Mobil yang ayah kendarai terus melaju di jalan setapak hutan tidak terurus ini. Aku pun ikut memperhatikan jalanan yang kami lalui ini. Walau, sesekali aku melirik ke arah Ayah. Beliau adalah orang yang membuat aku selalu bertanya- tanya dalam hidup ini. Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan dilakukan Ayah? Apa sebenarnya tujuan Ayah untuk meminta diriku pergi ke asrama perempuan? Apakah memang hanya untuk menggantikan tempat Cahaya atau apa? Kalau Cahaya sakit, harusnya Ayah bilang saja sama pihak asrama. Untuk apa, Ayah sampai meminta aku melakukan ini semua. Entah, apa yang sebenarnya Ayah pikirkan. “Ada apa?” tiba- tiba Ayah bertanya kepada diriku. Beliau sadar, jika aku dari tadi terus memperhatikan dirinya. “Mmmm... enggak ada, Yah.” Aku menjawabnya dengan mengalihkan pa

