Cuplikan Kedua DTE (Dunia Tanpa Ego)

1343 Kata
Suatu ketika aku sedang berada di kampus tempat Yudas bekerja. Aku menjadi bagian dari laboratorium robotikanya sekarang. Aku menjadi asisten Yudas yang membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih sederhana. Aku tengah berkeliling di kempung mahasiswa yang berada tak jauh dari komplek kampus. Ada sebuah menu makanan yang menjadi langgananku di sana. Aku dan Yudas selalu datang ke warung itu untuk mengisi perut kami yang kosong. “MALIIING...” Sebuah teriakan dari seorang perempuan muda disertai dengan seorang pemuda yang berlari cepat. Aku dan Yudas saling melotot dan Yudas mengayunkan kepalanya cepat menandakan ia menyuruhku pergi. Ia paham betul itu adalah tugas seorang penolong di mana aku adalah super hero-nya. Aku lalu bergegas meninggalkan warung padahal kami baru saja mau menyantap pesanan kami. Aku menghampiri perempuan itu, menanyakan apa yang terjadi. Perempuan itu mengatakan dengan paniknya bahwa leptopnya dicuri. “Orangnya pakai kaos biru dongker,” ucapnya sembari menunjuk ke arah kemana maling itu melarikan diri. Aku berlari namun masih menjaga kecepatanku agar tidak terlalu mencolok, karena gang ini cukup ramai. Aku lalu dapat melihat orang yang berlari kencang. Aku menarik kaosnya di bagian punggung. “Bukan gua malingnya! Gua justru lagi ngejar! Lihat nih tangan gua kosong!” protes pemuda itu. Aku lalu baru ingat bahwa maling itu menggunakan kaos biru dongker berdasarkan informasi dari perempuan tadi. Sedangkan pemuda ini menggunakan kaos hitam. Aku lalu melanjutkan pengejaranku, tapi kukira aku akan kehilangan jejak maling itu. Aku tidak tahu kemana maling itu melarikan diri, gang di sini pun begitu banyak. Maka, aku berhenti di sebuah masjid yang sempat kulintasi, aku masuk ke dalam toilet dan segera melepas semua pakaianku terkecuali pakaian canggih buatan Yudas. Aku sembunyikan pakaian luarku di loker sepatu milik masjid dan segera melakukan aksi. Aku harus menyamarkan identitasku dalam beraksi. Dengan begini tidak ada yang mengenali wajahku dan aku lebih terlindung dari bahaya. Aku memanjat atap-atap bangunan dengan cepat dan mencari bangunan yang tertinggi. Aku mendapatkan orang yang mencurigakan dengan tas yang disandangnya sedikit lebih lebar. Itu pasti maling yang dimaksud, ia pakai kaos biru dongker. Aku lalu menghentikannya. Ia mencoba menghajarku dan justru aku yang membuatnya tumbang. Aku menyeret maling itu ke pos security terdekat dan menitipkan leptop curian itu kepadanya. Aku katakan bahwa nanti ada seorang wanita yang akan datang mengambil barang yang dicuri ini. Petugas sedikit terbengong-bengong, tentu saja penampilanku sangat aneh, serba tertutup. Aku lalu kembali ke tempatku menyimpan baju kesualku. Mesjid ini sepi. Hanya ada seorang petugas masjid yang berpapasan denganku. Ia hanya terdiam. Setelah aku menggunakan kembali pakaian luarku, aku kembali berpapasan dengannya. Aku memintanya untuk merahasiakan hal ini dan petugas tersebut mengangguk. Aku lalu kembali berlari menuju ke tempat semula. Aku temui kembali perempuan yang barangnya telah dicuri kemudian menyampaikan informasi bahwa maling sudah ada yang menangkap. Aku mengarahkannya ke pos security untuk mengambil barang yang dicuri. Aku mengatakan bahwa perempuan itu diharapkan dapat memberikan keterangan kepada petugas tentang pencurian tersebut. Aku dan mengantarkan perempuan itu dengan menggunakan motor milik Yudas. “Itu mbak, itu... Tadi saya lihat ada orang yang menangkap malingnya dan digiring ke sini,” ucapku lantang. Aku lalu undur diri dengan terburu-buru dengan alasan masih ada urusan yang harus diselesaikan. Perempuan itu pun mengucapkan rasa terima kasihnya baru kemudian aku meninggalkannya. Aku kembali ke warung saat aku meninggalkan Yudas tadi. Yudas sudah menghabiskan makanannya sementara makananku belum kusentuh. Karena aku lapar, aku pun segera menyantap makanan yang sudah dingin itu. Saat masih berada di warung itu, beberapa pemuda baru datang untuk memesan makanan. Mereka membicarakan sesuatu dengan sangat heboh. “Lihat nih, wow, udah kaya Spiderman ya,” ucap salah seorang di antaranya. Mereka membicarakan tentang seseorang yang gerakan dan pakaiannya tak biasa melakukan aksi di atap-atap bangunan. Salah satunya menunjukkan apa yang ada di ponselnya. Mungkin foto atau video. Hal itu menarik perhatian orang-orang sehingga mereka mengerubungi penyetelan gambar di ponsel itu. Karena urusanku dan Yudas sudah selesai di warung ini, kami pun pergi. Aku sempat ikut melihat apa yang sedang ditayangkan di dalam ponsel itu. Ternyata benar, itu adalah video saat aku melakukan aksi. Waktu pun berlalu. Ternyata aksi demi aksi yang kulakukan dapat menarik perhatian masyarakat. Video-video yang menyorotku viral di sosial media. “Sosok Spiderman beraksi di gedung-gedung ibukota.” Bahkan video lama sewaktu awal mula aku beraksi di Jakarta muncul kembali. “Pahlawan super pemanjat menolong anak di bawah umur dari upaya pemerasan.” Darimana video ini berasal? Ada orang yang merekamku saat aku menghentikan transaksi n*****a itu. Di sini pengunggah video tidak memberikan informasi bahwa itu adalah transaksi n*****a, tapi justru diberitakan sebagai upaya pemerasan terhadap anak. “Manusia pemanjat kini sudah ada di Bandung.” Ya, ampun, ini adalah videoku pada aksi yang belum lama terjadi. Sebentar, ini adalah aksi saat aku menolong Putri pada aksi penjambretan. “Kompilasi pahlawan super ibukota.” Semua unggahan-unggahan ini membuatku tertawa geli kecil-kecil. “Seneng lu udah jadi pahlawan super beneran sekarang?” ucap Yudas. “Keren juga ya gua,” jawabku. “Pahlawan super butuh nama dan ikon,” ucapku. “Ya, tadi ada tuh orang nyebut ‘manusia pemanjat’,” ucap Yudas. “Ga asik. Kepanjangan. Yang simple aja,” ujarku. “Apa yang simple ya? Kan banyak tuh pahlawan pakai nama asli dia aja. Thor, Harry Potter, emh...” ucap Yudas. “Masa Bimo? Bimo Slamet?” sanggahku. “Nah, biar simple, Memet aja! Memet Pahlawan super!” ucap Yudas sambil disusul dengan cekikikan. “Ya, elah, Tooong! Memet!” protesku. “Flaz aja Flaz. Kan gua cepat,” ucapku. “Udah ada yang namanya Flaz! Eh, ngomong-ngomong Flashdisk gua kemana ya? Yang biasa ngegantung bareng kunci bengkel?” ucapnya. “Yah elah, elu..” keluhku. “Dah, gua mau cari flashdisk gua dulu!” ucap Yudas beranjak pergi. Aku mulai mengabaikan orang-orang terdekatku, mama, Putri, teman-teman di kampus. Aku sibuk dengan keseharian baruku ini. Pemuda yang sering menggagalkan aksi kejahatan di jalanan. Seiring waktu pun Yudas mampu membongkar da merakit senjata baru yang berasal dari senjata super yang dulu pernah kuambil dari kelompok n*****a. Aku dibekali senjata di pakaian superku. Bahan-bahan yang membuat aku bisa menembakkannya langsung dari ujung jemariku, penutup mataku, perangkat yang menyerupai jam tangan dan pada bagian alas kakiku. Yudas pun merakit senjata baru seperti pistol yang lebih minimalis yang bisa dibawa ke mana pun. Baik untukku, mau pun untuk keamanan Yudas. Terutama Yudas. Aku mengkhawatirkan keselamatannya. Bagaimana pun Yudas adalah orang di balik kemajuanku dengan teknologi-teknologi canggih yang dibuatkannya untukku. Suatu ketika aku terlelap di tengah lelahnya diri karena usai melakukan pengejaran panjang terhadap mobil berkecepatan tinggi yang lihai mengambil jalur-jalur alternatif di dalam kota. * “Nit. Makasih banget kamu selalu aja nolongin aku. Aku ga bisa bayangin saat pembimbing-jiwaku memperpanjang pertanyaan-pertanyaannya. Berkat kamu, aku lulus ujian di kelas.” “Ya ga apa-apa. Kita adalah teman sekelas. Sewaktu-waktu kamu bisa pindah ke kelas yang lebih tinggi daripada aku, atau aku yang kaya gitu. Mumpung kita masih bersahabat dekat seperti ini, aku sangat senang bila kita saling membantu,” jawab Nita. “Andai kita bisa bersahabat selamanya. Aku dan kamu akan terus saling membantu, sebab kita bersahabat,” ucap Desi. “Kita tidak bisa menebak takdir kita. Suatu saat bisa saja aku menjadi orang yang selalu membebanimu, merepotkanmu, bahkan menahan penyelesaian misimu,” ucap Nita. “Ya, kamu benar. Kita tidak bisa menebak takdir,” ucap Desi. Kedua entitas bercahaya itu pun saling terpecah kembali dari kebersamaan mereka. Mereka harus mengerjakan tugasnya masing-masing. Bersama adalah bukan keniscayaan, bagian dari darma baik. Sejatinya setiap jiwa adalah mandiri. * Aku terbangun dari tidurku. Napasku tersengal dan keningku berkeringat. Rupanya itu adalah mimpi. Mimpi yang begitu terasa nyata. Mengapa aku kembali bermimpi tentang hal ini? Mimpi dengan cerita yang berbeda. Apakah ini adalah sebuah pesan atau firasat? Aku akan memastikannya dengan kembali menemui dr. Lim. Sudah lama rasanya aku tidak berkunjung ke rumahnya. Ada Ny. Lim yang mungkin saja begitu senang dengan kedatanganku. Oh iya, tak lupa akan kubelikan sebuah leontin untuknya. Benda yang bisa membuatnya begitu bersemangat karena benda itu adalah bagian dari masa lalunya yang membuatnya merasa kehilangan. Sebuah benda memorial dirinya bersama kakeknya yang parasnya mirip denganku itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN