
Setiba aku di depan pintu kamar mama, aku pun langsung menujunya dan meraih tangannya. Ia terlihat tersenyum, namun aku masih bisa menangkap ekpresinya menahan sakit.
Wanita berumur yang masih terlihat cantik ini sungguh tidak berdaya sejak dua tahun yang lalu. Hanya aku anggota keluarga di rumah ini yang benar-benar menjadi andalannya.
Beberapa saudara papa yang ikut tinggal di rumah ini seperti tidak begitu peduli dengan kondisi mama. Aku tahu betul apa yang ada di benak mereka. Harta, harta dan harta. Maka itu aku muak dengan kekayaan yang ada di lingkungan keluargaku.
Mungkin yang berpikiran jernih ketika berurusan dengan harta kekayaan hanya aku dan mama saja. Sebab itu kami begitu dekat dan penuh kesamaan berpikir.
Mama pernah bercerita kepadaku bahwa mama dulu berasal dari keluarga yang biasa saja. Sedangkan papa berasal dari keluarga berdarah biru yang sudah turun temurun.
Papa menyukai mama ketika mereka berada di kampus yang sama, lalu mereka menikah dan mama pun masuk ke dalam lingkungan keluarga ini.
Mungkin darah kebangsawanan tidak menurun kepadaku, itu sebab aku selalu muak dengan apa yang justru orang lain kejar. Harta kekayaan.
Ya, aku rasa walaupun orang-orang memandangku sebagai seorang pangeran di lingkungan keluarga ini, aku tetaplah sebagai seorang pesuruh. Mau tidak mau, aku harus mengikuti semua kemauan papa. Meskipun baju kebesaran kerajaan yang aku gunakan sekalipun, itu tidak murni diriku. Aku seperti sebuah manekin saja.
Aku rasa itu pula yang dirasakan oleh mama. Mama adalah wanita cantik dan cerdas yang kalah oleh kekuasaan. Terkurung dalam sangkar emas. Hingga pada akhirnya, ia diketahui mengidap sebuah penyakit kanker, yang bersarang di ulu hatinya.
Aku memandangi kondisi mama yang pucat dan lemas itu. Ia masih cantik, rambutnya masih lebat tidak seperti pengidap-pengidap kanker lainnya.
“Mama Bimo temani ke dokter, ya?” tawarku.
“Enggak, Mama cuma kecapean. Mama mau di sini aja. Bimo temani Mama istirahat, ya Sayang?” ucap mama.
“Tapi, Ma...”
“Jangan ke dokter. Mama ga mau. Dokter suka bicara yang aneh-aneh,” ucap mama.
Mama seperti anak kecil yang ketakutan oleh jarum suntik. Tapi bukan jarum suntik yang mama takutkan. Diagnosa dari dokter. Mama takut menerima kenyataan kalau dirinya mengidap penyakit kanker. Mama takut kalau status penyakitnya ini sewaktu-waktu meningkat ke tahap yang lebih mengkhawatirkan.
Di saat-saat seperti ini, aku berusaha untuk membuat hati mama senang. Mama sudah semakin berumur. Aku tidak bisa menyamakannya sebagaimana menghadapi teman-teman sebayaku. Aku harus bertindak lebih lemah lembut.
“Ngomong-ngomong, Mama udah makan belum?”
“Belum, Sayang. Kita makan sama-sama, ya? Mama yakin pasti kamu tadi melewatkan sarapan kamu. Kata si Mbok, kamu berangkat pagi-pagi sekali tadi,” ucap mama.
Aku memandangi wajah anggunnya itu. Sampai pada keadaan seperti ini pun ia masih mengkhawatirkan keadaanku. Padahal, seharusnya dirinyalah yang perlu dikhawatirkan.
“Bimo buatkan sup krim kentang kesukaan Mama, ya?” ucapku menahan gemetar. Bagaimana tidak, aku begitu terharu dengan sosok luar biasa yang ada di hadapanku ini. Pada saat-saat seperti ini sisi emosionalku begitu sulit aku kendalikan. Sebuah rasa sayang anak kepada ibu kadnungnya yang sedang tak berdaya.
Mama mengangguk perlahan, aku pun bergegas ke dapur dan meminta pelayan membantuku untuk menyiapkan makanan untuk mama.
Di sela-sela menunggu masakan, aku pun menghubungi dokter keluarga. Aku memintanya datang untuk memeriksa mama tapi dengan sangat hati-hati, kalau perlu tanpa sepengetahuan mama.
“Aden mau Nyonya dibius?” kelakar dokter melalui telepon.
Hal yang menggelitik. Sebab, aku begitu ingin menjaga perasaannya.
“Tidak dokter. Nanti akan saya bujuk agar mama mau diperiksa oleh dokter,” ucapku melalui telepon.
“Ah, Mbok, jangan tambahkan garam! Biar saya nanti yang menambahkannya!” ucapku tiba-tiba.
“Ah, maaf, Dok. Itu saya tadi... Emh, pokoknya dokter datang saja. Kalau bisa secepatnya, ya Dok?” ucapku. Setelah dokter menyanggupinya, panggilan telepon pun berakhir.
Setelah itu langsung aku raih racikan untuk makanan mama. Aku tahu betul selera mama, tingkat keasinan yang pas yang baik untuk kesehatannya sekaligus agak memaksakan dengan ukuran selera mama.
Aku pun menambahkan beberapa bahan dan mengaduknya dengan spatula di atas kompor dengan api kecil. Kucicipi sedikit, lalu setelah jadi maka makanan pun disajikan ke dalam mangkuk.
Aku pun membawanya segera ke kamar mama. Aku menyuapi mama perlahan demi perlahan kepada mama. Sementara ia hanya terduduk di atas ranjang dengan bersandar kepada tumpukan bantalnya.
“Ma, Bimo sangat khawatir dengan Mama. Mama ga boleh menyepelekan kesehatan Mama sekecil apapun masalahnya,” ucapku pelan.
“Iya, Sayang. Kamu percayakan saja sama Mama,” ucap mama.
“Tapi Bimo ga bisa percaya sepenuhnya loh, Ma,” ujarku.
“Kok gitu?”
“Bimo hafal betul sama sifat Mama. Mama selalu bilang ga apa-apa sama Bimo demi untuk menenangkan Bimo.”
“Mama masih ingat ga, waktu Mama jemput Bimo saat pembagian rapor SMP kelas 2? Mama bawa Bimo makan di luar, sementara Mama ga makan, katanya Mama sudah makan. Ternyata Mama belum makan kan? Akhirnya yang terjadi Mama nyeri lambung,” ucapku.
“Nak...”
“Ma, Bimo tahu waktu itu Mama mau nyenengin Bimo padahal diam-diam Mama nahan mual karena sedang hamil. Dan itu juga Mama diam-diam kan? Ga ngomong sama siapa-siapa, termasuk Papa?” protesku.
“Kamu tahu dari mana, Sayang?”
“Bimo menemukan alat test pack Mama waktu Bimo diam-diam mau pinjam kalkulator saintific Mama di laci,” jawabku.
Ya, dulu Mama pernah hamil. Sewaktu aku duduk di bangku SMP. Tak lama kemudian mama pun keguguran. Rahimnya tidak cukup kuat, mungkin sjuga stress, karena mama waktu itu adalah wanita karir.
Setelah itu mama pun berhenti bekerja. Papa hanya tahu mama keguguran tanpa tahu sebelumnya bahwa mama sedang hamil. Sejak saat itu papa tidak menginjinkan mama untuk beraktivitas di luar rumah. Seutuhnya hanya menjadi ratu di rumah saja.
Lalu, lama kelamaan pandangan papa terhadap mama berubah. Papa seperti punya dunianya sendiri di luaran sana. Mama lebih banyak ditinggal-tinggal seperti sebuah pajangan.
Setelah aku membahas hal itu, wajah mama kemudian murung. Aku merasa bersalah, tapi itulah kenyataannya.
“Ma, Mama ga mau kan kehilangan Bimo?” ucapku lirih.
Mama pun menatapku dalam-dalam dengan pupilnya yang nyaris berkaca-kaca.
“Mama ga mau kehilangan kamu, Sayang,” jawabnya.
“Bimo juga ga mau kehilangan Mama, jadi ijinkan Bimo menjaga Mama. Percayakan sama Bimo, Ma. Jangan Mama lebih takut dengan dokter dibandingkan berpisah dengan Bimo,” bujukku penuh harap.
Mama mengangguk dan menggenggam tanganku.
“Jadi, Mama mau kan ketemu dokter? Mama sekarang lagi lemah banget, Ma. Bimo pingin Mama bugar lagi. Ya?” bujukku kembali.
Mama kembali menggangguk kali ini dengan wajah yang tersenyum dan mata berkaca-kaca kepadaku. Menatapku sangat dalam.
Aku pun melirik ke pelayan. Memejam sejenak padanya, memberi tanda bahwa dokter sudah dapat diajak masuk. Pelayan pun permisi keluar dan kembali dengan bersama dokter.
Kemudian, mama menyadari kehadiran dokter yang baru tiba di depan pintu kamar yang zterbuka itu. Mama sempat melirikku dengan kerutan di dahinya, mungkin merasa heran karena kedatangan dokter yang tiba-tiba dan menebak bahwa aku telah menyiapkannya.
Namun, Mama tidak protes apa pun. Semoga mama paham dengan niat baikku, walau ia takut akan hasil diagnosa dokter terhadap penyakitnya. Melakukannya tidak demi dirinya sendiri, melainkan demi aku pun tak apa. Asal kesehatan mama bisa kembali pulih.
Dokter pun memeriksa kondisi mama dengan peralatannya. Aku memperhatikannya. Tak lama, ponselku pun bergetar. Aku melirik layar ponselku, itu adalah Yudas, teman yang rencananya kutemui hari ini di Bandung.
Namun, aku hanya melirik namanya sejenak dan tidak mengangkat panggilannya itu. Saat ini kondisi mama lebih penting dari apa pun juga. Walau pun, di hati kecilku aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Ada sesuatu yang lain sedang bersarang di tubuhku. Entah lah, bisa saja lebih berbahaya daripada kanker.