Menjadi Penghuni Kerajaan Cina

1103 Kata
Aku sedang berada pada terapi hipnosis regresi bersama dr. Lim. Entah tiba-tiba saja aku terperangkap pada jaman tertentu yang setahuku itu adalah tahun 700 Masehi. Aku berada di halaman rumah tradisional khas Cina. dr. Lim selalu membimbingku akan menceritakan segala sesuatu apa yang aku temui di dalam pikiranku dalam posisi mata terpejam. Aku mencari memperhatikan lekat-lekat detil segala benda di sekitarku. Ornamen-ornamen bangunan, tanaman-tanaman hias, rumput yang kupijak, lalu... Aku terkejut saat perlahan pandanganku memanjat naik. Awalnya aku memandangi rumput yang kupijak, tapi lama-lama aku menemukan diriku. Ujung kaki-kakiku yang terbungkus sepatu kuno berbahan kulit namun seelastis kain. Celana berbahan kuno berwarna suram, kain terusan yang mencapai paha, sebuah tunik tebal bercorak kuno. Aku mengangkat tanganku, tampak olehku kain yang menjuntai menutupi kedua lenganku hingga jauh melebihi pergelangan tangan. Sebuah cincin tersemat dengan mata yang besar. Itu bukan sebuah batu, melainkan stempel dengan lambang sebuah huruf kaligrafi. Aku kebingungan. dr. Lim terus saja menanyaiku macam-macam. Semakin kujawab, maka timbul pertanyaan lainnya. “Saya ada di belakang rumah Tuan Wijaya Gontur”, ucap Andre, kemudian ia tampak cemas dan napasnya mulai tidak teratur. Melihat hal itu dr. Lim tampak biasa saja dan membiarkan Andre tetap pada posisinya, sambil mencatat apa yang diceritakan oleh Andre di buku catatan. Andre terus menceritakan apa yang terjadi dan beberapa kali dr. Lim bertanya dan menimpali cerita Andre. “Adakah sesuatu yang kamu kenali? Atau seseorang mungkin?” tanya dr. Lim. Aku enggan menjawabnya, terlalu rumit aku mendeskripsikan ini. Dalam bayangan di pikiranku ini aku berlari menuju kolam yang ada di sekitar halaman. Sebuah kolam indah yang jelas dijadikan hiasan bagian dari taman di halaman rumah ini. Aku mendekati kolam dengan cepat, mengagetkan ikan-ikan berwarna-warni indah sehingga permukaan air menjadi tak tenang. Bergelombang seperti cermin rusak. Aku memegangi wajahku yang bercermin di air beriak itu. Kuberniat menunggu air menjadi tenang hingga air menjadi tenang dan bisa kudapatkan wajahku di atas permukaan air itu. Aku melihat rambutku ditata, dan ada pengikat di antaranya. Lantas aku menyentuhnya sendiri. Kuraba kepala ini dengan tanganku sebab permukaan air belum juga tenang. Sekilas nampak pakaian di sekitar leher dan dadaku, tapi sesuatu mengusikku. Seperti ada yang datang dari kejauhan, maka aku berlari untuk bersembunyi. “Bimo, tenangkan dirimu. Atur napasmu. Apakah kamu sedang menghindari sesuatu? Kamu berlari dari sesuatu?” tanya dr. Lim. “Cukup,” ucapku. dr. Lim menangkap keinginanku untuk mengakhiri prosesi terapi ini. Ia lalu mengembalikanku pada ketenanganku yang sebelumnya. Aku bisa membuka mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang walau aku mengingat semua yang baru saja kualami. Aku melihat dr. Lim mencatat sesuatu dalam buku catatannya. “Ini adalah semua perkataanmu tadi,” ucapnya sambil menunjukkan tulisannya yang urakan. “Tapi kamu tidak menceritakan bagian akhirnya,” lanjutnya. Maka, kemudian aku pun menceritakan semua yang kulihat. Sebuah sosok yang itu adalah diriku, pakaian kuno, sepatu kuno, tatanan rambut dan ikat kepala. Aku menceritakannya dengan lebih detil. Ternyata diam-diam Yudas mengikuti semua perkataanku dan langsung mencarinya melalui internet via ponselnya. Ia bangkit dan mendekati aku dan dr. Lim. Ia hanya mengira-ngira gambar-gambar yang ia dapatkan bisa sedikit mirip dengan deskripsi yang kukatakan. Yudas menunjukkan ponselnya yang berisi gambar-gambar itu. Aku melihatnya satu per satu, kemudian menggeleng. Tidak ada satu pun gambar yang ditunjukkan itu menyamai apa yang kulihat. dr. Lim menjelaskan menurut kepercayaan sebauh kelompok besar kepercayaan, ada yang disebut reinkarnasi. Ia mengira-ngira bahwa apa yang kualami barusan adalah cuplikan masa lalu di kehidupan sebelumnya, jauh di tahun 700 Masehi. Ada yang terjadi pada wwaktu itu yang masih membekas dan menjadi bebanmu di waktu sekarang. Hal itu yang membuat tiba-tiba kamu terbawa ke sana,” jelasnya. Lalu dr. Lim menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Bisa itu kenangan baik atau bisa juga kenangan buruk yang secara tidak langsung terbawa dan mengarahkan kehidupanku di saat ini. Dengan sangat disayangkan prosesi ini harus berakhir. Aku tidak ingin merepotkan dr. Lim lebih dari pasien lainnya. Maka, kegiatan ini akan dilanjutkan lain waktu yang entah itu kapan. dr. Lim sangat menyambutku dan Yudas. Kami seakan masuk ke dalam keluarga kecil ini, dianggap sebagai anak. Baik itu karena kedekatan Yudas dengan dr. Lim maupun karena kedekatanku dengan Ny. Lim. Sebelum undur diri, aku menanyakan hal yang pribadi kepada dr. Lim. Terkait dengan Ny. Lim, kira-kira hal apa yang bisa membangun emosi untuk mengurangi kerinduannya kepada kakeknya. dr. Lim menceritakan tentang sebuah benda. Ia bercerita pendek bahwa konon dulu kakek istrinya memberikannya hadiah natal berupa leontin. Ny. Lim sangat suka dengan hadiah itu, tapi ia menghilangkannya. dr. Lim meminta aku agar ketika sudah kembali ke Jakarta nanti sesekali menelepon ke rumah ini. Pembahasan tentang leontin itu tentu saja disarankan. Sebab, dr. Lim beberapa kali mendengar curahan hati istrinya beberapa kali secara berulang mengenai penyesalannya karena menghilangkan leontin sebuah leontin pemberian kakeknya. Percakapan diakhiri, aku dan Yudas pun pamit. Rupanya Ny. Lim sudah kembali ke kamarnya dan setelah diperiksa oleh dr. Lim, wanita tua itu sudah terlelap. Kami pun pergi, kembali ke tempat tinggal Yudas. Di perjalanan, aku dan Yudas bercakap-cakap. Seakan kami tak mengenal kantuk, karena hal yang baru saja kami alami ini adalah hal yang menarik perhatian kami. Praktik hipnosis regresi itu adalah pengalamanku yang pertama kalinya. Juga demikian dengan Yudas. Biasanya ia hanya menonton rekaman video yang diunggah di Youtube dan itu sudah mengalami editing sehingga tidak secara lengkap dan terutama tidak secara langsung. “Jadi lu percaya dulunya lu adalah orang yang hidup di bangunan yang lu bilang barusan kaya istana itu?” tanya Yudas sambil menyetir. “Kaga sepenuhnya sih, Bro. Bukan percaya atau ga percaya ya, gua tertarik dengan hal-hal yang tadi. Kalau seumpama itu bener, seru banget dong. Gua ada kerjaan kan, gua bakal nyari-nyari informasi, jadi tambahan hiburan gua,” jawabku. “Eh, bangkee.. bangkee..” ucapnya kecewa. “Hahaha.. Lah iya, gua kan emang kurang hiburan, Bro. Daripada gua setres ngikutin kehidupan boneka bokap gua? Mending gua jadi keturunan kerajaan kuno, kan keren!” jawabku. “Jadi superhero-nya apa kabar?” tanya Yudas kembali. “Jadikan dong! Itu masa depan gua, yang tadi di kerajaan Cina itu masa lalu gua, kalau bener. Hahaha...” “Hahahaha... Somplak! Somplak! Berteman dengan lu sekarang lama-lama gua jadi makhluk mutan juga nih. Otak gua bermutasi biar ga gila,” lanjutnya. “Hahaha...” “Hahaha...” Kami begitu riuh dengan tawa-tawa di tengah percakapan kami. Namun, jauh di hatiku, aku jadi tidak enak hati kepada Yudas. Aku melibatkannya sejauh ini dengan keanehan demi keanehan yang tidak logis pada diriku. “Lu ga bakal gila, Bro. Lu adalah orang terbaik, tercerdas, terbijak, terutama orang terdekat gua sekarang. Gua ngandelin lu banget, tapi bukan berarti gua ga bakal ngelindungin elu,” batinku sambil memandanginya tergelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN