Sebuket Bunga

1493 Kata
Pagi pun tiba. Seperti rencana kemarin aku akan melakukan pengambilan darah sampel pagi ini. Aku pergi ke ruangan yang sama dan melakukan prosedur yang sama pula dalam pengambilan sampel darah. Aku bertemu dengan petugas yang sama. Ia lagi-lagi menyatakan permohonan maaf. Namun, sebenarnya bukannya aku merasa ini adalah kesalahan pihak medis. Aku sangat yakin dengan keanehan diriku sendiri termasuk bagian pada darahku. Usai melakukan pengambilan sampel darah, aku baru sarapan. Kali ini sarapan diberikan oleh petugas. Menu sarapan cukup menarik kukira. Aku pun membawanya dan kembali ke kamar mama kemudian menyantapnya di sana. “Hemm.. Harum sekali aroma makanan itu,” goda mama. Aku menawari mama makanan, tapi beliau menolak. Hanya sebatas menggodai aku rupanya. Papa pun datang. Lagi-lagi ia memintaku pergi ke kampus dan bergantian ia yang akan menemani mama. Yang kuingat hari ini sedang tidak ada kelas. Kupikir tidak ada gunanya pergi ke kampus. Namun, mengetahui kondisi mama yang sudah jauh lebih baik mungkin tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mama. Aku bisa tetap keluar dari ruangan ini. Sebab, aku tidak nyaman kalau harus berlama-lama dengan papa. Semua orang tau hubunganku dengan papa selalu tidak baik. Aku pun keluar, kusinggahi kedai kopi yang menyatu dengan tempat baca buku. Sebuah tempat yang sering aku kunjungi ketika ingin sendiri. Aku pun pergi, kemudian tiba di kedai kopi ini. Aku memesan latte di tempat biasa kududuk. Di dekat jendela yang menghadap langsung ke jalan, letaknya paling sudut dekat vas bunga berukuran besar khas ukiran Tiongkok. Tempat duduk dengan sofa warna krem cerah yang empuk. Pagi hari berada di sudut ini sungguh segar, sebab sorot matahari yang masuk melalui jendela menerpa wajahku. Aku dapat merasakan kehangatan pagi. Setelah kupesan latte, rencananya aku kan memilih buku di rak yang tak jauh dari tempatku saat ini. Namun, baru saja aku bangkit berdiri tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata itu adalah panggilan dari Yudas. Yudas mengatakan hari ini ia akan datang ke kotaku. Ada urusan pekerjaan, tapi ia begitu ingin menemuiku jadi ia berencana untuk menghabiskan jeda waktu istirahatnya nanti dengan bertemu denganku. Ia juga ingin membesuk mama di rumah sakit. Rencananya Yudas akan datang menjenguk mama pada sore hari kemudian menghabiskan waktu denganku hingga malam harinya. Aku senang sekali dengan kabar itu. Waktu berlalu. Siang hari tiba. Aku sedang berjalan kaki mencari tempat makan untuk makan siang. Aku melewati toko bunga. Aku jadi ingat mama. Sebaiknya aku singgah untuk membelikannya buah tangan. Aku masuk ke dalam toko bunga itu. Toko itu sebagian besar jendelanya terbuka. Jendela-jendela kaca yang besar-besar. Cahaya matahari masuk secara optimal ke dalam ruangan dalam toko bunga itu. Toko itu dipenuhi dengan bunga-bunga segar beraneka macam. Sungguh sangat indah, mereka semua cantik. Ternyata tidak hanya mereka yang cantik, ada yang lebih cantik. Ialah si penjaga toko. Entahlah itu penjaga toko atau pemilik toko. Wanita yang kira-kira sebaya denganku itu memiliki mata yang indah, terbuka lebar, dan terkadang terganggu oleh beberapa rambut poni yang jatuh. Rambutnya panjang turus dengan ujung yang berombak, warnanya cokelat berkilau. Wanita itu menyapaku ramah sekali. Senyumannya dihiasi dengan sepasang lubang di tepian bibirnya. Sejenak aku terpesona dan lupa akan tujuanku datang ke toko ini. Tentu saja aku harus membeli bunga untuk mama, bukan? Aku lalu mengalihkan pandanganku ke bunga-bunga. Aku mencoba berkonsentrasi kepada bunga-bunga, tapi kerap gagal. Lagi-lagi mataku ini ingin kembali beralih ke wanita itu. “Boleh saya bantu, Kak? Kakak mau membelikan bunga untuk siapa?” tanya wanita itu ramah. Ia ternyata mampu menangkap rasa bingungku ini sehingga berniat membantu untuk memilihkan bunga. “Untuk mama saya. Beliau sedang dirawat di rumah sakit. Saya ingin menghiburnya,” jawabku. “Baiklah, Kak,” jawabnya. Aku lalu menyentuh bunga berwarna putih dengan kelopak kecil-kecil. Aku ingat mama suka dengan bunga-bunga liar rerumputan. Aku pernah melihatnya senyum-senyum di halaman rumah dengan mereka. “Jangan yang itu, Kak. Bunga ini memiliki serbuk sari yang banyak. Mama kakak sedang di rumah sakit, bukan? Sebaiknya kita menghindari adanya alergi,” ucap wanita itu. “Bagaimana kalau bunga ini?” ucapnya menawariku sebuah bunga berwarna kuning dengan kelopak yang sangat cantik. Ia menyodorkannya ke depanku. Aku melihat bunga mampu memberi kesan penyemangat. Benar, untuk apa aku memberikan mama bunga putih itu? Kurang cerah kurasa. Sungguh pilihan yang tepat. Wanita ini memiliki selera yang bagus. Ah, tentu saja! Bukankah dia yang mengurus semua bunga-bunga cantik ini setiap hari? Tentu saja dia sangat ahli di bidang ini. “Ya, saya pilih yang ini saja,” ucapku dengan senyum yang sebenarnya tertular dari sumringah wanita itu. “Baiklah, sebentar saya siapkan, Kak,” ucap wanita itu. Setelah membungkus bunga itu dengan lebih cantik, wanita itu pun memberiknnya kepadaku. Lantas aku membayarnya dan pergi. Sebenarnya aku belum mau beranjak, tapi tidak ada alasanku lagi untuk bertahan di tempat ini. Aku melangkah lambat, kemudian berbalik untuk memandangnya. Ternyata wanita itu masih memandangiku walau ia sudah kupunggungi. Mengetahui aku membalikkan badan, ia menaikkan kedua alisnya. Seakan bertanya, “Ada lagi yang lain, Kak?” Namun, aku hanya tersenyum dan ia pun membalas senyumanku. Aku sedikit kikuk lalu aku berbalik lagi. Aku berhenti sebentar dan mendatanginya dengan langkah cepat. “Apakah toko ini menerima pembelian pesan antar?” tanyaku. “Iya, Kak,” jawab wanita itu. Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman. “Bimo..” kataku. “Ini kartu nama kami, Kak. Boleh menghubungi kapanpun apabila Kakak mau memesan bunga,” ucapnya. Ia menyambut tanganku dengan memberikan kartu nama itu, bukannya menerima jabat tanganku. Aku terpaku. “Maaf, tadi Kakak bilang apa?” tanya wanita itu. Aku langsung tersenyum dan menggeleng. “Baiklah, terima kasih,” ucapku sambil segera mengantongi kartu nama itu. “Emh, sampai jumpa,” ucapku, lalu aku segera pergi. Baru beberapa langkah, wanita itu berkata. “Putri. Nama saya Putri, Kak. Sampai jumpa lagi,” ucapnya. Aku mengangguk, tersenyum lalu kembali pergi. Aku melangkah sambil senyum-senyum. tergelitik dengan apa yang baru saja terjadi. Lucu sekali wanita mungil itu. Aku pun berjalan di pelataran pertokoan menuju mobil. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata itu adalah telepon dari petugas pemeriksaan sampel darahku. Lagi-lagi hal yang sama terjadi lagi. “Kali ini sampel benar-benar kami perhatikan dengan seksama. Saya melihatnya dengan mata saya sendiri, sampel meledak tanpa ada pemicu apapun,” ucap petugas medis menjelaskan. Benar-benar ada yang aneh dengan diriku. Petugas medis menawariku untuk pemeriksaan intensif kesehatanku. Ia mengarahkanku ke bagian laboratorium yang lebih khusus, terpisah tempatnya dari rumah sakit ini. Aku belum memastikan pemeriksaan itu akan kulakukan atau tidak. Aku hanya berterima kasih atas informasi yang diberikan dan akan kembali menghubunginya apabila akan melakukan pemeriksaan nantinya. Aku baru saja masuk ke dalam mobil. Aku membuka ponselku. Ku lihat Yudas tidak sedang online saat ini. Sebenarnya aku ingin mengabari hal ini segera kepadanya, tapi sepertinya Yudas sedang tidak bisa diganggu saat ini. Jadi aku menunda untuk menceritakan hal aneh ini kepada Yudas. Karena tidak ada orang yang aku ajak bicara untuk melampiaskan kebingunganku saat ini, yang ada aku jadi kepikiran. Aku melakukan perjalanan berkendara menggunakan mobil dalam keadaan memikirkan hal aneh itu. Lalu tiba-tiba... “TIIIIIN...” Suara klakson menyadarkanku. Aku baru saja melamun dan tidak fokus menyetir. Mobil yang kubawa ternyata telah keluar lajur. Seharusnya aku tetap di lajur kiri kini justru berpapasan dengan sebuah minibus dari lajur kanan. Aku langsung membanting stir ke kanan. Aku tidak jadi bertabrakan dengan minibus itu, namun aku justru terperosok ke hutan dan menabrak pohon. “DRAAAAK..” Sebuah benturan yang sangat keras terjadi. Aku masih sadar apa yang terjadi. Aku masih bisa bangkit dan berjalan keluar menjauhi mobil yang sudah sebagiannya hancur itu. Tak lupa kubawa serta sebuket bunga yang tadi kubeli. Kepalaku terasa sangat pusing, aku berjalan dengan lemas dan kurang seimbang. Orang-orang yang mengetahui kecelakaan itu langsung menghampiriku. Betapa beruntungnya aku. Aku ditolong mereka dengan kondisiku yang sedikit terluka. Aku mendengar beberapa di antaranya bercakap-cakap bahwa betapa beruntungnya aku. Mobil itu rusak parah, sebuah keajaiban aku memiliki kondisi yang tidak terlalu parah. Mereka mengatakan mungkin kalau itu terjadi pada orang lain, orang tersebut akan terluka parah bahkan menjadi korban jiwa. Aku lalu diantar ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan mama. Papa mendatangiku dengan ruangan yang berbeda. Aku memintanya untuk tidak memberitahu mama. Selain itu aku juga ada janji mau bertemu teman lama yang datang dari luar kota. Aku meminta papa untuk mengabari mama bahwa aku sedang sibuk menemui teman lamaku itu saja, bukan sedang dalam perawatan seperti ini. Papa pun menyanggupi permintaanku. Papa juga sebenarnya tidak ingin membuat mama khawatir. Tak lupa aku berikan bunga yang baru aku beli tadi kepada papa. Aku memintanya untuk memberikannya kepada mama. Waktu pun berlalu. Sore hari tiba. Aku tengah duduk-duduk di taman rumah sakit. Papa kemudian datang beserta dengan Yudas. Ternyata papa bertemu yudas di lorong tadi dan Yudas langsung mengenali papa, jadi papa mengantarnya kepadaku. “Astaga, Bim... lengan, kaki, jidat, semuanya lecet-lecet gini,” ucap Yudas. Aku pun lalu menceritakan apa yang terjadi. “Bingung gua, Bro. Sampai sekarang gua belum nemuni nyokap. Gua ga mau nyokap lihat keadaan gua kaya gini,” ucapku kepada Yudas sambil menunjukkan beberapa balutan perban di bagian-bagian tubuhku yang lecet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN