Chapter 1
Viera terbangun dari tidurnya kala cahaya masuk kedalam celah celah jendela kamarnya. Dia merubah posisinya menjadi duduk ditepi ranjang, dan termenung memikirkan sesuatu.
Suara benda pecah.
Lamunan Viera buyar ketika mendengar suara itu, dia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mencari bunyi pecahan itu.
Seketika matanya membulat, ketika dia melihat ibu nya memegang pecahan kaca yang telah hancur, Viera menduga bahwa pecahan kaca itu sengaja dipecahkan oleh ibunya.
Viera langsung mengambil pecahan kaca ditangan ibunya, dan langsung memeluk ibunya.
"Ibu, Ibu kenapa? Jangan ngelakuin ini lagi bu, nanti Viera sama siapa? Viera cuman punya Ibu," ucap Viera sambil menangis tak peduli dengan darah yang mengalir ditangannya akibat memegang serpihan kaca tersebut.
"PERGI KAMU!! KAMU CUMAN ANAK PEMBAWA s**l! GARA GARA KAMU SUAMI SAYA MENINGGAL! PERGI KAMU, PERGI!" teriak sang Ibu dengan amarah yang menggebu gebu secara meronta untuk melepaskan pelukan Viera.
"Ibu sadar bu, Ibu jangan kayak gini." ucap Viera setelah melepas pelukannya dengan tangan yang mencoba meraih tangan Ibunya yang meronta ronta.
Tak lama, Ibunya pun pingsan. Viera membawa nya ke kamar, dan menguncinya dikamar sebelum mengunci Viera menjauhkan benda benda tajam disekitarnya terlebih dahulu.
Setelah itu Viera menuju kamar mandi untuk pergi kesekolah, ini adalah hari pertamanya masuk sekolah sebagai murid kelas X di Xavier Internasional School.
Viera bukanlah orang berada, semenjak kematian ayahnya dia menjadi pribadi yang dingin, dia akan mendiamkan lawan yang mengusik nya kalau lawan itu masih melakukan hal yang wajar.
Viera juga sudah ahli dalam Karate, karna almarhum ayahnya adalah seorang Shihan dan mempunyai Dojo sendiri, jadi tidak heran jika Viera bisa ahli karate, Viera ahli dalam segala hal, karna ayah nya mengajari nya semua hal yang beliau ketahui.
•••♥•••
Viera berangkat kesekolah dengan menggunakan Angkutan Umum, dia sudah memasak terlebih dahulu untuk Ibunya dan menaruh nya dikamar dengan piring plastik.
Sebelum Ayahnya meninggal Viera orang yang berkecukupan, tapi sepeninggal Ayahnya, Ibunya stress dan dia melampiaskan nya dengan judi dan sering melakukan tindak k*******n kepada Viera.
Jadi, tidak heran dibagian tangan Viera yang mulus terdapat bekas cambukan, dan telapak tangan yang diperban layaknya Mumi.
Fiks, ini lebay .
Viera adalah gadis yang cantik, hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sebatas sikut tangan, blasteran Korea-Inggris, dan semuanya anggota tubuhnya bisa dikatakan sempurna. Tetapi, tidak dengan kehidupannya.
•••♥•••
"Angkot s****n, hampir aja telat!" gerutu Viera karna setibanya dia didepan gerbang, gerbang nya akan ditutup, beruntung dia masih bisa masuk.
Viera berjalan mencari papan pengumuman untuk melihat kelasnya, dia melihat banyak murid yang berbondong bondong menuju sesuatu, Viera pun menuju kesana dan disana terdapat papan pengumuman dimana letak kelasnya berada.
Ketika dia hendak keluar dari perkumpulan tersebut, tiba tiba ada yang menabraknya.
Brukk..
"Awhh." pekik Viera.
Viera terjatuh terjerembab ke lantai, dia mendongak untuk melihat orang yang telah menabrak nya, dia seorang cewek.
"Eh, aduh. Sorry yah, ayo gue bantu." ucapnya sembari menjulurkan tangannya untuk membatu Viera.
Viera menerima uluran tangan tersebut setelah berdiri dia mengibaskan b****g nya dengan tangan kiri, guna membersihkan debu yang menempel pada rok-nya saat dia terjatuh tadi.
"Iya gapapa kok." ucap Viera tersenyum kikuk kepada orang yang baru saja dikenalnya.
"Oh iyah, Lo kelas 10 apa?" tanyanya dengan ramah.
"10 Mipa 1, lo?"
"Wah, sama dong. Ke kelas nya bareng yu! Kebetulan gue juga belum ada kenalan disini." Ucapnya sambil menarik tangan Viera.
Viera tadinya akan berfikir sejenak, tapi ketika tangannya ditarik bergitu saja,, dia bisa apa? "Yaudah." Ucap Viera antusias karna dia mempunyai teman, meskipun belum dekat.
"Eh btw, nama lo siapa nih? Kitakan belum kenalan hehe." ucapnya tersenyum kikuk.
"Oh iya yah, nama gue Xaviera, panggil aja Viera."
"Xaviera ajah? Gak ada nama panjang gitu?"
"Enggak, emang kenapa?"
"Gapapa si, heran aja nama nya singkat amat."
"Oh iya, nama gue Velsha Niady Ferrour panggil aja Velsha atau terserah lo lah yang penting ada kaitannya sama nama gue."
"Lo bawel ternyata." ucap Viera sembari menggaruk tengkuknya yg tidak gatal. Velsha orangnya memang cukup supel dan mudaj bergaul, tapi dia memilih dan memilah dulu dalam mencari teman, takutnya ada teman yang membawanya kejalan yang tidak benar, sana halnya dengan Viera.
"Iya hehee, lo gak nyaman yah? Harap maklum ya, gue mah gini orang nya, manggil nya gausah 'aku-kamu' dong, 'Lo-gue' aja biar akrab."
"Oh oke." ucap Viera.
"Kelas kita dimana ya? Daritadi gak nyampe nyampe perasaan, padahal kita ngomong terus, biasanya nih nya. Kalo orang ngomong sambil jalan itu jalannya gak berasa, lah ini? Belibet banget kelasnya."
"Eh itukan? Itu ada tulisan 10 MIPA 1 tuh!" Viera berseru seraya melihat papan bertuliskan 10 Mipa.1
"Oh iyah, daritadi dicariin malah pintunya disini." ucap Velsha.
"Yaudah yu masuk, Vel lo chairmate nya sama siapa?" tanya Viera ketika sudah berada didalam kelas yang dingin karna Ac.
"Sama lo lah, sama siapa lagi coba?" balas Velsha seraya berjalan mengelilingi bangku, untuk mencari tempat yang pas untuk tempat duduk nya.
"Kita duduk ditengah yu!" ujar Velsha dan langsung mendaratkan b****g nya di kursi, atau lebih tepat nya di Bersap ke tiga dan banjar ke tiga.
Viera pun langsung mendaratkan bokongnya disamping Velsha. Viera menumpukan tanganya diatas meja dan menaruh wajah nya disana sambil melirik ke pintu.
"Eh Vir, gelang lo bagus deh." Ucap Velsha ketika sadar bahwa Viera menggunakan gelang berwarna abu abu bertuliskan Xaviera F.
"Ini gelang dari waktu gue masih bayi, tadinya gelang ini hampir ilang untungnya ketemu, sayang banget." ucap Viera sambil mengelus ngelus gelang nya.
"Itu inisial F apa?"
"Gatau juga sih, gue udah nanya sama almarhum ayah gue tapi dia bilang nya rahasia."
"Emm, maaf yah. Gue gatau kalo Aya--" ucapan Velsha terpotong, dia merasa tidak enak menanyakan hal itu.
"Iya gapapa, lagian kita kan baru kenal, wajar dong kalo baru tau."
"Ra, lo mau gak jadi sahabat gue? Gue waktu SMP gapunya temen, punya sih tapi mereka cuman manfaatin harta gue doang."
"Terus kenapa mau temenan sana gue?" tanya Viera.
"Gue juga gatau, biasanya gue selalu galak sama orang, tapi sama lo nggak, Heran juga sih."
"Nanti kalo gue sama kaya temen lo yang dulu gimana?" tanya Viera
"Ah masa? Ga percaya deh." Velsha mendelik memperhatikan arah lain.
"Jangan terlalu percaya sama orang, nanti kalo udah percaya banget pas dikhianatin pasti sakit tu!" ujar Viera.
"Iya iya."