Perjalanan dalam kota kutempuh menuju tempat tinggal Yudas. Waktu pun berlalu, akhirnya aku pun sampai di sana.
Aku tiba pada sebuah bangunan sederhana seperti rumah peninggaan jaman Belanda. Halaman luas, namun masih seperlima luas halaman rumahku. Terasnya beratap rendah seperti rumah joglo.
Yudas mengantarku masuk dengan wajah yang sudah segar. Tidak seperti suaranya di telepon tadi, suaranya tidak separau tadi. tentu Yudas sudah bersiap diri begitu akan bertemu denganku.
Aku menyerahkan bingkisan makanan kepadanya.
“Wah, makasih banget loh Bro, datang-datang bawa oleh-oleh,” ucapnya.
Yudas mendudukkanku pada sebuah ruang makan yang letaknya tidak terlalu jauh masuk ke dalam. seperti hanya berada di ruang tengah saja.
Ia mengambil piring, sendok dan garpu juga mengambilkan air putih. Ia tahu betul kalau aku begitu kelelahan dan lapar jadi kami langsung menyantap makanan yang kubawa ini.
Di rumah ini tiada siapa pun. Hanya ada Yudas seorang. Ia mengatakan kalau pagi hingga siang ada seorang wanita paruh baya yang bekerja untuk bersih-bersih di rumah ini.
Sambil makan, aku menceritakan apa yang terjadi pada diriku. Mulai dari aksiku melompat-lompat di gedung tinggi, hingga aksi penyelamatan seorang perempuan muda dari tindak kejahatan perampokan. Yudas begitu tercengang mendengarkannya. Ia merasa tengah berhadapan dengan seorang superhero seperti di film-film. Nada suaranya begitu bersemangat.
Kamudian, aku bercerita mengenai telepon dari Profesor Nakayama tentang hasil pengamatan sampelku itu. Lalu, Yudas menanggapi bahwa ia pun tidak terlalu yakin begitu mengenal profesor itu.
Yudas mengatakan bahwa ia mengenal profesor saat melakukan proyek bersama untuk kajian literatur perguruan tinggi. Kajian yang tidak terlalu dalam, jadi baru sebentar ia mengenalnya, sekitar dua-tiga bulan yang lalu. Hanya melalui proyek itu saja.
Yudas pun tidak bisa memberi pertimbangan apapun apakah profesor bisa dilibatkan secara penuh dalam masalah kekuatan superku ini atau tidak.
Lalu, masalah selanjutnya yang kuceritakan adalah tentang keanehan dalam melakukan perjalanan ke sini. Perjalanan melintasi waktu. Sate yang kulahap saat ini adalah berasal dari siang hari.
Sialnya aku lupa memastikan kapan itu waktunya, entah siang kemarin atau esok hari atau justru waktu yang jauh dari yang diperkirakan. Aku terlalu gugup dalam melakukan perjalanan waktu tadi, jadi aku tidak memikirkan apa pun selain rasa heran yang teramat sangat.
“Gila! Serius ini, Bim?”
Yudas sangat berapi-api menanyaiku. Ia mempercepat kunyahan makanan di mulutnya. Entahlah, sepertinya juga mempersingkat waktu mengunyahnya. Mungkin saja malah tidak dikunyah. Makan, lalu minum, makan lalu minum begitu sampai nasi goreng itu habis.
Aku jadi mengimbanginya. Ia pun memintaku mempercepat makanku. Ada yang ingin Yudas tunjukkan padaku. Ia mengatakan aku mempersiapkan suatu hal khusus untukku, itu sebabnya malam ini ia begitu kelelahan sehingga tidak kuat begadang. Jadi tadii sewaktu aku meneleponnya Yudas memang sedang tidur begitu pulas.
Usai menghabiskan makanan kami, ia pun menyuruhku mengikutinya. Langkahnya begitu cepat. Seperti bukan orang yang baru saja selesai makan makanan berat. Aku saja sampai begah kalau harus setengah berlari mengikutinya. Bagaimana pun aku memakluminya. Ia begitu excited dalam hal ini.
Aku dibawanya menyusuri lorong menurun, tangga yang menghubungkan ruangan yang ada di bawah tanah.
“Lu? Lu punya ruangan bawah tanah, Bro? Haha...” ucapku sembari mengikutinya melangkah cepat menjajaki anak-anak tangga menurun.
“Lumayan, Bro. Nambah bangunan menyamping atau ke atas bakal nambahin harga pajak rumah. Kalau begini kan lumayan, ini ruang rahasia gua. Ga ada yang tahu ruangan ini, termasuk pembokat gua,” jelasnya.
Ohh, pantas saja ketika aku masuk jadi jalan masuk ada di balik kulkas. Kulkas akan digeser dahulu, membuka penutup lubang di lantai baru kemudian lorong tangga ini bisa diakses.
Setelah berjalan, tibalah aku pada sebuah ruangan yang penuh buku, seperti perpustakaan kecil, dan di sampingnya terdapat alat-alat penuh dengan lilitan kabel dan kumparan.
“Jadi ini bengkel elu, Bro?” tanyaku.
“Bukan. Bengkel gua ada di lab Insitut Negeri Bandung. Tapi di sana gua ga leluasa. Untuk hal-hal yang ga ada hubungannya sama proyek kampus atau institusi mitra, maka gua melakukan segalanya di sini. Termasuk ini,” ucapnya kemudian menunjukkanku sesuatu.
Itu adalah sebuah manekin yang tengah dipakaikan sebuah pakaian berwarna gelap. Terlihat sangat ketat. Aku mencoba menyentuhnya.
“Kirain gua spandek loh?” ucapku terkejut.
Aku mengetuk-ngetuk permukaan pakaian itu rasanya aku seperti tanga mengetuk-ngetuk plat baja. Namun, setelah kujuput bahan ini begitu elastis benar-benar seperti kain spandek.
“Ini buat lu, Bim,” ucap Yudas.
“Hah?” ucapku menyeringai.
“Tapi belum kelar,” lanjutnya.
Yudas mengatakan ada bahan-bahan lain yang belum selesai ditambahkan, jadi aku dimintanya untuk menunggu sekitar seminggu lagi.
“Semenjak gua balik dari tempatlu, gua kepikiran buat coba-coba otak-atik bahan-bahan buat perlindungan imun lu yang udah bercampur radiasi bahan asing. Waktu itu gua cuma terpikir sama bahannya doang, belum terpikir bakal dalam bentuk apa.”
“Sempat gua pikir apa lebih baik gua pasang chip aja yang ditanam di tubuh elu seperti gelang misterius yang katanya membuat elu terkontaminasi itu. Pasti efeknya ga jauh-jauh dari itu.”
“Terus, sejak gua lihat video elu beraksi ala-ala parkour, gua pun terpikir gimana kalau bahan-bahan ini gua jadikan dalam bentuk pakaian aja. Ya, kaya superhero di film-film itu,” jelas Yudas.
“Wah, elu emang sohib gua banget!” ucapku lalu membenturkan bahu kami bersama-sama dan saling menepuk punggung.
“Gua ikhlas, Bim. Kita kan udah lama sahabatan. Gua peduli sama elu. Kita udah kaya keluarga banget. Gua sama nyokaplu juga deket banget,” ucap Yudas.
“Cuma, ya itu. Elu harus sabar nunggu barang ini bener-bener selesai. Bahan yang gua impor agak lama datangnya,” jelasnya.
“Impor? Wah nguras kantong lu dong?” ucapku.
“Ah, ga apa-apa. Semua ini bagian dari passion gua. Gua juga dibantu kok, ada teman di luar yang mempermudah gua buat dapatin bahan-bahannya,” jelas Yudas.
“Kaga, kaga. Gua harus turut andil. Lu tahu sendiri kalau urusan finansial gua ga bakal kesulitan. Elu harus ngelibatin gua, Yudas!” paksaku.
“Oke, oke. Gini, nanti seumpama gua ada kendala, gua bakal ngasih tahu elu. Oke?” ucap Yudas.
Aku tidak habis pikir. Masih ada orang sepeduli ini kepadaku di luar keluargaku sendiri. Selama ini memang aku memiliki teman-teman, tapi kurasa tidak sepeduli ini.
Sering kali aku bersama dengan Mike, Jo, dan Sam. Mereka pun aku sangat paham ketika akan menolong satu sama lain di antara kami pasti perlu berpikir dulu. Tidak seperti Yudas. Aku merasa Yudas ini bagai saudara kandung bagiku.
Yudas pun melepaskan pakaian itu dari manekin. Ia mempersilahkan aku untuk mencobanya. Maka, aku pun melakukannya.
Setelah kukenakan, pakaian ini memang begitu elastis, namun tekanan regangannya tidak seperti pakaian diving. Jauh lebih ringan, jauh lebih lega. Jauh lebih aerodinamis. Seakan-akan ini adalah kulit tubuh bagiku.
Yudas menjelaskan ini ia design memang untuk kondisi yang seperti itu. Akan ada banyak hal yang akan aku hadapi, ungkapnya. Maka itu, pakaian seharusnya bukan sebagai kendala dalam bergerak, apalagi bergerak dalam kecepatan tinggi di mana aku harus menabrak banyak zat secara keras nantinya.