Aku perhatikan tubuh kembaranku yang tertidur di dalam sebuah kotak yang bersinar itu. Aku melihat tubuhnya sangat pucat dan lemah. Dia memang seperti yang Ayah katakan, dia ini bagaikan mayat hidup. Karena, aku tidak melihat tanda- tanda kehidupan dari tubuh Cahaya ini. Ingin sekali aku menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi pada diri kembaranku ini. Namun, aku masih belum siap mendengar sebuah kenyataan lainnya. Aku takut, dibalik semua ini ada yang lebih menyakitkan lagi. Walau demikian, cepat atau lambat aku pasti akan mengetahui tentang hal itu. “Jadi, kamu siap menggantikan posisi Cahaya kan di asrama?” Tiba- tiba, Ayah kembali menyinggung tentang kesiapanku untuk tinggal di asrama perempuan. “Mmmmm....” Aku masih sangat ragu untuk menjawabnya. “Kamu tenang aja, Ayah akan tetap

