Aksi Super Hero Pertama

1411 Kata
Waktu berlalu, kegiatan kampus pun usai. Aku ingin menikmati perjalananku di kota ini dengan berjalan kaki saja dan sesekali menaiki kendaraan umum. Aku pun menaiki bus kota. Ketika aku baru saja naik dan kondisi bus sedang ramai, aku pun berdiri bergantungan. Ada seorang perempuan memperhatikanku. Ia sudah lebih dahulu naik. Kami sama-sama berdiri bergantungan tapi dia berada sedikit jauh dari tempatku. Aku melihat wajahnya, seperti tak asing bagiku, tapi aku masih tidak dapat mengingat kapan dan di mana melihat gadis itu. Aku memandanginya dari kejauhan dan ia tahu kalau aku sedang memandanginya. Sepertinya ia tersenyum padaku, entahlah. Namun, yang kulihat adalah sekelebat bayangan seperti sepotong pemutaran rekaman video singkat di depan mataku. Bayangan itu memperlihatkan aku bahwa perempuan ini dirampok di jalan sepi saat ia berjalan kaki. Ya, ternyata benar ia senyum kepadaku, tapi senyuman itu tak kubalas. Aku sudah terlanjur serius memperhatikan sekelibat bayangan itu. Perempuan itu lalu berhenti di sebuah perhantian. Ini bukanlah tujuan perhentianku, tapi aku ingin mengikutinya. Aku masih penasaran dengan sekelibat bayangan tadi. Apakah aku pernah bertemu dengannya ketika perempuan itu habis dirampok? Namun, mengapa aku sama sekali seperti tidak mengingat apapun tentang perampokan itu? Perempuan itu pun berjalan, ia kubiarkan jalan duluan. Aku mengikutinya secara diam-diam. Ia berjalan mulanya santai, lalu lama kelamaan melangkah lebih cepat lalu kemudian sedikit berlari. Sepertinya ia tahu bahwa sedang ada yang mengikutinya. Aku tidak ingin membuatnya tak nyaman. Maka, aku sedikit mejaga jarak lagi dengannya. Hingga kehadirannya sudah sedikit menjauh, lalu ia berbelok ke sebuah gang di antara ruko-ruko. Aku kehilangan jejaknya. Aku lalu mengejar perempuan itu dan bersiap bersembunyi lagi ketika sudah ada di depan gang. Namun, nyatanya aku benar-benar telah kehilangan dirinya. Tiba-tiba, di saat aku menyusuri depan gang itu dengan langkah ragu-ragu, maka terdengarlah suara isak perempuan. Sepertinya itu adalah suara perempuan tadi. “Jangan! Jangan! Tolong, jangan lakukan ini!” ucapnya terisak. Aku segera berlari mengikuti sumber suara itu. Gang ini terlalu sepi. Suasananya, ah ternyata ini seperti ada di sekelibat bayangan tadi. Aku melihat perempuan itu dikelilingi tiga orang preman, di mana salah satunya mencoba merampas tas perempuan itu, dan yang lain mencoba hendak menahannya. Aku dengan cepat menghampiri tiga orang preman berperawakan besar itu, otot mereka begitu kekar. Namun, berkat kelincahan pergerakanku, aku dapat membuat mereka kewalahan. Aku menghajar mereka lalu menghindar dari serangan balasan, begitu seterusnya sampai mereka babak belur. Akhirnya mereka bertiga pun tersungkur. Salah satunya mencoba bangkit perlahan, lalu pergi melarikan diri diikuti dua orang rekannya. Aku lalu mengembalikan tas itu kepada perempuan itu dan sempat menepuk-nepuknya terlebih dahulu karena terkena debu jalanan. Perempuan itu begitu senang. Senyumnya sangat indah. Ia menerima tasnya dengan sangat berseri-seri. “Terima kasih, Kak Bimo,” ucapnya. “Emh, kamu?” aku mencoba mengingat-ingat kembali perempuan ini. Mengapa ia bisa mengenal namaku? “Saya Putri, Kak?” ucapnya. Aku tersenyum mengawang. “Toko bunga?” lanjutnya dengan senyum merekah dan alis yang diangkat. “Bunga untuk mama Kakak?” kali ini dengan senyuman memudar namun masih dengan alis yang terangkat. “Oh! Iya! Tentu saja! Toko bunga itu!” kataku. Toko bunga adalah tempat terakhir yang kukunjungi sebelum aku mengalami kecelakaan. Pantas saja aku lupa, mungkin karena pengaruh beberapa benturan. Tapi aku tidak benar-benar lupa, aku masih mengenali perempuan manis ini. Hanya saja lupa mengenal di mana dan kapan. Mendengar kata-kata dan melihat ekspresiku, perempuan itu langsung bersemangat kembali. “Saya tidak menyangka Kakak pandai berkelahi. Dan yang tadi itu, aksi Kakak mula-mula datang benar-benar..” ucapnya sembari menggelengkan kepala. Aduh, apakah keanehanku disadarinya? Ah, tentu saja. Aku perlu bicara dengannya. “Karena Kakak sudah menolongku, bagaimana kalau Kakak aku traktir sekarang?” ucapnya. “Traktir? Putri, Putri, saya ikhlas kok menolong kamu!” ucapku. “Kaakak. Ijinkan saya meneraktir Kakak. Pliiis...” pintanya. “Apakah Kakak sedang terburu-buru sekarang?” ucapnya lagi-lagi dengan senyum yang memudar. Tentu aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Selain kurasa menyenangkan bersamanya, aku juga ingin membicarakan keanehanku tadi dengannya. Aku tidak ingin yang lain tahu kemudian kabar ini tersebar. Setelah ini aku sepertinya membutuhkan topeng atau kostum untuk menyamarkan identitasku ketika aku menggunakan kekuatanku seperti tadi. Huft, sudah seperti super hero benaran saja. Aku dan Putri pun berjalan keluar dari gang ini. Ia menanyakan kepadaku mau jajan apa. Baiklah, karena keputusannya diserahkah padaku, aku mau menebak kesukaan perempuan manis ini. Hem, pasti ia menyukai es krim. Lalu, kemudian aku sebutkan saja kalau aku mau ditraktir es krim. Mendengar jawabanku, Putri sangat bersemangat. Sepertinya tebakanku benar, ia menyukai es krim. Kesan yang manis pertama kali jalan bareng perempuan semanis dia. Aku dan Putri pun sampai di toko es krim. Kami memesan bersama-sama. Putri memesan Sundae, sementara aku memesan es krim mocca. Kami pun menerima pesanan kami lalu duduk di meja dekat jendela. Kami berdua bisa sama-sama melihat keluar yaitu ke jalan yang ramai orang beraktivitas. Putri menanyakan kabar mama. Tentu saja, karena pertama kali kami bertemu, mamalah yang menjadi topik kami. Sebab, waktu itu Putri memilihkanku bunga untuk mama. Putri lalu menanyakan perihal apa yang terjadi dengan mama. Terakhir aku hanya memberi tahu bahwa mama sedang di rumah sakit. Aku lalu menceritakan perihal penyakit yang sudah lama mama idap, yang terkadang penyakit itu kambuh. Sementara selama setiap beberapa waktu mama harus rutin melakukan treatment, walau pun hasilnya tidak sepenuhnya pulih dan tidak bisa ditebak bisa kambuh kembali. Merasa sepenanggungan dengan ceritaku, Putri berganti menceritakan tentang orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal, sewaktu Putri masih kecil. Putri tinggal bersama kakek dan neneknya. Toko bunga itu adalah toko milik neneknya, karena sudah tua jadi Putri yang menggantikannya. Namun, sesekali nenek Putri akan berkunjung hanya untuk sekedar refreshing dan bersenang-senang dengan bunga-bunga. Aku rasa kedekatan di antara kami semakin terbangun. Aku merasa sangat bersimpati dengannya. Sepertinya Putri juga terlihat begitu bersimpati setelah mendengar ceritaku tentang mama tadi. Aku menjeda. Diam beberapa saat untuk memulai obrolan yang kemungkinan lebih dalam lagi. Namun, aku segera ingin mengakhiri ini. Aku lantas membahas kekuatanku yang baru saja ia saksikan tadi. Sepertinya Putri tahu kalau aku mengalihkan pembicaraan kami agar tidak terlalu dalam. Sebelum aku menjelaskan kepadanya perihal kekuatan itu ia sudah lebih dahulu menahan obrolan itu. “Saya rasa saya tidak terlalu memperhatikan Kakak tadi. Tidak ada yang aneh dengan Kakak tadi. Haha, saya memang suka begini, Kak. Perempuan yang lola (loading lama). Semua orang tahu itu,” ucapnya. “Hah?” “Ya, mungkin tadi saya lagi bengong kali ya. Tapi beneran ga ada yang aneh, cuma saya terkejut dengan kehadiran Kakak yang tiba-tiba. Oh, mungkin benar saya bengong tadi, mungkin terlalu syok karen atakut dengan preman-preman yang nyeremin tadi,” ucapnya. Benarkah seperti itu? Aku tidak yakin dengan kata-kata Putri barusan. Atau bisa saja Putri sedang berpura-pura? Mungkin ia ingin menutupi hal aneh yang baru saja ia saksikan? “Kamu yakin, Putri?” tegasku. “Kenapa Kak? Apakah Kakak terluka tadi? Katakan pada saya, ada hal apa?” ucapnya. “Emh, sudahlah, lupakan saja kalau begitu,” ucapku. “I-iya, lupakan saja. Ta-tapi...” ucapnya. “Tapi apa, Putri?” “Saya ga mungkin bisa melupakan kebaikan Kakak yang sudah dengan susah payang menolong saya,” ucapnya. “Emh, Kak. Kapan-kapan Kakak mau kan kalau kita jajan bareng seperti ini lagi?” ucapnya. Sungguh ajakan yang tidak mungkin kutolak. Hahah. “Gimana ya?” ucapku berpura-pura jual mahal. “Tapi ada syaratnya. Sepertinya aku tidak yakin kamu mau,” ucapku menggodanya. “Hah? Syarat?” senyumnya lagi-lagi memudar. Kutebak dia berpikir kalau aku akan berbuat macam-macam dengannya. “Kenapa?” “Emh..” “Syaratnya, gantian Kakak yang traktir Putri,” ucapku kemudian disusul dengan kekehan. “Ya ampun, kirain apaan,” ucapnya dengan ekspresi sedikit kesal. “Kamu kenapa sih Putri? Hahaha...” “Yah, maklum Kak. Saya tuh jarang-jarang punya teman laki-laki, apalagi jajan bareng begini,” ucapnya malu. Ternyata seperti ini ekspresi salting (salah tingkah) Putri. Menggemaskan sekali. “Iya, iya. Kakak paham,” ucapku. Lalu kami pun bertukar kontak di ponsel. Kalau boleh jujur, aku pun belum pernah dekat dengan perempuan. Aku memang menyukai beberapa perempuan yang penampilannya menarik, tapi bukankah itu manusiawi? Lalu setelah beberapa menit kemudian, aku tidak lagi memikirkannya ketika seorang perempuan yang menarik itu pergi. Sementara Putri, aku rasa ini akan menjadi awal di mana kami akan beberapa kali berhubungan dengan berkomunikasi juga bertemu seperti ini. Entahlah, seperti ada yang mendekatkan kami. Oh iya, mungkin saja karena kekhawatiranku akan kekuatanku ini. Aku tidak mau rahasia ini tersebar dan aku masih yakin betul bahwa Putri sadar akan keanehan padaku. aku yakin ia hanya menutup-nutupinya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN