Sudah Seperti Saudara

1124 Kata
Usai melakukan penelusuran kondisi tubuhku di laboratorium Prof. Nakayama, aku dan Yudas pun segera menuju rumah. Papa menelepon soalah nuansa begitu genting di rumah. Entahlah, dari suaranya ia begitu ingin aku dan yudas sampai di rumah secepatnya, walaupun aku tak tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Waktu berlalu. Tidak ada hambata yang berarti dengan perjalanan aku dan Yudas. Kondisi lalu lintas ibukota sedang lengang kali ini. Kemudian, aku dan Yudas pun sampai di rumah. Aku dan Yudas memasuki halaman rumah, lalu sampai di depan pintu rumah. Kami pun turun dari mobil Yudas, lalu masuk ke dalam rumah. Papa pun menyambut kami. “Bagaimana kondisi mama?” tanyaku segera kepada papa. “Mama baik-baik saja. Baru saja selesai papa suapi makan. Sekarang mama ada di kamar,” jawab papa. Aku lalu segera akan melangkahkan kaki diikuti Yudas menuju kamar mama, namun papa menahan kami. “Kamu sudah sehat, Bimo?” tanya papa. “I-iya, Pa. Tapi bukan saat yang tepat membahas kondisiku sekarang,” jawabku, lalu kuteruskan langkahku. Kemudian, lagi-lagi papa menahan langkahku. “Benar, bukan waktu yang tepat membahas kondisimu sekarang, atau kondisi mama. Ada yang perlu kita bicarakan sekarang,” ucap papa. “Bukan tentang mama?” tanyaku heran. Papa kemudian membawa kami agar duduk di ruang keluarga, duduk di sofa dan membicarakan sesuatu. Ternyata hal yang dibicarakannya adalah pekerjaannya. Ada urusan mendesak yang harus papa selesaikan segera. Ia harus terbang ke Singapura sekarang juga. Karena kondisi mama sudah membaik, papa memintaku untuk menjaga mama. Sementara, ia harus pergi saat ini juga. “Ah, untuk penerbangan terakhir malam ini berlangsung 2 jam lagi. Jadi papa masih sempat mengejarnya.” Itu adalah kata-kata penutup untuk ceritanya. Aku langsung menghembuskan napas dengan kasar dan mengusap wajahku. Sementara, Yudas langsung melempar pandangannya ke arah lain. Aku tidak habis pikir dengan papa. Ingin rasanya mulutku ini memuntahkan serapah yang banyak, tapi lagi-lagi nyawaku tak cukup besar untuk itu. “Jadi, oke ya?” ucap papa sembari menepuk-nepuk punggungku. Tidak ada ekspresi atau kata-kata yang tepat kurasa saat ini untuk menjawab pertanyaannya itu. Lantas papa mempersilahkan aku dan Yudas makan malam. Tadi pelayan telah menyiapkan makan malam untukku dan Yudas atas permintaan papa. Papa pun meninggalkan kami. Aku pun langsung menemui mama, diikuti oleh Yudas. Aku ingin memastikan betul-betul kondisi mama. Setelah kami temui, ternyata kondisi mama memang baik-baik saja. Mama dan Yudas bercengkrama, ia begitu senang Yudas berkunjung ke kota ini dan menemui aku dan mama. Mama berpesan kepada Yudas agar mengajakku dalam kegiatan-kegiatan Yudas. Mama mengatakan kepada Yudas bahwa aku adalah seorang anak yang sangat punya banyak potensi di bidang fisika. Akan sangat membantu kalau aku dilibatkan pada kegiatan-kegiatan Yudas di bidang robotika di Bandung. Yudas lalu memberikan respon yang sangat menyenangkan bagi mama. Ia begitu menyambut baik kalau aku bisa membantu proyeknya di Bandung. Tak lama, papa pun datang. Ia detang hanya sekedar untuk berpamitan karena akan berangkat. Kata-katanya singkat, ia mencium kening mama dan pamit kepadaku dan Yudas, lalu pergi. Setelah percakapan usai, mama pun menanyakan apakah aku dan Yudas sudah makan malam. Dengan spontan aku menjawab belum. Sebenarnya aku ingin membahas permintaan papa yang tiba-tiba meminta aku dan Yudas pulang sesegera mungkin malam ini, tapi kemudian keinginanku membahas hal itu pun aku urungkan. Kurasa bukan waktu yang tepat saat ini untuk menumpahkan kekesalanku terhadap papa kepada mama. Aku tidak ingin suasana yang menyenangkan ini sirna begitu saja. Maka, mama kemudian menyuruh aku dan Yudas untuk makan malam. Aku dan Yudas kemudian pergi meninggalkan mama di kamarnya. Kami membiarkannya beristirahat dan kami menuju ruang makan. Sampai di ruang makan, kami pun menyantas makanan yang sudah disiapkan. Di sela-sela makan malam kami, aku dan Yudas mengobrol. “Udah lama banget gua ga ketemu nyokaplu ya. Terakhir gua ketemu jaman, SMA. Iya, ga sih? Waktu beliau nemenin elu nyiapin persiapanlu waktu jadwal final olimpiade fisika baru keluar. Beliau excited banget waktu itu ngurusin keperluan elu. Support banget! Dan masih belum berubah ya sampai sekarang?” ucap Yudas. “Iya, bersyukur banget gua punya nyokap beliau. Makanya gua mau ngejaga beliau bener-bener, Bro. Sementara bokap gua.. Huh. Lu liat sendiri kan tadi kelakuan doi?” ucpaku. “Elu yang sabar-sabar ya, Bim!” ucap Yudas. “Iya sabar! Sabar mulu gua! Dari gua lahir sampai sekarang gua ga pernah ngelawan dia. Gua di depan doi tu beneran cupu, tahu ga lu?” keluhku. “Ya, mau gimana lagi. Doi kan bokaplu. Lu udah nyoba buat jadi anak yang berbaktu, Bim,” ucapnya. “Kalau gua jadi elu, gua belum tentu bisa, kali,” lanjutnya. “Gedeg banget gua, sumpah!” keluhku. “Iya, sama. Gua juga. Haha...” ucapnya. Kata-kata itu begitu menghiburku, bahwa tak hanya aku sendiri yang merasakannya. Pada dasarnya papa memang menyebalkan oleh semua orang. “Ngomong-ngomong, lu tadi ga nanya bokaplu ada urusan mendadak apa di Singapura?” tanya Yudas. “Males gua. Memang papa ga pernah cerita apapun tentang masalah-masalah di pekerjaannya kok. Paling-paling kalau cerita tuh ya tentang kalau ada pencapaian yang berhasil aja. Ya kabar-kabar yang menyenangkan doanglah,” jawabku. “Oh, gua kira karena doi ga enak mau cerita di depan gua,” ucap Yudas. “Kaga, memang begitu orangnya walau ga ada elu juga,” jawabku. Aku dan Yudas pun menghabiskan makan malam kami. Lalu, ia mengatakan tidak bisa berlama-lama di kota ini. Ia mengatakan bahwa bengkelnya tidak bisa ditinggalkannya berlama-lama. “Yang penting gua udah ngenalin elu ke Prof. Nakayama ya. Jadi kalau ada apa-apa nantinya bisa langsung ngehubungin doi aja,” ucap Yudas. “Iya, gua paham, Bro,” jawabku. “Tapi gua masih sangat berharap kita bisa sama-sama terus, Bro. Gua seneng banget kalau kita bisa satu proyek bareng di Bandung,” lanjutnya. “Itu impian gua banget, Bro,” ucapku. “Setelah ini gua bakal bela-belain bakal ke tempatlu. Seenggaknya tiap weekend-lah. Gimana, Bro?” ucapku. “Serius lu, Bim?” tanya Yudas dengan raut wajah yang begitu senang. “Serius gua! Tahu ga, orang yang beneran deket sama gua setelah nyokap itu elu!” ucapku. “Sama, gua Bro! Elu bagi gua udah kaya saudara sendiri, tahu ga? Apalagi semenjak elu ngasih tahu kondisi elu sama gua dan kita sama-sama cari tahu bareng ke Profesor Nakayama. Kayak gua tuh ngerasain juga gimana ada di posisilu,” ucap Yudas. Percakapan ini sungguh menyenangkan bagiku. Biasanya aku berada di rumah ini penuh dengan kesendirian, kesepian. Tidak semua masalah bisa kubahas dengan mama. Aku memang membutuhkan sosok seorang saudara di rumah ini. Sekarang, aku merasakannya ketika bersama Yudas. Yudas benar-benar sosok saudara bagiku. Yudas pun bermalam di rumahku. Esok ia harus kembali ke Bandung. Aku tebak, kehidupanku yang membosankan akan kembali. Khususnya kehidupan kampus. Namun, semenjak pertemuanku dengan Yudas ini ada sedikit semangat bagiku. Aku akan mengunjunginya sebagaimana yang aku janjikan tadi kepada Yudas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN