Putri bukan Pacarku

1167 Kata
Waktu yang aku dan Yudas habiskan begitu bermakna bagiku. Saatnya aku kembali ke kotaku. Selain Yudas, ada orang lain yang setelah ini mungkin menjalin sebuah ikatan emosional denganku. Ia adalah Ny. Lim. Aku kembali seorang diri dengan mengendarai mobil ini. Namun, kali ini tidak pada keadaan malam. Setelah bermalam di rumah Yudas, paginya aku pun berangkat. Satu hal yang masih sangat kutunggu adalah pakaian yang kelak menjadi pakaian kebanggaan untukku. Aku menunggu untuk penyelesaiannya. Diam-diam aku mengirimkan sejumlah dana ke dalam rekening Yudas. Ia akhirnya menyadari hal itu dan menanyakannya padaku. Aku tetap menolak apa pun yang terjadi ketika Yudas ingin mengembalikan sejumlah dana itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku ingin berkontribusi dalam pembuatan pakaian yang istimewa itu. Setelah sampai, aku kembali pada aktivitasku seperti biasa. Aku merindukan seorang perempuan bertubuh mungil yang begitu menggemaskan bagiku, Putri. Aku membuat janji temu dengannya ketika makan siang. “Wah, terima kasih, Kak. Oleh-olehnya, saya suka,” ucapnya sembari memeluk sebuah paper bag yang baru saja diintipnya itu. Sebelum meninggalkan wilayah Bandung aku sempatkan diri singgah di toko oleh-oleh dan membelikannya wayang golek mini juga jajanan dodol. Kami bertukar cerita tentang yang ia lakukan dan aku lakukan saat weekend kemarin. Aku memang telah memutuskan untuk melibatkan Putri perihal kenyataan bahwa aku memiliki kekuatan super, tapi tidak semua hal kuceritakan. Mulanya aku sebatas menceritakan kejadian menyebalkan saat Yudas tampaknya hendak mengerjaiku untuk merangkai rangkaian mesin sederhana untuk dimodif. Namun, setelah ia bergantian bercerita, aku jadi membuka cerita lainnya yang terkait. Putri bercerita untuk pertama kalinya ia berhubungan dengan temannya yang diaspora. Mereka sudah lama terpisah, tidak berbeda dengan aku dan Yudas saat kami tak bisa bertemu sejak lulus dari bangku sekolah. Ia menunjukkan fotonya yang sedang berfoto selfie dengan temannya itu saat melakukan sambungan video call. Mereka berfoto bersama dalam tampilan layar yang berbeda yang disatukan. Tentu saja karena mereka berada di tempat mereka masing-masing. Putri bercerita ketika itu ia masih sibuk memasak di dapur, pagi-pagi. Tiba-tiba seseorang memanggil via video call dan Putri terkejut ternyata itu adalah temannya, Dian, yang sedang studi di Turki. Sempat hilang kontak, Dian ketika itu bertemu teman mereka lainnya yang sedang berlibur ke sana, Ratna, beserta keluarganya. Dian, Ratna dan Putri adalah teman lama. Dian mengetahui kontak Putri dari Ratna dan mereka langsung melakukan panggilan ke ponsel Putri. Bertapa bersemangatnya Putri bercerita, tapi ada hal yang mengalihkan perhatianku dari celotehnya, foto. Foto selfie mereka membuat aku begitu dalam memperhatikannya. Cerita Putri pun terhenti. “Ada apa, Kak?” tanya Putri. “Dimana teman-temanmu ini berada?” tanyaku sambil menunjuk sebuah lukisan yang di sudutnya terlihat sebuah lambang yang familiar bagiku. “Itu mereka lagi berkunjung ke perpustakaan di sana, di Turki,” jawab Putri. “Apa nama tempatnya?” tanyaku serius. “Katanya sih masih dalam lingkungan Masjid Sulaiman, tapi saya ga tau nama tempatnya. Mau saya tanyakan dulu, Kak?” tanya Putri. “Ya, tanyakan. Dan tanyakan di belakangnya itu lukisan apa,” ucapku. Putri lalu menjangkau ponselnya. Ia mencoba menghubungi Dian tapi panggilan itu tidak diangkat. “Saya kirim chat aja, mungkin dia lagi sibuk,” ucapnya. Setelah menaruh kembali ponselnya, Putri pun bertanya tentang apa masalahku dengan lukisan yang ada foto di tempat temannya berada itu. Aku pun menceritakan pengalamanku melakukan hipnosis regresi bersama dr. Lim. “Apa yang terjadi?” tanya Putri serius. “Lambang itu. Tadinya Kakak tidak begitu yakin, tapi lambang itu ada di bayangan dalam prosesi. Rasanya seperti bermimpi tapi juga begitu terasa nyata,” ucapku. “Bayangan bagaimana? Apakah maksudnya seperti semacam pertanda mimpi?” tanya Putri. “Entahlah. Itu bukan mimpi. Hipnosis regresi adalah perjalanan mengingat masa lalu, tentang kehidupan masa lampau,” ucapku. “Saya ga paham, Kak,” ucap Putri. “Itu adalah ingatan ketika seseorang hidup sebelum ia kembali dilahirkan,” ucapku. “Sebelum dilahirkan pernah hidup? Saya pernah mendengar tentang keyakinan itu. Saya belum terlalu familiar dengan hal itu. Lalu ada apa dengan lambang itu, Kak? Apakah terapis tadi menjelaskan arti dari penglihatan itu?” tanya Putri. “Dia tidak menafsirkan apapun. dr. Lim hanya membimbingku untuk mendapatkan bayangan itu. Di dalam bayangan, Kakak berpakaian aneh, sangat kuno, dengan cincin yang saya pakai seperti stempel. Stempel berlambang seperti di foto itu,” jelasku. Putri beberapa kali memeriksa ponselnya. Temannya itu lagi-lagi tidak terlihat online dan chatnya belum terbaca. Aku meminta bantuan Putri agar temannya bisa memberikan informasi tentang dari mana asal lukisan itu. Aku mengatakan kepada Putri bahwa tempat dan berbagai ornamen di mimpiku itu seperti hasil kebudayaan Cina. Maka itu, aku tidak yakin itu adalah lukisan asli Turki. Kenapa berada di Turki, bukan di Cina. Setidaknya jepang kalau tebakanku salah. Negeri yang punya tulisan kuno mirip. Makan siang pun usai. Aku akan kembali ke kampus karena ada kelas, sementara Putri kembali ke tokonya yang tidak jauh dari tempat ini. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Ini adalah tempat yang biasa Putri kunjungi untuk makan siang. Ia dan pemilik tempat ini begitu akrab. Sekali waktu aku mendapati pemilik tempat ini mengedipkan mata kepada Putri dan membuatnya tersenyum. Namun, kedipan itu seakan ditujukan untuk membicarakan diriku secara bahasa tubuh. Aku kembali ke kampus, bertemu dengan teman-teman yang biasa nongkrong bareng denganku. “Wee.. Baru kelihatan ni anak,” ucap Jo. “Tahu nih, sekarang lu jarang kelihatan nongkrong di sini. Asal kelar kelas, langsung melipir entah kemana,” sambung Mike. “Nyokap sehat, Bro?” tanya Sam. “Sorry, sorry banget, guys. Gua akhir-akhir ini memang ada yah...” ucapku sambil memicingkan mata. Aku tengah memikirkan jawaban yang membuat teman-temanku maklum. Tentu aku tidak menceritakan apapun tentang hal-hal pribadi yang berkaitan dengan kekuatan super yang kumiliki ini. Tidak mau ambil pusing, aku iyakan saja apa yang ada di pikiran mereka. “Ha.. lu jalan sama cewek ya, Bro?” tebak Mike. Aku lantas segera mengangguk. Semua tiba-tiba memukul lengan dan punggungku. Mereka menyorakiku dengan gembira. “Siapa sih cewek yang bisa meluluhkan hati seorang Bimo?” ucap Mike. “Mana fotonya? Kasih tahu kita dong? Biar kalau ketemu dijalan ga langsung kita embat gitu. Hahaha...” ucap Jo. Aku tidak berpikir untuk mengenalkan sosok Putri sebagai pacar atau gebetan, tapi di ponselku saat ini hanya ada fotoku bersama Putri saja. Aku tidak menyimpan perasaan apapun pada Putri. Aku hanya menyukainya, gemas kepadanya, seperti teman biasa atau karena kami bisa dekat seperti ini, aku menganggapnya adik. Tidak lebih. Baiklah, agar tidak memperpanjang urusan, maka aku pun menunjukkan foto Putri. “Hui.. kaya ada manis-manisnya,” ucap Mike. “Lu pikir, air mineral!” ucap Jo memukul ujung topi Mike. Ponselku tiba-tiba direbut begitu saja oleh Viona, mahasiswi populer di kampus ini. Ia berdiri di sampingku, secara tiba-tiba saja ada di sini. Ia memperhatikan foto Putri dengan saksama. Wajahnya menunjukkan kebencian. Aku lalu segera bangkit dan merebut ponselku itu. Wajah kami tepat saling berhadapan dengan jarak sekitar dua jengkal saja. “Jadi, cewek kampung itu yang lagi deket sama lu? Dipelet apa lu sama dia?” ucap Viona ketus. Aku masih berada tepat di depannya, begitu dekat. Di jarak seperti itu seseorang bisa melakukan apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN