Tiba saatnya aku dan Yudas menemui dr. Lim.
Tiba di kediaman dr. Lim, aku dan Yudas bertemu dengan istri dr. Lim. Mereka hanya tinggal berdua, tidak memiliki anak, tapi memiliki seekor anjing hushky.
Nyonya Lim sangat ramah terhadapku dan Yudas. Namun, sepertinya ada yang berbeda dengan pandangannya terhadapku. Keramahan yang berbeda dari dirinya antara kepada diriku dan kepada Yudas.
Sempat kami bercakap-cakap. Baginya aku seperti keluarganya. Mulanya aku mengira mungkin penyebab Ny. Lim begitu karena ia tidak mempunyai anak lalu memilih yang paling tampan di antara kami berdua untuk dianggapnya sebagai anak.
Nyonya Lim lalu memperlihatkan foto-foto keluarganya di album foto tua. Dari sini persepsiku pun berubah. Ia memilihku bukan karena lebih tampan dibandingkan Yudas. Sebab, ia memperlihatkan sebuah foto yang membuat aku dan Yudas tercengang. Tampak foto seseorang yang begitu mirip denganku. Orang itu adalah kakek dari Nyonya Lim.
“Dulu kakek sering bercerita-cerita kepada saya sambil membuka album keluarga. Sekarang saya jadi merindukannya,” ucap Nyonya Lim sambil tersenyum hangat kepadaku.
Kondisinya sama seperti saat ini. Wajahku yang mirip dengan kakeknya membuat Nyonya Lim merasa masa lalunya sedang terulang.
“Sepertinya istri saya begitu menyukai temanmu, Yudas,” ucap dr. Lim yang baru saja datang menghampiri kami. Awal mula kami datang Ny. Lim bilang dr. Lim belum selesai mandi.
“Dia merasakan kehadiran kakeknya yang begitu memanjakannya dulu sewaktu kecil. Dengan siapa ini?” ucap dr. Lim menanyakan namaku.
“Saya Bimo, Dokter,” jawabku.
Lalu, dr. Lim menengok ke arah Yudas seakan bertanya hubungan di antara kami.
“Ini adalah sahabat saya, Paman,” ucap Yudas.
“Sahabat. Jadi mengingatkan saya pada almarhum Soetomo. Kami juga adalah sahabat,” ucap dr. Lim.
“Ya, dulu Paman sering main ke rumah Paman Tomo,” ucap Yudas.
“Dan bertemu remaja genius yang sekarang sudah tumbuh dengan baik dan sukses,” ucap dr. Lim.
“Ah, Paman bisa saja! Paman yang berkembang jauh sampai bisa sukses seperti sekarang,” balas Yudas.
“Hahaha..” dr. Lim tertawa.
dr. Lim lalu mengajak aku dan Yudas ke ruangannya. Ny. Lim pun berpamitan dan membiarkan kami bertiga. Sembari berjalan, kami bertiga pun bercakap-cakap.
“Kehadiran Nak Bimo sepintas saya lihat menjadi penyemangat baru dalam hidup istri saya,” ucap dr. Lim.
“Ah, dimana Nak Bimo tinggal?”
“Saya tinggal di Jakarta, Dokter.”
“Oh, jadi ke sini sedang...?”
“Bimo ini untuk pertama kalinya ke Bandung menemui saya karena kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu, Paman,” sambung Yudas.
“Oh, begitu. Hanya liburan saja, ya? Sayang sekali. Saya kira bisa sering-sering datang ke sini,” ucap dr. Lim.
Aku menangkap maksud pembicaraan ini. Sepertinya dr. Lim berharap aku bisa sering-sering menemui Ny. Lim untuk mengobati kerinduannya pada kakeknya itu.
“Istri saya itu sudah berumur, sama seperti orang kebanyakan. Orang-orang seperti kami ini rentan sakit. Kalau pikiran fresh dan ada semangat dalam diri, segala penyakit seakan bisa terminimalisir,” lanjutnya.
Benar saja tebakanku. Ia ingin aku selalu dekat dengan istrinya. Padahal kami baru saja bertemu, tapi dr. Lim sudah menyimpan harapan atasku.
Akhirnya aku dan Yudas tiba di ruangan dr. Lim. Ruangan pribadi sepertinya. ruangan ini terlihat seperti ruang praktik.
Aku dan Yudas dipersilahkan duduk di sofa kecil yang hanya muat untuk dua orang, sementara ia menggeret kursi kerjanya dari balik meja kerjanya mendekat kepada sofa.
“Saya sangat senang kamu mengunjungi saya. Sudah lama sekali. Dan membawa Nak Bimo juga ke sini. Sebuah kebetulan yang sangat baik,” ucap dr. Lim kepada Yudas kemudian melihat ke arahku.
Dengan sedikit berbasa-basi, Yudas lalu menjelaskan maksud kedatangan kami menemui dr. Lim. Ia mendengarkan dengan seksama lalu aku melengkapi cerita Yudas.
Aku hanya menceritakan sebagat mimpi-mimpi yang aneh. Aku sengaja mengambil alih percakapan agar Yudas tidak perlu menceritakan semuanya. Aku membatasi informasi kepada dr. Lim. Aku tidak ingin dr. Lim tahu tentang kekuatan superku.
Hal-hal yang aku ceritakan adalah tentang mimpiku sewaktu aku tertidur sekejap saja di perjalanan berkendara sepulang kuliah. Di mana, aku mermimpi sebuah dunia seperti yang dikatakan sebuah buku bahwa dunia itu bernama Dunia Tanpa Ego, tempat jiwa-jiwa murni.
Lalu, aku menceritakan perihal mimpi aku kembali ke masa remaja dan bangun tidur ada benda-benda asing yang mungkin itu adalah benda-benda dari masa lalu yang tiba-tiba ada di kamarku.
Kemudian, yang terakhir adalah sebuah perjalanan waktu yang kusebut itu sebagai mimpi. Aku bungkus kata-kataku seolah-olah itu adalah mimpi yang sangat nyata dan aku bisa membawa benda dari mimpi itu, yaitu sate.
Yudas ikut terkesima dengan cerita-ceritaku. Mungkin yang bersarang di kepalanya adalah pertanyaan “elu ga cerita sama gua soal mimpi pertama elu?”
Namun, menurutku ini adalah pertimbangan yang terbaik. Membicarakan perihal mimpi adalah hal yang sesuai untuk diperdengarkan kepada seorang psikolog. Bukan tentang kekuatan super. Lagipula, aku belum memutuskan apakah dr. Lim adalah salah satu orang yang bisa kupercaya untuk kulibatkan dalam hal ini. Yudas pasti memakluminya dan bisa mengerti apa yang ada di kepalaku sekarang.
dr. Lim begitu tertarik dengan cerita-ceritaku. Ia berjanji akan membantuku menemukan apa yang sedang aku pertanyakan di dalam pikiranku ini.
dr. Lim menjelaskan terkait dengan pekerjaannya, terutama sebagai seorang praktisi hipnosis regresi. Ia menjelaskan langkah-langkahnya, lalu menunjukkan sebuah video saat ia melakukan praktik tersebut terhadap seorang pasien. Video yang tak diputar sampai habis karena penjelasan-penjelasannya sudah cukup mewakili apa yang ada di dalam video itu.
dr. Lim lalu menanyakan apakah aku akan melakukannya sekarang, atau perlu mempersiapkan diri dan akan kembali lain waktu? Maka, aku jawab aku akan melakukannya sekarang juga karena bertemu dengan dr. Lim tidaklah mudah. Aku pun mengatakan liburanku di Bandung tidak lama karena rutinitasku di kampus sebagai seorang mahasiswa.
dr. Lim pun memulai prosedur dan Yudas hanya memperhatikan di sofa dengan sedikit berjarak dengan kursi terapi pasiennya.
dr. Lim lalu mengarahkanku duduk separuh berbaring di kursi pasien dr. Lim. Di sudut ini terdapat banyak tumbuhan aglonema dan sansevieria di pot-pot berwarna putih. Seluruh benda berwarna lembut seperti putih, krem, dan cokelat muda.
dr. Lim juga menyetel musik relaksasi bernuansa alam. Ada suara gemericik air dan kicau burung. Sangat nyaman berada di sini, terlebih di kursi pasien ini. Rasanya sangat empuk. dr. Lim bercakap-cakap denganku dengan sangat baik, memberi kenyamanan yang sangat kepadaku.
“Bimo, sebelum ini apakah kamu masih punya perasaan-perasaan yang mengganjal di hati?” tanya dr. Lim.
“Sudah saya sampaikan tadi, Dok. Sepertinya sudah tidak mengganjal lagi,” jawabku.
“Baik. Tidak ada, ya? Kalau masih ada boleh kamu katakan saja sambil proses ini berjalan. Saya siap mendengarkan,” ucap dr. Lim.
“Baik,” jawabku.
“Oke, boleh silahkan pejamkan matamu. Kamu suka melukis tidak?” tanya dr. Lim.
“Bukan hobi saya, tapi saya bisa melakukan yang sederhana,”jawabku dengan mata tertutup.
“Baik, kamu akan melukis lingkaran sebesar kelapa di pikiranmu. Bersedia ya?” ucap dr. Lim.
Aku lalu mengangguk.
“Saya akan menghitung mindur dari sepuluh. Setiap hitungan berarti semakin kecil pula lingkaran itu, hingga sampai sebesar sebuah titik,” ucap dr. Lim.
“Semakin kecil ukuran lingkaran berarti kamu akan semakin merasa tenang, kamu akan tertidur semakin dalam,” ucap dr. Lim.
“Sepuluh... “
“Sembilan...”
“Delapan...”
“Tujuh...”
“Enam...”
“Lima... Tidurmu semakin dalam”
“Empat...”
“Tiga...”
“Dua...”
“Satu...”
“Apakah kamu bisa mendengar suara saya?” tanya dr. Lim.
“Ya,” jawabku.
“Sekarang pilih angka tahun yang akan kamu ingat. Antara tahun...” ucap dr. Lim, tapi belum selesai ia bicara aku sudah menjawab.
“Saya sudah sampai,” jawabku.
“Baik, kamu ada di tahun berapa?” tanya dr. Lim.
“Tahun 700 Masehi,” jawabku.
“Baik, kamu sedang ada di mana?” tanya dr. Lim.
“Di luar, saya menginjak rumput halaman rumah,” ucapku dengan mata tertutup.
“Emh..”
“Ada apa?”
“Bangunan ini aneh,” ucapku.
“Keanehan apa yang kamu lihat, Bimo?”
“Ini adalah bangunan negeri China. Banyak ukiran di atapnya, lukisan di dinding-dinding tipisnya. Patung-patung naga seperti pada guci-guci yang dijual oleh para pedagang Cina di toko-toko sovenir,” jelasku.
“Apa yang membuatmu memilih pergi ke tahun itu?”
“Sebuah bisikan.”
“Bisikan dari siapa? Kamu bisa mengenalinya?”
“Tidak.”
“Baiklah, di tempat itu adakah sesuatu yang kamu kenali? Atau seseorang mungkin?” tanya dr. Lim.
“Sa-saya...”
***