Mendatangi Operasi Gembong n*****a

1236 Kata
Aku sadari kehidupanku mulai berubah. Aku tidak lagi pada rutinitasku yang biasa. Aku sudah memisahkan diri, tidak lagi tinggal di lingkungan keluarga, jarang mengikuti perkuliahan, jarang makan siang dengan teman-teman, termasuk bertemu dengan Putri. Untuk urusan kuliahku, aku berlaku curang yaitu dengan memanfaatkan kemampuanku menjelajahi waktu yang kulakukan berulang-ulang. Aku sudah semakin mahir melakukannya. Ujian-ujian yang gagal lalu kumasuki pintasan waktu untuk mengulangi ujian-ujian itu dan akhirnya kuberhasil lulus pada mata kuliah yang dilaksanakan ujian. Urusan-urusan administrasi kampus yang bisa kubeli, kuupah orang untuk mengurusnya. Semua itu aku lakukan dalam waktu sekejap saja. Dengan mengendalikan perjalanan waktu, banyak hal dapat diselesaikan dengan mudah. Aku saat ini sedang sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke pulau di sebelah utara kota. Cukup jauh sebenarnya. Pulau yang ada di kawasan jalur laut perlintasan kapal-kapal bermuatan komoditi. Aku mencari tahu lalu mengatur jadwal pelayaran, mengupah orang untuk mengurus akomodasi, juga akses ke tempat misterius itu. Orang-orang industri setempat yang tergoda dengan uang. Hari ini dua orang wanita meneleponku. Mereka sama-sama merindukanku. Ialah mama dan Putri. Mama menanyakan kabarku, melemparkan pertanyaan-pertanyaan umum tentang bagaimana makanku, hal remeh lainnya. Ia tidak terlalu mencampuri urusanku. Sejak aku kembali dari tempat Yudas, mama bersikap lebih longgar, tidak terlalu mencampuri apa yang sedang kulakukan. Mungkin ia menganggap aku sedang berada di duniaku, ia mempercayakan setiap keputusanku tanpa harus membahasnya. Aku tahu mama merindukanku, tapi ia selalu mengelak ketika aku menunjukan perasaan sedih karena sudah jauh dan jarang menemui mama. Namun, mama selalu mengalihkan pembahasan itu. Ia bercerita kalau sekarang ia tengah memelihara seekor anjing lucu. Mama suka berjalan-jalan dan menghabiskan waktu dengannya. Katanya ia cukup disibukkan dengan itu. Ditambah lagi mama mulai aktif berkumpul dengan teman-teman reuni-nya. Sampai mengurus tanaman pun kini hanya mengandalkan tukang kebun. Padahal biasanya ia turun langsung untuk merawatnya. Berbeda dengan mama, Putri justru mempertanyakan keadaanku, apa yang sedang menyibukkanku, apakah Putri pernah melakukan kesalahan dan lain sebagainya. Aku menceritakan kondisiku. Aku katakan saat ini aku sering diteror dan hampir tertembak oleh orang-orang misterius. Hal itu terjadi semenjak aku memergoki seorang bocah yang melakukan transaksi n*****a dan menggagalkannya. Tentu saja aku menceritakannya kepada Putri. Aku sangat yakin bahwa Putri pernah melihat kekuatan superku. Aku tidak begitu banyak melibatkannya terhadap kekuatan yang kumiliki ini, tapi beberapa kondisi memang aku ceritakan. Aku yakin pasti Putri paham. Setelah aku menceritakan hal itu, aku menangkap kemakluman pada Putri terhadapku. Ia tidak bertingkah manja, atau mengatakan hal-hal yang mengkhawatirkanku, atau membuatnya mencemaskanku. Pembicaraan menjadi begitu serius. Kurasa ia paham kondisi ini. Sudah resiko bagi seorang yang memutuskan untuk mencampuri urusan orang lain yang berhubungan dengan dunia kriminal, maka seseorang itu mau tidak mau pasti akan terlibat pada hal-hal yang berbahaya. Aku menyelesaikan percakapan dengan kedua wanita itu dengan baik. Mereka bisa memahami dan menerima keberadaanku yang perlahan berubah ini. Selama beberapa hari ini aku sibuk menyusun rencana, sesekali kukabari Yudas. Yudas ada di setiap pergerakanku. Seakan komunikasi kami tidak pernah terputus. Detik-detik hari keberangkatanku, Yudas datang. Ia sengaja datang ke kotaku kemudian menemuiku. Ia datang untuk mengantarku setidaknya ke tempat umum terakhir yang bisa diakses. Dermaga tempat aku menyewa kapal untukku berlayar ke pulau tujuanku. Namun, pengantaranku ini bukanlah tujuan utama. Sebenarnya ia membawakanku pakaian canggih yang ia rakit sejak lama itu. Ia telah berusaha mempercepat pemerolehan bahan-bahan pelengkap dan pengerjaannya. Mungkin Yudas mengkhawatirkanku. Mungkin untuk pertama kalinya ia punya sahabat dengan kehidupan teraneh sepertiku ini. Ia begitu melindungiku, kurasakan itu. * Waktu keberangkatanku pun tiba. Aku mengenakan pakaian canggih ini di balik pakaian kesualku. Sekarang aku lebih merasa percaya diri terhadap ancaman peluru. Setidaknya aku sedang memakai pakaian anti peluru. Selain itu juga pakaian ini bisa membelokkan cahaya, sehingga aku bisa melakukan mode siluman agar kehadiranku bisa seminim mungkin diketahui. Apakah aku membutuhkan senjata? Aku sudah menyiapkannya. Dengan uang apapun bisa kuperoleh. Entahlah, kurasa kemampuanku dalam menghancurkan dengan cara memukul dengan kecepatan tinggi sudah cukup mematikan. Pelayaran pun berlangsung. Setelah menepi, aku meminta pemilik kapal untuk menunggu di tempat lain, pulau terdekat lainnya. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kapal dan orang ini. Aku minta ia kembali menjemputku beberapa jam lagi, waktu yang sudah disepakati. Aku menyusuri pantai lalu ada orang yang mengaku sebagai kepala desa dan seorang lagi mendampinginya, mereka mencegatku. Mereka menanyakan kepentingaku. Aku lalu mengatakan bahwa aku akan melakukan diving sambil menunjukkan surat ijinku. Ada sebuah institusi pemerintah yang melakukan perlindungan kelestarian alam yang wilayahnya termasuk pulau ini. Aku telah mendapatkannya dari institusi itu. Mereka lalu membiarkanku dan pergi. Aku lalu menyusuri pulau ini, membelah hutan di arah daratan dalam sebagaimana petunjuk dari informan-informan. Sebuah informasi mengatakan ada wilayah-wilayah tertentu yang terlarang untuk diakses. Mereka membungkusnya dengan cerita-cerita horor, yang katanya itu adalah daerah berhantu yang selalu menelan korban. Tempat itu menghubungkanku kepada sisi lain pulau. Aku menggunakan GPS selama menyusurinya. Ialah sebuah tempat pada sisi pulau yang berbatasan dengan laut, kondisinya adalah tebing-tebing, bukan pantai-pantai yang landai. Aku lalu berhenti dan mengamati dengan tiarap menyembunyikan diriku di antara perdu. Melepaskan segala pakaianku, hayna menggunakan pakaian canggih buatan Yudas ini. Aku tak lupa menyalakan mode siluman. Hal ini kulakukan agar menyamarkan kehadiranku terhadap siapa pun yang datang. Aku menggunakan teropongku. Kutunggu selama dua jam, tidak juga ada tanda-tanda mencurigakan apa pun. Tempat ini sangat sunyi, tidak ada aktivitas apapun, tidak ada yang datang. Kemudian, setelah lama menunggu, aku mendapati sebuah kapal besar yang saat ini terlihat begitu kecil. Sepertinya itu adalah kapal pengangkut barang komoditi. Kapal itu hanya melaju tanpa singgah dan jaraknya begitu jauh dari pulau ini. Tak lama dari itu kulihat sebuah titik kecil dengan kecepatan berbeda menuju ke pulau ini. Titik kecil itu semakin membesar. Ia semakin dekat. Aku memperhatikannya dengan teropongku, itu adalah sebuah speedboat. Setelah mendekat, speedboat itu bersandar di sisi tebing. Aku mengganti alat yang kugunakan. Aku lalu melihatnya berisi dua orang. Melihatnya melalui ponselku yang sudah kutambahkan dengan tambahan lensa beresolusi tinggi agar dapat merekam gambar dengan lokasi yang jauh. Ah, dari mana seseorang yang sudah menunggu mereka di tebing itu? Mungkin karena aku terlalu fokus memperhatikan kedatangan speedboat itu. Aku merekam orang dari kapal menyerahkan sebuah kotak sebesar kardus sepatu terbungkus isolasi kuning secara penuh. Seperti paket kiriman biasa yang diantar oleh kurir-kurir ekspedisi. Aku langsung menebaknya itu adalah bungkusan berisi n*****a. Sebagaimana informasi dari preman yang kusekap itu. Aku lalu membenahi bawaanku lalu mengikuti orang yang baru saja menerima paket itu. Aku mengikutinya berjalan. Sesekali ia berhenti, mungkin ia menyadari kehadiranku. Lalu aku putuskan untuk mengikutinya dari kanopi-kanopi pohon saja. Aku bisa melompat atau bergelantungan di ranting-ranting. Pada saat-saat seperti ini tiada rasa gentar walau pun aku belum pernah memanipulasi grafitasi di atas ranting-ranting dan kanopi pohon. Orang pembawa paket itu memasuki sebuah rumah berdindingkan anyaman bambu. Seperti rumah nelayan biasa. Di belakang rumah itu terdapat pagar seng yang mengelilinginya. Aku meninggalkan barang bawaanku tergantung di atas pohon, dengan keadaan tersembunyi tentunya. Lalu, kuberanikan diri berjalan kaki begitu saja di belakang orang tersebut dengan langkah yang begitu pelan. Diam-diam kumerekam apa yang ada di dalam halaman belakang rumah ini. Ada serah terima paket di sana. Seseorang menusuknya sedikit lalu terlihat butir-butir bubuk putih meremah tumpah. Dihisapnya bubuk tersebut di hidung, orang itu mengangguk dan mengelem kembali bekas tusukan di paket itu. Seseorang lainnya datang mendekat ke rumah ini. Kali ini tampak lelaki dengan pakaian yang paling berbeda, lebih branded walau pun cukup santai. Kacamata hitam, kalung emas yang menyerupai rantai besar. Tentu saja ini adalah pemimpin mereka. Lalu tiba-tiba sesuatu hal terjadi. Mereka menyadari kehadiranku, kemudian aku pun ditangkap. Mereka memiliki peralatan yang tidak bisa kudefinisikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN