Perjalanan Waktu

1126 Kata
Pukul dua dini hari aku pun sampai di Bandung, baru saja keluar dari pintu tol. Aku lalu menghentikan mobil di stasiun pengisian bahan bakar terdekat. Aku memarkirkan mobil di daerah rest area, lalu keluar dari mobil dan membeli kopi panas kemudian duduk di depan mini market sambil menikmati seduhan kopi ini. Ada beberapa pasang kursi dan meja kecil di sini yang dikhususkan bagi pengunjung. Aku menelepon Yudas. Sekali kucoba menghubungi Yudas, sambungan selular hanya berdering begitu saja tanpa diangkat. Tidak biasanya Yudas tidur jam segini pikirku. Maka, aku mencoba menghubunginya kembali. Kali ini panggilanku diangkatnya. Yudas menjawab panggilanku dengan suara yang begitu teler. Seperti orang yang baru saja bangun dari tidur pulas. “Ngapa Lu nelpon, Bim?” “Nah elu tumben-tumbenan tidur jam segini?” “Iya, gua capek banget, Bro. Lu belum tidur? Bukannya elu mau berangkat nanti pagi, kok belum tidur?” “Ini udah pagi, Bro!” “Eh, iya ya. Gila, jam 2 ini Bro! Lu mau berangkat jam segini?” “Gua udah di Bandung.” “Hah? Lu berangkat semalam, Bro?” “Iya. Ya udah buru share-loc. Gua ke situ sekarang.” “Oh, iya iya.” “By the way gua mau nyari makan nih, lu mau nitip ga?” “Tahu aja lu, gua laper.” “Iya, gua juga laper ini abis perjalanan. Gua tahu lu jomblo. Mana ada makanan lu di sana. Paling stok mie instan doang adanya.” “Wey, Bim! S o m p l a k lu ah! Pake ngata-ngatain gua, elu sendiri jomblo!” “Dah, gua langsung cabut ni ah.” “Emang lu di mana sekarang?” “Gua baru aja keluar pintu tol. Pom bensin sekitar sini.” “Oh, tahu tahu gua.” “Jadi mau nitip apaan?” “Nasi goreng aja deh, Bro.” “Oke. Gua otewe ya.” Usai menelepon, share-loc tempat tinggalnya pun masuk. Notifikasi berbunyi, kubuka pesan chat lalu muncullah alamat via google map. Aku lalu membuka google map dan mengetik di kolom pencarian ‘warung nasi goreng’ ‘warung sate’ di sekitar lokasi menuju alamat tempat tinggal Yudas. Bingo! Dapatlah beberapa titik yang bisa aku kunjungi untuk membeli makanan nantinya. Aku memang suka sate. Makan sate kambing malam-malam begini sepertinya nikmat sekaligus untuk menghangatkan tubuh dan mengganti energi selama perjalanan. Aku pun tiba pada pilihan warung sate, rupanya tutup. Lalu, aku kunjungi lokasi lainnya yang juga lagi-lagi tutup. Oh, pantas saja, aku lupa melihat jam operasional toko yang tertera di google tadi. Cukup kesal karena lapar, kuputuskan langsung saja aku menuju warung nasi goreng pada lokasi selanutnya. Jalanan betul-betul lengang saat ini. aku bisa melaju dengan kecepatan tinggi sekaligus melampiaskan kekesalanku. Selama berkendara dengan kecepatan tinggi ini, yang ada di pikiranku adalah sate kambing. Aku lapar, tapi kenapa semua warung sate tutup. Sebenarnya tidak semua, baru dua warung sate yang kukunjungi tadi. Namun, aku sudah terlanjur kesal karena lapar. Tiba-tiba, mobil dengan kecepatan tinggi ini seperti menembus sebuah gerbang gaib. Suasana berganti begitu saja menjadi siang. Jalanan tidak lagi sepi. Aku kelabakan dengan peribahan kondisi jalanan seperti ini. Hampir saja aku menabrak pengendara lainnya yang tiba-tiba memadati jalanan. Aku lalu memperlambat laju mobilku. Aku begitu heran dengan apa yang sedang terjadi. Tunggu! Bukankah ini adalah jalan yang baru saja aku lewati tadi? Ah, itu! Baru saja aku melewati warung sate pertama yang tadi aku kunjungi. Aku lalu hendak memutar. Sudah terlalu jauh aku melewatinya, tidak memungkinkan untukku berjalan mundur. Aku lalu memutari pembatas jalan dan lajur letter U, lalu kembali ke warung sate itu. Aku memarkirkan mobilku. Warung sate ini sedang ramai pembeli. Aku lalu memesan dan membawa pesananku kembali ke dalam mobil. Baru saja aku duduk dan hendan stater mobil, aku bingung. Bagaimana cara aku kembali ke waktu malam? Bukankah ini adalah perjalanan waktu? Aku memandangi seisi mobil. Bahkan mobil ini pun itu melakukan perjalanan melintasi waktu Gerbang gaib! Aku harus mencari gerbang gaib tadi. Aku sekarang tidak mungkin sedang berada di dunia gaib kan? Mana ada itu dunia hantu, aku tidak mempercayainya bahwa itu bersinggungan dengan dunia manusia seperti ini. Aku lalu menyalakan mobil. Aku memusatkan pikiran. Aku membayangkan dengan sungguh-sungguh kondisi malam di seluruh jalan yang aku lewati ini. Waktu pun terus bergulir. Sepertinya aku berjalan sudah cukup jauh, tapi kenapa aku tidak juga kunjung kembali ke waktu malam? Aku lalu berjalan memutar kembali, sembari kumemikirkan cara untuk kembali ke waktu malam. Tiba-tiba seakan saklar lampu di otakku baru saja terklik. Kecepatan! Tentu saja! Seingatku tadi terakhir kali aku berada di waktu malam adalah sewaktu aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tidak mungkin aku melajukan mobilku kembali dengan kecepatan tinggi seperti tadi, karena kondisi jalan ini terlalu ramai. Aku putuskan kukembali masuk ke dalam tol. Aku masuk ke dalam tol selama beberapa jauh jaraknya demi bisa memutar kembali ke arah Bandung tak apa. Setelah masuk ke jalur menuju Bandung kembali, aku pun memanfaatkan kondisi tol yang lengang ini untuk kulajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Kumelaju sembari kuingat-ingat kembali suasana malam di tol. Aku berkonsentrasi. Aku lalu melihat gerbang gaib itu kembali dan tiba-tiba... aku pun kembali ke waktu malam. Sesampai aku di jalan tol di waktu malam kembali, aku lalu menepikan mobilku sejenak. Aku membuka ponsel dan melihat waktu. Jangan sampai aku salah waktu. Untuk tanggal, ternyata masih tepat. Aku melihat histori chat di ponselku, aku belum menghubungi Yudas maupun menerima chat darinya. Rupanya aku kembali dengan waktu yang sedikit lebih cepat sebelum waktu semula. Aku lalu menelepon Yudas dan memintanya untuk share –loc tempat tinggalnya. “Ngapa Lu nelpon, Bim?” “Nah elu tumben-tumbenan tidur jam segini?” “Iya, gua capek banget, Bro. Lu belum tidur? Bukannya elu mau berangkat nanti pagi, kok belum tidur?” “Ini udah pagi, Bro!” Tunggu, bukankah aku sudah mengatakan ini tadi? “Bro, pokoknya lu share-loc rumahlu sekarang. Gua udah di Bandung.” “Loh, bukannya...” “Ga usah banyak ngemeng, pokoknya gua ke situ sekarang. Ada hal penting yang gawat banget mau gua ceritain ke elu.” Aku mengakhiri panggilan selular itu dengan secepat mungkin. Kemudian, aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa aku singgah di warung nasi goreng untuk Yudas. Selama perjalanan, bahkan selama memesan makanan, aku tenggelam dalam lamunan. Aku begitu aneh dengan kejadian yang baru saja terjadi ini. “Ak! A’a teh meuni bengong wae atuh (Kak, Kakak kok bengong terus begitu). Ini pesanannya sudah selesai,” ucap pedagang nasi goreng itu kepadaku. Tentu saja aku tersentak dari lamunanku. Aku lalu membayar dan membawa pesanan kembali ke dalam mobil. Aku masih merasakan jantungku berdegub begitu kencang. Aku menghirup napas panjang dan menghambuskannya perlahan. Semacam yoga singkat untuk menormalkan kondisi tubuhku yang begitu bergejolak ini. Setelah itu aku pun melajukan mobil dan kembali melakukan perjalanan menuju ke tempat tinggal Yudas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN