Aku memikirkan apakah aku bisa mempercayai Inspektur Daniel. Sepertinya dia orang baik. Aku pun meminta bantuan Yudas, karena Yudas adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk mencarikan informasi yang valid tentang suatu hal. Ia punya jaringan komunitas IT rahasia yang baru kutahu belakangan ini.
Yudas terhubung dengan orang-orang di berbagai belahan dunia melalui jaringan game online. Ia dipertemukan dengan berbagai programmer, bahkan hacker rumahan yang kemampuannya begitu canggih.
Hal itu memungkinkannya untuk mendapatkan informasi dan barang langka untuk kebutuhan perrcobaan-percobaan teknologi canggihnya. Beberapa bahan logam tertentu ia dapatkan dari mulut ke mulut bahkan cenderung ke arah pasar gelap.
Yudas atas permintaanku mencari tahu informasi mengenai intel kepolisian pusat itu. Diketahui lebih lanjut bahwa lelaki itu minim informasi di berbagai data instansi, khususnya kepolisian maupun instansi pemerintah. Namun, ternyata intel yang bernama Daniel Mangondow itu pernah dibuang atau diasingkan ke daerah terpencil di sekitaran Filipina karena dicurigai berpotensi menggagalkan tindakan pelanggaran dalam tubuh kepolisian pusat.
Ia lalu disinyalir punya keterlibatan dengan interpol sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Tak lama kemudian ia dipromosikan tepat setelah diturunkannya salah seorang pejabat kepolisian pusat dengan tidak hormat. Semua informasi itu diperoleh dari penelusuran dokumen-dokumen secara terpisah. Tidak ada laporan yang menerangkan secara runut dalam versi dokumen-dokumen kepolisian pusat.
Aku baru mengerti. Sepertinya intel itu adalah seorang lelaki yang begitu berdedikasi. Tidak salah apabila aku mempercayainya. Lagipula aku pun dapat membantu kepolisian.
Aku pun menghubungi Inspektur Daniel dan melakukan janji temu. Ia mengundangku datang langsung ke kantor kepolisian pusat di ruangannya. Aku pergi ke Jakarta, meninggalkan Yudas di Bandung yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Aku kembali ke Jakarta. Sudah beberapa bulan aku meninggalkan kota ini. Aku hanya sesekali bertukar kabar dengan mama dan tak pernah sekali pun aku memunculkan diri di kampus atau bertukar kabar dengan teman-teman di kampus. Aku sudah benar-benra bagai hilang di telan bumi. Dan perempuan mungil itu, Putri. Apa kabar dia sekarang?
Aku terlalu sibuk dengan urusanku yang baru. Urusan-urusan yang sudah aku impi-impikan sejak dulu. Di mana, aku bisa terlepas dari cengkeraman papa. Terakhir ali dimintanya untuk menemaninya ke Eropa, ke sebuah acara resmi tempat kerjanya. Namun, aku menghindar dengan alasan aku sedang banyak tugas dan ujian di kampus. Tentu saja aku berbohong, yang ada justru aku mangkir dari kegiatan kampus dan bertindak curang dengan membalik-balikkan waktu hanya ketika ujian dan urusan-urusan penting saja. Untungnya segala jadwal ujian, tugas dan urusan birokrasi kampus tertulis secara online jadi aku tidak ketinggalan informasi.
Setibaku di bandara di Jakarta, aku mendapati seseorang yang mencurigakan sedang berdiri memperhatikanku. Aku yang saat itu sedang mencuci wajah di salah satu toilet melihatnya di balik tubuhku di hadapan cermin. Ia adalah kakek berjubah gelap. Aku pun berbalik badan tapi ia menghilang. Ketika aku melihat cermin lagi dia masih berada di tempatnya.
“Siapa kau?” tanyaku sembari membelakanginya namun menatapnya melalui cermin.
“Yang kau lakukan sudah benar. Tidak akan lama lagi aku akan menjemputmu,” jawabnya dengan suara serak dan desah napas orang tua yang mengganggu.
“Siapa kau?” tanyaku sekali lagi.
Lelaki tua itu lalu menghilang. Mungkinkah itu adalah malaikat pencabut nyawaku? Penampilannya sangat kuno, seperti seorang penyihir di film Harry Potter. Lagipula mau menjemputku kemana? Ke alam baka? Lalu apa maksudnya bahwa apa yang kulakukan benar? Apakah aku akan mati dalam melakukan tugas membantu kepolisian nanti?
Ah! Aku pun sekali lagi membasuh wajahku untuk mendinginkan pikiranku. Aku segera meninggalkan tempat itu setelahnya. Aku keluar, memesan taksi dan menuju ke tempat Inspektur Daniel berada.
Aku pun menaiki taksi dan menuju ke kantor Inspektur Daniel. Di dalam perjalanan, aku sibuk dengan ponselku. Lalu, tiba-tiba supir taksi berubah. Terdengar suara yang berbeda menyapaku. “Ehm, perjalanan kita ke kantor Mabes Polri akan sedikit terhambat kemacetan, Tuan,” ucapnya. Seingatku tadi supir taksi jauh lebih muda dari pada suara yang terdengar ini.
Dari arah pandanganku di layar ponsel dengan kepala yang tertunduk, aku pun menegakkan kepalaku. Yang kulihat dari cermin yang tergantung di depan adalah sebuah wajah yang jauh lebih tua. Ini adalah penyihir yang selalu menerorku.
“Hei! Siapa kau? Kenapa kau selalu menerorku seperti ini? Ada urusan apa denganku?” ucapku kesal.
“Ini adalah bagian dari misimu, wahai anak muda,” ucap lelaki tua itu sambil menyetir.
“Misi apa? Hei, tak bisakah kau jawab pertanyaan yang selalu kuulang-ulang? Siapa kau?” ucapku dengan nada yang semakin meninggi sembari melingkarkan lenganku ke lehernya dengan aku duduk di belakang kursinya. Aku siap menghabisinya kapan saja.
“Hemhemhem... Bukan aku yang akan kau sakiti, tapi supir taksi ini,”ucapnya tenang sambil tertawa tanpa membuka mulutnya.
Perlahan kulepaskan lingkar lenganku. Aku baru sadar bahwa lelaki tua ini adalah penyihir, makhluk halus atau apa pun itu yang menjelma pada tubuh supir taksi yang tak bersalah itu.
“Kau sudah memutuskan untuk masuk ke permainan itu beberapa bulan lalu. Sejak itu semua yang ada di kehidupanmu adalah bagian dari misi-misi. Kau belum mengakhiri permainan itu sama sekali,” ucapnya.
“Permainan? Game? Ma-maksudmu...” ucapku tergagap.
“Aku adalah Kronos, pembimbingmu. Misimu di bumi sudah hampir usai. Dan apabila saat itu tiba, aku akan menjemputmu. Tempatmu bukan di sini. Semesta jauh lebih membutuhkanmu di seberang sana. Urusan-urusan di bumi masih bisa teratasi walau tanpa kehadiranmu secara langsung di sini,” jelasnya.
“Semesta? Mungkinkah...” aku menggumam dengan pikiranku yang melayang pada ingatanku tentang game yang pernah aku ikuti di Surabaya. Ingatanku ketika berada di luar angkasa, semacam mencicipi bagaimana suasananya, sebab aku di sana hanya sekedar menjalankan operasi perbantuan dalam perang sebentar saja.
“Ada yang bisa dibantu, Den?”
Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Wajah supir taksi ini kini sudah berubah kembali seperti semula. Mungkin ia heran kenapa tiba-tiba aku duduk di belakangnya dan bersandar pada kursinya.
Sialan, orang tua itu pergi dengan tiba-tiba seperti ini.
“Enggak, enggak apa-apa, Pak,” ucapku sambil membenahi posisi dudukku.
Jadi, orang tua yang kukira penyihir atau makhluk gaib itu adalah pembimbingku. Kronos. Nama itu akan kuingat. Pembimbing. Apakah ada kaitannya dengan pembimbing jiwa sebagaimana di DTE (Dunie Tanpa Ego)?
Setelah beberapa waktu, yang pastinya dihambat oleh kemacetan lalu lintas ibukota, akhirnya aku pun sampai di kantor Inspektur Daniel.