Melompat-lompat di Atas Gedung

1086 Kata
Aku melompat dan memijak dengan mantap setiap sisi bangunan yang membawaku tahap bertahap menuju tempat yang tinggi. Pot-pot besar di tepi trotoar, pembatas pagar, teras kecil lantai dua ruko, dan terus, terus, terus menuju ke tempat yang semakin tinggi. Saat aku melewati belakang kamar seseorang di gedung berbentuk rusun, aku mendengar sebuah lagu yang diputar begitu kencang. Sampai aku masih mendengarnya ketika belasan meter meninggalkannya. In this farewell There’s no blood, there’s no alibi ‘Cause I’ve drawn regret From the truth of a thousand lies So let mercy come and wash away * Aku akhirnya sampai di puncak gedung. Gedung yang kupikir tak terlalu tinggi, tapi membuat kubisa memandang landscape di bawahnya yang akan aku lalui selanjutnya menuju arah ke kampus. Aku berhenti sejenak mengatur napasku dan tak akan kulewati mengalaman pertama yang mengasyikan ini. Aku hirup udara yang juga tercampur bising kota. Pagi yang sibuk. Aku lalu merogoh tasku dan mengeluarkan ponsel dan headset nirkabelku. Aku pasangkan di telinga yang menjepit separuh lingkar kepala, dengan bentuk headset minimalis yang ringan. Aku mencari lagu yang baru saja kudengar saat aku lewat tadi. Lagunya begitu sesuai dengan moodku saat ini. Di tengah kebimbangan tapi juga kunikmati. Oh ya, itu adalah ost dari film Transformer. Bukankah begitu pas? Mungkin saja suatu saat aku punya pengalaman yang tidak berbeda jauh dengan film itu. Yang adalah film kesukaanku. Lagu pun played. Aku menaruh kembali ponsel, kututup kembali tasku dan kulanjutkan memandangi landscape kali ini dengan iringan lagu. Kemudian, aku pun melanjutkan perjalanan. Belum lama aku memulai perjalanan ini tapi sudah sejauh ini kulewati dan pasti tidak akan memakan waktu lama untuk sampai ke kampus. Aku pun kembali mengayunkan tubuhku. ... Teriring lagu.. What I’ve done I’ll face myself To cross out what I’ve become Erese myself And let go of what I’ve done Aku pun hampir tiba di kampus. Aku akan menghentikan aksiku ini. Aku tidak ingin ada seorang pun yang mengenaliku mendapatiku melakukan hal aneh ini. Aku berjalan cepat memasuki halaman kampus. Sebentar, aku berkeringat. Aku pun mengendus ketiakku. Yuwh. Aku tidak akan masuk kemudian presentasi di kelas dengan keadaan seperti ini. Aku lalu berpapasan dengan seseorang berjaket sweater. Penampilan pemuda itu seperti culun, tentu aku bisa memaksanya untuk menyerahkan jaket itu. “Hei Bro, gua mau jaketlu!” ucapku tiba-tiba sambil menghadang langkah kakinya. Ia lalu terkejut dan memandangiku. Melihat tampangnya aku jadi tidak tega kepadanya. “Gua beli jaketlu!” ucapku sambil menyodorkan dua lembar uang berwarna merah. Ia dengan perlahan melepaskan jaketnya dengan wajah yang seperti sedang bengong. Aku membantunya melepaskan agar tidak terlalu lama lalu ia ambil uang itu dengan ragu-ragu. Lantas kugenggam saja tangannya itu agar uang tersebut sampai di genggamannya. Aku pun langsung menuju toilet dan melepaskan kaos yang telak terkena keringatku lalu memakan jaket itu. Jaket ini beraroma wangi seperti baru keluar dari binatu. Syukurlah. Bisa menutupi aroma tubuhku yang tadi berkeringat ini. Aku pun menuju ke kelas. Untungnya aku bisa datang dengan cepat. Akhirnya, aku pun bisa mengikuti presentasi bersama kelompokku. ** Kelas usai, aku pun langsung menuju kantin. Aktivitas panjat-panjat bangunan tadi sudah menguras energiku, sialnya tadi pagi aku juga belum sempat sarapan. Aku pun sarapan di kantin. Sebuah burger besar ekstra isi double daging. Aku juga memesan minuman berupa air mineral dan secangkir kopi s**u. Setelah menghabiskan burger besar ekstra isi itu, aku meminum air mineral cukup banyak dengan tegukan yang tanpa terputus. Setelah itu, secangkir kopi s**u pun datang diantar oleh petugas kantin. Aku yang baru saja meraih ponselku dan berencana chat Yudas pun tanpa menoleh langsung menyeruput ringan kopi s**u itu. “Sialan, kopi apa ini? Rasa kopi ini seperti rasa rendaman karat yang dicampur krimer!” celotehku. “Kopi s**u ini sama dengan beberapa pesanan yang lain, Bang,” kata orang tersebut dengan angkuh. “Tidak ada di antara mereka yang mengeluh, kecuali Abang,” lanjutnya. “Gua ga nyolot ya, tapi ini memang aneh rasanya,” ucapku dengan nada biasa. “Apa masih ada yang lain, Bang?” ucapnya. “Sebagai pelayan, Didin, elu harusnya udah menguasai semua keterampilan melayani, termasuk rasa humor!” ucapku menyeringai. “Huft. Ya ampun abang!” ucapnya juga menyeringai. “Gua emang rewel soal selera minuman gua, sorry ya. Karena secangkir kopi campuran maupun kopi murni yang dibuat dengan baik adalah awal yang bagus memulai hari. Aromanya memukau, rasanya nyaman, tapi masih menyisakan kepahitan. Sangat mirip dengan kenikmatan cinta,” lanjutku. “Astaga, Bang Bimo! Sejak kapan Abang jadi puitis begini? Lu lagi jatuh cinta, Bang?” ucapnya sambil menepuk lenganku. “Hahaha.. Mirip, ya perasaan semacam itu, tapi bukan jatuuh cinta,” jawabku. “Kirain! Lagian lu betah amat sih, Bang jomblo! Belum pernah gua lihat lu jalan atau dekat sama cewek di mari,” ucapnya. Aku hanya tertawa kecil tergelitik. Dia adalah petugas kantin, Didin namanya. Pemuda cerdas yang dekat denganku karena aku menjadi pelanggan di sini. Ia jauh lebih muda sekitar tiga tahun dariku. Ia hanya lulusan SMP, tidak mampu meneruskan untuk duduk di bangku SMA. Tapi, ia begitu suka membaca buku. Bacaan apapun itu yang berkaitan dengan bisnis. Beberapa kali aku meminjamkannya buku, hasil pinjamanku dari perpustakaan. Sebab, aku tidak terlalu minat dengan bacaan-bacaan ekonomi, jadi kufasilitasi saja dia. Siapa tahu suatu saat dia bisa jadi orang sukses selevel dengan lulusan sarjana ekonomi. Aku tidak ingin mengganggunya bekerja, maka ia kupersilahkan untuk melanjutkan pekerjaannya. Tadi aku berencana mengirim chat kepada Yudas. Aku pun meraih kembali ponselku dan mengetikkan beberapa kata untuknya. Aku tidak sabar untuk menceritakan hal luar biasa yang baru saja kulakukan. Baru saja aku hendak menekan tombol kirim, beberapa teman se-genk-ku pun datang. Mereka mengejutkanku karena datang dari arah belakang. Aku terkejut dan khawatir chatku ini akan terbaca. Lantas langsung saja aku tekan tombol kirim dengan cepat dan mematikan layar ponselku. Mereka justru curiga kepadaku. Aku sangat tampak sedang menyembunyikan apa yang ada di dalam ponselku tadi. “Ha! Lu barusan chat sama cewek ya?” tebak Mike. “Sembarangan!” jawabku. Sam kemudian justru merebut ponselku dibantu oleh Jo. Untungnya ponsel itu dapat kurebut kembali. “Idih, idih, idih, kayak anak sekolahan lu! Ketahuan langsung salting! Hahaha...” ucap Jo. “Seriusan, ini urusan lain, bukan cewek!” ucapku. “Iya deh iya. Percaya, percaya. Huahaha...” “Huahaha..” “Huahaha...” Aku malah jadi bahan tertawaan teman-teman. Sudahlah, tak ada yang bisa aku lakukan. aku hanya menggeleng melihat mereka. Aku tidak ingin menceritakan hal tentang diriku kepada mereka. Cukup hanya Yudas, juga Profesor Nakayama yang kulibatkan di sini. Tidak ada yang tahu kepada siapa kepercayaan bisa kita tautkan, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN