Chapter 12

843 Kata
"Vi..Viera kami mengambil dari Panti asuhan dok!" Jelas Dewi--Ibu Viera, dia takut terjadi apa apa dengan anaknya. Tapi apa boleh buat? Golongan darahnya tidak cocok dengan darah Viera. "Oh baiklah, nanti saya akan mencari pendonor lewat suster. Kondisi Viera masih belum stabil jadi untuk saat ini tidak boleh jenguk, Terimakasih." Ucap sang dokter dan berjalan menuju ruangannya. Ibu dan Ayah Viera menangis karna mereka tidak tahu harus mencari kemana orang pemilik darah AB negatif. •••♥••• Tok. Tok. Tok. Pintu ruangan terketuk diluar menggangu si empunya ruangan. "Masuk." jawab pria yang berada diruangan tersebut. Ceklek. Suara pintu terdengar, terlihatlah Pria paruh baya berjalan menghampiri sang dokter yang tengah duduk memeriksa beberapa lembar kertas didepannya. Ya, orang yang berada diruangan tersebut adalah dokter yang menangani Viera. "Ada keperluan apa?" Tanya dokter tersebut, dia merasa asing dengan orang didepannya ini. Seingatnya dia belum pernah bertemu dengannya ataupun dengan keluarga pasien yang dia tangani. "Saya mau mendonorkan darah saya untuk pasien yang bernama Viera." Ucap Pria tersebut. Dokter itu tersenyum simpul mendengarnya. Dia menyuruh pria itu duduk didepannya, setelah pria itu duduk. Dokter pun mulai berbicara kembali. "Golongan darah Viera AB negatif." Jelas sang dokter, karna dia takut Pria didepannya ini belum tahu golongan darah Viera. "Saya juga AB negatif dok. Jadi donorkan darah saya untuk Viera." Ucap pria tersebut. "Baiklah, sebelumnya siapa nama anda? Supaya pihak kami bisa menulis diri anda dan memberitahunya kepada keluarga Viera." "Maaf dokter, saya tidak bisa memberitahu nama saya. Dan tolong rahasiakan saya, jangan sampai ada yang tahu kalau saya yang mendonorkan darahnya untuk Viera." jelas pria tersebut. "Baiklah, mari ikut saya. Kita akan mengecek kondisi kamu terlebih dahulu sebelum kamu melakukan transfusi darah." Jelas sang dokter dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah pintu untuk menuju ruangan Transfusi darah dan diikuti oleh pria tadi. •••♥••• Setelah Viera diperiksa dokter tersebut keluar dari ruangannya. "Bagaimana keadaan Viera dok?" Tanya Handoko, dia sangat berterimakasih kepada orang yang telah mendonorkan darahnya untuk Viera. "Kondisi Viera sekarang stabil dan bokeh dijenguk. Tapi, jangan dulu diganggu karna dia butuh istirahat." Jelas sang dokter. "Baik, Terimakasih dok." Ucap Dewi--Ibu Viera. Dokter tersebut mengangguk dan melenggang pergi. Ayah dan Ibu Viera masuk kedalam ruangan Viera, sebelum masuk mereka memakai baju steril terlebih dahulu. Pintu terbuka, menampilkan Viera yang terbaring lemah di brankar Rumah sakit dengan wajah pucat pasi dan lilitan kain dikepalanya. Flashback Off. Viera kembali mengingat kejadian tersebut, tak sadar dia telah meneteskan air matanya. "Vir, lo kenapa?" Tanya Velsha sambil mengelus ngelus punggung belakang Viera, ketika tersadar bahwa Viera menangis. Dan semua mata di meja Viera langsung terarah kepada Viera. Vhian yang melihat itu, ingin rasanya dia menghapus air matanya Vuera dan menenangkannya. "Gapapa, gue ketoilet dulu." Ucap Viera tanpa menunggu jawaban dari temannya dan Viero dkk. Velsha mengeryit heran, Viera ketoilet? Gak salah? Sejak hari pertama sekolah,dirinya dan Viera bercerita banyak tentang kehidupannya dan saling bertukar ceritanya. Dan Velsha mendengar langsung dari bibir Viera bahwa Viera sewaktu SMP bahkan SD tidak pernah ke toilet. Karna dia sangat anti ke toilet menurutnya toilet itu gudangnya kuman, meskipun Viera akan mencuci tangan atau membasuh muka. Dia pasti mencari tempat sepi dan airnya dia dapatkan di keran keran yang berada disetial depan kelas. "Viera ngebohong nya jago banget!" Celetuk Velsha, semua mata sekarang tertuju pada Velsha. "Maksud lo?" Tanya Viero mewakili mereka yang ingin tahu lebih lanjut. "Kemarin, gue cerita banyak sama Viera tentang kehidupan gue dan kehidupan dia. Nah, kemarin Viera bilang dia sangat anti banget ke toilet dari sejak SD, SMP sampe sekarang dia gak pernah masuk ketoilet. Karna menurut Viera, Toilet itu gudangnya kuman. Kalaupun dia mau basuh muka atau cuci tangan dia pasti nyari tempat sepi dan airnya dari keran keran yang ada didepan kelas." jelas Velsha, membuat mereka menggeleng takjub. Segitu takut nya Viera dengan kuman? Dan segitu bersihnya Viera? Vhian yang mendengar itu langsung mengerti, kenapa Viera tidak mau diajak makan di Restourant atau Caffe yang belum terjamin kesehatannya. Sama halnya dengan Viero, Viere, Vhian, Keisha yang baru mengerti mengapa tadi Viera saat memungut daun yang berserakan dia menggunakan masker tangan. "Kalo dapet panggilan alam gimana?" Tanya Vieno heran. "Katanya dia disekolah gak banyak minum, dan kalaupun kebelet dia akan tahan sampe rumahnya." Jelas Velsha, mereka semua menganga tak percaya. Mereka membayangkan jika diri merekalah yang kebelet dan jujur, mereka tidak sanggup menahannya. Tapi Viera? Dia sanggup, padahal di sekolah Fullday. "Eh tapi sekarang Viera kemana?" Tanya Vhian heran, jika Viera tidak ketoilet, terus Viera kemana? "Taman belakang!" Celetuk Viero. "Kata siapa?" Ucap Velsha. "Feeling gue ngomong gitu!" ucap Viero. "Jangan sok sok an pake Feeling, udah tau feeling lo sesat!" Celetuk Vieco. "Udahlah ayo! siapa tahu bener apa kata Viero." Ucap Velsha beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka berjalan beriringan menuju taman belakang, ketika sampai ditaman belakang mereka melihat Viera. Sepertinya Viera sedang menangis meskipun tidak bersuara, terlihat dari bahunya yang naik turun. Mereka masih mendiamkan Viera memberi waktu untuk Viera sendiri, dan mereka semua melihatnya dari kejauhan. "Tuhkan bener! Feeling kembaran gak bisa dibohongi." Celetuk Viero yang masih bisa didengar oleh yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN