Aku masih berdiri di hadapan viona. Dadanya yang menyembul itu sedikit terbuka. Viona begitu dekat denganku, pandangan matanya lalu ia sorotkan ke tempat banyak kata-kata ingin kumuntahkan. Dia pikir aku akan terpancing olehnya? Raut kebenciannya perlahan berubah menjadi sebuah wajah yang pasrah.
“Jangan campuri urusan gua,” ucapku pelan sambil kupicingkan mataku.
Aku lalu menangkap raut kebencian itu kembali ke wajahnya yang ditutupi riasan tebal itu. Ia mungkin kecewa karena aku baru saja menolak godaannya. Ia mendorong kasar dadaku dengan kedua tangannya.
“Wus, santai dong,” ucap Jo kepada Viona.
Viona lalu pergi dengan wajah kesalnya yang bertahan lama hingga kehadirannya tak nampak lagi.
“Emmm... Cewek kalau kesal jadi bikin gemes gitu,” ucap Mike.
“Ambil aja tuh cewek, ambil! Risih banget gua sama doi,” ucapku.
“Bim, apa lu tadi ga lihat itu...?” tanya Jo sambil menutup separuh genggaman tangannya di depan dadanya sendiri.
“Lihat sih lihat, gua. Ya masa mau gua pegang? Ntar pelecehan, kena komnasham gua!” protesku.
“Jadi lu masih doyan, Bro?” ucap Sam.
“Hahaha.. Iya, gua kira juga tadi Bimo...” ucap Jo belum menyelesaikan ucapannya.
“Belok? Somplak lu!” ucapku sembari mendorong kepala Jo dengan kepalan tanganku.
Setelah bertemu dengan teman-temanku, aku pun mengikuti perkuliahan. Tidak semua temanku berada di kelas yang sama. Mike dan Jo tidak mengambil mata kuliah ini sehingga hanya ada Sam bersamaku.
Usai kegiatan di kampus, aku sengaja meninggalkan mobilku di lingkungan kampus. Aku ingin bersenang-senang kembali dengan kekuatanku.
Aku meninggalkan barang bawaanku di mobil dan mengantungi ponsel dan kunci mobil. Ku gunakan sebuah jaket ber-hoodie lebar untuk menutupi kepalaku lengkap dengan buff penutup hidung hingga leherku. Dengan begini tidak ada yang akan mengenaliku.
Dengan deru hembusan angin yang menggesek telingaku secara kasar, aku terjun melawan grafitasi, dengan cepat mencengkram pijakan-pijakan di bangunan tinggi.
Sore hari ini suasana terlihat melelahkan. Tampak orang-orang yang ada di bawahku bertekuk wajah. Kemacetan adalah hal yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari, terutama jam orang-orang berangkat ke kantor pada pagi hari dan jam orang pulang dari kantor pada sore hari.
Di tengah keasyikanku, ponsel yang kukantongi terus bergetar. Aku berhenti di sebuah atap gedung dan duduk di tepian sambil menggantung dan mengayun-ayun kakiku.
Setelah kulihat itu adalah panggilan dari Putri, tapi sudah berakhir. Maka, kutelepon balik Putri.
“Halo?” ucapku.
“Halo? Kak? Kak Bimo bisa mendengar suara saya?” ucap Putri.
“Bisa, bisa,” ucapku dengan suara yang sedikit meninggi. Hembusan angin saat ini begitu berisik, di tengah arus lalu lintas di bawahku menambah semaraknya.
“Kakak lagi sibuk ya? Lagi di luar?” ucap Putri.
“Ga apa-apa. Kakak bisa mendengar suara Putri, kok,” ucapku.
“Ini soal info lukisan dari Dian, Kak,” ucap Putri.
“Gimana tuh katanya?” tanyaku.
“Lukisan itu bukan lukisan peninggalan Cina, Kak, tapi peninggalan Mongol. Saya lupa istilah-istilahnya, tadi sempat saya baca kembali. Dian mengirimkan info teksnya Kak. Saya kirimkan ke Kakak ya?” ucap Putri.
“Oh, iya, iya. Kirim aja,” ucapku.
“Ya sudah, Putri hanya ngasih tahu itu aja,” ucap Putri. Sepertinya Putri masih enggan meneruskan percakapan ini karena suasana terdengar tidak kondusif.
Setelah panggilan ini berakhir, lalu chat dari Putri masuk. Itu adalah cuplikan gambar dari lembaran-lembaran buku yang sudah mengalami perbesaran. Gambarnya sedikit pecah. Ia mengirimkan gambar yang banyak, lebih dari 20 gambar.
Aku hanya melihat tulisan di gambar pertama. Saat kutemukan tulisan di dalamnya tidak jelas dan diganggu oleh silau karena aku sedang berada di tempat terbuka, maka aku tunda untuk melihatnya.
Pantas saja Yudas tidak benar-benar menemukan gambar-gambar ornamen yang kusebutkan saat ia mencarinya di google. Ternyata itu adalah ornamen-ornamen peninggalan Mongolia.
Aku lalu melanjutkan perjalananku menuju tempat kuparkirkan mobil. Aku berniat untuk pulang dan membaca informasi pada foto-foto yang dikirimkan Putri tadi.
Di tengah perjalananku melompat dan memijaki ceruk-ceruk sisi bangunan, dari kejauhan aku melihat sesuatu yang mencurigakan. Di sebuah gang buntu sempit yang kurang terkena cahaya matahari, terdapat dua orang dewasa mengerubungi seorang bocah.
Sepertinya itu adalah para preman yang akan merampok bocah remaja itu. Namun, sayangnya mengapa yang dirampok adalah bocah berpakaian lusuh? Sudah miskin dirampok juga. Atau Jangan-jangan itu adalah anak jalanan yang sedang dimintai uang setoran? Bocah itu terlihat tidak berdaya.
Aku lalu melompat dengan segera mendatangi mereka.
“Woy! Kalian ngapain di sini?” teriakku.
“Wah, ada anak kemarin sore yang berlagak jadi jagoan ya?” ucap salah satu dari orang dewasa itu.
Seorang lainnya mengeluarkan senjata api laras pendek ke hadapanku. Aku terkejut. Aku tidak terpikir akan ditodongkan senjata begini. Aku terlalu terlena dengan kegiatanku yang kuanggap bersenang-senang ini. Aku benar-benar tenpa perhitungan.
Seseorang yang menodongkan senjata api itu tidak hanya mengancamku, ia benar-benar memburuku. Aku tidak dibiarkannya melarikan diri. Berkali-kali ia tembakkan senjatanya ke arah kakiku, tapi dengan cepat aku mampu menghindarinya.
Dari sorot mataku, kumelihat peluru-peluru itu membelah angin. Sekeliling mendadak menjadi begitu lambat bergerak.
Dengan kecepatan yang aku punya, justru aku mendekati dan menghajar dua orang berpenampilan preman itu. Aku harus meringkusnya sampai mereka tak bisa bergerak, kalau tidak nyawaku dan nyawa bocah itu terancam oleh senjata api yang digenggam salah satu di antara mereka. Setelah mereka tersungkur dan senjata api itu kutendang ke dalam parit, mereka tak dapat memenjangkaunya. Mereka hanya terbaring dengan tubuh babak belur.
Aku lalu menarik bocah itu pergi dari tempat ini. Setelah aman dari keberadaan kedua preman itu, aku memastikan kondisi bocah ini. Menanyakan apakah ia baik-baik saja, dan memperhatikannya dengan sebaik-baiknya.
Bocah ini tampak begitu ketakutan. Mungkin ia syok karena kejadian tadi, ia masih takut dirampok seperti tadi. Namun, ada yang mencurigakan dari gerakan bola matanya.
Bola matanya menunjukkan ketakutannya terhadap diriku. Sesekali ia melirik kantung celananya. Apakah ada yang ia sembunyikan? Lalu aku rogoh kantung itu, tapi tangan bocah itu menangkis tanganku. Ia terlihat berniat melarikan diri, tapi dengan cepat kutahan langkahnya.
Aku kembali merogoh paksa kantung celananya, ternyata di sana kutemukan sebungkus plastik kecil berisi serbuk berwarna putih. Apakah ini adalah n*****a?
Aku menggeleng dan mengomeli bocah ini. Kasihan sekali masih kecil sudah berurusan dengan barang haram seperti ini. Aku bertanya berulang-ulang pertanyaan-pertanyaan, tapi ia tidak menjawab apapun. Terlalu takut untuk berkata-kata.
“Mau adik apakan barang ini? Sudah berapa lama adik kenal dengan barang ini?”
Semua pertanyaanku itu tak ada yang dijawabnya.
Aku lalu menakut-nakutinya, mengancam bahwa apabila ia terlihat berurusan dengan barang ini lagi, maka aku akan membawanya ke kantor polisi. Aku bilang aku selalu berseliweran memperhatikan tindak kriminal di kota ini.
“Hei!” terdengar seorang memanggilku. Sepertinya adalah seorang pedagang kaki lima, atau siapa itu entahlah. Pakaiannya sama lusuhnya dengan anak ini. Mungkin ia adalah orang tua anak ini.
Aku tidak ingin anak ini punyaurusan yang panjang karena ketahuan menyimpan barang ini. Aku lalu merebut barang itu.
“Kali ini saya kasih kamu kesempatan. Kalau kamu mengulanginya lagi, kau tahu yang akan saya lakukan padamu?” ucapku terburu-buru.
Bocah itu mengangguk lalu aku langsung pergi, melompat memijak tempat-tempat menuju ketinggian gedung. Anak dan orang tua itu melihatku beraksi seperti ini. Tak apalah, semoga ini bisa membuat bocah itu percaya dengan ancamanku.