Diserang Isi Otak

1727 Kata
Setelah mengikuti perkataan papa bahwa hari ini aku harus masuk kuliah, seusainya aku pun langsung menuju rumah sakit kembali. Tidak terpikir untuk mengganti pakaian apalagi mandi. Yang ada di benakku adalah bagaimana mengetahui kabar kondisi mama saat ini juga. “Bimo, kamu baru dari kampus? Ga pulang dulu? Itu pakaianmu yang dari kampus bukan?” tanya papa menegurku ketika aku baru saja sampai di ruang perawatan mama. Aku salut ternyata selama seharian papa masih menunggui mama di sini. Papa benar-benar menunda urusan pekerjaannya. Namun, setelah kuperhatikan lagi sepertinya tidak juga. Di meja dalam ruangan ini terlihat leptop papa masih terbuka. Ya, tentu saja, mungkin papa menyelesaikan urusan pekerjaannya dari ruangan ini. “Ga apa-apa. Papa sebaiknya juga pulang dulu, biar Bimo yang ganti menemani mama,” jawabku kepada papa. “Jangan begitu. Kamu tidak steril itu dari luan, mana belum mandi, belum ganti pakaian. Papa oke kok di sini. Jadi sekarang kamu pulang dulu, bersih-bersih, makan, nah baru ke sini lagi nanti,” ucap papa. “Tapi, Pa,” selaku. “Sudah, tidak apa-apa!” ucap papa. “Mama...” selaku kembali. “Mama sekarang sedang istirahat. Dokter bilang keadaannya membaik. Kita tunggu waktunya saja, mungkin setelah semua proses ini selesai dan mama sudah siuman, mama sudah diijinkan pulang,” jelas papa. Mendengar itu, perasaanku begitu lega. Seperti baru saja diguyur air dingin di sekujur tubuh. Aku pun lalu menuruti perkataan papa. Kalau dipikir-pikir benar juga. Aku memang belum mandi dan pakaianku ini belum ganti. Aku rasa aku memang suntuk juga karena begadang tadi malam. Aku merindukan air hangat, aku ingin berendam. Aku berpamitan dan menuju ke rumah. Aku pun berkendara dengan mobil seorang diri menuju rumah. Sore hari adalah waktu lalu lintas tengah padat. Orang-orang memadati jalanan karena jam kerja kantor memang berakhir hampir bersamaan setiap sore. Lengkaplah rasa suntukku sore hari ini. Sejenak kelopak mataku seperti membeku lalu berat seperti sebongkah es yang cukup besar. Entah aku yang sedang mengantuk atau bagaimana. Mungkin benar aku sempat tertidur di tengah kemacetan ini. Aku pun melanjutkan perjalanan ini. Beberapa waktu kemudian, aku pun tiba di rumah. Tentu saja aku mencari bathup dan air hangat untuk berendam. Aku menaruh tas begitu saja di ranjang, pakaian-pakaian kotor di keranjang di sudut kamar mandi di dalam kamar tidurku. Aku melingkarkan handuk di pinggangku dan mulai menyiapkan tempatku berendam. Aku menyalakan lilin beraroma terapi di tepi-tepian bathup. Setelah semuanya siap, aku pun mulai memasukkan seluruh tubuhku hingga pangkal leherku hingga terendam air. Aku rebahkan kepalaku, perlahan ku atur napasku menghirup dalam-dalam aroma yang menyenangkan ini. Aku memejamkan mataku, menenangkan pikiranku. Namun, yang muncul di pikiranku justru begitu seakan tidak mengijinkanku untuk beristirahat kali ini. Aku teringat dengan mimpi sekejap yang tiba-tiba terjadi di perjalanan menuju pulang tadi. ** Di sebuah tempat entah di mana, mungkin surga seperti itu bentuk tempatnya. Sebuah entitas menamakan dirinya sebagai Desi. Desi tengah berada di dalam kawanan 20 cahaya lainnya. Mereka berpendar dan melayang-layang seperti kunang-kunang tanpa sayap. Kelas mereka merupakan sekolah alam, mereka berada di tempat terbuka setiap harinya. Dengan cahaya mentari yang hangat, dengan aroma wewangian dan warna-warni seperti taman bunga yang menenteramkan siapapun yang menghuninya. Di dalam kelas yang sama terdapat beberapa kelompok belajar yang juga di dalamnya terdapat sekitar 20 orang cahaya. “Nita, kamu mau memilih planet mana ketika praktikum nanti?” tanya Desi. “Aku kayaknya akan memilih planet Nibiru deh, asik kan. Soalnya kamu kan tahu sendiri hobi aku berenang. Di sana katanya seru, setiap hari bisa diving. Kamu sendiri di mana?” tanya Nita. “Kita bakalan jauh Des. Aku mau ke Bumi,” jawab Desi. “What? Des, kamu serius? Bumi? Kehidupan di sana bakal berat banget, kamu tahu kan? Kamu tidak khawatir sama periode kamu di bumi? Toni dari kelompok sebelah aja praktikum di bumi dengan periode lama karena ga lulus-lulus. Tuh lihat, pendarannya semakin suram pacsa kembali dari bumi,” ungkap Nita kemudian menunjuk orang di kelompok lainnya dengan pendaran cahaya yang lebih suram. “Aku tahu Nita. Walaupun kita masih junior, ga ada salahnya kan mencoba. Aku ga mau selalu ada di zona nyaman. Kita perlu mengambil resiko yang lebih besar untuk naik ke level selanjutnya yang mungkin bisa lebih cepat daripada yang lain. Setidaknya pikiran Toni dan aku sama, kami sama-sama merasa tertantang dengan Bumi. Emangnya, kamu ga pernah terpikir ke sana Nit?” ujar Desi. “Iya sih Des, tapi aku pikir kita juga perlu mengukur kemampuan kita. Kalau seseorang memutuskan untuk praktikum di tempat yang super berat ujiannya, kayak Bumi, terus dia ga lulus-lulus di sana, itu justru akan membuat orang itu ga akan naik-naik levelnya” jelas Nita. “Aku yakin, Nit. Aku yakin aku pasti bisa. Ga ada yang ga mungkin di semesta ini. Kalau pikiran kita kecil, hidup kita akan sekecil itu juga Nit. Kita harus punya pikiran yang besar untuk membuat kehidupan kita menjadi besar dan bernilai lebih,” jawab Desi. “Okelah kalau begitu, tekat dan keyakinanmu cukup besar Des. Aku salut sama kamu, aku bangga jadi sohib kamu Des,” ujar Nita sambil tersenyum sumringah kemudian memeluk Desi. Tak lama kemudian lonceng berbunyi tiga kali, dan seseorang berdiri di podium di atas bukit dengan suara yang terdengar sangat jelas seperti sedang menggunakan speaker. Hal yang terjadi selanjutnya adalah aku terbangun dari mimpi singkat itu. ** Entah mimpi aneh macam apa itu. Aku merasa seolah-olah seseorang bernama Desi itu adalah aku. Aku lalu merasa tergelitik dengan buku digital yang pernah k****a. Aku pun menegakkan tubuhku di dalam bathup dan meraih ponselku yang kuletakkan di tepian. Aku mencari buku itu kembali dan membacanya. ** Seiring berlalunya zaman ke zaman, kehidupan manusia di bumi mengalami penambahan jumlah. Pada zaman dahulu jiwa-jiwa yang berinkarnasi di bumi tidak sebanyak saat ini. Saat ini di setiap periode masa, selain terdiri dari banyak jiwa yang telah berkali-kali melakukan inkarnasi atau kembali terlahir di bumi, juga terdapat jiwa-jiwa yang baru diciptakan dan kemudian berinkarnasi. Jiwa-jiwa memiliki tingkatan kematangan. Jiwa-jiwa dengan usia yang lebih muda maka memiliki pengalaman dan ilmu yang masih sedikit dibandingkan jiwa-jiwa yang sudah berkali-kali inkarnasi atau disebut sebagai jiwa–jiwa yang lebih tua. Setiap kelahiran bayi di bumi otomatis memerlukan satu jiwa untuk mengisinya, di mana itu bisa diisi oleh jiwa baru ataupun jiwa lama. Secara umum satu jiwa mengisi satu raga, namun terdapat beberapa kasus di mana satu jiwa berinkarnasi pada dua raga sekaligus dalam periode yang bersamaan. Hal itu bisa terjadi karena jiwa merupakan entitas cahaya berkecerdasan. Setiap ssatu jiwa dapat saja membelah diri, misalnya satunya sebagai orang Eropa dan satunya lagi sebagai orang Asia. Kasus seperti ini dinamakan twin flame. Twin flame ini bisa saja keduanya adalah laki-laki atau keduanya perempuan atau satunya perempuan dan yang lain laki-laki. Jiwa bersifat androgini, artinya saat ada di alam jiwa, jiwa memiliki kebebasan untuk memilih jenis kelamin selama mereka bisa mempertanggungjawabkan kehidupannya masing-masing sebagai suatu pelajaran. Ketika jiwa turun ke bumi maka ia harus meninggalkan dunia yang penuh kebijaksanaan, kebebasan, dan kebahagiaan menuju tuntutan fisik dan mental dari tubuh manusia. Jiwa pada dasarnya apabila divisualisasikan maka ia adalah pendaran-pendaran cahaya. Warna cahaya setiap jiwa berhubungan dengan tingkatan kehidupan yang dialaminya dan kematangan atau level yang sudah dicapai. Jiwa-jiwa baru yang mengisi bayi-bayi, maka bayi tersebut akan mempelajari siapa dirinya, memahami aksistensi dirinya sendiri sebelum berinteraksi dengan jiwa-jiwa yang lain di dunia inkarnasi. Jiwa di sana baru sekedar memperoleh kesadaran atas eksistensi atau keberadaan. Jiwa yang masih baru merupakan energi murni yang belum memiliki jati diri atau belum memiliki identitas dunia. Di dunia tanpa ego, para jiwa-jiwa baru nantinya akan diberikan semacam sidik jari. Bagi setiap jiwa baru masa awal kehidupannya di dunia tanpa ego maka ia perlahan-lahan mulai memiliki kesadaran jiwa, mulai merasakan kehangatan perlindungan dari Tuhan, cinta dan perasaan ditemani oleh entitas cahaya-cahaya lembut yang penuh dengan getaran-getaran. Dunia tanpa ego bisa dibilang semacam lokasi semi isolasi bagi jiwa-jiwa baru. Setelah keluar dari tempat ini maka jiwa baru nantinya akan bergabung dengan kelompok jiwa-jiwa yang sama-sama baru lahir, yakni jiwa-jiwa yang setingkat dengannya. Di dunia tanpa ego, mereka akan memperoleh identitas baru dengan karakter mereka masng-masing berdasarkan bagaimana energi mereka disusun. Pembentukan identitas diri dan karakter jiwa akan terus berlangsung sepanjang waktu melalui pembelajaran bimbingan semasa inkarnasi, penjajakan pengalaman dan evaluasi. Setelah jiwa baru memperoleh identitas dirinya, sebagai jiwa ia tidak terikat harus melakukan inkarnasi di bumi, sebab banyak lokasi lokasi atau planet-planet lain yang menjadi destinasi inkarnasi pada jiwa. Di hamparan galaksi-galaksi yang membentang di biasanya para pembimbing akan menyodorkan beberapa pilihan destinasi inkarnasi, jiwa memilih sendiri, kadang pula dipilihkan oleh pembimbing. Setelah memilih, jiwa baru biasanya diberi kehidupan awal di sebuah dunia yang mudah sebanyak satu atau dua kali sebagai uji coba. Setelah menuntaskan training barulah jiwa tersebut menjalani inkarnasi di planet yang ia pilih, guna menjalani proses belajar dan berlatih untuk mengembangkan diri. Dibandingkan dengan planet lain, bumi sering disebut sebagai planet yang kejam oleh sebagian jiwa di alam jiwa sana. Tempat inkarnasi ada yang hanya untuk menjalani ujian-ujian mental saja, sedangkan di bumi dua-duanya dijalani jiwa-jiwa menjalani ujian fisik dan mental. Jiwa-jiwa yang menjalani inkarnasi di bumi disebut sebagai jiwa-jiwa petualang. Mereka berani mengambil ujian tantangan dan risiko yang berat. Jika ada jiwa yang kembali dari bumi dengan hasil raport perjalanan hidup yang memuaskan, maka ia akan menjadi jiwa yang sudah tumbuh dan berkembang serta mendapat pengalaman. Dari inkarnasi yang dijalani, ia akan memiliki identitas atau karakter tersendiri. Karakter yang ada pada masing-masing jiwa akan menghasilkan skala hasrat yang berbeda-beda. Hasrat yang dimaksud di sini adalah hasrat untuk menjadi sempurna. Namun, keadaan hasrat ini bisa naik dan turun, bisa pasang dan surut, bergantung pada kehidupan kehidupan yang dijalani. Pengalaman-pengalaman dengan kehidupan fisik yang membawa perubahan-perubahan pada diri jiwa ini memang disengaja. Sebagian jiwa akan lebih memiliki motivasi untuk berkembang dibanding yang lain. Ini adalah hal yang lumrah. Berada di banyak tubuh dan situasi membuat sifat asli jiwa berkembang. Jiwa berinkarnasi di bumi ini tidak lain sebagai wahana untuk melatih jiwa untuk berkembang, mempelajari pelajaran-pelajaran kehidupan, saling bekerja sama, saling membantu dan saling memperbanyak kebaikan serta meminimalisir keburukan. Kesadaran setiap jiwa saling terkait satu sama lain, saling terhubung satu sama lain, tidak lain dan tidak bukan tujuannya adalah agar kita bisa saling menguatkan. Sebagaimana sepasang soulmate yang berjanji untuk bertemu guna saling membantu ketika menjalani kehidupan di bumi. Namun karena jiwa merupakan suatu entitas cahaya berkecerdasan, berbeda kondisi dengan ketika sudah memiliki tubuh fisik, saling terkait antara satu dan lain tetap terjadi namun memiliki hambatan-hambatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN