“Elu ngapa, Bim? Korban tabrakan?” tanya Yudas kepadaku.
Sejak tadi aku memang selalu melamun. Aku menenangkan diri dengan duduk di taman di areal rumah sakit. Aku duduk di atas kursi roda.
Aku tersadar dari lamunanku yang kumat-kumatan ketika Yudas datang. Tidak seperti sebelumnya, ketika papa hadir aku sadar, lalu ketika papa pergi aku kembali dalam lamunanku.
Yang selama ini menjadi beban pikiranku adalah diriku sendiri. Kondisi di mana aku mengalami hal-hal aneh pasca acara di Surabaya itu, juga di kampus dan meledaknya sampel darahku secara berulang.
Aku menjawab pertanyaan Yudas. Aku menceritakan apa yang terjadi, bahwasanya aku bukanlah korban tabrakan, melainkan aku yang menabrak karena tidak konsentrasi dalam menyetir mobil.
“Oh gitu ceritanya,” ucap Yudas sambil menyentuh salah satu balutan perban dengan ujung jarinya.
Ia memasang raut yang heran. Sekali lagi ia menyentuh balutan perban itu tapi kali ini dengan menekannya lebih keras.
“Lu kok ga kesakitan, Bim?” tanya Yudas heran.
“Hah? Gimana, gimana?” ucapku tersentak.
“Ini...” ucapnya lagi dengan menekan luka yang terbalut perban itu.
Aku tersadar. Tidak ada rasa sakit yang kurasakan. Kali ini aku yang melempar tatapan bulat kepadanya.
Aku lalu menekan-nekan lukaku sendiri. Benar-benar tidak terasa sakit. Rasanya seperti sentuhan biasa, tanpa rasa nyeri luka. Kemudian aku tekan daerah luka lainnya dan berpindah ke luka lainnya. Benar-benar hal yang aneh. Tiada rasa sakit sedikit pun.
Aku penasaran dengan apa yang terjadi di balik balutan ini.
“Mancis, Bro! Mancis!” pintaku kepada Yudas.
“Hah? Lu? Lu mau ngerokok?” ucap Yudas.
“Kagak. Buru!” desakku.
Yudas lalu memberikan korek gas yang kuminta. Ia memang selalu membawa korek gas karena Yudas adalah seorang perokok.
Aku lalu membakar sedikit bagian pada balutan perban untuk memutus ikatannya. Aku urai dan lepaskan balutan perban di lututku.
Aku dan Yudas sama-sama melihat kulit di lututku yang baik-baik saja. Tidak ada kulit yang terbuka karena lecet, memar pun tidak. Lalu aku buka bagian penutup yang lain, hal yang sama kutemui pada bagian itu.
“Wah, lu ngeprank gua, Bim?” tanya Yudas.
“Kagak! Gua juga kena prank, Bro! Berarti dokter sama perawat juga kena pranklah! Ngapain coba mereka ngebalutin luka-luka gua kaya gini? Emang lu kira ini gua balutin sendiri?” protesku.
“Tapi tadi lu beneran ngerasain sakit, Bro?” tanya Yudas.
“Iya. Ngerasain. Semua luka-luka gua ini gua rasain, sakit kok,” jawabku heran.
“Apa ini ada hubungannya dengan...” ucap Yudas.
“Iya, gua rasa sih gitu,” ucapku menyelah Yudas.
“Gila, sakti bener Lu, Bro!” ucap Yudas.
“Gua harus mastiin kondisi gua! Lu tahu ga, sebelum ini gua kan periksa darah ya di sini. Masa petugasnya nginfoin ke gua kalau sampel darah gua meledak. Itu terjadi dua kali, tahu ga Lu! Gua sampai ngulang prosesnya dan kejadiannya juga berulang,” jelasku.
“Sampel darah Lu meledak? Gila sih ini,” ucap Yudas.
Karena kehebohan nada suara dan ekspresi kami dalam berbincang, hal itu menarik perhatian beberapa orang di sekitar kami. Aku dan Yudas jadi pusat perhatian beberapa orang.
Karena tidak nyaman, aku pun meminta Yudas untuk membawaku pergi. Namun, terlebih dahulu kami melapor untuk pulang.
Sebelum benar-benar diijinkan pulang, dokter terlebih dahulu memeriksa kondisiku. Ia pun sangat terheran-heran dengan kesembuhanku yang begitu cepat ini.
Aku lalu mengabari papa via telepon bahwa aku sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Aku menginfokan kepada papa bahwa aku pulang diantar oleh Yudas dan papa mengijinkannya tanpa melihat kondisiku secara langsung dan tanpa penjelasan bahwa aku sudah benar-benar sembuh total.
Aku lalu pergi bersama Yudas. Yudas tidak jadi menjenguk mama, karena tidak memungkinkan kalau ia datang bersamaku ddengan keadaanku yang baik-baik saja di depan papa. Juga tidak mungkin Yudas datang sendirian tanpaku di depan mama.
Aku pergi bersama Yudas untuk bertemu dengan seorang profesor yang ditemuinya hari ini. Seseorang yang menjadi tujuan Yudas datang ke kotaku hari ini. Perjalanan ini menjadi panjang karena adanya kemacetan di jalan ibukota. Hal tersebut membuat aku menceritakan banyak hal yang terjadi kepada Yudas.
Aku dan Yudas mendatangi rumah profesor tersebut. Ketika sampai di rumahnya, sepertinya keluarga profesor baru saja akan melakukan santap malam.
Dia adalah Prof. Nakayama. Seorang pria berumur yang ramah. Yudas memperkenalkan aku kepada profesor dan tanpa basa-basi ia langsung mengajak kami makan malam.
Hal yang mendesak bagi aku dan Yudas membuat kami tidak mempedulikan waktu makan sejak tadi. Waktu santap malam keluarga profesor lebih awal. Sejak tadi aku dan Yudas pun memang belum makan.
Keluarga Prof. Nakayama sungguh sangat bersahaja. Di meja makan ada istrinya Ny. Lidya dan anak mereka Yura yang katanya baru saja menginjak bangku SMP. Sementara seorang anaknya lagi sedang studi di luar negeri. Aku hanya bisa melihatnya melalui foto yang ditunjukkan oleh Ny. Lidya. Sebuah foto berbingkai yang terpajang di sudut ruangan.
Kami berbincang sangat hangat, membicarakan tentang hobi-hobi kami yang mirip. Sama-sama hobi di bidang fisika. Prof. Nakayama adalah seorang yang humoris. Ia menceritakan kenangan-kenangan yang menyenangkan mengenai hobinya itu, sehingga orang-orang di meja makan pun sangat ceria.
Aku jadi teringat dengan papa. Aku ingin mengingat-ingat kembali kapan terakhir kami makan malam dengan suasana sehangat ini. Seandainya Prof. Nakayama adalah orang tuaku, tentu hobiku aka tersalurkan dengan sangat baik. Tidak seperti sekarang, aku masuk dalam rutinitas yang memuakkan setiap harinya di kampus.
Makan malam pun usai. Aku dan Yudas diarahkannya ke ruangan pribadinya di bagian rumah yang lain. Sebuah ruangan dengan banyak buku tersusun rapi dalam rak yang memenuhi dinding, juga sofa-sofa yang sangat nyaman dengan barang-barang furniture yang berwarna senada.
Kami bertiga berbicara serius di ruangan itu. Yudas membuka percakapan dengan apa yang ditemuinya terhadap kondisiku. Lalu, aku melanjutkan cerita dengan selengkap-lengkapnya kepada Prof. Nakayama.
Setiap kalimat yang kukeluarkan ia simak dengan seksama kemudian menanyakan beberapa hal dan tentu saja kujawab dengan sebagaimana adanya. Profesor nampaknya paham dengan apa yang terjadi kepadaku.
Karena aku dan Yudas berkunjung ke rumah profesor pada waktu malam, jadi penelusuran masalah ini tidak dapat segera dilakukan.
Prof. Nakayama meminta aku kembali menemuinya pada pukul 15.00 besok. Besok Profesor dan Yudas akan menghadiri sebuah acara formal terlebih dahulu, baru seusainya kami dapat melanjutkan penyelidikan masalah ini.
Aku pun menyanggupinya. Setelah itu aku dan Yudas pun pamit pulang.
Aku dan Yudas pun kembali dengan menaiki mobil Yudas. Sebuah mobil sewaan yang dibawanya selama berada di kota ini.
Beberapa waktu kemudian, di perjalanan menuju rumahku kami singgah di sebuah tempat pengisian bahan bakar. Bukan hendak mengisi bahan bakar mobil, melainkan berhenti karena Yudas tiba-tiba ingin buang air, sementara aku masuk ke mini market yang ada di dekatnya.
Setelah beberapa saat, aku dan Yudas tampak bersamaan baru saja keluar dari tempat masing-masing. Namun, dari kejauhan tampak seseorang yang berperilaku aneh di dekat mobil Yudas.
Setelah diperhatikan rupanya seseorang itu tengah menyongkel kaca mobil Yudas. Yudas pun meneriakinya dan seseorang itu terkejut dan melarikan diri. Aku lalu mengejarnya dengan spontan.
Belum jauh seseorang itu pergi, ia sudah tertangkap olehku. Aku rasa hal aneh yang sedang terjadi, tapi aku biarkan saja, aku lupakan. Saat ini yang yang terpenting adalah menyerahkan orang ini ke bagian keamanan.
Yudas menghampiri. Aku dan Yudas memaksa lelaki yang hendak maling ini ke pos keamanan terdekat. Ia terlapor sebaga seorang maling, lalu kami meninggalkannya di pos tersebut bersama petugas keamanan.
Aku dan Yudas pun kembali ke dalam mobil. Kami hendak melanjutkan perjalanan pulang menuju rumahku.
Saat menyetir mobil Yudas berkomentar dengan ekpresi seorang yang tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.
“Gila Lu, Bim! Gila!” berulang kali Yudas mengatakannya.
Ia menceritakan kepadaku bahwa aku berlari tidak seperti manusia normal. Keadaan di sana tadi cukup sepi, sehingga mungkin hanya Yudas yang melihatnya. Kecepatanku berlari sangat mustahil bagi seorang manusia normal.
Aku pun mengiyakannya. Aku memang merasakan hal aneh selama aku mengejar lelaki tadi. Ternyata itu adalah tentang kecepatanku berlari. Kalau Yudas tidak mengabariku, aku tidak akan tahu hal aneh apa yang baru saja terjadi padaku.
“Lu inget film Spider Man kan, Bro? Habis kena sengat doi langsung sakti, mata doi yang minus langsung sembuh alias normal. Itu Elu, Bim! Persis!” ucap Yudas.
Mataku hanya terbelalak mendengarkan kata-kata yang sejak tadi terlontar oleh mulut Yudas. Apakah benar aku seperti itu? Aku sendiri pun hampir tidak percaya.
“Kita cari tahu besok bareng profesor, Bro! Santai dulu,” ucapku. Yudas pun mengangguk dan percakapan ini sempat terhenti beberapa saat.
“By the way, Bim. Elu kalau dikasih kekuatan super kaya gitu, misalnya nih, perasaanlu gimana?” tanya Yudas. Untuk sesaat aku masih terdiam, kemudian membulatkan mataku dan tersenyum. Aku menggeleng.
“Belum terpikir sama gua, Bro,” jawabku.
“Kalau itu terjadi sama gua, emh...” ucap Yudas sambil menggeleng-geleng sumringah.
“Woy, konsen Lu nyetir! Jangan Lu mengandai-andai malah kaya gua Lu nabrak!” ucapku.
“Haha, iya Bro! Tenang aja,” ucap Yudas.
“Tapi Bro, kekuatan super itu kalau pun itu benar-benar Lu milikin dalam waktu lama, gua harap ga ada yang berubah dari Elu. Diri Elu yang sekarang. Seorang Bimo yang gua kenal,” ucapnya dengan nada serius dan suara yang merendah.
“Apaan si Lu?” tanyaku sambil tertawa kecil.
“Iya, tetap jadi diri Lu apa adanya. Karena kalau di film-film, orang-orang yang punya kekuatan super belum tentu bisa mengendalikan diri. Apalagi di kehidupan nyata. Kalau ga Elu yang hilang kendali, Elu bisa aja dimanfaatin orang, sebagai senjata perang misalnya,” ucap Yudas.
Sekarang yang cocok dikatai gila adalah Yudas. Pemikirannya sangat jernih, bisa berpikir sampai sejauh itu. Pikiranku masih meraba-raba untuk memenuhi keinginanku yang belum terjangkau, tapi dia sudah berpikir sejauh itu. Salut dengan sahabatku yang satu ini.
Yudas, suatu saat kalau aku kehilangan kendali seperti yang kamu katakan itu, kamu mungkin adalah orang yang aku butuhkan untuk membantuku mengembalikanku kepada diriku yang sebenarnya. Aku membatin. Sebab aku tidak ingin membebaninya dengan kata-kataku ini. Saat ini.
Yudas dan aku pun sampai di rumahku. Ini adalah hari milik kami, di mana sudah lama kami tidak saling bertemu. Yudas malam ini menginap di rumahku. Kami bercengkrama panjang malam ini. Besok, pagi-pagi benar ia akan kembali ke penginapannya dan bersiap untuk acara yang akan diikutinya.
Di tengah kebersamaan kami, papa meneleponku. Ia mengatakan bahwa mama sudah diijinkan pulang besok. Aku sangat senang mendengarnya, juga Yudas.
Yudas yang sejak awal ingin menjenguk mama berencana besok akan kembali datang ke rumah untuk menemuinya. Menunaikan keinginannya yang sebelumnya telah direncanakan.
Satu masalah telah teratasi. Kondisi mama sudah membaik. Aku berniat keesokan harinya akan menelusuri kondisiku ini brsama Prof. Nakayama, kalau perlu apabila perlu bepergian ke tempat Yudas di Bandung misalnya atau ke kota lain, maka rencananya akan kudatangi. Sesegera mungkin.