Profesor Nakayama menyayat sedikit bagian kulitku hingga mengeluarkan darah. Hanya bagian ujung tepi telunjukku. Sampel lalu bidekan antara sedikit potongan jaringan dan darah.
Ia lalu memasukkan cairan kimia dan menaruhnya ke mesin pemutar selama beberapa saat kemudian diberi radiasi sinar dan gelombang tertentu. Setelah dua sampel tersebut usai diberi perlakuan, nampak mereka terletak di dalam tabung kecil-kecil.
Profesor lalu menuang beberapa tetes hasil sampel yang sudah jadi dalam bentuk liquid itu ke atas alas kaca mikroskop elektron.
Aku dan Yudas dapat turut melihat apa yang ada di layar komputer. Terdapat gambar video reaksi dari sampelku dan pada layar lainnya yang kecil-kecil adalah rekaman video reaksi-reaksi ideal sampel yang telah diberi perlakuan.
Berulang kali aku dan Yudas memusatkan pandangan ke layar monitor lalu saling adu pandang dengan mata yang membulat, kemudian kembali kepada tampilan monitor dan lagi saling adu pandang.
“Tidak ada satu pun reaksi ideal di sana yang cocok dengan penampakan sampelmu, Bimo,” ucap profesor.
“Apa arti semua ini, Prof?” tanyaku.
“Sebentar, saya akan menunjukkan beberapa rekaman video reaksi sel orang-orang yang terpapar radiasi gelombang berbahaya,” ucapnya.
Prof lalu menampilkan rekaman video yang dimilikinya, yaitu reaksi sel secara mikroskopis bahkan ke ukuran tingkat nano.
Yudas menggeleng-geleng.
“Sekilas hampir mirip, tapi lihat di bagian ini,” ucap Yudas sambil menempelkan ujung telunjuknya ke layar monitor.
“Yap, tepat sekali,” sanggah Profesor Nakayama.
“Ini adalah rekaman reaksi sel orang yang terkena paparan gelombang sinar Gamma dengan intensitas lebih dari 2,5 Ehz. Saya yakin kalian tidak ingin melihat penampakan tubuhnya,” ucap profesor.
“Lihatlah! Lihat! Semua reaksi destruksi sel itu kembali memulihkan diri!” ucap Yudas dengan hampir berteriak.
“I-ini sampel milikku tadi, bukan?” ucapku ternga-nga.
“Bimo? Apa yang sebelumnya terjadi padamu? Maksud saya, ceritakan pengalamanmu secara lebih rinci! Selama saya meneliti saya belum pernah menemukan kasus seperti ini. Kau bisa membuat seluruh jasad di dunia ini kembali hidup walau sudah menjadi fosil sekalipun!” ucap Profesor Nakayama.
Aku lalu menceritakan semua yang aku alami selama mengikuti acara di Surabaya itu dengan serinci-rincinya.
Lalu...
“Ah, kalau begitu.. Tunggu sebentar!” ucap Profesor Nakayama.
Ia tampak meraih ponselnya lalu menelepon seseorang. Ia berbicara dalam bahasa Jepang. Kemudian, ia menekan tombol loudspeaker dan menaruh ponselnya di meja lalu memeriksa email di komputernya.
Setelah beberapa waktu, ia pun mendapatkan sampel sel orang yang tewas ketika melakukan aktivitas antariksa proyek negara yang dirahasiakan negara mana itu. Profesor hanya menyebutkan proyek ini berlangsung semasih negara Uni Soviet masih berdiri.
“Kamu tahu, Nak Bimo? Gelombang yang menyerang para astronout ini intensitasnya jauh lebih besar daripada besaran sinar gama yang memapar orang yang sebelumnya tadi. Kalian baca bagian dokumen ini? Orang ini katanya punya catatan aktivitas dan dianggap selamat ketika sampai kembali ke atmosfer bumi, tapi didapati tewas ketika roket yang membawa mereka kembali sudah mendarat,” jelas profesor.
“Orang ini masih bisa bertahan selama beberapa waktu baru kemudian mengalami kematian,” ucap Yudas menebak hal yang terjadi.
Kemudian, aku, Yudas dan profesor pun sama-sama menyaksikan rekaman reaksi sel tersebut. Kali ini penampakannya tidak sejelas rekaman-rekaman lainnya. Aku cukup memaklumi karena kapan pun penelitian ini dilakukan pasti pada saat itu teknologi yang digunakan masih belum secanggih saat ini.
“Warnanya berbeda, tapi yang ini juga bisa memulihkan diri,” ucap Yudas.
“Tunggu!” ucap profesor.
“Lihat pada detik ini, sebentar lagi. Ini adalah tanda-tanda perubahan secara destruktif,” ucap profesor.
“Ah!”
“Ergh!”
Yudas dan profesor berujar bersamaan. Sementara aku hanya bisa tiba-tiba memicingkan mata karena sama terkejutnya.
“Lihat? Bahkan arsip ini pun membuktikan bahwa tidak ada satu reaksi sel pun dalam hal ini yang sudah terpapar akan kembali memulihkan diri,” ucap profesor.
“Apakah ada kemungkinan reaksi sampel saya itu akan menunjukkan penghancuran juga, Prof? Mungkin dalam waktu yang lebih lama,” tanyaku.
Jantungku berdegup kencang. Yang sedang ada di pikiranku, bagaimana kalau reaksi negatif itu muncul tiba-tiba pada tubuhku kemudian organ-organ tubuhku menjadi rusak lalu aku mati?
“Saya akan memikirkan caranya. Pasti ada caranya, pasti ada!” ucap profesor.
“Cara untuk menyembuhkan Bimo?” tanya Yudas.
“Bukan, bukan. Cara untuk mengetahui apakah pemulihan sel Bimo akan menunjukkan tanda-tanda penghancuran seperti pada sampel-sampel lainnya. Saya akan menyusun formula agar mempercepat reaksi itu sehingga kita tahu apakah penghancuran itu akan terjadi,” ucap profesor.
“Baik, Prof. Profesor bisa menghubungi saya kapan saja apabila membutuhkan sesuatu,” tawarku kepada profesor.
“Menawarkan bantuan?” tegas profesor.
“Ya, Profesor. Bimo ini kebetulan memiliki kemampuan finansial yang lebih. Jadi dia adalah anak dari...” ucap Yudas.
“Emh,” aku menghentikan ucapan Yudas.
“Yudas benar, Prof. Saya akan bantu profesor kalau dibutuhkan. Khususnya untuk urusan pendanaan,” lanjutku.
“Aha.. Tentu saja, tentu saja. Bantuan itu pasti akan sangat dibutuhkan. Nanti suatu waktu saya akan menghubungi Nak Bimo, ya,” ucap Profesor Nakayama.
Aku merasa lega dengan raut wajah yang ditampilkan profesor kemudian. Ia tidak mengatakan janji apapun dalam menangani masalah ini, tapi seperti ada keoptimisan yang ia pancarkan.
Kegiatan di lab Profesor Nakayama pun berakhir. Tidak terasa waktu yang kami habiskan mencapai hampir 5 jam. Prosedur demi prosedur yang membutuhkan waktu juga pengulangan membuat waktu berlalu begitu saja.
Kami pun hendak pergi dari lab ini. Aku dan Yudas mengajak profesor untuk makan bersama di luar, tapi Profesor menolak. Ia mengatakan bahwa keluarganya pasti sudah menunggunya di rumah. Ia meminta agar kami berpisah di tempat ini saja.
Aku dan Yudas pun mengiyakan perkataan Profesor Nakayama. Kami pun memutuskan akan pergi ke sebuah restoran.
“Bim, kenapa tadi waktu gua mau nyebutin siapa bokaplu sama profesor, Elu malah nahan gua?” tanya Yudas.
“Enggak, enggak. Gua ga mau melibatkan bokap gua dalam urusan ini. Cukup gua aja,” jawabku.
“Jadi bokaplu belum tahu, Bim?” tanya Yudas.
“Jangan sampai tahu. Tahu ga lu Bro, selama ini kehidupan gua itu gimana disetirnya sama bokap?”
“Gua ninggalin dunia sains itu karena dia. Lu tahu kan gua segila apa dulu?” jelasku.
“Iya, bener. Sekarang elu calon jadi seorang ekonom ya Bro?” tegas Yudas.
“Gua mau cukup, semua cukup. Gua ga mau disetir-setir terus sama bokap. Dan kalau memang apa yang lu bilang itu kejadian, gua bakal nentuin nasib gua sendiri,” ucapku mantap.
“Bilang, bilang yang mana? Rekayasa genetikanya Prof. Nakayama?” tanya Yudas.
“Bukan, tentang memiliki kekuatan super itu, Bro. Gua masih berupaya optimis terus. Walau pun kita sama-sama ga tahu gua bakal berakhir seperti apa, mati misalnya...” ucapku.
“Hop! Jangan mati dong!” ucapnya menyelah.
“Terserah, tapi gua mau nentuin jalan hidup gua sendiri!” kembali kupotong ucapan Yudas.
“Jadi lu mau menghilang gitu aja dari keluarga lu, Bim?” tanya Yudas.
“Ya, apa lagi?” ucapku.
“Tapi, nyokaplu gimana, Bro?” tanya Yudas.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Yudas, ponselku pun berdering.
“Bokap!” ucapku kepada Yudas setelah kumelihat layar ponselku.
Yudas masih melanjutkan kegiatannya menyetir mobil menuju restoran yang kami rencanakan sebelumnya. Sementara, aku mengangkat panggilan di ponselku.
“Dimana kamu, Bimo?” tanya papa.
“Bimo, Bimo sedang di jalan sama Yudas, kami mau ke tempat makan di dekat Bundaran HE,” jawabku.
“Ah, sudah kamu cepat kembali ke sini. Ajak teman kamu itu, siapa, Yudas, ya ajak dia,” ucap papa.
“Ada apa, Pa?” tanyaku.
“Pokoknya kamu segera ke sini, oke?” pinta papa.
“Mama bagaimana kondisinya, Pa?” tanyaku. Aku khawatir dengan kondisi mama, sebab papa memintaku sesegera mungkin sampai di rumah.
“Sudah, cepat ke sini,” ucap papa.
“Baik, Pa. Baik. Bimo datang secepatnya,” ucapku.
Panggilan selular itu pun berakhir.
Yudas lalu menoleh kepadaku dan mengangkat dagunya dengan cepat.
“Bokap nyuruh gua balik sesegera mungkin. Sekalian ngajak elu aja katanya,” ucapku panik.
“Eh? Ada masalah lagi sama nyokaplu?” tanya Yudas yang melihatku mengeluarkan raut wajah panik.
“Kaga tahu gua. Bokap cuma nyuruh cepet sampe rumah doang,” jawabku.
“Iya, iya. Kita balik ke rumahlu ya?” ucap Yudas.
**