Aku kembali memasuki dunia yang sama sekali tak kupahami. Kali ini penglihatanku terhadap dunia aneh ini begitu jelas. Ternyata dr. Lim berhasil membuat kesadaranku terkonsentrasi penuh. Entah aku dalam kondisi apa. Aku mati, sekaligus aku hidup tapi ini jauh lebih dari sekedar hidup.
Aku merasa tidak ada yang membatasi. Aku sebebas fluida, entah itu air, asap, uap, cahaya dan lebih dari sekedar gumpalan.
Keadaan ini kudapati setelah aku mengalami sebuah perjalanan yang kurasa begitu panjang dan lama. Namun, itu adalah kemustahilan. Apabila benar aku telah menjalani perjalanan yang begitu jauh dan lama pasti suara-suara sayup dr. Lim tidak akan ada lagi. Pasti jasadku kian membusuk di sana. Ia lalu pergi, menguburkanku, meninggalkanku di pekuburan dan yang tersisa hanya kerukan-kerukan hewan-hewan melata.
Persepsi jarak dan waktu bagiku kini benar-benar kabur. Tempat apa ini sebenarnya?
“Halo, selamat datang. Sepertinya kamu datang dari tempat yang jauh. Mari saya antar,” ucap salah seorang bertubuh cahaya kehijauan mendatangiku. Ia menyambutku begitu saja dari dalam gerbang.
Aku diarahkannya kepada orang lainnya. Aku menyapanya, sepertinya kami pernah saling akrab tapi aku tidak ingat apa pun. Aku hanya bisa merasakannya, perasaan spontan.
“Kamu belum benar-benar pulang. Kamu sedang terjebak, atau ini adalah perjalananmu bertamasya ke mari. Apakah kau merindukan kami?” ucap seseorang yang kurasa kenal, tubuhnya adalah cahaya kehijauan yang menyerupai biru.
“Mungkin saja. Bisakah saya berkeliling di sini?” ucapku kepadanya.
“Ke mana? Lihatlah? Tentukan pilihanmu, kau mau pergi ke mana. Saya rasa kegiatan tamasyamu ini tidak selama itu untuk kau berkeliling,” ucapnya.
Aku ditunjukkannya sebuah pemandangan yang seakan baru saja terbuka, entah ada penutup apa tadi di mataku hingga aku baru melihatnya saat ini. Eh, tunggu. Apakah aku punya mata? Sebab semua orang di tempat ini bukan berwujud manusia. Kalau begitu aku pasti seperti mereka, tidak memerlukan mata untuk melihat semua ini. Ya, aku tidak punya mata atau organ lainnya, mungkin.
Orang baik yang tak kuingat identitasnya ini dengan ramah menemaniku berkeliling. Aku melewati sekelompok kelas kecil. Seperti salah satu dari kelas-kelas sekolah yang ada di duniaku, bedanya ini adalah sekolah alam. Mereka belajar dengan properti yang begitu berbeda, bukan meja dan kursi. Entahlah, aku tidak bisa mendefinisikannya untuk menggambarkannya dengan kondisi di duniaku sebagaimana adanya.
Aku lalu pindah ke tempat lain, di sana terdapat kelompok yang serupa, tapi warna spektrum cahaya kelompok ini berbeda dengan kelompok yang tadi. Sekilas mirip dan senada, tapi tetap saja warna cahaya di sini sudah bagaikan identitas bagi mereka. Ada saja pembedanya.
Kalau kelompok tadi mungkin lebih banyak bergerak ke arah daratan, kelompok ini berbeda. Kelompok ini mengarah dan menyentuh-nyentuh properti yang tumbuh menjulang ke atas lalu menjurai ke arah mereka. Aku tidak bisa menyebut ini adalah pohon, jadi aku sebut saja properti, karena pohon bukan seperti ini bentuknya.
“Itu adalah kelas yang lebih tinggi,” ucap orang yang sedari tadi menemaniku sembari menunjuk ke arah yang sedikit lebih jauh. Di tempat yang tidak aku datangi itu terdapat orang-orang berbeda dengan jubah-jubah mereka. Siapa pun bisa mengira warna dan bentuk jubah menandakan status sosial di antara mereka.
“Setiap orang di sini belajar menurut kegemaran mereka masing-masing sebagai bekal ketika berinkarnasi nantinya,” ucap temanku ini.
“Jadi setiap orang punya ciri khas skill tertentu?” tanyaku.
“Setiap orang punya kemampuan potensial yang tak terbatas. Mereka bisa menjadi apa pun, belajar hal apa pun. Akan tetapi, hal yang akan sangat mendominasi perkembangan masing-masing orang adalah bekal yang telah dikumpulkan selama berada di sini,” jawabnya.
“Kalau semua orang berasal dari tempat ini, lalu kemana mereka akan kembali?” tanyaku.
“Setiap inkarnasi adalah pembelajaran. Seusainya semua akan mengalami evaluasi. Ada hal-hal yang membuat seseorang terjebak kepada kegagalan sehingga membuatnya tak berkembang dan terus mengulangi pembelajarannya sampai berhasil menaklukan kegagalannya itu,” jelasnya.
“Mengulangi? Apakah itu reinkarnasi? Kembali menjadi manusia?” tanyaku.
Temanku ini menggeleng.
“Tidak harus seperti itu. Setiap orang punya kebebasan untuk memilih. ‘Makhluk bercangkang’ itu tidak hanya manusia, bukan?” jawabnya.
Jawaban macam apa ini? Aku benar-benar tidak paham. Apakah maksudnya adalah seseorang bereinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan, atau bakteri?
“Dan tempat hidup makhluk bercangkang tidak hanya di tanah berhidrogen,” lanjutnya.
‘Makhluk bercangkang’? Mungkin yang dimaksud orang ini adalah jasad. Ya, orang-orang di sini tidak punya jasad. Tidak punya panas atau dingin.
Lalu, ‘tanah berhidrogen’? istilah macam apa itu? Apakah itu yang dimaksud dengan bumi? Hah? Jadi apakah alien itu benar-benar ada?
Aku putuskan untuk tidak terlalu banyak bertanya, apalagi bertanya dengan konsep yang kubawa dari bumi atau yang mereka sebut ‘tanah berhidrogen’ itu. Aku tidak ingin terlihat terlalu primitif.
“Setiap sidang evaluasi, para tetua akan hadir, tentu seseorang itu masih akan didampingi oleh pembimbing jiwanya,” jelasnya.
“Persidangan? Apakah setiap orang akan diadili seperti itu?” tanyaku spontan dengan perasaan serasa aku masih punya wajah dan itu pucat sekarang. Ingatanku, masih terus berada di duniaku. Jelas-jelas saat ini aku tak punya ‘cangkang’.
“Kau tahu, ini adalah dunia tanpa ego. Sedangkan duniamu adalah dunia penuh ego. Tidak bisa disamakan sidang peradilan yang ada di sana dengan sidang evaluasi yang ada di sini,” ucapnya sambil seolah kumerasakan emosi senyum darinya.
“Bagaimana dengan pembimbing jiwa? Apakah kau adalah pembimbing jiwaku?” tanyaku.
Orang itu lagi-lagi memunculkan emosi hangat sebuah senyuman kepadaku. Setiap orang akan menuntaskan pembelajarannya, baik itu lambat maupun cepat. Seusai sidang evaluasi, ia bisa saja naik kelas dan bisa saja tinggal kelas. Kelas-kelas tertentu yang sudah tinggi memungkinkan seseorang memilih apapun yang ia suka. Bisa menjadi pembimbing jiwa, atau sekedar jiwa-jiwa tua yang terus berinkarnasi menjelajah berbagai wahana, atau tumbuh kelak menjadi tetua,” jelasnya.
Kenapa ia tidak menjawabku? Sebenarnya ia pembimbing jiwaku atau bukan? Kalau bukan lalu dimana pembimbing jiwaku? Namun, mungkin aku tidak semestinya meneruskan pertanyaanku. Penjelasannya tadi cukup membuka pikiranku.
“Apakah tingkatan tertinggi adalah tetua?” tanyaku.
Ia mengalirkan emosi hangat sebuah senyuman dan sebuah gelengan.
“Tiada yang bisa mendefinisikan. Tapi, setiap dari kita itu berasal dari Sang Creator,” ucapnya.
“Siapa itu Sang Creator?” tanyaku.
“Semua makhluk mengenal-Nya walau belum pernah sekali pun diperkenalkan,” ucapnya.
Ini adalah akhir dari percakapanku dengan seseorang yang misterius di dunia yang misterius, dunia tanpa ego. Sayangnya aku masih membawa ego dunia ketika masuk ke dalamnya.
Namun, entahlah. Perjalanan panjangku menuju ke tempat itu aku rasa sudah sedikit demi sedikit mengikis egoku. Atau mungkin aku yang tidak paham apa itu ego? Tidak mungkin seseorang diijinkan masuk ke dunia-tanpa-ego dengan membawa ego-ego keduniawian. Tempat secanggih ini tidak mungkin punya sistem keamanan yang asal-asalan.
Aku lalu dikembalikan, diantarkan oleh orang yang sejak tadi menemaniku itu. Aku kembali melewati jalan yang sama, jalan panjang yang kurasa untuk melaluinya butuh waktu yang tak berujung.
Akhirnya aku kembali ke tempat pasien dr. Lim. Aku disegarkannya dahulu, dipersiapkan untuk benar-benar bangun secara sadar.
“Saya hampir tidak percaya,” ucap dr. Lim.
“Apa maksud Dokter?” tanyaku heran.
“Bukan saya meragukan pengalaman spiritualmu berusan, tapi sebagian orang akan merefleksikan pikirannya akibat dari menonton, membaca, atau dimasukkan doktrin tertentu,” ucap dr. Lim.
“Saya pernah membaca buku yang bercerita tentang hal ini,” jawabku.
“Nah, kamu paham maksdu saya bukan?” ucap dr. Lim.
“Bagaimana cara membedakan itu adalah benar-benar ingatan milikku atau itu adalah sebuah ingatan yang ditanamkan?” tanyaku.
“Bimo, untuk menembus ingatan yang sangat jauh itu sangat sulit. Di seluruh dunia terapis yang melakukan regresi seperti ini, bisa dihitung jari yang berhasil menembus seperti apa yang kamu tembus tadi,” ucap dr. Lim.
“Tapi bagaimana kalau apa yang ada di pikiran saya ini benar-benar ada?” tanyaku.
“Itu pilihanmu. Kamu bisa memilih mempercayainya atau tidak, sebagaimana semua orang bebas memeluk kepercayaan. Saran saya, pilihlah yang membuat kehidupanmu maju ke arah positif, tinggalkan yang membuat dirimu mengalami kerugian,” ucap dr. Lim.