Tiga hari berlalu dengan begitu cepat, dan aku merasa ada hal yang belum tertuntaskan di sana, ayahku memang sedang sibuk akhir-akhir ini, namun ia menjadi jarang pulang dan bahkan aku menjadi tidak tahu kelanjutan dari bukti kasus penyerangan hingga penculikan kak Sophia di sana. Hal itu membuatku merasa tidak enak kepada Rico, ia memang sudah pergi sejak dua hari yang lalu, ia berpamitan kepadaku dan memintaku untuk memberikan hasilnya jika ayahku sudah mendapatkannya, ia pergi karena ia harus mengerjakan tesis akhirnya sebelum akhirnya lulus berkuliah di kota Boju. Merasa bahwa aku harus bertanya lagi kepada ayahku, aku pun memutuskan untuk membolos di hari itu dan pergi menuju kantor Ayahku yang berada cukup dekat dengan perbatasan Kota Iremia yang jaraknya cukup dekat dari apartemen kami di sana.
Aku berjalan memasuki kantor polisi dan mendapati ayahku tengah melakukan sebuah rapat bersama dengan rekan-rekannya yang kini membuatku terduduk dengan tenang di ruang tunggu pelaporan saat itu.
“Oh, Scarlet! Sedang apa kau di sini?” pandanganku kini menoleh menatap Sir Marcus, yang kini membuatku tersenyum kepadanya dan kemudian berkata,
“AKu ingin menemui ayahku!” ucapku kepadanya yang kini menoleh menatap ke arah ayahku yang tengah memimpin rapat dan kemudian berkata,
“Sebentar ya … sepertinya dia sedang apel! Haha!” ucapnya kepadaku yang kini membuatku tersenyum dan menganggukkan kepala untuk menanggapi ucapan Sir Marcus pada saat itu, dan tidak lama dari sana ayahku pun keluar bersama dengan timnya di sana, dan aku merasa senang ketika melihatnya yang berjalan perlahan menghampiriku dengan raut terkejutnya di sana,
“Scarlet, apa yang kau lakukan di sini?” itu lah yang ia tanyakan kepadaku, yang kini membuatku mengerutkan dahi dan kemudian berucap,
“Kenapa kau sibuk sekali ayah?? aku ke mari tentu ingin bertanya mengenai perkembangan kasus Mark, jadi bagaimana ayah?? apakah kau sedang menangani kasus ini saat ini?” tanyaku kepadanya yang kini menghembuskan napas untuk kemudian berucap,
“Untuk saat ini, Mark menjadi buronan, Scarlet … kami sulit untuk menemukannya, tapi kami akan mencarinya … aku janji! Untuk saat ini segera lah bersekolah, ayah sedang sibuk mengurusi para trainee!” ucap ayahku kepadaku, dan hal itu bukan lah hal yang ingin aku dengar dari ayahku, namun karena aku tahu ia sibuk dan mengatakan jika Mark menjadi buron, membuatku menganggukkan kepala dan segera pergi untuk mengikuti perintahnya dan bersekolah.
Namun, bersekolah pun tidak membuatku kunjung berkonstentrasi, karena aku terus memikirkan Kak Sophia. Dan mulai mengkhawatirkannya pada saat itu. Apa benar Mark menjadi buronan?? kenapa tak ada target di papan informasi, jika memang ia menjadi seorang buronan pada saat itu? Dan kenapa para polis terlihat sangat santai pagi itu?
Itu lah pertanyaan -pertanyaan yang hadir di dalam kepalaku pada saat itu, hingga akhirnya aku sama sekali tidak dapat berkonsentrasi ke mata pelajara yang ada di hari itu.
…
Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan akhirnya satu minggu pun berlalu, dan aku sangat-sangat tidak bisa diam ketika merasa bahwa ayahku sama sekali tidak terlihat sibuk dengan kasus dari Mark, hingga kini aku mulai menjadi mencurigai dirinya di sana. Ya … aku mulai mencurigai ayahku sendiri, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membolos di dari lesku di hari sabtu dan mengikuti langkah dari ayahku. Karena di hari itu ia berkata bahwa ia hendak bekerja, namun yang aku tahu di hari sabtu ia tidak memiliki jadwal berjaga.
Dengan bermodalkan kamera yang aku bawa, aku pergi menggunakan mobil bersama dengan keempat temanku yang baik, mereka bahkan merasa terkejut ketika mengetahui jika aku mulai mencurigai ayahku sendiri di sana.
“Kau yakin jika ia terlibat dalam hal ini, Scarlet?” tanya Rayana kepadaku, yang tentu saja hal itu membuatku menghembuskan napas dan kemudian berkata,
“Aku pun tidak yakin! Tapi setidaknya aku mendapatkan jawaban jika aku sudah mengikutinya, bukan begitu?” tanyaku kepada mereka, yang kemudian Bam pun menganggukkan kepalanya, teman laki-laki ku itu berkata,
“Ya! Akan menjadi jelas ketika kita tahu apa yang dia lakukan di hari liburnya itu!” ucap Bam kepadaku, yang pada akhirnya mereka menganggukkan kepala mereka dan kemudian berucap,
“Kalau begitu, kau butuh tumpangan? Aku akan membawa mobil agar kita bisa mengikuti ke mana ayahmu pergi!” itu lah yang di ucapkan oleh Ravy kepadaku, yang tentu saja aku menganggukkan kepala menanggapi hal itu,
“Terima kasih!” ucapku kepadanya, dan bahkan tidak hanya Ravy, namun mereka semua ikut serta untuk membantuku mencari tahu apa yang terjadi.
Hari ini adalah waktunya, aku berjalan memasuki mobil yang ternyata keempat temanku sudah berada di sana, dan kami segera mengikuti mobil yang kala itu tengah di kendarai oleh Ayahku, namun anehnya alih-alih memakai kendaraan kantor, ia mengendarai satu mobil yang tidak aku ketahui kepemilikannya di sana.
“AKu tidak tahu jika Ayah memiliki mobil lainnya!” ucapku yang kini menjepret mobil tersebut,
“Ravy, ikuti mobilnya!” ucapku kepada Ravy ketika mobil yang ayahku kendarai pergi dari sana.
Kami pergi menuju ujung kota Iremia yang berdekatan dengan kota Dilate, sebuah kota yang tak di anggap oleh pemerintahan pada saat itu,
“Apa yang tengah ia lakukan di sini?” tanya Bam kepadaku, namun kini karena aku tidak mengetahui apa yang akan di lakukan oleh ayahku membuatku menggelengkan kepala untuk menanggapi pertanyaan itu. Namun detik kemudian aku terperanjat ketika melihat ternyata ia bertemu dengan seseorang di sana, dan terlebih orang itu adalah orang yang seharusnya ia tangkap pada saat itu.
“Apa yang di lakukannya bersama dengan Mark?!” tanyaku dengan kaget, dan hal itu membuat Ravy segera merampas kameraku dan mengambil moment tersebut setelah tahu jika ini adalah bukti penting lainnya yang harus di abadikan.
“Siapa orang ini, Scarlet?” tanya Rayana kepadaku, yang membuatku kini berkata,
“Dia adalah orang yang menculik kakak dari temanku!” ucapku menjawab pertanyaannya itu, yang kini membuat Rina kini berkata,
”Tetanggamu itu?!” tanyanya dan aku menganggukkan kepala menanggapi hal tersebut,
“Apakah dia tengah menyamar?” Tanyaku masih berusaha meyakini jika ayahku adalah orang yang baik,
“Yah … aku rasa juga seperti itu … dia pasti tengah menyamar!” jelas Bam kepadaku, dan kini aku terus menatap mereka yang nampaknya berbicara cukup serius, dan bahkan sesekali ayahku menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah ia tengah mengawasi sekitar sana, untuk akhirnya ia memberikan sebuah amplop coklat di sana kepada Mark, yang kini aku yakini jika itu adalah sejumlah uang, yang hal itu pun kembali di abadikan oleh Ravy di sana sedangkan aku terus memerhatikan mereka saat ini. Dan tidak lama setelahnya ia pergi dari hadapan Mark,
“Apakah kita harus mengikuti ayahmu lagi, Scarlet?” tanya Rayana kepadaku, dan aku segera menggelengkan kepala untuk kemudian berkata,
“Aku rasa kita harus mengikuti lelaki itu! Karena aku yakin, Sophia pasti ada bersama dengannya saat ini!” itu lah yang aku ucapkan kepadanya yang kini membuat Ravy pun menganggukkan kepala dan segera mengendarai mobilnya mengikuti mobil dari Mark pada saat itu. Yang bahkan aku sendiri tidak tahu jika Mark memiliki mobil sebagus itu. Kami terus mengikuti laju mobil itu dan berakhir di sebuah gedung terbengkalai yang berbatasan dengan ujung desa Humming.
“Apa yang ia lakukan di sini?” sebuah pertanyaan itu pun terlontar begitu saja dari mulutku,
“Entah lah … apakah mungkin jika ia menyembunyikan Sophia di sini?” pertanyaan yang di lontarkan oleh Ravy pada saat itu, seketika saja membuatku membelalakan mata dan kemudian segera beranjak untuk keluar dari sana, hal itu membuat teman-temanku segera menahanku dan bertanya,
“Hei! Apa yang akan kau lakukan?!” itu lah yang di lontarkan oleh Bam ketika menahanku pergi,
“Aku harus memastikannya!” jelasku kepada mereka,
“Tapi bukankah itu sangat berbahaya?!” tanya Ravy kepadaku dan aku menggelengkan kepala seraya berucap,
“Tak ada yang berbahaya dari orang seperti itu, aku akan melihat ke aman ia pergi, dan aku ingin kalian segera pergi ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan hal ini!” jelasku kepada mereka,
“Apa kau yakin tidak perlu kami temani?” tanya Ravy, dan hal itu membuatku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ravy kepadaku.
“Segera laporkan ini, aku akan baik-baik saja di sini!” itu lah yang aku ucapkan sebelum akhirnya mereka pun pergi meninggalkanku, aku berjalan memasuki sebuah gedung yang sempat di masuki oleh Mark di sana. Dan dengan jelas aku melihat Sophia kini berjalan dengan keadaan diikat lalu di masukkan ke dalam sebuah ruangan yang kemudian ia di rantai di sana. Yang tentu saja hal itu membuatku segera menghubungi Rico dan melaporkan kepadanya jika kini aku mengetahui di mana keberadaan dari Sophia di sana. Aku tahu pada hari itu Rico berada di Apartemen kami, karena ia sendiri lah yang memberiku pesan di malam tadi, jika ia tengah menginap di apartemen milik Sophia. Aku bahkan dengan sengaja mengirimkan lokasiku dan bekata jika aku merasa buruk dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di sana.
Zrang!!
Aku segera bersembunyi di sana dan sedikit mengintip dirinya yang pergi begitu saja dari ruangan itu, dan perlahan ia pergi dari gedung tersebut, yang membuatku sadar jika itu adalah waktuku untuk menyelamatkan Sophia di sana. Aku berlari kecil menuju ruangan tempat di mana Sophia di kurung, dan tentunya aku berusaha sefokus mungkin takut-takut ternyata Mark masih berada di area itu saat ini.
Aku berhenti tepat di ruangan tempat Sophia berada, dan satu kata yang bisa aku gambarkan ketika melihatnya adalah kasihan dan khawatir, kondisinya mengenaskan saat ini meski ya … kedua tangannya di balut oleh perban, namun ia terlihat sangat kurus bahkan lebih kurus dari kali pertama aku melihatnya.
Dengan segera aku membuka gerbang itu dan segera berlari menghampirinya,
”Sophia!” ucapku kepadanya yang kini menoleh dengan kaget ke arahku,
“Scarlet?!” panggilnya seolah ia tidak percaya dengan kehadiranku di sana.
“Tenang lah … kita akan segera pergi dari ini1” itu lah yang aku ucapkan kepadanya.
…