Dumah didatangi Polisi

1193 Kata
Aku kembali dari rumah dr. Lim. Di perjalananku mengendarai motor, masih bertempat di komplek perumahan dr. Lim, di mana di kiri kanan jalan terdapat barisan pohon palm. Aku melihat seseorang di depanku berdiri di sisi batang pohon palm yang hampir menutupi keseluruhan tubuhnya. Laju motorku kuperlambat, kuperhatikan seseorang itu memperhatikan lekat-lekat saat aku melaluinya. Seseorang dengan jubah gelap panjang hingga menutupi kakinya. Jubah yang menutup kepalanya hingga sebagian besar wajah atasnya hampir tak terlihat. Ah, mungkin hanya gelandangan atau orang gila. Tidak mungkin itu adalah preman dari kelompok gembong n*****a yang dulu pernah menerorku. Preman tidak sekurus itu, tidak setua itu. Aku terus berkendara hingga menemukan jalan utama kota yang lebih ramai. Kudapati lampu lalu lintas yang mengatur arus. Sesekali arus lalu lintas lain berhenti dan arus lainnya bergerak. Berikutnya di lampu lalu lintas kedua yang masih berjarak dua ratus meter dari tempatku, aku melihat orang yang penampilannya sama sedang berdiri seperti patung. Tubuhnya menghadap ke arah lain, menyamping dari jalur yang hendak kulewati. Lampu lalu menyala merah, sehingga aku dan para pengendara lain berhenti. Aku melihat tubuh orang misterius itu memutar ke arahku. Ia melihatku lekat-lekat. Kali ini aku bisa menemukan sepasang mata dari naungan penutup kepalanya yang hampir menutupinya itu. Dia benar-benar seseorang yang sudah tua. Apakah itu penyihir? Penampilannya seperti penyihir yang ada di cerita-cerita fantasi. Aku heran mengapa hal ini terjadi kepadaku. Aku lalu memanggil sesama pengendara motor yang ada di sampingku. “Pssst...” panggilku. Seorang pemuda berpakaian pramuka menoleh. Ia mengangkat kepalanya cepat seolah bertanya ada apa. “Lu lihat ga orang yang berdiri di tiang lampu merah itu?” tanyaku sembari menganggukkan kepalaku dan melempar arah pandanganku ke tempat pria tua itu berdiri. “Yang mana bang? Anak penjual koran itu? Tapi ga berdiri di tiang lampu tuh,” ucap pemuda itu. “Bukan! Itu yang pakai baju hitam-hitam, jubah ber-hoodie? Masa ga kelihatan sama lu?” tanyaku. “Ga ada, Bang? Baji hitam-hitam? Wah, lu anak indigo ya, Bang?” ucap pemuda itu. Aku lalu menggeleng dan tak hendak meneruskan percakapan kami. Pemuda itu pun menangkap kemalasanku itu. Ia mengarahkan kembali pandangannya ke depan. Aku tidak merasa aku adalah manusia yang sering disebut sebagai anak indigo. Aku bukan indigo, aku superhero. Namun, bisa jadi sih ada yang menempeli aku ketika aku melakukan perjalanan regresi tadi. Mungkin arwah penasaran, atau jin primitif. Astaga, sekarang aku justru memikirkan hal-hal tahayul seperti itu. Lampu merah pun berganti ke kuning dan kemudian hijau. Kendaraan-kendaraan mulai kembali bergerak. Aku kembali melajukan motorku untuk pulang. Aku kembali ke rumah Yudas yang sudah seperti rumahku sendiri. Beberapa saat kemudian aku sampai di kediaman Yudas. Ada sebuah mobil sedan polisi yang terparkir. Aku melewati mobil tersebut dan terlihat melalui kaca jendelanya bahwa mobil itu kosong. Perasaanku pun bicara yang tidak-tidak. Apakah Yudas tersangkut kasus tertentu sehingga rumahnya ini didatangi polisi? Aku pun memarkirkan motor lalu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat dua orang polisi sedang duduk beserta Yudas. Pandangan mereka serentak beralih kepadaku. “Ada apa?” tanyaku kepada Yudas. Yudas pun memintaku untuk ikut duduk. Salah seorang polisi menjelaskan kepadaku bahwa kehadiranku dibutuhkan untuk melengkapi informasi mengenai tertangkapnya kelompok penyalur n*****a di pulau utara Jawa beberapa waktu yang lalu. Mereka mendapatkan informasi dari salah satu rekaman CCTV sebuah komplek pelelangan iklan yang menampakkan aku dan Yudas yang hendak menuju dermaga penyeberangan. Aku lalu mengikuti arahan polisi untuk ikut datang ke kantor polisi beserta dengan Yudas. Sesampai kami di kantor polisi, aku dan Yudas diarahkan untuk bertemu salah seorang pimpinan sub bidang di sana. Di ruangan itu aku bertemu dengan pimpinan sub bidang itu dan seorang polisi intel yang katanya adalah dari kepolisian pusat. Ia jauh-jauh datang dari Jakarta untuk bekerja sama dengan kepolisian Jawa Barat untuk bertemu denganku. Intel tersebut berterima kasih kepadaku karena aku telah menginfokan lokasi dan membantu polisi untuk menuntaskan kasus n*****a di salah satu pulau kecil di utara Jawa itu. Namun, aku dan Yudas diminta agar memberikan informasi lainnya yang lebih dalam tentang kelompok itu. Aku menjelaskan bahwa Yudas tidak terlibat apapun. Lalu, polisi itu menayangkan beberapa video yang itu adalah aku. Video saat aku melakukan aksi-aksi di gedung-gedung tinggi. Polisi punya teknologi yang mampu mengenali identitasku. Baik saat aku belum memiliki pakaian super maupun saat sudah menggunakannya. Polisi mengatakan ia dapat mengetahui keberadaanku karena mengenali Yudas. Yudas dikenal sebagai seorang yang ahli di bidang teknologi tinggi. Pakaian yang kukenakan dan ada di dalam video itu dicurigai adalah bentuk keterlibatan Yudas. Akhirnya kami membuka pembicaraan dengan polisi itu. Memang benar Yudas terlibat dalam teknologi tinggi yang aku gunakan, tapi Yudas tidak mengetahui apapun soal kelompok n*****a itu. Yudas tiba-tiba saja datang setelah kuberitahu bahwa aku akan pergi ke pulau. Yudas hanya ingin aku pergi menggunakan pakaian super itu. Aku beralasan bahwa cuaca laut tidak menentu dan banyak kecelakaan lalu lintas laut yang menelan korban. Yudas hanya ingin mengujicoba pakaiannya kepadaku sekaligus memberi perlindungan. Untuk kekuatan superku itu aku enggan menceritakannya. Yudas hanya menambah sedikit-sedikit statement yang mendukung informasi dariku. Namun, polisi tidak percaya begitu saja. Mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa masih ada hal-hal yang sengaja kusembunyikan. Yudas lalu membantuku. Ia menutup percakapan dengan cara bicaranya yang begitu terdengar cerdas. Bagaimana pun setiap orang punya hak untuk bicara dan polisi punya hak untuk melanjutkan penyelidikannya sendiri bila seorang informan tidak mau berbicara apa pun lagi. Polisi baik intel dan pimpinan sub bagian kepolisian daerah itu tidak memaksaku. Aku dan Yudas dapat kembali pulang. Sebelum kami berpisah, intel kepolisian pusat itu memberikan kartu namanya kepadaku. Ia mengatakan ia sangat berharap aku untuk menghubunginya apabila aku berubah pikiran. Kami lalu pergi menuju rumah. Di perjalanan, aku kembali mengalami hal yang sama seperti sehabis dari rumah dr. Lim. Lelaki tua berjubah gelap itu kembali berdiri begitu saja memperhatikanku lewat. Aku menunjuk-nunjuknya di hadapan Yudas, tapi Yudas tidak bisa melihatnya. Aku lalu menceritakan hal yangtelah terjadi ini sejak setelah aku dari rumah dr. Lim. Yudas memberikan pendangannya. Menurutnya wujud pria tua gaib itu adalah efek dari terapi yang kulakukan bersama dr. Lim. Hal itu mungkin saja, sebab kejadiannya memang seakan benar seperti yang Yudas utarakan. Aku lalu mengalihkan pembicaraan. Aku menanyakan kepada Yudas bagaimana pendapatnya tentang apa yang aku ceritakan di depan polisi itu. Yudas pun mengatakan bahwa keputusannya untuk menyembunyikan kekuatan super itu adalah hakku dan ia mendukung sepenuhnya. Namun, untuk beberapa alasan dan rangkaian cerita yang tadi kututurkan memang terlihat sedikit janggal. Ia lalu menyanyakan kembali kepadaku apakah aku akan mengubungi intel itu kembali atau tidak nantinya. Aku pun mengatakan kepada Yudas bahwa kekuatan superku itu harus dirahasiakan. Aku tidak yakin akan membukanya di depan beberapa orang seperti tadi. Menurutku intel tadi tampak orang yang mungkin bisa dipercaya. Orang itu punya karakter yang terlihat jelas bahwa ia bisa dipercaya, tapi pimpinan sub bagian kepolisian daerah tadi tidak. Mungkin suatu saat aku akan menghubungi intel itu, tapi bukan sekarang. Aku perlu menyiapkan diri, menyiapkan apa yang akan aku katakan. Yudas pun mengkritisi aku. Menurutnya apabila aku mempercayai intel itu aku bisa menghubunginya kapan saja. Tidak ada hal yang perlu disiapkan kalau iu menyangkut kejujuran. Kecuali aku memang berniat menceritakan sebagian lalu menyembunyikan sebagian cerita yang lain. Pertanyaan akhir yang menutup percakapan kami adalah apakah benar aku akan mempercayai intel itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN