Kembali Melakukan Hipnosis Regresi

1271 Kata
Aku mempersiapkan diri menemui dr. Lim juga istrinya. Aku membuat janji temu kembali dengan dr. Lim. Ia sedang banyak klien, tapi mengutamakan untuk mengatur janji temu denganku. Aku pergi ke toko perhiasan, hendak memilih sebuah leontin untuk Ny. Lim. “Silahkan, mau yang mana, Kak?” ucap pelayan toko dengan ramah menawarkan segenap pilihan liontin di dalam etalase kaca. Aku menyapu pandanganku terhadap lilihan-pilihan liontin cantik beraneka bentuk. Ada ayng terlihat begitu penuh, besar, rumit, klasik, mewah. “Boleh saya bantu, Kak? Kakak mau memberikan liontin untuk siapa? Mungkin ada karakteristik yang Kakak cari?” ucap pelayan toko tersebut. “Saya hanya perlu sebuah liontin manis untuk seorang anak gadis yang lucu. Model keluaran lama, lebih ke kesan antik,” ucapku. Pelayan toko itu pun menawarkan beberapa pilihan dengan jumlah yang lebih sedikit. Aku menemukan liontin itu. Bandul yang sederhana, kecil tapi berkilau. Bentuk talinya polos dan kecil. Aku pun membayar liontin itu. Ternyata herganya tidak lebih murah dari pada liontin lain yang terkesan berat dan penuh atau menimbulkan kesan mewah. Namun, hal itu bukan masalah untukku. Bukan hal yang memberatkan bagiku. Aku berpikir kenapa justru benda sesederhana ini punya harga yang demikian. “Pilihan yang tepat. Tidak peduli serumit apa sebuah perhiasan, ketika ia dapat membuat Kakak jatuh cinta, berarti semakin mahal pula harganya,” ucap orang lainnya dari balik etalase. “Iya, saya harap ini pilihan yang tepat. Ini untuk seseorang yang sangat spesial. Saya sudah berusaha untuk mendapatkan ini,” jawabku. Sebentar, seperti ada yang aneh menurutku. Aku masuk dalam sebuah lamunan. Terlihat sekelibat bayangan di dalam pikiranku. Ada seseorang dengan tangan kekar tapi terlihat berkeriput dengan bulu tipis berwarna pirang sedang menggenggam sesuatu, sebuah kotak seukuran kotak rokok. “Iya, saya harap ini pilihan yang tepat. Ini untuk seseorang yang sangat spesial. Saya sudah berusaha untuk mendapatkan ini,” ucap lelaki dengan suara yang berat. Ada apa ini? Dejavukah ini? “Permisi, mau saya packing-kan Kak?” ucap pelayan toko membangunkanku dari lamunanku. Aku kembali ke rumah Yudas. Yudas sedang mengotak-atik sebuah mesin di bengkelnya, di bawah tanah. Aku menghampirinya, menyapanya dan duduk di ruang baca di dalam bengkel tersebut. “Sudah dapat janji temu dengan dr. Lim?” tanya Yudas dengan arah pandangan mata yang tertuju pada benda di depannya. “Sudah,” jawabku sambil merogoh tas kantung berisi minuman kaleng. Aku keluarkan untuk kuberikan pada Yudas dan satunya untuk kuminum sendiri. “Kapan?” tanyanya. “Besok. Lu ga perlu maksain ikut kalau sibuk kaya gini,” jawabku sambil menghampirinya dan memberikannya sekaleng minuman soda. Yudas menerima pemberianku. Menjeda pekerjaannya, membuka lubang kaleng dan meneguk minuman itu. “Hemh. Sorry ya, Bro?” ucap Yudas yang sejak tadi baru ini ia bicara sambil melihatku. “Ya, gua kan udah gede. Masa iya ditemenin mulu? Lagian ya, kita ini udah kaya pacaran aja gitu. Kemana-mana bareng,” ucapku menggodainya. “Ih, najis lu! Gua bukan kaum Radit yang ke Jerman itu ya!” protesnya. “Hahaha... Elu juga sih, belum gua lihat elu jalan sama cewek. Orang-orang lihatnya kita berdua lagi, berdua lagi,” ucapku menggodainya lagi. “Hemh, gua mah entar aja kalau soal cewek,” ucapnya. “Tapi lu masih doyan cewek kan?” godaku lagi. “Gila lu! Masihlah! Lah elu sendiri sama, ga punya cewek juga. Lu jomblo, jomblo sendiri, malah ngatain orang,” ucap Yudas. “Lah? Gua kan superhero? Bahaya dong buat yang jadi cewek gua!” jawabku. “Halah! Alibi. Elu aja yang seleranya ketinggian,” ucap Yudas. “Hahaha...” aku hanya tergelak lepas. “Gua ingat banget waktu jaman SMA, standar cewek buat lu kan Agnes Monica kan?” ucap Yudas. “Sekarang Agnes Mo namanya, Bro!” protesku. “Nah, lu tahu banget tuh? Fans beratnya lu ya?” goda Yudas. “Dimana-mana orang juga udah pada tahu nama panggungnya sekarang itu Agnes Mo! Dah lah, gua mau mandi dulu,” ucapku mengakhiri obrolan. “Cinta ini.. kadang-kadang tak ada logika..” Yudas menyanyikan sepotong lagu milik Agnes Mo. “Heh, lu kalau joget-joget abis ini awas ya! Geli gua, lu jadi kaya j****y tahu ga!” ucapku yang menghentikan langkahku dan berbalik memelototi Yudas sambil mengacungkan telunjuk padanya. * Hari pun berlalu. Tiba saatnya untukku pergi menemui dr. Lim dan istrinya. Seperti biasa, Ny. Lim yang membukakan pintu. Ia terlihat begitu berseri-seri. “Akhirnya Nak Bimo datang juga,” ucapnya dengan nada tinggi yang mencerminkan rasa antusiasnya. Aku lalu diajaknya masuk ke dalam rumah dan segera memanggilkan dr. Lim untuk bertemu denganku. Sebelumnya seolah matanya terlihat enggan memanggilkan dr. Lim datang. Mungkin ia ingin bersamaku lebih lama dan mengobrol panjang. “Tunggu, sebentar ya? Bapak sedang bersiap di ruangannya,” ucap Ny. Lim menghampiriku kembali. Ia menanyai kabarku, berceloteh panjang tentang hal-hal yang telah lewat. Seperti seorang anak yang begitu ingin didengarkan, menceritakan apa pun yang terdengar menyenangkan. Di tengah obrolan yang kubuat dipersingkat ini, kusodorkan sekotak liontin kepadanya. “Saya ada oleh-oleh buat Anda,” ucapku dengan sikap tersopan yang bisa kucoba. Aku tidak ingin membuatnya tersinggung. Ia menerima hadiah itu dan langsung membuka isi kotak. Mulutnya yang cerewet itu tiba-tiba hilang kebisingannya. Matanya tampak berkaca-kaca memandangi isi dalam kotak itu. Dr. Lim pun datang. Ia duduk di samping Ny. Lim dan Ny. Lim langsung memeluk dr. Lim. “Lihatlah, Sayang. Kalungku sudah ketemu sekarang,” ucapnya kepada suaminya itu. Ny. Lim melihatku yang tersenyum kaku. Mungkin dirasanya aku sedang bingung dengan apa yang dikatakannya. Ia pun langsung melakukan klarifikasi. “Ah, Sayang. Ini oleh-oleh dari Nak Bimo untukku. Nak Bimo, terima kasih banyak ya. Benda ini mengingatkan saya pada masa lalu. Jangan terlalu dipikirkan perkataan saya yang barusan itu,” ucapnya. Percakapan kikuk dan atfosfir yang begitu emosional itu pun berakhir dalam beberapa saat kemudian. Suami Ny. Lim melerai kami. Ia mengajakku ke ruangannya. “Saya senang sekali kamu mau melanjutkan penelusuran rasa ingin tahumu terhadap pertanda-pertanda yang muncul,” sambut dr. Lim. “Ah, betul. Oh, iya, dokter. Misteri di dalam pikiran saya itu saya sudah mendapatkan kondisi rilnya. Kondisi rilnya ternyata benar-benar ada,” ucapku. “Oh ya? Di mana tepatnya tempat itu berlokasi? Dan siapa sosok di balik penglihatanmu itu?” tanya dr. Lim. “Saya tidak bisa menceritakannya secara detil. Teman saya hanya berhasil membantu saya dengan menemukan peninggalan kuno yang belum kami ceri tahu lebih dalam,” ucapku. “Tempatnya itu adalah di sebuah kerajaan di Mongolia. Sosok yang kulihat adalah sosok seorang pewaris tahta yang berkuasa bukan atas kehendak dan pikirannya. Ia disetir oleh sebuah sistem, dimanfaatkan olehnya,” jelasku. “Waw. Baiklah. Lalu apa kamu akan kembali melakukan penelusuran atas hal itu di sini?” tanya dr. Lim. “Bukan, Dok. Dokter masih ingat cerita mimpi saya tentang dunia jiwa, makhluk-makhluk yang adalah cahaya-cahaya?” ucapku. “Oh, iya iya. Jadi kamu mau melakukan penelusuran ke sana? Jauh sekali ya,” keluh dr. Lim. “Apakah itu akan membuat dokter kesulitan?” tanyaku. “Penelusuran ke alam jiwa itu sangat sulit. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menembus ingatannya jauh ke waktu itu. Waktu sebelum waktu, atau mungkin definisi waktu versi kita manusia belum benar-benar ada,” ucapnya. “Oh, begitu rupanya. Tapi apakah masih ada kemungkinan untuk bisa kita lakukan, Dok?” desakku. Aku yakin kami bisa melakukannya. Sebab, selama berkali-kali aku dapat mengendalikan waktu, kerap kembali ke masa lalu dan balik ke masa sekarang. Aku memiliki kekuatan super yang tidak ia tahu. “Yah, tidak ada salahnya bila mencoba,” ucapnya. “Saya kembali mendapat penglihatan di tempat dan orang-orang yang sama, Dokter. Lagi-lagi melalui mimpi, tapi dengan cerita yang berbeda,” ucapku. “Oke, kalau begitu kenyataannya, mari kita coba,” ucap dr. Lim.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN