Mimpi Aneh Semalam

1225 Kata
Aku tidak bisa melihat di dalam kegelapan, tapi aku memang sepertinya tak perlu melakukannya. Aku lalu mendengar desisan angin yang menyentuh kulitku. Semua begitu terasa nyaman. Mereka bersiul di sela-sela celah antar kabel yang begitu banyak ini. Aroma ini mengingatkanku akan kaus kaki yang mungkin lama tak dicuci. Angin menghantarnya ke lubang hidungku dan aku sempat berpikir untuk membuat diriku melayang ngan menghirup aroma ini. Sambil lalu membuatku lupa akan waktu dan terus saja berkutat dengan obeng kembang dan baut yang menari dengan poros. Lalu kemudian aku berhenti saat sebuah mesin terdengar menutupi desisan sela-sela penutup serat yang terpuntir. Aku melihat ke sekeliling tapi tak melihat cahaya apapun kecuali bayangan sinar bulan perak di atas waduk dan bohlam remang-remang di atas pintu bangunan pompa yang berada di tengah-tengah waduk itu. Aku memandangnya dari balik kaca jendela. Namun, suara itu benar-benar ada. Terdengar mesin mendekat. Bagiku suaranya terdengar seperti sebuah truk. Kini aku tebak itu adalah suara roda di atas jalan tanah berkerikil yang melingkari waduk tersebut. Suaranya semakin mendekat. Saat ini waktu sudah mendekati pukul empat pagi dan ada orang yang datang ke waduk ini. Aku sontak lalu bangkit, keluar lalu melemparkan kaleng bekas yang kebetulan kutemukan tergeletak di depanku. Aku mendengarnya berdenting menghantam semak-semak karena tenagaku kurang kuat untuk melempar ke air. Aku berjongkok dan menundukkan kepalaku kemudian memutuskan untuk menghirup aromanya agar memberikan keberanian padaku. Kuhirup napas dalam-dalam. Tubuhku mengayun dan secara otomatis kedua kelopak mataku berkedip-kedip. Aku melihat kedua tanganku, mereka begitu kecil. Sepertinya ini adalah tubuhku di masa lalu, enam atau tujuh tahun yang lalu. Aku menegakkan motorku dan memutarnya ke jalanan, melaju menuju rerumputan yang tinggi, semak-semak tajam dan pepohonan karet di dasar bukit. Bagus juga untuk menutupi diri kupikir dan akhirnya akupun dapat melihat kendaraan yang datang mendekat. Suara mesin itu kini semakin nyaring. Aku merasa yakin kalau jarak kendaraan itu hanya beberapa meter saja dari tempatku tapi aku tidak melihat sorot lampunya. Hal ini membuatku kebingungan. Namun, sudah terlambat untuk melarikan diri. Aku meletakkan sepeda motornya di tengah-tengah rerumputan yang tinggi dan menghentikan putaran roda depan dengan tanganku. Kemudian aku berjongkok dan menunggu apa pun dan siapa pun yang datang. Aku bisa mendengar suara helikopter di atas sana. Itu berasal dari suatu tempat di tengah kegelapan di atasku, berputar-putar dan menyorotkan lampunya. Aku heran mengapa helikopter itu tidak mendarat. Aku bergerak menyusuro lorong gelap yang penuh asap dan baterai senter yang kugunakan sinarnya mulai melemah. Sorotan lampu senter ini menjadi redup seiring setiap langkahku. Aku memerlukan pertolongan. Aku harus bergerak cepat. Aku harus mencapai ujung lorong sebelum lampu senter ini mati lalu kembali ditelan kegelapan. Aku mendengar helikopter itu kembali lewat di atasku. Helikopter itu tidak juga mendarat-mendarat. Saat dengung baling-baling mulai terdengar menjauh aku pun merasakan kengerian yang tercipta dan aku mempercepat langkahku. Aku lalu merangkak dengan kedua lututku yang lecet dan mulai berdarah dengan salah satu tangan memegang lampu sentar yang sudah sangat redup. Sedangkan, tangan yang sebelah lagi mengais-ngais tanah untuk menjaga keseimbangan tubuhku. Aku tak boleh menengok ke belakang, karena tahu musuh berada di dalam hitamnya kabut di belakangku. Ia tidak terlihat, tapi ada di sana. Dia pasti semakin mendekat. Tiba-tiba telepon berdering di sebuah bangunan yang tadi aku tinggalkan. Aku menghitung jumlah deringannya. Kemudian aku pun sangsi apakah aku telah melewatkan satu atau dua deringan, apakah aku telah menyalakan mesin penjawab telepon. Ternyata telepon tidak juga diangkat dan deringan pun akhirnya berhenti. Aku menggosok-gosok mata dan melihat ke sekeliling. Aku kini berada di kamarku. Aku lihat kedua tanganku, ternyata aku sudah kembali seperti semula di mana aku seharusnya berada dan waktu yang mungkin aku telah kembali dari masa lalu. Aku tersaruk ke kursi di ruangan duduk, tepatnya di sebuah sofa santai yang berada di tengah-tengah perabotan rumah yang tidak terlalu banyak jumlahnya. Aku lihat Yudas tidak ada di mana pun. Aku memanggil-manggilnya tapi tidak ada jawaban. Mungkin ia sudah kembali. Ya, mungkin Yudas sudah kembali. Bukannya ia tidak berpamitan kepadaku, sebab semalam adalah waktu yang begitu panjang buat kami bercengkrama. Sudah ada salam perpisahan semalam. Sinar matahari pagi menembus sela-sela gorden dan mendarat di atas lantai. Aku mengamati partikel debu melayang di bawah cahaya di dekat pintu kaca geser. Lampu di atas meja di sampingnya masih menyala begitu pula dengan TV yang menempel dengan dinding. Kini siaran TV sedang menyiarkan acara keagamaan ceramah pagi dengan suara rendah. Di atas meja di samping kursi tampak teman para pengidap insomnia yaitu setumpuk kartu, majalah dan buku-buku fiksi ilmiah dan komik-komik sejenis. Aku heran, sejak kapan benda-benda ini ada di kamarku. Bukankah barang-barang seperti ini sudah distrerilisasi oleh papa sejak dulu? Apakah ini ditinggalkan oleh Yudas? Selarut apa kami bercengkrama semalam sampai aku tidak menyadari apa yang aku dan Yudas lakukan dengan barang-barang ini. Untung saja monster tua itu sudah pergi dari rumah ini tadi malam. Aku lalu bangkit dari kursi, meregangkan tubuh dan memutar leher. Aku hendak menuju kamar mandi, disertai dengan ingatan mimpi aneh tadi yang masih saja menyangkut di pikiranku. Tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja. Getarannya yang bergesekan dengan meja kayu itu membuatnya mengeluarkan suara. Aku pun lantas mengangkatnya. “Bim, di mana Lu? Kita presentasi pagi ini, Bim!” Suara itu begitu familiar denganku. “Hah?” Suaraku masih sangat berat. Tak ada seteguk air pun yang sudah kuminum. Aku pun belum mengeluarkan dahak yang bersarang di mulut-pagiku. “Hah hoh hah hoh! Lu baru bangun ya? Gua minta sama moderator dipindah ke urutan terakhir nih ya, tapi Elu wajib dateng secepatnya! Lu mau nilailu jelek lagi dan harus ngambil semester pendek?” ancamnya. “Oke, oke! Gua langsung OTW!” ucapku sigap. Aku lantas tidak sempat mandi, hanya menyikat gigi dan mencuci wajah. Mengganti pakaianku dan bersiap untuk ke kampus. Aku pun melewati lorong dan bertemu pelayan setia mama. Sempat aku tanyai kabar beliau, rupanya pelayan tersebut menjawab baru saja mama disuapinya makan. Memang benar, pelayan tersebut pun tampak membawa nampan berisi mangkuk kosong yang baru saja dibawanya dari kamar mama. “Apakah mama terlihat sehat?” tanyaku. “Nyonya jauh lebih baik. Aden tidak perlu khawatir,” jawabnya. Aku pun lantas mengucapkan terima kasih dan langsung pergi begitu saja. Tanpa menemui mama dulu. Ku lalu menjangkau motorku. Setelah kunyalakan, rupanya petak indikator penanda bahan bakar berkedip. Sial! Motor ini perlu mengisi bahan bakar dulu, sementara mobilku tidak ada karena ringsek pasca kecelakaan itu. Aku lalu menjangkau ponselku. Aku hendak memesan kendaraan online, tapi kupikir akan butuh waktu lama menunggunya. Aku lalu berpikir kalau malam itu aku bisa berlari dengan kecepatan di luar rata-rata orang normal sewaktu menangkap maling, kenapa tidak dicoba sekarang? Aku pun berjalan di halaman rumah, menarik napas panjang sambil mundur beberapa langkah. Aku bersiap untuk lari. Aku berhasil berlari, rasanya ini adalah kecepatan yang lebih dari cara berlari orang normal. Tapi, aku melihat pintu pagar tinggi di depan sana yang belum terbuka. Astaga aku lupa, mana sudah terlanjur lari kencang seperti ini. Aku secara refleks pun melompati pagar besi yag tinggi itu dengan salah satu tangan bergelayut pada salah satu besinya, lalu melompat melampaui ujung pagar yang runcing itu. Seperti gerakan parkour. Padahal aku belum pernah berlatih parkour sama sekali. Hanya pernah sesekali menontonnya di lapangan kreatif di areal kampus. “Yiiihaaa...” Aku bisa mencobanya lagi. Sembari ku berlari kencang, aku berencana menembus arah lurus yang menuju langsung ke kampus. Ya, aku akan coba ‘potong kompas’. Bukankah aku bisa melompati gedung? Baiklah, akan kucoba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN