Penawaran dari Kepolisian

1005 Kata
Setelah pertimbangan yang kulakukan disertai bantuan Yudas dalam menelusuri siapa sebenarnya Inspektur Daniel, akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya. Lagi pula kupikir urusanku dengannya tak akan banyak memakan waktu, sebab keterlibatanku dengan kelompok n*****a itu tidak terlalu dalam. Aku hanya mengeksekusi rencanaku untuk menghabisi para anggota geng itu agar aku tidak terus-menerus mendapatkan teror dari mereka. Aku kini sedang berada di dalam ruangan bersama Inspektur Daniel. Sepertinya ini bukan ruang kerja pribadinya. Ia menemuiku di sebuah ruangan yang terlihat jarang dipakai. Memang meja di hadapan tempatku duduk cukup bersih, tapi kuperhatikan dan sempat kusentuh beberapa pintu laci besi yang ada di sini berdebu. Tidak banyak tangan yang menyentuhnya setelah sekian lama. Aku disuguhkan teh hangat manis. Ia menyambutku dengan ramah. Ia berterima kasih karena sudah mau jauh-jauh datang dari Bandung ke Jakarta hanya untuk menemuinya. Percakapan di antara kami pun dimulai. Ia memintaku menceritakan secara runut sejak awal. Bagaimana awal mula aku bisa terlibat dengan kelompok n*****a itu. Tentu saja aku menjelaskan dari awal. Aku mengatakan aku sedang berjalan-jalan di sudut kota tanpa kendaraan dan aku melihat seorang bocah jalanan dan seterusnya bla bla bla. Aku menceritakan inti keterlibatanku di awal waktu, tanpa mengatakan bahwa aku sedang bersenang-senang dengan kekuatan super yang kumiliki. Terus saja kuceritakan yang terjadi. Aku merencanakan akan menghabisi kelompok yang telah menerorku sekian lama itu kemudian menceritakannya kepada Yudas. Yudas, sahabatku yang adalah ahli teknologi tinggi membantuku dengan membekaliku dengan barang ciptaannya yang belum pernah diujicobakan. Sampai di sini, Inspektur Daniel menghentikan ceritaku. Ia menyanggah, ternyata benar kecurigaannya bahwa cerita yang sebelumnya kukatakan sewaktu masih di Bandung adalah tidak sepenuhnya benar. Maka, terjawablah keganjilan yang selama ini cukup mengganjalnya. Aku pun melanjutkan cerita sampai akhir, sampai aku meninggalkan pulau itu. Namun, bagian cerita yang aku mengambil senjata canggih milik kelompok itu tidak kuceritakan. Ia pun menyorotkan kembali tatapan curiganya. Aku tetap berkelit bahwa aku sudah menceritakannya sampai akhir. Hingga saat ini tidak ada aksi tambahan yang terjadi sebagai balasan dari sisa-sisa kelompok itu yang bertahan. Cerita dariku dikonfirmasinya. Ia mengulangi cerita dariku yang telah diringkasnya. Sambil mengulanginya tatapannya begitu tajam kepadaku. Apabila aku salah berekspresi sedikit saja, maka aku akan dicurigai sedang menyembunyikan sesuatu. Aku pun memohon maaf atas sikapku yang tidak terkondisikan dengan baik. Aku mengatakan bahwa aku sedang gugup sekarang. Belum pernah sekali pun aku bercakap dengan seorang polisi untuk menggali fakta. Jangankan hal itu, sidang skripsi pun belum pernah. Jadi, aku berkilah saja bahwa aku sedang gugup saat ini. Inspektur Daniel mengangguk di depanku. Pertanda ia sedang maklum dengan alasanku yang kukatakan sedang gugup itu. Ia berdiri kemudian berjalan mengelilingiku. Aku merasakan sedikit lega. Apakah percakapan ini sudah selesai? Inspektur Daniel melanjutkan berbicara ketika ia mengitariku, berada di belakangku. Ia menawariku untuk bekerja sama dengannya untuk menghentikan tidak kriminal yang tersembunyi dan sulit terungkap. Ia mengatakan bahwa aku punya modal yang cukup mumpuni beserta dengan sahabat yang ahli. Inspektur Daniel menawarkan pekerjaan tetap dan promosi kepadaku serta pembiayaan dalam hal pengembangan teknologi canggih yang dilakukan. Kepolisian pusat bekerja sama dengan para peneliti dan kalau dibutuhkan mereka akan mendatangkan tenaga ahli lainnya untuk membantu tugas Yudas. Aku terdiam sejenak. Ini adalah tawaran yang sangat menggiurkan, tapi Yudas. Aku tidak mungkin memasukkannya dalam pekerjaan ini. Saat ini ia sudah mulai masuk ke hal-hal yang nyaris ilegal, baik itu relasi-relasinya, maupun barang-barang yang didapatkannya sebagai bahan dalam perakitan alat-alat berteknologi tinggi. Inspektur Daniel mengambil sebuah remote dan menyalakan layar monitor besar di hadapan kami. Ia membuka file dalam folder yang ada di sana. Ia memutarkan video-video diriku yang viral di beberapa kalangan seperti komunitas parkour, maupun rekaman amatir dan dari CCTV. Inspektur Daniel menanyakan pertanyaan yang mungkin sebenarnya sudah ia yakini sendiri tanpa kujawab. Ia menanyakan apakah aku mengenal orang dalam video-video itu. Aku menjawabnya dengan jujur bahwa itu adalah aku. Inspektur Daniel kembali membujukku. Ia memuji kemampuanku yang hebat itu. Namun, hingga saat ini aku sama sekali tidak membuka pembicaraan tentang kekuatan super. Semua aksiku di dalam video itu atas support dari Yudas, itu yang Inspektur Daniel ketahui. Ia menanyakan kembali bahwa bukankah aksi penyelamatan dan pemberantasan kriminal adalah hal yang aku sukai. Lalu ia mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk memberdayakan kemampuan yang kupunya itu untuk mengabdi kepada negara, dengan bekerja sama dengan kepolisian. Inspektur Daniel menjelaskan keamanan yang akan aku dapatkan apabila bergabung dengan kepolisian. Identitasku akan dirahasiakan di depan publik, dari segi keamanan sangat terjamin. Dengan begitu aku dapat melakukan tugas-tugasku berdasarkan minat dan bakatku itu. Ia mengatakan bahwa seseorang yang bekerja dengan hobinya maka seseorang itu pasti merasa senang, seperti tidak sedang bekerja sebab hanya menyalurkan hobinya saja. Aku pun menjawab tawaran itu dengan mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Bagaimana pun itu adalah pekerjaan yang mungkin sangat membahagiakan bagiku. Namun, lagi-lagi aku mengingat posisi Yudas yang tidak mungkin terlibat dengan kepolisian. Apabila aku menerima pekerjaan ini dengan syarat tidak melibatkan Yudas, pasti Inspektur Daniel akan mendorongku untuk tetap bekerjasama dengan Yudas. Bisa dikatakan bahwa aku dan Yudas nampaknya tidak dapat dipisahkan. Mungkin bagi Inspektur Daniel aku adalah seorang eksekutor yang beraksi di luar, tapi di balik layar ada Yudas yang membekali kemampuan-kemampuanku dengan kecanggihan teknologi. Selain itu, aku ingat apa yang disampaikan oleh Kronos. Ia mengatakan keputusanku untuk menemui Inspektur Daniel adalah keputusan yang tepat. Mungkin agar aku dengan tegas mengatakan keputusanku terhadap tawaran ini. Kronos mengatakan bahwa urusanku bukan di bumi. Permasalahan-permasalahan di bumi dapat terselesaikan walau tanpa kehadiranku dan katanya yang lebih membutuhkanku adalah semesta. Mungkin yang Kronos inginkan dari pertemuan kami adalah keputusanku untuk menolak pekerjaan ini dan mempersiapkan diri sebelum aku dijemputnya. Inspektur Daniel mengatakan bahwa segala sesuatu di tempat ini diputuskan dengan cepat dan tepat. Ia tak ingin menunggu lama untuk mendengarkan keputusanku. Namun, ia mempersilahkan aku untuk meninggalkan kantor ini dan kembali setelah dapat memutuskan tawaran ini. Aku pun mengiyakan pilihan tersebut. Aku perlu bicara dengan Yudas dan kalau bisa aku ingin bisa bertemu Kronos sekali lagi. Aku pun meninggalkan kantor Inspektur Daniel. Seperti rencana sebelumnya, aku ingin mengetahui kabar mama. Aku akan mengunjunginya, aku akan pulang. Setelah aku mengunjungi mama, aku pun ingin bertemu dengan Putri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN