Semakin malam, suasana semakin mencengkam. Seorang diri di ruangan yang jarang dihuni ini memanglah sangat menyeramkan. Walau pun masih belum separah saat aku berada di gudang yang ada di tengah hutan itu. Namun tetap saja, aku tidak bisa tidur dalam keadaan sendiri. Bahkan kejadian sore tadi pun masih terbayang di benakku. Apalagi, ada seseorang yang sengaja membuat aku semakin takut dalam kesendirian ini. Dalam keadaan kaki terikat begini, bagaimana caranya aku untuk pergi dari sini. “Ayo, Dok. Ayo. Coba lihat keadaan Cahaya. Dia bilang, dadanya sakit,” kata Ken yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Dan itu juga yang membuyarkan perhatian ketiga orang ini dari diriku. Aku sempat khawatir, jika mereka terus melihat diriku seperti ini. Bisa saja, mereka akan menyadari bahwa aku ini seor

