Sampel Darah yang Meledak

1124 Kata
Waktu berlalu. Setelah mama jatuh sakit, aku menunda kepergianku ke Bandung untuk menemui Yudas. Aku baru sempat mengirimkan pesan chat kepada Yudas perihal apa yang terjadi di tempat tinggalku saat ini. Mama, akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Kali ini papa datang. Kupikir papa tidak peduli dengan keadaan mama sekarang, tapi nyatanya ia kini sudah berada di sisi mama untuk menemaninya. Kupandangi mereka berdua, mama dan papa. Ada gurat-gurat kekhawatiran di dahi papa ketika tangannya mengelus sebagian kepala mama. Aku sangat menikmati momen ini. memang seharusnya begini. Urusan pekerjaan itu nomor kesekian, urusan keluargalah yang nomor satu. Sesaat aku meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan. Aku berjalan ke luar untuk membeli sesuatu. Buah, tentu saja. Buah adalah kudapan terbaik saat ini. Aku pun melewati sebuah ruangan pemeriksaan lainnya. Kali ini ruangan tersebut didatangi oleh orang-orang dari luar secara bergilir. Letaknya agak berjauhan dengan kumpulan ruang perawatan pasien. Ruang itu adalah ruang untuk cek darah dan urine. Sedang ada sedikit antrian di depan ruangan itu. Setelah aku perhatikan, mereka adalah sekelompok karyawan yang melakukan medical check up tahunan. Salah satu tahapannya adalah pengecekan darah dan urine. Aku teringat dengan kondisiku yang masih aku sangsikan apakah kondisi itu nyata atau tidak. Kondisiku saat berada di pesawat di mana warna urine yang kukeluarkan berwarna biru. Aku berinisiatif untuk memeriksakan kesehatanku dengan melakukan cek darah dan urine. Aku melakukan konsultasi dan registrasi dengan petugas. Untungnya sejak menunggui mama di ruang perawatan tadi malam, aku belum makan apapun. Sarapan pagi ini pun belum, hanya sempat minum air mineral. Sebab aku bangun kesiangan karena begadang menunggui mama semalam. Kemudian, secara bertahap petugas mengambil sampel darahku dan menyuruh aku ke toilet untuk mengisi sampel urine. Hasil dijanjikan akan keluar setelah tiga hari pasca pengambilan sampel ini. Namun, aku merogoh dompet kembali untuk menambah biaya dan hasil dijanjikan akan keluar sore ini. Huh, baiklah. Aku akan sarapan setelah ini, lalu membelikan mama buah. Setelah membeli makanan dan kembali ke ruangan mama, papa pun menanyai perihal kuliahku. Aku sebenarnya berniat untuk bolos kuliah hari ini, tapi papa selalu memintaku untuk pergi ke kampus saja. Papa menjamin keadaan mama, sebab ada papa yang menunggui mama di ruangan. Jadi, aku diminta tidak perlu mengkhawatirkan kondisi mama dan bisa pergi ke kampus. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku menuruti perkataan papa. Aku berangkat ke kampus. Sekarang sudah pukul 10.12. Memang tidak ada kelas pagi hari ini. Ah, aku benar-benar tidak jadi membolos hari ini. Aku pun pergi ke kampus. Ya, benar-benar pergi. Saat tiba di kampus, beberapa teman yang biasa nongkrong bersamaku langsung menghampiriku. Mereka mengajakku ke kantin. Kupikir tak masalah juga, mungkin mereka ada yang mau sekalian makan siang, jadi bisa sekalian kutraktir mereka makan. Di kantin kampus. “Bim, mukalu ngapa suntuk banget gitu, sih?” “Iya, heran gua. Lihat matalu udah kaya panda gitu.” “Nih apaan sih, udah kaya cewek aja sampai ngomentarin mata panda segala. Sekalian make up ga, nih?” kumembatin sembari kusunggingkan sedikit salah satu ujung bibirku karena merasa tergelitik. “Eh, lu pada kok ga ngomentarin muka gua?” “Heh! Elu mah item! Kusut dari sononya! Beda sdngan muka Bimo, muka cover boy! Suram dikit aja langsung beda dia!” “Hahaha..” “Hahaha...” “Asem lu pada! Gua gibas juga nih!” Keceriaan mereka selalu mampu setidaknya menghiburku. Aku pun menceritakan bahwa mama kini sedang ada di rumah sakit dan teman-teman pun akhirnya mengerti mengapa wajahku tampak suram kali ini. “Lah, elu... Dah temenin nyokap lu aja, urusan kuliah gampang ada kita-kita. Biasa, kita-kita kan bisa ngabsenin elu, yah tanda tanganlu ga susah-susah amatlah.” “Ye.. biarin aja kali Bimo ngampus. Biar refreshing dia, kaga sumpek di rumah sakit mulu. Iya ga, Bim?” Teman-temanku ini ternyata begitu peduli kepadaku. “Iya, iya... Makasi, ya. Lu-lu pada emang sohib gua banget,” jawabku. “Yoi, bro! Apa, sih, yang enggak buat lu!” Waktu pun berlalu. Setelah lama berbincang di kantin, aku pun masuk kelas. Lainnya ada yang masing nongkrong di kantin dan ada pula yang ikut masuk bersamaku serta ada pula yang masuk kelas mata kuliah lainnya. Pikiranku masih kacau. Aku masih terus memikirkan mama juga terkadang terganggu dengan ingatanku atas kondisi keanehan yang ada padaku sendiri. Selama dosen menerangkan di depan, aku hanya bisa tertunduk mencoret-coret buku yang ada di hadapanku, membuat coretan doodle. Mungkin aku terlihat begitu serius, tapi sebenarnya pikiranku tidak berada di kelas ini. Aku tersentak ketika teman di sampingku menyenggol lenganku. Coretan doodle itu ternyata sudah seperti pola batik, tapi di sisi lain itu adalah sebuah peta konsep tentang apa yang ada di pikiranku. “Ssst.. Bim..” Lalu teman di sebelahku itu melemparkan pandangannya ke arah depan. Ia memberitahukanku bahwa dosen sedang memperhatikanku. “Tidak perlu serius mencatat seperti itu. Kamu bisa men-copy slide persentasi saya setelah kuliah ini selesai,” ucap dosen tersebut. Aku pun lantas mengangguk kepadanya. Setelah ini aku akan mencoba mendengarkan penjelasan-penjelasannya, tidak lagi mencoret-coret bukuku ini. Kelas pun akhirnya usai. Aku baru saja berdiri di samping mejaku, lalu ponselku bergetar. Yang ada di pikiranku kutebak ini adalah berita tentang mama, atau telepon dari Yudas. Setelah aku lihat tulisan kontak di layar ponselku, ternyata itu adalah nomor telepon perkantoran, bukan nomor selular. Kutebak ini adalah kabar tentang mama. Aku pun langsung mengangkat panggilan itu. Ternyata itu bukan berita tentang kondisi mama. Itu adalah kabar dari petugas yang memeriksa darah dan urine yang kulakukan tadi pagi. Petugas mengatakan bahwa sampel darah tidak dapat diperiksa. Tiba-tiba saja tabung sampel pecah seperti habis terkena cairan bersuhu sangat tinggi yang tiba-tiba. Hal yang terpikir olehku adalah kecurigaanku terhadap dampak game aneh itu. Lantas aku pun menanyakan tentu saja dengan sangat yakin perasaanku menebak bahwa hanya tabung sampel darahku yang pecah. Ternyata petugas membenarkan tebakanku itu. Ya, benar, hanya tabung sampel darahku saja yang pecah walaupun peletakannya bersamaan dengan tabung sampel-sampel milik orang lain. Petugas medis lalu memohon maaf dan akan mengganti kerugian biaya dan waktu yang telah aku keluarkan. Mereka mengaku hal itu sepenuhnya adalah kesalahan teknis dari mereka. Petugas menawarkan kepadaku, aku dapat kembali melakukan pengambilan sampel kembali untuk meneruskan proses tersebut. Aku masih penasaran dan menyanggupinya. Besok aku akan melakukan pengambilan sampel darah kembali. Aku pun menceritakan hal ini kepada Yudas. Ia begitu penasaran dan antusias ingin segera bertemu denganku. Namun, aku masih belum bisa berjanji kapan akan menemuinya di Bandung. Seusai kegiatan di kampus, aku pun langsung menuju rumah sakit kembali. Aku ingin memastikan kondisi mama saat ini juga. “Waduh, waswus-waswus aja dia!” “Udahlah, kan tadi dia udah cerita kalau nyokapnya di rumah sakit.” “Iya juga, ya.” Aku sempat mendengar celotehan teman-teman dari kejauhan sementara aku sudah berlalu dari mereka. Namun, aku tetap berlalu. Aku segera berangkat tanpa menengok mereka sedetik pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN