Waktu berlalu. Seharian ini aku dan Yudas menghabiskan waktu bersama di laboratorium robotikanya di lingkungan kampus ternama di Bandung.
Sore hari ketika hendak pergi meninggalkan gedung di mana lab itu berlokasi, aku mencium aroma korsleting. Aroma itu sangat nyata seperti sangat dekat dengan indra penciumanku.
Aku memberitahu Yudas. Kami pun menelusuri sumber aroma itu. Yudas menanyakan apakah sumber korsleting itu dekat? Aku masih belum bisa menjawabnya. Yudas justru tak mencium aroma apapun.
Aku membawa Yudas untuk keluar dari ruangan, menelusuri lorong, lalu keluar gedung. Aku menunjuk arah sumber aroma korsleting, yaitu seperi pembungkus kabel terbakar.
“Bimo? Itu tanah lapang?” ucap Yudas heran.
Aku lalu menyusuri arah sumber aroma itu dan ternyata mengarah ke gedung lainnya. Terus saja kaki kami melangkah. Yudas sempat melihat ke belakang tubuhnya, betapa jauhnya jarak antara lab-nya dengan tempat yang sedang ia berdiri ini.
Kami pun masuk ke dalam gedung kampus. Ada banyak gedung di sini, ini hanya salah satunya saja. Aku terus berjalan masuk lalu menyusuri lorong diikuti Yudas.
“Bim? Lu yakin, Bim?” tanya Yudas heran.
Aku tidak berkata apapun, sebab pertanyaan serupa selalu diulang-ulangnya sejak tadi.
Langkah kami pun terhenti di sebuah ruangan yang pintunya terkunci. Aku mencoba masuk ternyata pintunya terkunci. Lambat laun Yudas pun menunjukkan kerutan di dahinya.
“Bener, ini ada korsleting!” ucapnya. Rupanya aroma ini baru tercium Yudas.
Yudas lalu menelepon bagian keamanan gedung.
“Pak, tolong di gedung H lantai satu, ruangan dekat tangga ada korsleting. Pintunya terkunci!” ucap Yudas.
Yudas lalu menjelaskan hal ini kepada bagian keamanan. Tak sabar menunggu lama, daripada terjadi kebakaran, maka aku berinisiatif untuk mendobrak pintu itu.
Benar saja, ketika pintu terbuka, asap sedang menyelubungi suatu titik di plafon, tidak jauh dari tempat kipas angin menempel.
TAARRR..
Tiba-tiba saja bohlam di sampingnya meledak.
“Yud, Springkler di sini aktif ga?” tanyaku.
“Iya juga ya. Bahaya kalau nyembur, bisa kesetrum berjamaah kita di sini!” ucap Yudas.
Kenapa jadi Yudas yang bengong? Bukannya dia ahlinya?
“Kayanya macet, Bro!” ucapnya kemudian.
“APAR!” ucapku.
Kami berdua pun mencari-cari tabung APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di berbagai sudut bahkan di lorong, tidak juga kami temukan.
Aku lalu berpapasan dengan security yang sedang berlari membawa tabung APAR yang ukurannya lebih besar daripada biasanya.
Aku menunjukkannya ruangan yang sedang ada korsleting. Dengan segera security dibantu oleh aku dan Yudas yang menumpuk meja dan kursi kemudian security itu menaikinya dan menyemprotkan APAR ke sumber yang sudah menampilkan percikan api.
Korsleting pun berhasil ditangani. Aku dan Yudas lalu memotong jalur rambatan lain yang berpotensi terjadi korsleting.
Yudas menegur security mengapa sampai alat APAR tidak tersedia di sekitar ruangan ini. Security itu bilang bahwa stok sedang tidak ada. Sebuah evaluasi dari Yudas dan ia akan menyampaikan hal ini ke pihak kampus.
“Untung teman saya ini hidungnya peka. Kalau tidak sudah terjadi kebakaran di sini!” ucap Yudas.
Beberapa waktu berlalu, kami lalu meninggalkan gedung kemudian juga lingkungan kampus setelah semua masalah itu beres.
Aku dan Yudas pun berbincang di dalam mobil.
“Sekarang hidung elu yang sakti. Gua hampir ga percaya dari jarak segitu jauh lu bisa nyium aroma korsleting,” ucapnya.
Aku hanya mengangkat bahu.
“Emang tu bau ga ketutup sama bau got di pinggir gedung tadi apa? Bau anak-anak yang masih berseliweran di kampus, pasti ada aja yang ga mandi di antara mereka tuh! Atau...” protes Yudas.
“Yud! Gua ga tau?” ucapku menyelah kata-katanya.
“Makasih banget loh, Bro! Lu udah jadi superhero buat gua, buat kampus. Kalau ga ada elu tadi. Woh! Mana tu ruangan pojok banget lagi, sepi, bener-bener sepi,” ucap Yudas.
“Makasih gimana, orang gua aja ga tahu bisa begitu. Ujug-ujug hidung gua begitu, sebelumnya kayaknya biasa-biasa aja,” sanggahku.
“Bro.. Pokoknya gua yakin banget, soalnya udah berapa kali gua lihat dengan mata kepala gua sendiri elu punya kelebihan. Beneran elu superhero, Bro,” ucap Yudas.
“Lu.. Lu ga boleh punya pacar ni. Bakal susah lu punya pacar,” ucap Yudas.
“Iya, ya. Di film-film rata-rata superhero kesepian ya?” sanggahku.
“Ngomong-ngomong lu punya cewek?” tanya Yudas.
“Kagak gua,” jawabku cepat.
“Gebetan, gebetan? Pedekatean?” tanya Yudas kembali.
“Emh, ya, ya kagak,” jawabku.
“Kok lu ragu-ragu gitu?” godanya.
“Suwer, kagak ada!” jawabku.
“Mau bilang syukur salah, mau bilang ngenes juga gimana ya,” ucap Yudas.
“Loh kok gitu? Maksudnya apa nih? Lu belok?” tanyaku.
“Ih! Najis gua! Enggaklah! Gua normal!” ucapnya.
“Bukan apa-apa Bim. Dimana-mana tuh ya, kalau orang sibuk ngurusin keamanan orang banyak, ala-ala superhero gitu, keamanan orang-orang terdekat itu berpotensial juga terancam,” jelas Yudas.
“Oh, nyambung gua, nyambung. Kalau gua superhero nih, gua kan punya musuh ya? Tu musuh-musuh gua bakal ngincer cewek gua gitu maksudlu kan?” ucapku.
“Nah, itu maksud gua,” ucap Yudas.
“Yah, untungnya gua kaga punya cewe, Bro,” ucapku.
“Untungnya,” sanggah Yudas.
Namun, dari percakapan ini aku justru mengingat orang lain. Orang yang begitu kusayang, mama. Kalau pun aku akan menjadi superhero dan banyak menghadapi kejahatan, aku tak mau sampai mama terlibat. Aku tidak ingin mencelakai mama. Suatu saat, aku mungkin akan meninggalkan mama demi keamanannya.
“Tapi, Bro! Gua kan belum ttentu jadi superhero beneran? Bisa aja kan efek game sialan ini cuma sementara? Tinggal sabar-sabar nunggu penelitian Prof. Nakayama aja tuh,” ucapku menghibur diri.
“Bisa jadi sih. Naaa.. Ngomongin cewek kok semangat lu buat jadi superhero ciut gini? Lu ada naksir sama cewe ya?” goda Yudas.
“Kaga! Sumpah, kagaak. Gua ingat nyokap aja di rumah. Doi kan cewe juga, Bro,” ucapku.
“Oh, iya ya. Hehe.. Nyokaplu cewe,” ucap Yudas sambil menggaruk-garuk kepalanya.
*
Waktu pun berlalu. Tiba waktu aku bersama Yudas akan menemui dr. Lim.
Aku menanyakan kepada Yudas dr. Lim punya karakter seperti apa. Yudas pun menjelaskan bahwa dr. Lim punya sifat yang sangat ramah juga humoris. Usianya tidak mencerminkan bahwa ia berumur. Ia begitu melek teknologi dan mahir dengan gaya bercanda anak muda.
Sebuah karakter yang cocok sebagai seorang psikolog. Hal itu tentu bisa membuat klien-kliennya nyaman dan praktiknya dapat berjalan mulus.
Aku bertanya lagi bagaimana rasanya ketika nanti apabila aku jadi melakukan hipnosis regresi dengannya. Yudas mengatakan ia tidak tahu apa pun. Yang Yudah tahu adalah sosok sahabat pamannya, ketika sosok tersebut bersenda gurau dengan sangat akrab.
Sementara, untuk praktiknya sendiri Yudas belum pernah melihat langsung prosesnya seperti apa. Ia selama ini hanya tahu dari internet dengan video yang tidak lengkap. Tentu tidak lengkap dan video tersebut sudah ada editing, karena hanya sebagai konten tontonan biasa.
Untuk hal-hal yang dianggap tabu misalnya tidak mungkin disiarkan begitu saja, karena siapa pun bisa mengakses internet. Tanpa terkecuali orang awam, orang-orang yang konservatif terhadap dogma-dogma, atau bahkan anak kecil.