Sebuah Penawaran Bergabung

1090 Kata
Aku perhatikan seseorang yang kutebak adalah pimpinan dari operasi terlarang ini baru saja datang. Ia didampingi oleh beberapa orang yang hampir menyamainya dari segi penampilan, tapi terlihat dari gelagat mereka hanya satu orang tersebut yang diistimewakan. Aku melihatnya memasuki rumah kumuh yang menghubungkannya dengan areal ini. Tiba-tiba aku disetrum dari belakang dengan tembakan yang melesat dari tempat lain. Aku terjatuh. Aku menyesal karena tidak cukup awas. Kemampuanku yang spontan seolah hilang, benar-benar ceroboh. Orang-orang yang baru saja datang itu menertawakanku. Pemimpinnya bertepuk tangan dan mendekatiku sambil terus memasng wajah cemoohnya. “Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Kau punya kekuatan, kau punya teknologi ini,” ucap pemimpin gembong inin sambil mengelilingiku dan sesekali menyubit pakaian canggihku ini. Kini masih kalah canggih dengan taktik kelompok berbahaya ini. “Tadinya saudara-saudaraku itu berpikir untuk melenyapkanmu, tapi aku berpikir lain. Kau adalah aset yang cukup berharga,” lanjutnya. Aku ingin melepaskan diri, entah apa yang menahanku ini. Aku rasa kami baru saja beradu teknologi, sesuatu yang misteri bagiku sehingga aku tak tahu apa yang mereka gunakan ini. “Hebat sekali kau bisa menemukan lokasi ini. Kau yang datang mengantarkan dirimu ke sini. Hahaha...” ucapnya. “Hey! Apa kalian ada yang memberi bocoran ke bocah ini agar dia bisa datang ke sini?” teriaknya sambil menoleh ke belakang, ke arah gerombolannya. “Dia datang sendiri, Bos. Mata-mata kita selalu kehilangan jejaknya, bagaimana mau ngasih tahu apa pun,” jawab salah satu di antara lainnya. Jadi, lelaki gendut ini tidak tahu kalau salah seorang pesuruhnya aku kalahkan dan memberikanku info lokasi ini? Lalu siapa yang menembaknya? Apakah di antara mereka sendiri juga tidak ada keterbukaan? Ah, tentu saja. Ini dunia yang berbahaya. Tidak ada yang bisa dipercaya di sini, bahkan di antar mereka sendiri. Seperi orang yang kusekap itu, kegagalan yang membuatnya terbunuh. Orang-orang ini, di antara mereka pasti berusaha untuk sibuk menyelamatkan diri sendiri. “Kalian yang bodoh!” ucapnya sambil melempar sebelah sendalnya ke kepala seseorang yang tadi menjawab pertanyaan. “Hei, anak muda. Kami memang selalu kehilangan jejakmu, tapi sejak keberangkatanmu adri dermaga terluar itu, kami pun dapat langsung tahu kalau itu adalah kau. Dan seorang lagi, kami tahu dia adalah ahli teknologi. Pasti dia yang ada di balik pakaian ninjamu ini,” lanjutnya. “Kami bisa membuatmu lebih dari ini. Aku sangat tertarik denganmu. Kau bisa jadi orang kepercayaanku,” ucapnya lagi. Orang orang sekitar pun adu pandang, seakan tak rela akan keputusan pemimpin mereka yang tiba-tiba mengangkat seorang asing menjadi orang kepercayaannya. “Bergabunglah dengan kami,” lanjutnya. “Kau sudah masuk ke kandang singa, ini tawaran langka. Menurut sajalah! Hidupmu akan jadi enak,” sahut orang lainnya. Sepertinya ini adalah tipe orang ynag suka mencari muka. “Kalau menolak g****k! Malah cari celaka,” teriak lainnya. Ini satu lagi, orang yang sama-sama mencari muka. Sudah sangat jelas mereka tidak menyukai keputusan pemimpinnya barusan yang ia katakan dengan tiba-tiba, tapi sekarang justru ikut membujukku. Dasar penjilat. “Sudah, tak perlu banyak pikir. Bergabunglah. Kemampuanmu ini akan aku buat terarah, bahkan kau bisa meningkatkannya jauh lebih besar dari pada yang kau punya sekarang,” ucap pemimpin itu. “Bos!” panggil salah satu di antara mereka sambil menyerahkan sebuah ponsel. “Oh, iya. Atau dia? Kau ingin kami melakukan sesuatu padanya?” ucap pemimpin itu sambil menunjukkan foto Yudas saat mengantarku di dermaga. Mataku terbelalak. Aku telah membuatnya dalam bahaya. Astaga! “Jangan harap kau bisa menyentuhnya!” spontan mengancamp lelaki gendut ini. “Uh, takut. Hahaha...” ucapnya meledekku. “Kau hanya bisa memilih kau bergebung dengan kami atau melihatnya... Eeek!” ucap lelaki gendut ini lalu menggesekkan tepian telunjuknya di lehernya. Ia mengancamku mereka akan membunuh Yudas. Aku harus segera membuat keputusan. Aku harus tenang, aku harus bisa berpikir sejernih-jernihnya. Jangan terdesak oleh keputusan yang harus dibuat dengan cepat. Di sisi lain, muncul pemikiranku bahwa tidak mungkin mereka akan membunuh Yudas begitu saja. Bukan tidak mungkin Yudas akan dijadikan aset berharga sebab mereka mengetahui bahwa Yudas adalah seorang ahli teknologi tinggi. * “Baiklah!” sentakku. “Demi dia, aku aku menuruti kemauanmu. Tapi jangan sampai kau menemuinya. Jangan libatkan dia dalam hal ini,” lanjutku. Lelaki gendut itu merentangkan kedua tangannya ke atas. Ia nunjukkan eskpresi gembira. Hal itu disambut pekik gembira dan tepuk tangan orang-orang di sekitar. Lelaki gendut ini lalu menyuruh beberapa orang melucuti pakaianku ini. Aku hanya menggunakan pakaian dalam saja. Sebuah tembakan pelemas tubuh sepertinya baru saja dipadamkan. Mungkin mereka kira kemampuanku hanya bergantung dengan pakaian canggih itu saja. Mereka salah. Pakaian itu dirancang untuk melindungiku, bukan memberikan kekuatan super untukku. Salah seorang dari mereka lalu menyodorkanku sebuah alat penghisap sabu. Aku dipaksa untuk menghirupnya. “Sebagai tanda jadi persaudaraan kita,” ucap lelaki gendut itu. Aku tidak tahan lagi, tak sabar untuk melenyapkan mereka semua. Aku pun melakukan aksiku, aku bergerak melesat sangat cepat. Aku manipulasi waktu, seranganku kulakukan berulang-ulang kepada satu per satu dari mereka. Salah satu di antara mereka yang berada di luar lingkungan ini menembakkan beberapa peluru dari jarak yang jauh. Mungkin itu adalah penembak jitu. Namun, aku bisa menghindarinya. Terkadang tak perlu menghindar pun beberapa tembakannya meleset. Aku arahkan untuk menembak temannya sendiri. Setelah semua orang di tempat ini tumbang, aku pun mengambil pakaianku lalu berlari cepat menuju sumber arah tembakan berasal. Tidak hanya satu, tapi ada tiga penembak. Aku hajar mereka hingga tak berdaya. Salah satunya adalah penembak dengan alat yang aneh. Ini bukan senjata penembak peluru. Ini adalah penembak aliran gelombang. Pantas saja aku tadi bisa dilumpuhkan, rupanya karena alat ini. Aku lalu meninggalkan wilayah ini dengan membawa serta senjata canggih penembak gelombang ini. Ukurannya cukup besar dan merepotkan saat di bawa. Untungnya aku bisa memanipulasi grafitasi. Aku kembali ke tempat bawaanku tadi kusembunyikan, kugantung di atas pohon, tersembunyi di dalam kanopi. Kulihat jam, masih ada waktu untuk kembali mendatangi perahu sewaan yang akan menjemputku. Setelah aku membenahi penampilanku kembali, aku pun keluar dari daerah larangan ini. Aku berniat menuju perkampungan untuk menyantap sesuatu. Aksiku tadi membuat aku lapar dan haus. Tunggu, bagaimana cara aku membawa senjata besar ini? Tentu akan mencolok apabila kutenteng begitu saja. Aku lalu menunda kepergianku ke perkampungan. Aku langsung saja menuju tepi pantai. Di sana aku mengubur senjata ini. Kuberi tanda alam yang bisa kuhafal untuk menandai posisinya. Aku mengubur senjata itu, tentu saja sejak tadi aku memilih jalan yang sepi agar tak ada yang mendapatiku melakukan penyembunyian ini. Setelah itu baru aku menuju perkampungan. Sambil menunggu perahu sewaan datang, aku menyantap makananku dan meneguk minuman-minuman bersoda dingin. Setelah itu aku mencari-cari karung berukuran besar untuk kugunakan membungkus senjata canggih itu nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN