Setelah aku menggagalkan transaksi n*****a yang melibatkan anak di bawah umur, aku lalu segera pergi dari tempat itu. Aku kembali ke kampus, tempat di mana mobilku kuparkirkan.
Di dalam mobil aku mendinginkan diri terlebih dahulu. Menenangkan diri dan mengatur napasku. Betapa asik petualangan singkat yang baru saja aku alami. Sampai-sampai aku berkeringat dan terengah-engah. Aku pun melepaskan jaket dan menghabiskan minuman bersoda yang baru saja sempat kubeli.
Aku masih duduk di dalam mobil, belum melajukannya. Aku mengambil ponselku. Kuperhatikan foto-foto yang tadi dikirimkan oleh Putri. Kuperhatikan tulisan di dalam gambar-gambar itu, ada beberapa tulisan yang terbaca, ada juga yang buram.
Ini mungkin adalah cerita tentang kisah masa lalu di tempat itu. Aku membacanya dengan hati-hati. Bahasanya tidak aku pahami tapi simbol dan beberapa gambar kukira terhubung dengan tulisan yang ada.
Biasanya kisah kuno seperti ini apabila ada tokoh di dalamnya, maka itu adalah tokoh bangsawan. Ini adalah kisah dari sudut pandang tokoh itu.
Ah, daripada aku menebak-nebak, lebih baik aku mencari tahunya lewat Yudas. Menurutku Yudas adalah orang yang pergaulannya begitu terbuka luas. Sudah terbukti, beberapa orang penting seperti Profesor Nakayama dan dr. Lim kukenal dari dirinya.
Aku lalu mengirim pesan chat dengan meneruskan foto-foto kiriman Putri ini kepadanya. Yudas pun kemarin sempat ingin membantu dengan mencarikan beberapa gambar yang dikira mirip dengan bentuk-bentuk ornamen yang kuceritakan. Kubermaksud mungkin saja kiriman ini bisa dikaitkan dengan bayangan yang ada di pikiranku saat aku melakukan hipnosis regresi.
Aku pun menaruh kembali ponselku dan melajukan mobilku. Aku pulang. Aku ingin mandi dengan segera.
Seperti biasanya, jalan ibukota selalu padat saat-saat sore seperti ini. Aku dengan sabar melajukan mobil dalam kecepatan rendah untuk beberapa puluh meter. Sebentar-sebentar berhenti.
Saat berhenti, aku tanpa saengaja melirik kaca spion dan mendapatkan seseorang dengan menggunakan motor. Bukankah itu adalah orang yang juga kulihat di minimarket kampus saat aku membeli minuman bersoda?
Aku lalu melajukan kembali mobilku dan mendapati bagian jalur yang lengang. Saat aku berbelok pada jalan yang mengecil, tanpa sengaja aku melihat orang yang sama itu tampak mencurigakan. Ia tiba-tiba saja berhenti, ragu lalu melaju dan berhenti lagi di belakang sana.
Aku lalu berbelok ke jalan yang mengecil, ternyata dia ikut berbelok. Aku mengecohnya dengan memasukin jalan alternatif lainnya dengan cepat, memasukkan mobilku di gang buntu yang bercahaya redup dan mematikan mesin mobilku.
Setelah kumelihat orang bermotor itu lewat, aku menunggu sebentar. Setelah itu kembali kunyalakan mobil dan keluar dari gang dan kembali menyusuri jalan tadi dan keluar dari gang tersebut. Aku mengecohnya.
Aku heran, siapa yang membuntutiku itu. Aku tersenyum sendiri, hatiku tertawa geli. “Selamat datang di dunia pahlawan super, Bimo. Ini adalah permulaan, musuh-musuh misterius lainnya menanti,” batinku.
*
Hari berganti, kali ini aku merasa ada yang diam-diam memperhatikanku di kampus. Bukan para wanita penggemarku yang seperti biasa sering kudapati, melainkan sosok-sosok seperti bukan mahasiswa. Mereka membaur tapi tetap saja usia dan sikap tubuh tidak bisa tertutupi.
Suatu ketika aku tengah pergi ke tempat sepi, toilet. Ada orang yang mencoba menembakku dari arah yang tak disangka-sangka. Entah mengapa aku bisa membaca udara yang dibelah, aku merasakan dan aku bisa menebaknya itu adalah lesatan peluru senjata api.
Aku lalu bisa memanipulasi gerak dan waktu. Semua bisa terasa begitu lambat olehku sehingga aku bisa segera menyadari apa yang hendak menabrak tubuhku. Aku mampu mengelak dan tembakan itu gagal mengenaiku.
Sayangnya, menyadari tembakannye meleset seseorang yang misterius itu segera melarikan diri. Aku mengejarnya namun terhenti pada segerombolan orang yang ramai memenuhi koridor. Aku tidak bisa melesatkan tubuhku di sini untuk mengejarnya. Bagaimana pun juga aku menghindari adanya orang yang mengetahui kekuatanku ini.
Aku lalu melakukan aktivitasku seperti biasa. Mengikuti perkuliahan, berkumpul dengan teman-teman, juga menyelesaikan tugas di tempat-tempat tertentu. Tentunya dengan pikiran yang masih memikirkan kejadian menegangkan itu.
Aku merasa hidupku semakin berada dalam bahaya saja. Aku benar-benar tidak tahu siapa musuhku. Aku lalu teringat dengan salah satu penyelesaian misi saat bermain game di Surabaya. Musuh yang tidak tampak, sampai sulit untuk dikenali adalah diri sendiri.
Aku harus bisa menguasai diriku. Aku perlu mengenyampingkan perasaan-perasaan overthinking, takut, dan sebagainya. Aku harus bisa berpikir jernih saat ini. Mungkin ini adalah karena ulahku yang tidak menguasai diri.
Aku sering kali tampil untuk bersenang-senang dengan kekuatanku ini. Walau pun aku berusaha menutupi identitasku dengan menutup wajah dan berpakaian tidak sebagaimana biasanya gaya berpakaianku, tetap saja lingkungan di sekitarku tetap bisa merespons atas apa yang kulakukan itu.
Kupikir sudah cukup aku bersenang-senang seperti itu. Aku hanya akan menggunakan kekuatan ini saat benar-benar dibutuhkan saja. Aku sudah membahayakan diriku, bahkan aku hampir tertembak. Aku tidak ingin orang-orang di sekitarku terseret dalam kehidupan yang berbahaya juga.
Aku memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah besar orang tua. Aku akan tinggal terpisah. Maka aku menyewa sebuah rumah di tempat lainnya. Aku mengganti kendaraanku dengan hanya menggunakan mobil yang lebih kecil.
Aku tidak ingin orang-orang terdekat terkena imbas atas kehidupanku yang kurasa mulai berubah ini. Aku lebih jarang menemui Putri, aku jarang mengunjungi mama, aku jarang berkumpul dengan teman-teman satu geng lagi.
Orang-orang yang mengikutiku secara misterius masih beberapa kali kudapati. Untungnya semua selalu terjadi di kampus. Semoga mereka tidak sampai mengikutiku sampai ke rumah besar orang tua.
Sekali waktu aku berhasil membekap salah seorang yang mengikutiku secara misterius. Aku membekapnya di sebuah gudang lama yang jarang dikunjungi orang. Aku menghajarnya habis-habisnya. Yang kucari darinya adalah sebuah keterangan atas dasar apa aku selalu diikuti seperti ini.
Detik-detik kondisi sekarat lelaki yang sudah bersimbah darah di wajah juga luka-luka memar di sekujur tubuhnya, hampir saja ia tewas oleh aksiku. Akhirnya ia buka suara. Ia mengatakan untuk menghentikan penyiksaan ini dan ia berjanji akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Lelaki ini mengatakan bahwa ada sekelompok orang yang merasa terganggu oleh campur tanganku dalam bisnis n*****a mereka. Sebenarnya aksi yang dilakukan pada bocah jalanan itu tidak seberapa merugikan bagi mereka. Namun, mereka melihat potensi pada diriku. Potensi kemampuan luar biasa yang bisa menggagalkan bisnis mereka dalam skala yang jauh lebih besar.
Kemudian, informasi selanjutnya yang kuinginkan dari lelaki ini adalah identitas kelompok itu. Aku ingin lelaki ini mengarahkanku pada mereka. Siapa saja mereka dan di mana tempat mereka.
Lelaki itu memohon-mohon. Ia tidak akan sanggup kembali kepada kelompok itu dalam keadaan gagal seperti ini. Gagal mengalahkanku, justru ia kalah dan mereka tak akan lagi percaya lagi padanya, dipastikan sudah membeberkan rahasia-rahasia penting.
Lelaki itu hanya memberikan sebuah jalan di mana harus aku sendiri yang mencari tahu. Pada setiap tanggal-tanggal ganjil bilangan prima, mereka akan bertransaksi di pintu-pintu masuk kiriman kayu glondongan.
Aku lalu membekap lelaki itu, mengikat kembali mulutnya, tetap mengikat kaki dan tangannya. Aku mengurungnya. Kalau ingin melepaskan diri silahkan melepaskan diri kalau bisa. Aku meninggalkannya begitu saja, aku tak akan mengunjunginya sampai kapan pun.
Kenapa aku tidak membunuhnya? Ia adalah orang dari kelompok residivis yang berbahaya. Tidak, aku adalah orang yang menepati janji. Lelaki itu sudah buka suara, aku, maka aku tidak membunuhnya. Lagi pula, aku belum pernah membunuh orang. Rasanya bukan waktu yang tepat untuk melatih skill membunuhku apalagi kepada orang yang sudah tidak berdaya.
Saat aku hendak kembali, aku sudah menjauhi tempat itu selama beberapa puluh meter, aku mendengar suara tembakan. Dua kali suara tembakan. Aku melirik ke sekitar berulang-ulang. Jangan-jangan mereka sudah hadir di sini.
Tembakan itu pasti ditujukan kepada lelaki yang kusekap tadi. Sebagaimana cerita lelaki tadi bahwa ia tidak mungkin dapat kembali kepada kelompoknya di tengah kegagalan misinya ini.
Aku pergi dengan langkah yang sangat cepat. Aku menghindari apa yang menyergap lelaki itu barusan. Aku tidak yakin aku akan dapat menghindari peluru-peluru secara terus menerus. Mungkin saja aksi kemarin adalah kemujuran. Maka, aku lebih baik menghindar.
Di dalam rumah kontrakanku, aku terdiam. Aku mencoba hendak mengatasi ketakutanku ini. Tidak mungkin aku terus menghindar dari teror musuh seperti ini. Aku harus mengalahkan kelompok itu.
Aku berpikir yang mencari-cari melalui berbagai dokumen di internet, daerah mana di kota ini yang menjadi pintu masuk kayu glondongan. Aku mencarinya hingga melampaui dini hari.
Sekarang tanggal 20, tanggal ganjil bilangan prima adalah tanggal 23. Aku akan mencoba pergi untuk menyerang di tanggal 23. Tapi di mana tempatnya?
Ah, satu-satunya tempat adalah di tempat ini. Aku menemukan informasi di internet. Kayu glondongan yang dikirim dari Kalimantan akan melewati jalur laut dan melintasi jalur ini. Pulau yang paling memungkinkan untuk dilewati adalah pulau ini. Ada di utara. Ini bukan pintu masuk.
Bagaimana ceritanya ini adalah pintu masuk kayu glondongan, sedangkan kemungkinan untuk singgah saja peluangnya kecil. Tapi, tentu peluangnya kecil. Mereka tentu akan menyamarkan pergerakan ilegalnya ini.
Yudas kemudian meneleponku. Tepat sekali tebakannya bahwa aku masih terbangun jam segini. Ia menceritakan hasil penelusuran foto-foto yang dikirimkan oleh Putri.
Yudas mendapatkan bantuan dari orang lain dalam memecahkan makna tulisan-tulisan itu. Tentu saja, apa kubilang, ia punya relasi-relasi yang sangat bisa diandalkan. Namun, ia memberikan disclaimer bahwa cerita ini hanya bisa diambil generalisasinya. Tidak rinci informasinya. Baiklah, aku pun menyimaknya.
Ini adalah cerita tentang seorang putra mahkota yang diangkat menjadi pemimpin tertinggi. Pemimpin baru itu dikuasai oleh sistem para menteri di bawahnya, kecakapannya yang palsu dapat dibaca oleh siapa saja.
Pemimpin itu mendapatkan fasilitas-fasilitas yang memanjakan hidupnya. Tapi pada akhirnya ia dieksekusi dan mengeluarkan sumpah bahwa ia akan membalaskan dendam kepada orang-orang yang menghabisi satu per satu keluarganya, mulai dari raja terdahulu, istri-istri dan anak-anaknya. Ia bersumpah tidak akan lagi menjadi seseorang yang dapat ditipu oleh orang-orang bermulut manis juga oleh kenyamanan dunia.
Itu adalah cerita yang disampaikan oleh Yudas. Menjadi bahan pemikiran baru buatku. Apakah mungkin aku adalah tokoh itu? Aku memiliki kesamaan posisi dengan tokoh itu. Seseorang yang diberikan harta dan nama keluarga besar yang disegani. Namun, di balik itu aku seperti seekor kucing jinak. Peliharaan bagi pemilik yang berkuasa.
Percakapan antara aku dan Yudas pun berakhir. Cerita ini menjadikan aku semakin bergelora untuk menyelesaikan misi berbahayaku yang pertama. Aku menganggapnya ini adalah misi. Kalau pun cerita tentang reinkarnasi itu benar dan itu adalah aku, kuanggap misi ini sebagai batu loncatanku untuk selanjutnya menemukan apa yang sebenarnya kuinginkan pada kehidupanku yang baru ini.