Pindah ke Bandung

1045 Kata
Waktuku untuk menyelesaikan urusanku di pulau ini sudah habis, tepat pada waktunya. Sebelum kapal sewaan datang menjemput aku sudah menuntaskan urusanku, bahkan sempat untuk mengisi perutku yang kosong di warung milik masyarakat setempat. Masyarakat yang bertemu denganku sempat menanyakan perihal kepentinganku di sini. Mereka bilang pulau ini jarang sekali didatangi oleh orang yang berniat untuk berwisata. Aku tetap pada alasanku sejak awal bahwa aku hanya akan mengatakan bahwa aku hanya berwisata saja di tempat ini. Aku hanya akan bercerita perkara sebenarnya kepada polisi beserta barang bukti yang kumiliki, berupa rekaman foto dan video. Saat menunggu di warung ini tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri. Ia adalah pemuda yang sebelum ini telah aku temui. Aku memberinya upah untuk memintai tolong apabila ada sebuah kapal dari luar datang agar mengabariku di tempat ini. Tempat ini tidak tepat berada di tepi pantai, sehingga aku perlu seseorang yang standby di pantai dan mengabariku tentang kedatangan kapal sewaanku. Kemudian, aku menuntaskan urusanku di tempat ini dan segera pergi mendatangi kapal yang baru datang itu. Benar, itu adalah kapan sewaanku. Aku pun menaiki kapal tersebut. Pemilik kapal yang menahkodai kapal mulai melajukan kapalnya kembali. Aku memintanya untuk pergi memutar di sisi pulau lainnya. Aku akan mengambil benda yang tadi aku kubur, senjata canggih penembak gelombang misterius. Beberapa saat kemudian kami pun menepi. Aku dibantu oleh seorang a*k yang menemani nahkoda berlayar, seorang remaja cekatan yang adalah anaknya. Aku lalu mengangkat dan membungkusnya dengan dua buah karung yang diikat. Ukuran senjata ini cukup besar sehingga membutuhkan dua buah karung goni yang tengahnya disatukan untuk membungkusnya. Aku lalu berlayar kembali pulang. Ketika sampai di dermaga kecil yang terletak di utara Pulau Jawa, aku memeriksa ponselku sejenak baru kemudiankulanjutkan dengan perjalanan menggunakan angkutan umum menuju rumah kontrakanku. Setibaku di rumah, aku menaruh semua barang bawaanku, memeriksanya satu per satu, baru kemudian membersihkan diri. Aku melakukan burning video-video yang kurekam saat kumendapati para gembong n a r k o b a tadi, mencetak foto-foto, lalu berencana mengirimkannya secara anonim ke kantor polisi. Hari pun berganti, aku tidak sabar ingin mengetahui seluk-beluk senjata canggih itu. Selama ini aku hanya melewatinya, membersihkannya dengan cara mengelapnya, dan memperhatikan detil penampakannya dari luar saja, lalu kembali meninggalkannya di kamarku. Tidak demikian dengan baju elastis canggih buatan Yudas. Beberapa kali aku memperhatikan lekat-lekat kemudian kugunakan. Aku hampir menggunakannya setiap saat di balik pakain kesualku. Bukan berarti aku akan beraksi sebagai superhero, melainkan aku memang sedang sangat bersemangat untuk terus memakainya. Bagiku kini urusan-urusan ini lebih penting dari apa pun. Perkuliahan tidak lagi penting bagiku. Aku bisa melompati waktu mundur dan maju sesukaku, jadi aku bisa berbuat curang kapan pun. Baru terpikir, lalu apa guna kutinggal di sini? Mengapa aku tidak tinggal di Bandung saja? Selain urusan benda-benda cenggih yang ada padaku, pasti aku akan selalu membutuhkan Yudas. Selain itu, Yudas sempat hampir terancam jiwanya karena dekat denganku. Bukan tidak mungkin ia akan terancam oleh musuh-musuhku yang lain. Aku akan ada di sana untuk melindunginya. Aku pun memutuskan untuk pndah ke Bandung. Hal ini tentu sebelumnya aku bicarakan dulu dengan Yudas. Yudas pun menyambut baik dan menawarkan agar aku tinggal di rumahnya saja. Di rumahnya itu ia hanya tinggal sendiri, bersama pembantu itu pun hanya pagi harinya saja. Aku mulai tinggal bersama Yudas. Senjata canggih itu aku bawa kepadanya. Ia meneliti dengan serius apa komponen-komponen di dalamnya. Yudas mengatakan organisasi n*****a yang aku hancurkan itu adalah organisasi yang mungkin sangat besar. Mereka bisa memiliki senjata secanggih ini adalah suatu hal yang mencengangkan. Aku jadi curiga. Tidak mungkin organisasi sebesar itu dipimpin oleh orang yang kuhabisi di pulau itu. Tidak mungkin semudah itu. Pasti aku hanya menghabiskan para pesuruhnya saja. Pasti ada berlapis-lapis hirarki di dalamnya. Tidak mungki semudah itu aku menghabisinya. Suatu hari aku dan Yudas sedang berada di rumah. Aku sibuk membenahi rumah, suatu rutinitas mingguan yang adalah membersihkan rumah seperti membersihkan kaca-kaca jendela, sedangkan Yudas membuat masakan sederhana, tentunya dibantu dengan pembantunya untuk membersihkan sisa-sisa alat-alat masak yang kotor dan lain sebagainya. Keadaan TV saat itu menyala begitu saja, dengan volume yang sedikit dikuatkan. Kami kerap kali melakukan hal itu untuk menambah semarak seisi rumah, menyetel channel news atau hiburan. Kali ini acara di TV adalah news. Aku dan Yudas spontan berkumpul di depan TV ketika mendengar kata-kata gembong n a r k o b a dan nama pulau yang kemarin kukunjungi itu disebut oleh penyiar acara. Dalam berita terdapat liputan yang melaporkan bahwa polisi memeriksa lokasi yang dijadikan TKP. Mereka menemukan beberapa jasad tak bernyawa terkapar. Aku memperhatikan dengan seksama, menghitung apa kembali dan mendengarkan jumlah jasad yang dilaporkan sekaligus ciri-ciri fisik mereka. “Itu..” ucap Yudas. “Yup! Urusan gua yang kemaren-kemaren!” ucapku memotong pembicaraan. “Masih kurang!” ucapku menyanggah penyebutan korban di TV. “Maksudlu?” tanya Yudas. “Ada yang hilang, mungkin kabur. Gua belum kelar menghabisi mereka ternyata,” jawabku. Pembantu Yudas pun lewat. Pembicaraan aku dan Yudas pun langsung kami hentikan. “Waktu itu ga ada hal yang aneh. Kami warga ga tahu-menahu atas kejadian itu. Tempatnya tidak pernah kami datangi. Soalnya ngeri, itu tempat angker,” ucap salah seorang warga yang diwawancarai wartawan. “Tapi menurut saya ada hubungannya dengan kedatangan wisatawan itu,” sambung warga lainnya. “Maksud Anda?” tanya wartawan. “Beberapa hari yang lalu di sini kedatangan wisatawan, bukan bule. Dia datang sendiri, tapi hanya sebentar. Paginya datang, sore udah pulang,” lanjutnya. Yudas dan aku sejenak saling adu tatap lalu kembali menyimak yang ada di dalam liputan. Wartawan punberganti mewawancarai polisi. Polisi memberi keterangan tentang korban meninggal dan barang-barang bukti paket-paket sabu dalma jumlah besar. Sedangkan untuk hal lain-lain seperti kecurigaan warga tadi serta hal lainnya polisi hanya mengatakan sedang melakukan penyidikan lebih lanjut. Wartawan menanyakan darimana informasi mengenai tempat ini diperoleh, polisi mengatakan mereka mendapat ‘surat kaleng’. Ada video dan foto-foto yang dikirimkan oleh seseorang. Yudas berbisik, “Elu?” Aku pun mengangguk cepat. Seusai menonton berita di televisi, aku baru menceritakan bahwa Yudas hampir menjadi sasaran yang diancamkan para residivis itu. Sebelumnya aku hanya menceritakan apa yang terjadi di sana, terkecuali hal itu. Yudas bilang ia tidak keberatan, itu memang resiko. Siapa pun bisa beresiko berada dalam bahaya. Yudas yakin dengan apa yang sedang duduk di hadapannya. Seorang sahabat yang akan melakukan banyak aksi yang tidak biasa. Yudas sadar betul aku membutuhkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN