Pagi ini cuaca begitu cerah. Aku menyantap sarapan bersama Yudas, bubur ayam. Sembari menyantap sarapan, aku dan Yudas mengobrol.
“Bro, soal orang yang elu kenal itu, psikolog senior.”
“Yup?”
“Gua tertarik buat bertemu dengan dia.”
“Yakin lu?”
“Ya. Gua yakin.”
Yudas mengatakan ia masih belum terpikir kalau seorang psikolog senior yang ia kenal itu bisa membantu dalam pemecahan masalah yang kualami.
“Konsep perjalanan waktu yang semalam lu alami dengan konsep perjalanan waktu yang sering kliennya hadapi itu beda,” jelasnya.
“Ya, coba-coba ga ada salahnya kan? Siapa tahu ntar ketahuan kalau masa lalu gua di kehidupan sebelumnya adalah seorang putra mahkota yang memimpin perang, atau mungkin anak peliharaan alien di jaman Mesir kuno gitu?” ucapku disusul cekikikan.
“Gila, imajinasi lu jauh amat Bro? Ya kalau gitu kita coba buat janji sama doi ya,” ucap Yudas disusul dengan gelengan kepala.
Yudas pun menelepon orang yang dijanjikan akan dikenalkannya padaku. Panggilan itu berlangsung dua kali dan semuanya adalah panggilan yang tidak terjawab.
Aku menanyakan kepada Yudas ada hubungan apa ia dengan psikolog senior itu. Yudas bercerita bahwa seseorang itu adalah teman dari pamannya. Paman Yudas adalah seseorang yang begitu dekat dengannya.
Suatu ketika sewaktu Yudas masih remaja, sekitar berusia sebelas atau dua belas tahun, Yudas berlibur di kediaman pamannya itu. Pamannya suatu waktu kedatangan sahabatnya yang itu adalah psikolog senior itu.
Ketika itu sahabatnya itu mendapati Yudas sedang membongkar-pasang mesin pompa air. Psikolog itu tertarik dengan apa yang Yudas lakukan. Ketika itu Yudas lalu berbicara kepada pamannya tentang masalah mengapa pompa air itu rusak, Yudas bisa menemukan permasalahan di dalam mesin itu.
Psikolog itu tertarik dan berkenalan dengan Yudas saat kunjungannya di rumah paman Yudas itu.
Bertahun-tahun tidak bertemu, Yudas masih mengingat sahabat dari pamannya tersebut. Namun sebaliknya, psikolog itu tidak mengenalinya. Yudas dan psikolog itu bertemu di Bandara Changi lalu ia menghampiri lelaki yang sudah begitu tua itu.
Yudas memperkenalkan diri dan mengingatkan pertemuan mereka di kediaman pama Yudas dulu. Untungnya psikolog itu masih ingat. Ingatannya terhadap remaja genius itu masih begitu kuat, hanya penampilan dan wajah saja yang sudah ia kenali.
Mereka pun berbincang dan bertukar kartu nama. Psikolog itu begitu bangga ternyata saat ini Yudas sudah menjadi seorang peneliti hebat terlihat dari kartu namanya. Sementara Yudas, ia mengikuti liputan-liputan mengenai psikolog senior ini, orang tua ini cukup terkenal.
Usai bercerita mengenai masa lalunya saat bertemu dengan psikolog itu, aku pun menyarankan untuk menghubungi manajemennya. Biasanya orang terkenal itu punya manajer.
Yudas mengiyakan. Lalu, informasi pun dengan cepat kudapatkan. Apa yang tidak bisa kudapatkan. Mendapatkan sebuah informasi tentang seseorang tentu dengan mudah kudapatkan.
Yudas pun menghubungi manajer psikolog itu. Ia menyebutkan nama pamannya, berharap janji temu yang dibuatnya ini dapat segera di-notice oleh psikolog terkenal itu. Tentu saja, pada saat begini sebuah privilage berupa relasi akan begitu dibutuhkan.
Janji temu pun disetujui. Kami dipersilahkan datang ke rumah psikolog senior itu besok malam. Hari ini ia sedang ada di luar kota karena ada urusan pekerjaan.
Lelaki tua itu adalah dr. Lim Yan Leng. Ia adalah seorang praktisi hipnosis regresi. Tidak hanya terkenal di bidangnya, dr. Lim juga sering tampil di Youtube juga siaran TV, ia sering diundang sebagai pembicara.
*
Siang ini aku ikut bersama Yudas pergi berkunjung ke sebuah laboratorium robotika di mana ia menjadi penanggung jawabnya. Letaknya masih ada di dalam kawasan kampus terkemuka di Bandung. Orang semuda Yudas sudah mampu dipercayai memegang sebuah lab besar. Sungguh sangat membanggakan.
Yudas suka sekali aku mengunjungi bengkelnya ini. Ia ingin memancing kembali isi kepalaku mengenai hobi yang sempat kutinggalkan ini. Yudas memberikanku tugas untuk membongkar dan merekayasa kembali sebuah rangkaian listrik sehingga punya fungsi yang lebih dari sebelumnya.
Baginya rangkaian ini adalah mungkin rangkaian listrik yang sangat sederhana. Baiklah, aku pun merapatkan kesepuluh jari tanganku dan membunyikan sendi-sendinya. Apakah aku berhasil melakukan tantangan yang diberikan Yudas? Entahlah, aku sendiri geli kalau melihat diriku di dalam. Sudah lama aku tidak berurusan dengan hal yang seperti ini.
Waktu terus berputar. Mungkin Yudas tergelitik dengan raut wajahku yang begitu serius dalam melakukan tantangan darinya ini.
Yudas lalu mengabadikan momen ini dengan merekamku. Yudas mencoba menjahiliku sambil menyorotkan ponselnya di hadapanku. Ia tak habis-habisnya cekikikan menggodaiku, mencoba membuat konsentrasiku buyar. Berulang juga kuucapkan kata-kata singkat.
“Dah, wey!”
“Sono!”
“Cicing!” (diam)
Semakin sulit berkonsentrasi karena diganggu, semakin keras aku memandangi sebuah titik-titik objek yang ada di tanganku. Mataku kemudian bereaksi seperti sebuah alat pemindai dengan pencahayaan kehijauan.
Sekelilingku melambat. Seketika aku bisa membedakan mana benda-benda komponen utama dan mana benda-benda tambahan. Aku lalu menyusun komponen-komponen utama yang telah kubongkar itu terlebih dahulu dengan begitu mahir kurasa. Lalu, aku pun menambahkan komponen-komponen lainnya yang kurasa bisa meminimalisir kekurangan-kekurangan apabila rangkaian ini kufungsikan sebagai alat yang ‘baru’.
Suara Yudas berhenti begitu saja. Semua hening. Aku menyelesaikan tantangan ini sengan segera dan aku melihat Yudas dengan tatapan yang serius kepada benda yang baru saja aku selesaikan itu.
Ia lalu memegang rangkaian ini dengan tangannya, membolak-baliknya dan menaikkan alisnya sekaligus menurunkan lengkung bibirnya.
“Lumayan,” ucapnya sambil mengangguk-angguk.
“Setelah bertahun-tahun yang katanya lu ga megang beginian, gua ga nyangka elu masih jago juga,” lanjutnya.
Walau pun Yudas mengapresiasi hasil kerjaku barusan, tetap saja menyusun rangkaian ini bukanlah hal yang sulit baginya, bahkan mungkin sepele.
“Kalau lu udah bisa lepas dari kekaisaran lu, mending lu kerja sama gua di sini, Bim,” tawarnya.
Aku sangat paham arti kekaisaran yang disebut-sebutnya itu. Lingkungan keluargaku, tentu saja.
“Ogah gua! Gua kan mau jadi superhero. Hahaha...” godaku.
Yudas lalu menyengir kuda, lalu kutepuk punggungnya.
“Iya, Bro. Gua ga akan nyia-nyiain persahabatan kita. Gua bakal berusaha dan pasti bisa untuk kita sama-sama terus kaya gini,” ucapku.
Nada hangatku yang semakin mendingin dan begitu serius itu membuatnya tersenyum dan mengangguk. Sorot matanya menandakan harapan yang besar. Matanya memang sedang melihatku tapi yang terlihat ia bagai sedang melihat sebuah visi yang jauh.
Selain bermain-main sejenak, Yudas mencoba mengenalkan aku pada proyek-proyek yang dilakukannya di dalam lab ini. Yudas lalu membuka arsipnya di komputer mengenai proyek yang sedang on going.
Ia begitu saja larut dalam pekerjaannya mencoba menyelesaikan sedikit bagian yang itu juga melibatkanku untuk membantunya. Ia ingin menunjukkan kepadaku lebih jauh mengenai dunianya.
Aku dimintanya untuk mencatat dan mengisi check list saat sebuah alat dinyalakan. Ia sebagai operatornya sementara aku adalah asisten pencatat. Sambil melakukan pekerjaan ini ia juga menjelaskan dengan singkat kondisi ideal dan kondisi error juga cara-cara mengatasinya. Kami larut dalam ruangan ini. Ruangan yang sepi, hanya ada dua orang pekerja yang sedang piket di hari libur untuk tetap melakukan kontrol rutin.