Aku terus mendekat ke arah Ayah. Namun, aku masih menemukan kekecewaan di wajahnya itu. Wajah yang dari tadi sengaja tidak diperlihatkan Ayah kepadaku. Kini bisa aku lihat jelas. Berbeda dengan lelaki muda yang ada di depan Ayah, dia masih terlihat menahan tawanya. Meski aku sudah tidak melakukan gerakan aneh lagi. “Semenjak aku sampai di sini, mengapa aku jadi orang yang salah mulu di mata orang,” gumamku pelan. Berharap Ayah tidak bisa mendengarnya. Aku yang merasa selama tinggal dengan paman tidak pernah merasa ada orang yang kecewa terhadap diriku. Kini saat melihat Ayah seperti ini, aku merasa jadi anak yang tidak berguna. Meski, aku sendiri harusnya membuang pikiran itu jauh- jauh. Bagaimana pun, kelahiran seseorang ke dunia ini pasti sudah ada rencana dari Sang Pencipta. Itu artin

