Waktu pun berganti. Hari demi hari kulewati akhirnya weekend pun tiba. Seperti rencana sebelumnya, aku akan menemui Yudas segera ketika weekend.
Sore ini, aku baru saja kembali dari kampus. Aku sudah dibelikan mobil baru oleh papa. Sebenarnya bukan atas kemauanku, sebab aku menyukai aksi melompati gedung jadi tidak perlu berkendara dengan mobil.
Namun, aku tidak bisa menolak pemberian papa secara tiba-tiba. Tiada apalah. Aku dan papa memang belum menceritakan perihal kecelakaan mobil ini kepada mama. Kami berkomplot untuk menjadikan mobil baru ini adalah mobil pengganti atas mobil lama yang sebenarnya sudah hancur. Namun, dengan alasan yang dikatakan mobil lama sudah dijual dan hasil penjualannya dibelikan mobil yang baru sekarang.
Papa sempat mengatakan keheranannya mengapa mobil memiliki kondisi kerusakan yang parah sementara aku tidak mengalami luka yang parah.
Mungkin kalau anak papa bukanlah diriku, ia sudah mengira yang macam-macam. Seperti, mengira bahwa bukan aku yang menyetir mobil selama kecelakaan itu, dengan meminjamkan mobil itu kepada teman yang tidak bertanggung jawab misalnya.
Namun, anak papa adalah diriku. Pemuda yang selalu menurut apa pun kemauan papa. Jadi, papa percaya akan keanehan tersebut dengan menyandarkannya pada nasib baik. Seorang Bimo sedang bernasib baik sehingga pemuda ini bisa selamat dari kecelakaan mobil yang menghancurkan sebagian besar bagian pada mobil tersebut.
Aku yang baru saja tiba di halaman rumah, turun dari mobil, melihat mama membantu tukang kebun untuk merawat tanaman. Mama yang masih duduk di kursi roda tampak sedang memegangi selang air dan menyiramkannya ke tanaman-tanaman.
Aku lantas mendekati mama. Ia begitu terlihat berseri-seri. Wajahnya yang semakin kudekati semakin tampak bersinar seperti purnama yang terjadi begitu cepat, berjarak hitungan detik mengiring langkah kakiku mendatanginya.
Mama mungkin sudah bosan dalam sakitnya. Semangatnya untuk pulih begitu besar. Ia tidak mau hanya berdiam diri, ia suka hal-hal seperti ini, menghabiskan sore hari di halaman rumah penuh tanaman-tanaman segar.
Mama menanyai apa yang telah terjadi di kampus, bagaimana kabar temanku yang ia kenal, juga menanyai kabar Yudas. Seperti biasa, rententan pertanyaan yang tidak hanya satu. Dasar wanita yang cerewet. Ini yang membuatku nyaman darinya.
Sebenarnya aku memang ingin mengatakan bahwa aku akan mengunjungi Yudas di Bandung, tapi justru mama duluan yang mengingatkanku. Mama mengingatkanku bahwa besok adalah weekend, lebih baik dimanfaatkan untuk menemui Yudas. Sekaligus menggodaiku perihal mobil baru itu. Tidak ada salahnya mencoba mengendarainya untuk jarak yang lebih jauh. Baiklah, aku memang akan berangkat besok.
Karena aku baru saja pulang dari kampus setelah seharian berjibaku dengan hal-hal yang membuat aku sumpek, aku akan membersihkan diri segera.
Namun, sebelum aku menuju kamar mandi, aku sempat membuka pesan dari Yudas yang baru saja masuk. Aku menaruh tas begitu saja secara serampangan di kamar setelah ponsel di dalamnya kuambil. Ternyata itu adalah kiriman sebuah video.
Aku lalu duduk di sofa kemudian membuka video itu. Itu adalah rekaman amatir yang menangkap gerakanku saat melompat-lompat memanjat gedung.
“Ini Elu kan, Bim?”
Sepertinya Yudas yakin betul bahwa orang yang direkam itu adalah aku walau video direkam dari jarak jauh dengan wajahku yang tidak terlalu jelas. Dalam rekaman itu terdengar suara seseorang mengatakan bahwa ini adalah video atlit parkour sedang berlatih.
“Ini viral di anak-anak Parkour Bandung, Bim. Makanya, gua dapat video ini.”
“Tapi gua yakin anak-anak JKT pasti lebih heboh duluan.”
Aku sama sekali tidak ada di lingkungan anak-anak Parkour Jakarta, jadi aku tidak mengetahui bahwa video ini viral. Untungnya baru viral di antara kelompok mereka saja.
Namun, lambat laun video ini pasti akan tersebar juga. Bagaimana kalau nanti identitasku terungkap bukan sebagai pemuda normal, sebagaimana kenyataan yang terjadi.
Aku betul-betul butuh sebuah kostum. Aku akan berkonsultasi dengan Yudas ketika aku sampai di tempatnya nanti.
Tidak ada salahnya bersenang-senang atas kekuatan ini, bukan? Sebagaimana Spiderman bergantungan dari satu gedung ke gedung lain.
Aku lalu membalas chat Yudas dengan memberitahunya bahwa aku akan datang ke tempatnya besok. Aku katakan banyak hal yang akan kuceritakan padanya. Lalu Yudas kembali membalas bahwa demikian pun dengannya. Yudas ingin memberitahukanku sesuatu.
Aku semakin tidak sabar dengan apa yang akan kami lakukan di Bandung. Semula seluruh tubuhku kurasa berat dan jenuh, seakan kembali terisi energi. Kupikir seusai mandi nanti mungkin aku bisa lebih segar dan kuputuskan untuk berangkat ke Bandung malam ini juga.
Malam hari adalah waktu yang baik untuk melakukan perjalanan jauh. Waktu akan terasa dilipat pada malam hari, di mana seseorang terus melaju dalam kegelapan malam dengan relativitas laju waktu yang terasa begitu cepat.
Aku pun makan malam bersama mama. Aku mengatakan setelah ini aku akan berangkat ke Bandung. Mama mendukung-mendukung saja keputusanku. Ia juga senang karena anaknya ini akan mendatangi sebuah tempat di mana minat yang dulu sempat terkubur akan bangkit kembali.
Aku pun lalu berangkat. Aku melintas melewati jalan tol, jalan bebas hambatan. Sesekali aku singgah di rest area yang ada untuk sekedar buang air atau membali cemilan dan buah. Mengunyah selama berkendara menghindariku dari rasa kantuk.
Waktu semakin larut dan untuk jalur-jalur tertentu aku bisa melaju dengan kecepatan tinggi dengan ketentuan petunjuk jalan tentunya. Kali ini pikiranku begitu fresh, bersemangat. Aku mampu menerima keanehan di dalam diriku sebagai suatu kelebihan yang sudah beberapa kali kunikmati. Ya, aku bersenang-senang dengannya.
Beberapa waktu berlalu. Profesor Nakayama meneleponku. Aku pun menepikan mobil, sayangnya rest area sudah lewat dan mungkin akan ada rest area lagi masih jauh.
Profesor Nakayama memberitahukanku bahwa hasil pengecekan sampel yang diambil dariku sangat mencenangkan. Segala perlakuan percobaan dilakukannya, semua itu menunjukkan adanya tingkat pemulihan yang begitu kuat. Selain itu hasil percobaan demi porcobaan menunjukkan bahwa tubuhku memiliki kelebihan yang tidak terdapat pada manusia normal manapun.
Bentuk-bentuk energi bisa sangat fleksibel untuk diubah dan sangat berpotensi untuk disalurkan pada suatu peruntukan. Tingkat mutasi berbagai jenis selnya begitu cepat dan cepat dan berujung stabil.
Profesor menanyakan apakah aku pernah mengalami hal-hal di luar nalar seperti adanya kemampuan super di keseharianku. Aku masih ragu untuk menceritakan keseluruhan keadaanku kepada profesor. Aku bilang akan kembali membahasnya setiba kukembali dari luar kota.
Profesor Nakayama menawarkan sebuah skema proyek yang dalam hal ini adalah proyek penelitian atas nama pribadi khusus untuk diriku. Ia kembali mengingatkan aku akan kebersediaanku dalam hal pendanaan proyek tersebut. Proyek itu semacam proyek optimalisasi kekuatan dan perlindungan diri apabila aku berkeinginan untuk mengarahkan dan memanfaatkan kekuatan itu untuk sebuah peruntukan. Entah itu untuk pengobatan, medis, atau komersialisasi.
Aku belum menjawab apapun. Aku butuh pertimbangan lebih matang dalam hal ini. Perihal mau diapakan kekuatan yang aku miliki ini. Lalu, profesor mengatakan aku agar berhati-hati. Dikhawatirkan kekuatan yang aku miliki itu sewaktu-waktu bisa muncul dan bisa saja sulit untuk dikendalikan. Maka itu, profesor mengatakan bahwa aku harus mengambil keputusan yang tepat namun juga cepat terhadap akan diapakan sesuatu yang ada di tubuhku ini.
Aku perlu membicarakan hal ini dengan Yudas. Bagaimana pun juga satu-satunya orang yang begitu kupercayai dalam hal ini adalah Yudas. Tentang Profesor Nakayama, ia tentu mengenalnya lebih dahulu dibandingkan aku. Setidaknya Yudas lebih mengenalnya dan bisa membantuku memastikan apakah Profesor Nakayama bisa dilibatkan penuh dalam hal ini.