Malam itu aku terduduk di lobby kepolisian, setelah sebelumnya Sir Nicholas memintaku untuk menunggunya yang menyiapkan sebuah data keterangan jika jasad yang ditemukan bukanlah orang yang dicari olehku. Pandanganku kini menoleh menatap ke arah sebuah kaleng minuman yang tersodorkan kepadaku, dan hal itu membuatku kini menoleh untuk menatap Rico yang baru saja melakukannya,
“Minum lah … ini akan membuatmu menjadi lebih tenang!” itu lah yang dia ucapkan, yang tentu saja membuatku kini tersenyum dan meraih kaleng minuman tersebut, sebelum akhirnya berucap terima kasih kepada adik laki-lakiku itu.
“Kau tak apa?” pandanganku kembali menatap Rico, untuk akhirnya aku menganggukan kepalaku menjawab pertanyaannya,
“Yeah … aku merasa lega ketika menyadari jika itu bukan Lisa … aku sangat ketakutan!” ucapku seraya tersenyum kepadanya, dan hal itu membuatnya menganggu memahami apa yang aku rasakan pada saat itu.
“She will be ok out there!” itu lah yang di ucapkan oleh Rico kepadaku, dan aku mengangguk dan percaya akan hal itu, Lisa pasti baik-baik saja.
Pandanganku yang kala itu tengah menatap ke arah kaleng yang aku genggam pun kini beralih menatap tiga orang polisi yang kini dengan cepat berjalan dan masuk ke dalam ruangan, seolah ada sesuatu hal yang terjadi di sana, dan itu membuatku sangat penasaran. Salah satu dari ketiganya berbincang dengan sir Nicholas yang terlihat serius menanggapi ucapan dari sang polisi, untuk kemudian pandangannya kini beralih menatapku yang tengha mengintip dari jendela pemisah antara kantor dan Lobby, yang tentu saja membuatku mengerutkan dahi ketika ia berjalan menuju tempatku dan juga Rico terduduk menunggu.
“Sophia!” pandanganku dengan segera menoleh menatap Sir Nicholas yang baru saja memanggilku di sana, dan aku segera berdiri dan bertanya kepadanya, merasakan jika perasaanku tidak enak dengan ia yang memanggilku setelah sebelumnya berbincang dengan para polisi yang baru saja datang di sana.
“Ya, Nicholas?” tanyaku kepadanya yang kini menatapku dengan cukup serius untuk akhirnya berucap,
“Sophia … kami menemukan Lisa!” aku terkejut bukan main ketika mendengar Nicholas berucap seperti itu, rasanya seperti tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Dia dalam keadaan hidup!” penjelasan itu kembali membuatku merasa senang sekaligus bersyukur atas penjelasannya,
“S… serius?? di mana dia?? apakah dia baik-baik saja?!” kutatap Nicholas yang kini menganggukkan kepala dan berucap,
“Dia sedang berada di perjalanan menuju kemari bersama dengan orang yang menemukannya!” jelas Nicholas, dan tentu saja aku merasa sangat-sangat bahagia kini dan segera memeluk dengan senang adikku Rico, aku merasa sangat lega ketika mendengar semua itu dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan Lisa.
…
Malam itu, pada akhirnya aku pun bertemu dengan Lisa. Ia terlihat tampak lebih kurus dari yang sebelumnya, namun ia terlihat sehat, ia menangis dan memelukku dengan erat dan tentu saja aku merasa sangat-sangat senang melihatnya baik-baik saja pada saat itu.
“Lisa!! apa yang terjadi padamu?? kau ke mana saja?!” ucapku seraya menangis dengan senang setelah melihatnya yang kini juga menangis di sana, namun tidka sepertiku, ia tidak berbicara dan terus menangis.
Pandanganku kini menatap ke arah satu orang lelaki dan wanita yang usianya sekitar empat puluh tahunan yang baru saja mengantar Lisa ke pihak kepolisian di sana, yang tentu saja kedua orang itu diberikan banyak sekali pertanyaan oleh pihak polisi, dan aku ikut serta mendengar apa yang mereka jelaskan di sana, karena Lisa terlihat enggan untuk menjelaskannya dan malah meminta Rico untuk segera membawanya pulang ke rumah yang ada di desa Spektrum.
“Kami tidak menemukannya, dia mengetuk rumah kami dengan kencang pada pukul dua dini hari satu minggu yang lalu!” aku mengerutkan dahiku mendengar penjelasan lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Robby di sana, dan hal itu diberi anggukan oleh Valentine sang Istri yang kemudian menambahkan,
“Yeah … dia menangis dengan kencang dan ketakutan, meminta pertolongan untuk menyembunyikannya dan orang yang mengejarnya!” aku mengedikkan kepalaku ketika mendengar hal itu,
“Orang yang mengejarnya?” tanyaku kepada mereka,
“Well … kami juga tidak tahu pasti, namun karena aku adalah dokter psikologis dan melihat seorang gadis dua puluh tahun menangis meminta perlindungan, tentu saja aku akan melindunginya … ia terlihat sangat shock dan ketakutan pada malam itu!” jelas Robby lagi, dan kemudian membuat snag polisi yang tengah mencatatnya kini bertanya,
“Lalu kenapa kalian tidak menghubungi pihak kepolisian?” pertanyaan itu membuat Rooby kini menoleh dan kemudian berkata,
“Yeah … pada awalnya aku ingin mengabari kepolisian, namun nampaknya gadis malang ini diikuti oleh seseorang hingga orang ini meneror kami terus menerus!” jelas Robby lagi, dan aku kembali terkejut mendengar hal itu,
“Kalian apa?” tanya sang polisi, dan hal itu membuat Robby kembali menjelaskan,
“Kami mendapatkan sebuah terror, kami mendengar bel terus berbunyi dan semakin menakuti gadis ini! Orang ini bahkan menyelipkan sebuah surat ancaman untuk gadis ini dan ya … aku juga merasa jika surat ancaman itu tidak hanya diperuntukkan untuknya!” jelas Robby kepada sang polisi, dan kemudian membuat polisi bernama Eugene itu menadahkan tangannya dan berkata,
“Apakah kau membawa surat ancaman itu?” tanya Eugene, dan segera Valentina mengeluarkan setumpuk surat di sana dan kemudian berucap,
“Aku membawa semua suratnya! Dia terus mengirimi kami surat ancaman hingga kami sama sekali tidak berani pergi dari rumah dan selalu mengunci pintu dengan rapat!” jelas Valentine, yang tentu saja membuat dahiku kini berkerut ketika melihat surat-surat tersebut, jelas terlihat jika surat-surat itu memang sengaja dipersiapkan untuk mengancam, karena surat itu terbuat dari banyaknya bekas robekan huruf dari majalah yang kemudian ditempel dan di susun membentuk kata-kata berupa ancaman seperti, ‘Jangan hubungi pihak polisi atau kalian mati’ , ‘Aku sudah menaruh bom di dalam bawah tanah kalian’ , ‘Jangan pernah melapor’ dan lain hal sebagainya yang berupa ancaman yang tentu merusak mental.
“Lalu … bagaimana cara kalian bisa kabur dan datang kemari?” tanya sang polisi, pandangan Robby kini menatap ke arah sang polisi dan kemudian berkata,
“Karena aku sudah tidak kuat lagi … ini adalah serangan yang langsung menyerang mental kami, dan aku baru menyadarinya! Aku menghubungi anakku yang seorang tentara untuk menyuruhnya segera pulang! Dan dia pulang bersama dengan Tim khususnya, dan beruntung aku merasa aman ketika dia pulang, jadi aku ceritakan semua tentang hal ini dan membuatnya menghubungi pihak kepolisian secara langsung! Dia juga ada di luar sana menunggu kami!” jelas Robby, dna tentu saja itu semua masuk di dalam akal.
“Apakah Lisa … eum, gadis yang kalian selamatkan ini menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya sang polisi kepada Robby, yang kemudian membuat Robby menggelengkan kepalanya untuk kemudian berkata,
”Tidak … aku rasa anak ini terlalu takut untuk membuka mulutnya, ia hanya memberikan nama darinya itu pun ketika Harry anakku yang bertanya dan berusaha untuk meyakinkannya!” jelas Robby lagi, dan membuatku kini menghembuskan napas merasa jika Lisa pasti sangat ketakutan saat ini.
Wawancara pun selesai di lakukan dan Mr. Serta Mrs. Robby dinyatakan terbebas atas dugaan penculikan atau penyekapan di sana dan memberi kesimpulan jika keduanya lah yang justru menyelamatkan Lisa dari seseorang yang kini justru menyerang pasangan tersebut.
“Terima kasih karena kalian telah melindungi temanku, terima kasih banyak!” ucapku kepada Mr.Robby yang kini mengangguk menanggapi ucapanku di sana,
”Eum … sekedar saran, akan menjadi lebih baik jika Lisa … segera pulang ke rumahnya di desa Spektrum … itu akan membuatnya lebih nyaman di bandingkan di kota ini, nak!” aku terdiam mendengar saran dari Mr. Robby kepadaku, yang pada akhirnya aku mengangguk menyetujui saran tersebut.
…
Aku berjalan masuk ke dalam lobby yang kini di mana Lisa tengah tidur dengan posisi yang terduduk di samping Rico dan bersandar di bahu adikku. Ia mengenakan jaket dari Rico saat ini, dan membuatku kini berusaha untuk memilih apa yang terbaik untuknya, apakah kembali ke apartemen atau langsung membawanya ke Desa? Karena aku tidak tahu mana yang terbaik, aku pun kini membangunkannya dengan pelan.
“Lisa??” panggilku, dan kini Lisa membuka kedua matanya untuk menatapku,
“Apakah kau ingin ke apartemenku at..-
“Pulang! Hh .. hh … aku ingin segera pulang, Sophia!” jelasnya terlihat sangat-sangat panik, yang tentu saja aku, Rico serta Sir Nicholas terkejut dengan kepanikannya di sana, dan hal itu membuatjku segera menganggukkan kepala dan menenangkannya.
“Ya … ya … kita akan segera pulang! Rico akan mengantar pulang hari ini juga!” jelasku kepada Lisa yang kini mengangguk dengan kedua tangan yang bergetar dan kedua mata yang menoleh ke arah sekitar dengan was-was. Yang tentu saja aku menjadi merasa bersalah karena ia terlihat sangat ketakutan saat ini.
“Iya, kita antar Sophia dulu ke apartemen lalu kita pulang ya!” aku menoleh menatap Rico yang berkata seperti itu, namun reaksi Lisa justru kembali membuatku terkejut karena ia dengan segera berteriak untuk kemudian menggelengkan kepalanya, tidak menginginkan jika harus kembali ke apartemenku di sana.
“Tidak perlu … Sophia akan pulang denganku! Kebetulan tugasku selesai!” aku menoleh menatap Sir Nicholas yang baru saja berkata seperti itu, dan membuatku dengan cepat menganggukkan kepala untuk menenangkan Lisa. Yang pada akhirnya Rico dan Lisa pun langsung pulang ke desa Spektrum yang tentu saja di kawal oleh satu mobil polisi yang berjaga setelah sebelumnya Sir Nicholas yang memberikan perintah pengawalan di sana.
Pandanganku kini menatap ke arah Nicholas yang kini mengajakku untuk pulang bersama,
“Terima kasih banyak, Sir!” ucapku kepadanya yang kini menggelengkan kepala dan kemudian berkata,
“Itu sudah menjadi kewajibanku, lagi pula … ada hal yang harus aku pastikan untuk saat ini!” jelas Sir Nicholas kepadaku, yang tentu saja aku mengerutkan dahi dan kemudian bertanya,
“Eum … a… apa itu?” tanyaku, yang kini membuatnya menunjukkan dua jarinya seraya berkata,
“Yang pertama, Lisa temanmu hilang di apartemen kita … yang kedua dia enggan untuk kembali ke apartenmen itu meski pun hanya sebentar, dan aku jadi menarik kesimpulan bahwa orang yang mengancam dirinya serta pasangan Robby yang menyelamatkan Lisa adalah seseorang yang tinggal di gedung apartemen kita!” aku terkejut mendengar dugaan tersebut, yang tentu saja sebelumnya tidak pernah terpikirkan denganku pada saat itu,
“A…. apa? J .. jadi kemungkinan besar ada yang ingin menyakiti Lisa di gedung apartemen tempat kita tinggal, Sir?” tanyaku kepadanya yang kini mengediikkan kepalanya ke pinggir dan berkata,
“Itu masih kemungkinan, jadi untuk saat ini aku ingin kau mengubah password pintu apartemenmu dan berhati-hati lah!” jelasnya lagi, yang membuatku kini menganggukkan kepala dan merasa jika aku menjadi kurang nyaman jika harus berlama-lama di dalam apartemen itu nantinya.
…