"Jangan terlalu percaya pada orang lain. Karena yang dekat belum tentu sahabat yang jauh belum tentu musuh."
SalamJustAy?
"Untuk kelas 11 IPS 3 silahkan mengirimkan perwakilan untuk lomba menyanyi."
Suara dari speaker sekolah memanggil perwakilan untuk lomba menyanyi. Kini lomba class meeting tengah dimulai dan beberapa lomba juga sedang dilaksanakan.
"Gue yang maju," teriak Fani dari kantin dengan tangan kanan kiri yang membawa semangkok siomay dan juga jus mangga.
"Makan nya bisa diletakkan dulu," ucap Devon dengan mic yang tersambung di sound setinggi 2,5 meter, sound sistem itu sebenarnya disewa dari salah satu dangdut yang bernama PANTURA.
"Makan is number onne, tanpa makan hidup kelaparan," bantah Fani sambil menaiki podium selebar 5×4 meter yang berada dilapangan utama setelah meletakkan simoay dan jus nya dimeja juri, not have akhlak sekali.
"Saya Alfani Devina dari kelas 11 IPS 3, gak tau kenapa bisa masuk di kelas IPS 3 perasaan saya pinter dan gak b**o-b**o amat," ucap Fani memperkenalkan diri dengan mic ditangannya.
"Mau menyanyikan lagu apa?" tanya dewan juri yang menatap Fani malas.
"Anu, Bu." Fani membuka ponselnya mencoba mencari lagu yang pas.
"Anu itu apa?" tanya sang dewan juri yang kini menatap malas kearah Fani, makhluk semacam apa yang kini menghinggapi tubuhnya.
"Anu ... satu kata berjuta makna, eakkk," balas Fani dengan senyum konyolnya, hal itu justru membuat sorakan siswa-siswi yang menonton.
"Saya mau nyayi lagu balonku ada lima bervokal O," ucap Fani ngawur membuat seluruh juri dan panitia melotot tak percaya sedangkan para penonton tertawa kencang. Devon menatap malas adiknya yang malah membuat ulah, seharusnya kini adiknya sudah bernyanyi dan tidak mengulur waktunya. Ia tiba-tiba merasa menyesal menjadi kembaran Fani.
"Bercanda ... Feby Putri, Halu," ucap Fani pada anak band.
Senyuman mu...
Yang indah bagaikan candu
Ingin trus kulihat walau
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah saat Fani menyelesaikan lirik terakhirnya. Lagu yang begitu menghayati dan cukup membuat mereka terharu. Tapi, tiba-tiba mereka semua tertawa saat melihat Fani yang malah nyengir memamerkan giginya dengan konyol. Entah mengapa ia jadi malu sendiri setelah mentari lagu tersebut.
"Weh kebanyakan halu lo ya?" tuduh Bagas saat Fani turun dari panggung dan datang kearah anak SLC yang berkumpul didekat ruang OSIS. Ia juga membawa makanannya tadi yang sempat ia tunda karena bernyanyi.
"Bukan banyak halu, Gas," bela Fani membersihkan bibirnya setelah menyelesaikan makan siomaynya.
"Terus apa?"
"Tapi lo menghayati banget, Fan."
"Gue kagak halu, cuma terlalu imajinasi tingkat overdosis," balas Fani nyengir tanpa dosa.
"SAMA AJA SAMSUDI!!"
"Muehehehe...."
*****
Mama Rachel terjengit kaget membuat pisau yang berada ditangannya jatuh saat mendengar suara teriakan dari kamar Fani. Sungguh, jika boleh dan halal maka Fani sudah ia masukan kembali kedalam rahim dan akan ia keluarkan nanti jika sudah waras dalam rahim.
"MAMA FANI MAU OM-OM!!" teriak Fani dengan ponsel yang berbunyi ditangannya serta penampilannya yang acak-acakan. Apakah kini orang hutan di sss telah berpindah di kediaman keluarga besar Ŕanzœ.
"Heh! Maksud kamu apa?" tanya Mama Fani memelototkan matanya tak percaya mendengar ucapan dari sang anak.
"Fani mau om-om," ulang Fani menatap mama Rachel dengan memelas, ia mengeluarkan tatapan puppy eyes yang membuat jiwa psichopath Mama Rachel bergelora.
"Kurang sajen nih anak," geram mama Rachel menggelengkan kepalanya.
"Nih, Ma. Fani mau om-om," ucap Fani menunjukkan ponselnya yang membuka aplikask t****k menampilkan seorang laki-laki dewasa yang bisa disebut hot daddy. Hey? Tidak tau kah dia bahwa Tuan Zion Alisan sang papa juga seorang Sugar Daddy? Eh hot Daddy?
"Astaghfirullah. Mama seko--"
"Siapa yang mau sama om-om?!"
Rachel dan mama Fani tersentak saat suara bariton menuju mereka. Kini tatapan mereka mengarah ke depan menatap seseorang yang baru datang.
"Eh ada papa," ucap Fani nyengir kuda mencoba menghilangkan rasa takutnya tadi, ia masih ingat jika sang papa akan menjewer telinga nya ketika mendengar ia meminta aneh-aneh, ya seperti tadi itu.
"Mas pulang kok nggak bilang?" tanya Mama Rachel setelah mencium punggung tangan Papa Zion diikuti oleh Fani.
"Kan tadi pagi udah bilang kalo papa pulang siang," ucap papa Zion mengusap lembut kepala Fani.
"Tadi yang minta om-om siapa?" Papa Zion menatap Fani seorang menggoda nya.
MAMPOS!!!
"Fa-ni, Pa," jawab Fani gugup.
"Nih papa bawain om-om buat kamu," ucap papa Zion memperlihatkan seorang pria yang dari tadi diam menyimak perbincangan mereka. Orang itu tersenyum kepada Fani membuat Fani sontak berteriak senang.
"OM ZAFKA!!" pekik Fani langsung memeluk om kesayangannya, adik dari Mama Rachel.
"Keponakan om yang manis," balas om Zafka memeluk tubuh sang keponakan juga mengusap sayang kepala Fani.
"Bukan om Zafka, Fan," ucap Papa Zion membuat Fani sontak melepaskan pelukan dari Om-nya dan menatap papa Zion dengan bingung.
Kalo bukan om Zafka terus siapa?
Devon? Eh?!
Atau ada sugar Daddy yang siap untuk mengadopsi nya?
"Ini," ucap papa Zion menepuk bahu pria di samping kirinya yang sedari tadi memang diam menatap
"Mas Altar?!" Pekik Fani saat melihat sosok Altar yang berada di samping Papa nya.
"Iya, Altar. Seharusnya kamu manggil Altar dengan sebutan 'Om', karena usia kalian kan terpaut 9 tahun," ucap Zion membuat Fani melebarkan mulutnya, tercengang.
"Mas Altar berarti 25 tahun dong?" tanya Fani menatap Altar dengan wajah tak percayanya.
"28 tepatnya," ralat Altar membenarkan.
"Oh god! He is my hot daddy," gumam Fani pelan yang terdengar jelas oleh yang lain dan justru membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Papa Fani mau nikah sama om Altar," jerit Fani langsung meloncat ke gendongan Altar seperti koala. Ia menduselkan wajahnya pada leher Altar dan sesekali mencium rahangnya
"Anakmu kena virus t****k, Pa," keluh Mama Rachel pada suaminya.
"Ntar kalian nikah nunggu Fani lulus dulu." Papa Zion menatap putri satu-satunya yang berada di gendongan Altar tanpa malu. Ngidam apa dulu istrinya saat hamil triplets.
"Fani mau nikaaahhhh," rengek Fani menggerak-gerakkan kakinya merajuk. Mengabaikan Altar yang mungkin saja kesusahan menahan tubuhnya.
"Heh kutu amoeba! Umur aja masih 16 tahun, KTP aja belum dapet ngeyel mau nikah," cerca Devan yang baru datang entah dari mana sambil menepuk pundak Fani.
"Mas nungguin Fani ya," pinta Fani menatap Altar dengan mata berkaca-kaca. Altar hanya mengangguk mengiyakan saja agar cepat selesai.
"I love you!" Seru Fani mencium bibir Altar dengan cepat membuat semua yang berada disana spontan melotot.
"FANI!!"
"Alfani Devina Ŕanźœ!!!"
####