Pagi hari itu, aku segera bersiap menuju kantorku. Aku tidak memerdulikan kedua mataku yang membengkak di sana setelah selama seharian penuh menangis dan merasa khawatir dengan keberadaan dari temanku Lisa. Aku akui, aku masih merasa cemas dan khawatir dan aku sangat ingin mencarinya saat ini, namun aku juga tidak bisa bersikap egois dan membiarkan tugasku yang lainnya menganggur di sana, karena saat ini aku sudah bekerja dan aku dikontark selama tiga tahun, aku tidak boleh mengecewakan perusahaan apapun yang terjadi. Dan itu lah sebabnya mengapa aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor di pagi itu.
Tok … tok … tok …
Pandanganku saat itu segera saja menoleh menatap ke arah pintu apartemen yang baeru saja di ketuk, dan membuatku dengan segera berjalan menuju pintu apartemen untuk kemudian mendapati Andrew yang berdiri di sana dengan membawakan satu porsi sandwich lezat di sana.
“Oh … kamu akan bekerja?” tanya Andrew kepadaku ketika melihat aku sudah berpakaian rapi di pagi itu, dan membuatku menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya di sana.
“Ya … aku tetap harus profesional di sini!” ucapku kepadanya, dna hal itu membuatnya tersenyum dan mengangguk, yang kemudian ia memberikan sandwich itu kepadaku seraya berkata,
“Ini untuk sarapan! Setidaknya kau juga harus mengisi perutmu itu … seharian kemarin aku tidak melihat kau makan!” ucapnya dan membuatku tersenyum merasa bersyukur karena Andrew memang perhatian kepadaku,
“Terima kasih, Andrew!” ucapku dan ia mengangguk menanggapinya.
…
Hari itu aku bekerja, dan aku meminta maaf kepada Mr.William karena tidak dapat menghadiri kantor di hari kemarin, dengan alasan masalah keluarga. Meski sebenarnya bukan itu permasalahannya saat ini.
Aku kembali mengerjakan beberapa tugasku yang menumpuk di hari itu, dan memutuskan untuk lembur. Namun keputusanku itu justru tidak diperidzinkan oleh Mr.William yang mengatakan bahwa akan lebih baik jika aku mengerjakannya secara bertahap, yang akhirnya aku pun mengikuti semua yang ia sarankan kepadaku.
“Apakah kau baik-baik saja, Sophia?” pandanganku kini menoleh menatap Charlotte yang bertanya kepadaku, dan hal itu membuatku menghembuskan napas untuk kemudian mengangguk, merasa bahwa mereka tidak perlu mengetahui permasalahan yang aku hadapi saat ini, namun nampaknya mereka sangat penasaran hingga tidka hanya Charlotte namun Bob pun ikut bertanya seolah meragukan jawabanku itu,
“Serius … kau baik-baik saja?” tanya mereka, dan ya … pada akhirnya aku menyerah untuk menyembunyikan semuanya dan berbicara apa adanya di sana, memberitahu kepada ketiga rekan kerjaku itu bahwa aku mendapatkan sebuah masalah dan Sahabatku Lisa menghilang begitu saja secara misterius.
“Dia menghilang di apartemenmu sendiri?” aku menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Marla di sana, yang kemudian membuat Bob kini menggelengkan kepala dan kemudian berkata,
“Itu tidak masuk di akal!” aku menatap ke arah Bob yang kini menoleh menatapku dan kemudian kembali ia bertanya, “Apakah kau sudah melapor pihak Polisi?”
Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu,
“Yeah … aku sudah melaporkannya, dan aku hanya bisa menunggu informasi yang diberikan oleh mereka!” jelasku kepada mereka, dan hal itu membuat Marla kini mengusap bahuku dan aku tahu ia melakukannya guna menguatkanku di sana, dan aku masih yakin jika Lisa pasti ditemukan oleh mereka.
…
Hari demi hari berlalu begitu saja, dan aku yang masih terus menunggu kabar dari pihak kepolisian, hingga tidak sadar ini sudah hari ketujuh semenjak Lisa menghilang, yang tentu saja membuatku merasa menjadi orang yang buruk saat itu.
Pandanganku seketika saja menoleh dengan cepat ke arah pintu ketika mendengar sebuah suara ketukan sebanyak tiga kali di sana, yang membuatku melesat secepat kilat untuk kemudian membuka pintu itu, ketika yakin jika yang mengetuk adalah pihak polisi yang membawa Lisa kemari atau setidaknya seperti itu. Namun, rasa senangku kembali turun ketika melihat jika bukan Lisa atau pihak kepolisian yang datang, melainkan Rico adikku.
“Ah … Rico!” itu lah yang aku ucapkan kepadanya, sebelum akhirnya aku mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam apartemenku.
“Kau jarang membalas pesanku, kau membuatku khawatir kau tau itu?” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Rico di sana, membuatku merasa menyesal karena telah mengabaikan semua pesannya hingga ia rela datang kemari untuk mengecek keadaanku saat ini.
“M … maafkan aku Rico, tapi .. aku sedang menunggu kabar dari kepolisian!” aku menatap ke arah Rico yang kini terduduk di atas sofa itu untuk kemudian menganggukkan kepalanya menanggapi apa yang aku ucapkan di sana.
“Ya … aku tahu itu, tenanglah … Lisa pasti akan ditemukan!” jelas Rico kepadaku, dan aku memang mengharapkan hal itu terjadi, namun entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa tidak enak dan menjadi lebih khawatir dari minggu yang sebelumnya, seolah ada sesuatu yang mendesakku untuk segera menemukan Lisa.
“Yeah … aku tahu itu, tapi … aku memiliki perasaan tidak enak di hati, seolah aku harus segera pergi ke suatu tempat dan segera menemukannya, Rico!” ucapku kepada Rico,
“Lalu … ke mana kau akan pergi? Bukankah kau sendiri tidak tahu di mana keberasaan Lisa? Sophia .. tenanglah … kita serahkan seluruhnya kepada pihak berwajib, lagi pula paman dan bibi pun merasa jika ini semua bukan salahmu! Tak ada yang salah di sini, kita hanya perlu berdoa dan menunggu dengan sabar!” jelas Rico kepadaku, yang entah mengapa aku menjadi menangis ketika mendengarnya, aku sangat ingin melakukan hal itu, namun aku sendiri kebingungan saat ini. Aku benar-benar merasa bertanggung jawab atas hilangnya Lisa.
“Rico … aku ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin saat ini, ini semua membuatku frustasi!” ucapku kepada Rico, yang karenanya ia beranjak dari tempatnya untuk kemudian memelukku dengan erat, memberikan sebuah perasaan nyaman agar aku bisa menangis sepuasku di sana, dan tangisan itu aku keluarkan sepenuhnya di dalam pelukan Rico adik laki-lakiku.
…
Aku tidak pernah menduga, perasaan kacauku saat itu terjawab sudah ketika sore harinya aku mendapatkan sebuah panggilan dari kepolisian, yang memintaku untuk memastikan sesuatu hal di sana yang tidak mereka katakan secara langsung dari sambungan telfon yang kami lakukan, yang tentu saja sore itu aku dan juga Rico mendatangi kantor polisi yang telah ditentukan untuk kemudian bertemu dengan Sir Nicholas, ayah dari Scarlet.
Kini pandangan kami saling bertemu, dan kemudian lelaki dewasa bertubuh tegap itu berdehem sebelum akhirnya berucap,
“Sophia … sebelum kita memastikan sesuatu, aku akan memperingatimu sesuatu hal … jadi tolong jangan dulu merasa cemas atau khawatir, kau mengerti?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sir Nicholas pada saat itu, tentu saja membuat perasaanku menjadi semakin tidak enak karenanya,
“A… apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku kepadanya, dan kini ia memejamkan matanya dan menghembuskan napas seolah sedang mempersiapkan sebuah kalimat yang setidaknya baik untuk aku dengar di sana,
“Kami menemukan sebuah potongan jasad, dan kami ingin kau memastikannya … karena kami tidak mengenali jasad ini, tapi ini belum tentu orang yang kau cari … kau mengerti kan?” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Sir Nicholas di sana membuatku seketika lemas dan nyaris tidak dapat berdiri, aku merasa belum siap jika itu memang benar Lisa. Aku tidak ingin memastikan hal itu. Hingga aku menggelengkan kepala dan menoleh menatap Rico yang menahan tubuhku di sana,
“Tidak Rico … aku tidka bisa melakukan ini! Aku tidak bisa melihatnya!” ucapku perasaanku tidak karuan, air mataku sudah berjatuhan dimana-mana dan aku tidak ingin melihat dan menerima kenyataan jika memang itu benar Lisa yang aku cari. Kedua mata Rico menatapku dengan lekat,
“Sophia … kau harus melakukan ini! Kita tidak akan tahu jika kita tidak memastikannya!” jelasnya menguatkanku, dan itu memang benar … aku tidak akan tahu jika tidak memastikan secara langsung di sana, yang membuatku kini menoleh menatap Sir Nicholas untuk kemudian menyeka air mataku yang mengalir di pipiku, dan aku pun menganggukkan kepala seraya berucap,
”Yeah … Sir … a …aku bisa melakukannya!” ucapku berusaha untuk kuat di sana.
...
Sore itu aku berjalan mengikuti Sir Nicholas untuk menghintari lorong yang menghadirkan banyak sekali pintu di sana, yang pada akhirnya kami sampai di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh lemari-lemari yang terbuat dari besi yang menempel di dinding, dan aku tahu itu adalah lemari tempat menyimpan mayat. Langkahku kini terhenti ketika Sir Nicholas berjalan ke pojokan ruangan itu untuk kemudian membuka sebuah lemari yang berisikan sesuatu sebesar bola yang tengah ditutupi oleh kain berwarna abu di sana, yang tentu saja aku yakin jika itu merupakan sebuah kepala.
Aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menahan napasku, sebelum akhirnya Sir Nocholas kembali menoleh menatapku dan berucap,
“Mendekatlah dan konfirmasi, Sophia!” ucapan itu, membuatku kini kembali melangkah untuk mendekati Sir Nicholas serta jasad yang ada di hadapannya saat ini dan kemudian aku berhenti tepat di samping lemari pojokan yang terbuka tersebut. Pandangan Sir Nicholas kembali tertuju padaku untuk yang kesekian kalinya,
“Kau siap?” tanyanya, dan dengan menghirup napas yang dalam, aku mengangguk menanggapi hal itu, untuk kemudian Sir Nicholas pun membuka kain penutup dari jasad yang ternyata memang sebuah kepala! Aku terkejut bukan main ketika melihatnya, dan aku bahkan tidak bisa berkata apapun untuk persekian detik di saat menatap wajah itu. Jantungku berdegup dengan kencang dan aku ketakutan setengah mati melihatnya,
“Apakah jane doe ini adalah orang yang anda cari?” pertanyaan Sir Nicholas pada saat itu terdengar, yang membuatku kini menoleh dengan cepat ke arahnya dan menggelengkan kepalaku di sana.
“B … bukan … ini bukan Lisa!” ucapku dengan pasti, ya … aku sangat mengenal Lisa, dan untungnya wanita ini … tidak, kepala dari jasad wanita yang ditemukan oleh kepolisian saat ini bukanlah Lisa, dan aku merasa sedikit lega karenanya, meski pun kini aku merasa ngeri bukan main setelah melihat kepala itu.
…