Sarapan Bubur Ayam

1123 Kata
Pakaian khusus yang dibuatkan oleh Yudas belum sepenuhnya jadi. Ada beberapa bahan yang belum ditambahkan karena masih dalam proses pengiriman impor. Usai coba mengenakan pakaian itu sebentar, aku pun melepaskannya dan Yudas mengembalikannya kepada manekin. Dengan melihatnya terpajang seperti itu aku merasa menjadi seorang Batman. Memang warna pakaian itu maupun bentuknya tidak seperti Batman, justru lebih mirip pakaian Bruce Lee tapi dengan warna yang gelap. Sekilas kulihat seperti ungu kehitaman, terkadang juga berubah menjadi maroon kehitaman. Inti warnanya adalah gelap, di sisi lain melihatnya persepsi warna akan berbeda. Hal itu sudah sempat aku pastikan dengan Yudas, sebenarnya warna apa yang ada di pakaian ini. Yudas menjelaskan seperti itu, bahkan suatu saat jika dibutuhkan pakaian ini bisa dalam mode siluman, tidak terlihat. Aku tidak mengikuti perkembangan entah itu ilmu fisika, robotika dan terapan lainnya. Ini saja sudah cukup membuatku tercengang, benda yang terbaik yang pernah diciptakan untukku, khususnya pakaian. Namun, Yudas mengatakan masih ada praktisi lain yang dapat membuatkan pakaian yang jauh lebih baik, lebih canggih. Ia begitu rendah hati. Katanya ini adalah produk hasil buatan pemula, yaitu dirinya. Walau pun bagaimana, Yudas memastikan bahwa ia sudah membuatnya dengan sepenuh hati dengan segala usaha yang ia mampu. Usai membahas tentang barang buatannya itu, ia pun mengajak untuk beristirahat. Ia paham betapa aku lelah karena telah melakukan perjalanan jauh lengkap dengan kejadian-kejadian aneh yang menyertaiku. Aku sebenarnya tergoda dengan berbagai barang yang ada di ruangan ini. Aku melirik pada rak yang menempel pada dinding berisi mungkin seratus buku atau lebih. Namun, kuakui mataku memang cukup berat rasanya. Seperti tengah tertempel beberapa lempeng plat besi. Aku lalu mengiyakan ajakan Yudas. Yudas menangkap arah pandangan mataku tadi. Ia mengatakan bahwa aku bisa kembali ke sini kapan saja. Bahkan aku diijinkan untuk membawa buku-buku yang kusuka ke Jakarta. Namun, kurasa itu tidak akan terjadi. Aku masih teringat dengan pembersihan besar-besaran yang dilakukan oleh papa terhadap barang-barangku. Sambil lalu kami berjalan meninggalkan ruang bawah tanah ini, kami bercakap-cakap. “Oh iya, lu waktu balik dari rumah gua, lu ninggalin barang-barang lu ga di sana? Buku gitu?” tanyaku. “Enggak. Emang gua bawa-bawa buku ke rumah elu? Kan enggak?” jawabnya. “Kartu UNO? Majalah? Komik-komik?” tanyaku kembali. “Enggak,” jawabnya. “Gua kira punya lu? Gua kira gua yang lupa malamnya mungkin kita maun kartu dan baca-baca majalah dan sebagainya,” lanjutku. “Enggak. Boro-boro lu ngeluarin barang-barang kaya gitu,” jawabnya. “Oh, iya. Waktu itu gua kan bangun pagi, sekitar jam 5. Gua lihat elu udah pergi. Lu kemana, Bim? Gua ga jadi pamitan sama elu. Gua tanya pembokatlu juga doi ga tahu. Terus gua sebenarnya mau pamit kan sama nyokaplu, tapi pembokat bilang nyokaplu lagi istirahat, jadi gua cuma titip salam doang,” jelasnya. “Lah? Gua yang nyariin elu. Gua ga kemana-mana, Yudas. Gua justru bangun tidur langsung nyariin elu, manggil-manggilin malah ga ada jawaban. Gua kira lu udah pergi. Sekitaran jam segitu juga. Ya lewat-lewat dikitlah. Lewat setengah jamnya,” jelasku. “Jangan-jangan..” “Jangan-jangan..” ucap kami bersamaan. Kami sama-sama berjalan melewati ruang makan yang tadi kami tempati. Aku mengambil tas punggungku yang tadi kutinggalkan di sana. Yudas akan mengantarkanku ke kamar tamu. Apa yang ada di pikiran kami sama. Jangan-jangan perjalanan lintas waktu tadi bukanlah perjalanan waktu pertama yang kulakukan. Aku lalu menceritakan mimpi aneh yang kurasa begitu nyata saat itu. Aku kembali menjadi remaja, di dalam mimpiku. Mungkin barang-barang yang ada di kamarku itu berupa kartu, majalan, buku-buku fiksi dan komik adalah barang-barang yang kubawa dari masa lalu. Aku dan Yudas pun telah sampai di kamar tamu. Ia mengantarku ke dalam kamar yang dipersilahkannya aku bersitirahat di sana. “Gua jadi teringat dengan orang yang biasa menuntun orang lain ke masa lalu. Beliau seorang psikolog senior,” ucap Yudas. “Tapi...” lanjutnya. “Wah, ada yang ga beres pasti ya?” tebakku. “Bukan gitu. Dia orangnya profesional kok, tapi gua dengar orang sering minta bantuan dia itu untuk mengunjungi kehidupan mereka di masa lalu. Lu tahu dengan konsep reinkarnasi kan?” ucap Yudas. “Oh, iya nyambung nyambung gua, Bro,” sanggahku. Yudas pun menutup pembicaraan ini. Ia mempersilahkan aku istirahat. Lalu, Yudas pun pergi. Aku pergi ke toilet yang ada di dalam kamar. Aku mencuci wajahku. Sambil membersihkan wajah, pikiranku melayang pada sebuah pemikiran di kepalaku. Pemikiran ini kubawa hingga aku usai mencuci wajah, menjangkau ranjang dan berbaring menengadah ke langit-langit. Konsep reinkarnasi. Konsep reinkarnasi. Perjalanan waktu. Aku ingat dengan mimpi anehku lainnya, di mana aku berada di sebuah tempat yang seseorang mengatakan di dalam bukunya adalah sebuah Dunia Tanpa Ego (DTE). Aku berencana untuk menemui orang yang Yudas kenal itu. Seorang praktisi yang membimbing seseorang pada kehidupan masa lalunya. Seorang psikolog senior. Aku penasaran dengan hal seperti itu. Lantas aku ingin mencarinya melalui google. Beberapa saat kemudian, bingo! Istilah ini pun aku temukan, yaitu ‘hipnosis regresi’. Aku pun membaca sekilas beberapa sumber bacaan bagaimana hipnosis regresi itu dilakukan. Kupikir tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu kehidupan lampau yang ditembus bisa sampai ke sesuatu yang terkait dengan mimpiku mengenai DTE itu. Aku pun memutuskan untuk menaruh ponselku di nakas. Aku memejamkan mata. Kurasa ini adalah tempat yang cukup nyaman sehingga bisa membawaku terpulas begitu saja. Waktu pun berganti. Ini sudah pagi. Aku sudah membersihkan diri, sedangkan Yudas baru saja bangun. Ia berpapasan denganku ketika keluar dari kamarnya sambil menggaruk-garuk kepala dengan penampilan yang sangat berantakan dan mata yang masih sipit. “Mau kemana lu, Bim?” tanya Yudas. “Gua mau nyari sarapan,” jawabku. Aku lalu beranjak. Pagi-pagi seperti ini aku manfaatkan untuk berjalan kaki. Tidak terlalu pagi juga, sebenarnya matahari sudah begitu terang. Ini pukul 8 pagi. Aku berjalan kaki di komplek rumah Yudas. Aku sempat bertemu dengan beberapa gadis yang melewatiku. Sepertinya mereka sedang jogging pagi, terlihat dari pakaiannya yang terbuka dan ketat. Namun, mereka tidak tengah berlari atau lari-lari kecil atau jalan cepat. mereka dengan santai berjalan begitu saja. Mungkin kegiatan joggingnya sudah selesai. Oh, ya, tentu saja. Ini sudah hampir panas. Mereka berbisik-bisik dan tertawa kecil-kecil, beberapa telihat curi pandang kepadaku. Ah, tidak jauh berbeda dengan saat aku berada di kampus. Membosankan sekali. Bagiku urusan perempuan yang menarik memang cukup membuatku terhibur, apalagi penampilannya begitu terbuka dan ketat seperti itu. Namun, aku hanya menikmatinya sekali lewat saja. Untuk berhubungan, bukannya aku pengecut, tapi aku memang jenuh. Tidak satu-dua perempuan cantik yang mencoba mendekatiku, justru itulah yang membuatku tidak tertarik untuk berhubungan lebih jauh. Hanya cocok untuk konsumsi mata kupikir. Yah, bolehlah untuk berselancar di alam pikiran dengan mencuatkan hormon adrenalinku sejenak. Tak lama dari itu aku pun melihat tukang bubur ayam yang berjualan. Lantas aku pun membelinya dan juga memesankannya untuk Yudas. Sudah lama aku tidak makan bubur ayam untuk sarapan. Salah satu makana yang juga aku sukai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN