Aku menghabiskan waktuku sore ini untuk berendam air hangat di bathup sambil menghirup aroma terapi dari lilin di tepiannya. Karena terusik dengan mimpi singkat di perjalanan menuju pulang tadi, akhirnya aku kembali membuka buku digital yang pernah k****a sebelumnya. Aku mengait-ngaitkan apa yang terjadi di dalam mimpi dan isi dalam buku tersebut.
Entahlah, apakah benar keduanya itu memiliki keterkaitan atau tidak. Yang jelas teori dalam buku maupun petualanganku di dalam mimpi itu mambuat pikiranku berkelana. Sedikit mengalihkan pikiranku dari masalah kesehatan mama dan kesehatan diriku sendiri.
Aku kira cukup. Aku pun membersihkan diri kemudian makan malam. Aku ingat besok pagi aku akan kembali melakukan pengambilan sampel darah, jadi makan malamku kulakukan lebih awal.
Setelah makan malam, aku pun menghubungi papa. Aku memastikan kondisi mama dan aku berencana kembali ke rumah sakit untuk menemaninya. Bergantian dengan papa.
Aku pun lalu kembali ke rumah sakit. Kali ini papa yang akan beristirahat dan berganti posisi denganku. Papa keluar ruangan, kemudian hanya ada aku berdua kembali dengan mama.
Mama dengan suara yang lemah memanggilku. Ia berbicara dengan lirih dan perlahan. Aku memegang tangannya dan berada sangat dekat dengannya. Aku menyimak betul-betul kata-kata yang diucapkan mama.
“Ba-gai-mana ke-gia-tan-mu hari i-ni, Sa-yang?” tanya mama.
“Lancar, Ma. Hari ini Bimo ngampus, tidak ada kelas yang terlewat,” jawabku dengan antusias. Mataku kusorotkan besar-besar ke mata mama.
Aku ingin menunjukkan hal-hal berbau semangat kepada mama, agar beliau juga tertular mood semangat itu.
“Syu-kurlah...”
“Oh, iya, Ma. Ada salam dari teman-teman Bimo di kampus. Itu Sam, Mike dan Jo. Mereka yang sering main ke rumah,” ucapku.
Mama tersenyum.
“Si Bo-tak sebe-lah yang su-ka menggo-da-i Mama,” ucapnya.
“Iya, Jo namanya, Ma. Ternyata dia yang paling Mama ingat, ya? Haha... Anak itu...” celotehku.
Lalu mama menanyaiku tentang temanku yang lain. Temanku yang akan aku temui di Bandung. Aku menceritakan kepada mama bahwa itu adalah Yudas. Teman lamaku sewaktu aku masih duduk d bangku sekolah dulu. Kini ia merupakan seorang ahli robotika yang telah difasilitasi laboratorium sendiri.
Mama merasa tidak enak hati karena mama aku pun tidak jadi menemui Yudas. Yang mama tahu aku punya minat di bidang yang selinear dengan Yudas. Aku menyukai bidang fisika. Pikirnya apabila aku datang menemui Yudas dan berkunjung ke laboratoriumnya itu akan sangat menyenangkan bagiku.
Mama paham dengan perasaanku yang harus masuk jurusan di luar minatku demi ambisi papa. Mama sangat tahu dengan prestasiku di kampus yang sangat rendah itu bukan disebabkan atas ketidakmampuan intelegensiku, melainkan karena niat berkuliah yang setengah-setengah.
Mama pun berjanji akan menjaga diri agar beliau tidak lagi merepotkan aku maupun papa. Sehingga, aku dan papa tidak perlu meninggalkan rutinitas-rutinitas kami. Apalagi kalau itu berhubungan dengan keinginan yang ingin dicapai.
Aku senang dengan perkembangan mama selama aku berbincang dengannya saat ini. Begitu banyak kata-kata yang terucap olehnya, padahal sebelumnya hanya kalimat sederhana. Mungkin semangatlah yang membuatnya seperti ini. Semoga ini adalah langkah yang baik agar mama selanjutnya bisa diijinkan pulang.
Aku mengatakan kepada mama bahwa menunda kepergianku ke Bandung bukanlah hal yang patut disesalkan. Aku menganggap bahwa itu adalah reuni biasa di antara teman lama. Sedangkan, menurutku keadaan mama lebih penting dari apapun juga.
“Walaupun kita menjalani semua ini (maksudnya kehidupan keluarga sudah diatur sedemikian rupa oleh papa), tidak ada salahnya kan mencoba. sesekali cobalah keluar dari zona nyaman. Kita perlu mengambil resiko yang lebih besar untuk melampaui keinginan kita,” ucap mama.
Aku menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut mama barusan. Tunggu, aku sangat familiar dengan kata-kata itu. Aku tidak memberikan tanggapan, aku hanya terpana.
Melihat aku hanya memandangi mama, mama meneruskan kata-katanya.
“Ya, cobalah keluar dari zona nyaman. Semua itu adalah pesan yang mama ingat dari teman lama kepada mama,” ucapnya.
Teman lama? Tunggu, ya, benar! Itu adalah kata-kata di dalam mimpiku tadi sore. Kata-kata seseorang yang dipanggil sebagai Desi kepada Nita.
“Emh, Ma. Siapa teman Mama itu?” tanyaku penasaran.
Mama tertawa kecil. Ia ternyata telah lupa. Mengaku bahwa usia telah mempengaruhi ingatannya, jadi mama lupa siapa yang pernah mengatakan pesan itu kepadanya.
“Mungkin saja waktu itu mama sedang melamun atau sedang mengerjakan hal lain dengan begitu fokus saat teman mama berbicara, jadi tidak terlalu memperhatikan siapa yang berbicara itu,” jawab mama.
Aku pun memakluminya, mengangguk dengan senyuman kepada mama. Aku pun membatin, seandainya teori di dalam buku itu benar-benar berlaku. Maka, mama dan aku adalah sahabat lama di kehidupan sebelumnya.
Berarti kami sudah melalui banyak kehidupan sebelum ini. Mama sebagai Nita yang pernah menjadi penghuni Planet Nibiru justru di kehidupan ini ikut menyusulku ke Planet Bumi. Hahaha...
Mungkin di kehidupan sebelumnya aku adalah seorang perempuan dan kini aku menjadi seorang laki-laki. Sedangkan, mama memilih tetap menjadi seorang perempuan ketika bertemu denganku saat ini.
Huft, sungguh pemikiran yang liar.
“Bimo, apakah kamu sudah makan malam?” tanya mama menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh, su-sudah, Ma,” jawabku cepat.
“Mama kira Bimo lapar,” ucap mama.
“Tidak, Ma. Bimo tidak lapar. Apa Bimo terlihat kelaparan sekarang?” tanyaku bingung.
“Tidak, mama hanya ingat kata-kata temanmu yang gondrong itu, siapa ya...”
“Mike, Ma?”
“Oh, iya. Benar.”
“Mike bilang apa, Ma?”
“Katanya kalau orang lapar itu suka bengong, oh iya ‘b e g o’.”
“Kenyang suka nyolot, Ma? Kebalik tahu, Ma. Yang benar itu ‘lapar nyolot, kenyang b e g o’. Hahaha...”
“Oh, mama terbalik ya? Hahaha.”
“Habisnya kamu, Bimo. Mama bicara malah kamu melamun terus begitu,” lanjut mama.
Kami pun tertawa bersama walau mama masih menahan-nahan dengan memegangi perutnya saat tertawa kecil. Aku sangat bersyukur dengan perkembangan mama saat ini.
Mama semakin terlihat ada kemajuan. Selera humor mama pun keluar. Semoga besok mama sudah diijinkan pulang. Tidak berlama-lama di rumah sakit ini.
Aku sangat bersyukur dengan yang terjadi malam ini. Selama seharian aku seakan diserang oleh pikiran-pikiran aku sendiri sehingga benar-benar membuatku suntuk. Namun, setelah berbincang dengan mama aku seakan mendapatkan semangatku kembali.
Aku lega dengan kondisi kesehatan mama yang terlihat membaik dan juga mendapatkan dukungan untuk kembali menyentuh dunia yang menjadi kegemaranku di masa lalu. Mama sangat mendukungku untuk mengunjungi Yudas.
Sebenarnya sejak awal rencana aku menemui Yudas bukanlah untuk membangkitkan minat yang telah lama terkubur itu. Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan diriku seusai mengikuti kegiatan pertemuan gamers dunia di Surabaya beberapa waktu lalu.
Waktu berlalu. Mama kembali beristirahat. Aku menemaninya di rumah sakit dan papa pun meneleponku. Aku menerima telepon di luar ruangan agar tidak berisik dan mengganggu tidur mama.
Aku katakan kondisi mama semakin membaik. Aku ceritakan apa yang terjadi di antara kami. Kami berbincang hingga berkelakar dan kini mama sudah tertidur.
Awalnya papa hendak datang kembali, namun aku cegah. Aku memintanya beristirahat saja di rumah sebab aku masih muda. Aku punya energi lebih untuk menungguinya semalaman suntuk dibandingkan papa.
Setelah panggilan telepon berakhir, aku kembali ke dalam ruangan mama. Aku memeriksa pesan-pesan chat seperti biasanya. Terkadang memang ada pesan chat yang terlewat untuk kubuka.
Pesan dari Yudas baru kubuka. Ia mengirimnya beberapa jam yang lalu sewaktu aku masih berbincang dengan mama. Saat-saat tadi memang aku sengaja tidak mempedulikan notifikasi-notifikasi di ponselku. Aku ingin fokus berdua dengan mama.
Yudas menanyai kabarku juga kabar mama. Aku menjawab chat itu, lalu langsung kembali dibalas oleh Yudas. Seperti biasa, waktu malam adalah waktu Yudas aktif. Ia akan tidur mendekati pagi. Waktu baginya seperti ditukar, ia cenderung lebih aktif di malam hari.
Aku pun dulu sempat merasakan hal yang dirasakan Yudas. Waktu malam adalah waktu yang jauh lebih kondusif untuk menghasilkan sesuatu. Seakan waktu terlipat membuatnya melaju begitu saja dengan aku yang tenggelam di dalamnya dengan kinerja otak mungkin fokus 100%.
Haha, istilah yang belum aku lupa. ‘Ketika otak sedang dalam fase flow’, keadaan otak fokus tingkat tinggi sehingga tidak ada hal lain lagi yang terasa terjadi walaupun itu ada di sekeliling tubuh sekalipun.
Semoga aku bisa secepatnya menemui Yudas. Semoga kondisi mama secepatnya membaik seperti sedia kala lagi. Semoga tidak ada hal aneh yang terjadi dengan diriku. Semoga efek game itu hanya sementara lalu hilang.