Upaya Menyelamatkan Nyawa

1318 Kata
Aku merasa senang dan bersyukur ketika Scarlet datang menyelamatkanku, dan hal yang ada didalam benakku saat itu adalah juga menyelamatkan Emely, namun entah mengapa Scarlet melarangku melakukannya dan harus segera pergi, karena ia berkata bahwa Mark akan kembali beberapa waktu lagi di sana. “Kita bisa menyelamatkannya ketika polisi datang, sekarang hal yang pertama kau harus pergi dari sini dulu, Sophia!” itu lah ucapnya, dan hal itu tentu saja membuatku merasa cemas dan mengikuti semua yang ia katakan, aku berlari mengikuti langkah kakinya yang kala itu keluar dari ruangan gelap itu, dan hal pertama yang aku sadari adalah tempat ini, ini merupakan sebuah gedung yang tak lagi terpakai, yang tentu saja membuatku merasa bahwa pantas saja tidak ada orang yang mendengar teriakanku di sana. “Aku sudah menghubungi pihak polisi, dan aku yakin mereka akan datang sebentar lagi, begitu pun dengan Rico!” pandanganku dengan segera menoleh menatap Scarlet yang berucap seperti itu, yang membuatku merasa sangat berterima kasih kepadanya di sana, “Rico akan datang?!” tanyaku kepadanya yang kini menganggukkan kepala menanggapi hal itu, Tuiiiiiuuutt!! Ketika kami berlari menuju luar gedung apartemen tersebut, kami mendengar suara sirine polisi dan membuatku merasa sangat senang, bahkan Scarlet berlari untuk mendekati mobil polisi yang tengah melaju di sana. BRAAAKK!!! “!!” seketika senyumanku luntur, karena kala itu aku melihat dengan kedua mataku jika mobil polisi itu menabrak tubuh Scarlet yang kini terpental tiga meter dari sana, yang tentu saja hal itu sangat-sangat mengejutkanku. “Scarlet!!” aku berlari dengan cepat ke arahnya dan berusaha untuk membuatnya tersadar saat itu, aku menangis di saat aku melihat tubuh anak perempuan itu tergeletak tepat di hadapanku. Bahkan aku hiraukan suara langkah kaki yang datang mendekati kami berdua pada saat itu. “Hah … sudah aku duga!” Sebuah suara yang sangat aku kenali di sana, membuatku kini tertarik untuk menoleh menatapnya, seorang lelaki yang selalu membantuku dan menolongku kini berjongkok di hadapan kami berdua, yang tentu saja membuatku merasa sangat-sangat terkejut akan kehadirannya di sana, “K … kau?!” ucapku kepadanya, lelaki itu menoleh menatapku dengan tatapan tajamnya dan berkata, “Semua ini karenamu, Sophia!” Tubuhku bergetar dengan hebat, bukan karena merasa menyesal … namun merasa marah dengan lelaki itu, aku baru saja hendak menyerangnya namun dengan sigapnya ia menyerangku dengan penyetrum yang ia miliki di sana hingga aku terjatuh lemas. Dan dari balik tubuhnya, kini aku menatap sebuah mobil box pengantar uang yang datang dan itu di kendarai oleh Mark yang kini terlihat terkejut ketika melihatku berada di sana. “Hh … hhh …” tak ada yang bisa aku lakukan selain terdiam ketika lelaki itu menjambakku dengan kuat hingga aku meringis kesakitan karenanya. ”Kau akan mati di tanganku, Sophia!” itu lah yang ia ucapkan kepadaku, sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke atas kerasnya tanah. “Bawa mereka pergi dari sini, polisi akan datang sebentar lagi, Mark!” ucapnya kepada Mark, yang tentu saja hal itu membuatku menangis merasa bahwa hari ini tidak seberuntung yang aku harapkan, dan lagi aku sangat mengkhawatirkan kondisi Scarlet saat itu. “Lalu bagaimana dengan Scarlet?” tanya Mark, dan aku hanya bisa menjerit di dalam tangisanku ketika Mark mengikatku dan membekap mulutku pada saat itu. “Buang dia di pinggi jalan tol, tak akan ada yang tahu jika kau melewati perbatasan kota Dilate!” jelasnya lagi dan semakin membuatku menangis, aku bergetar dan berusaha untuk meronta kala Mark menggendong tubuhku dan memasukanku ke dalam mobil box itu, dan bahkan ia pun mengangkat tubuh Scarlet yang sudah tak berdaya untuk meletakannya di sampingku saat itu. “Bagaimana dengan yang lainnya?” tanya Mark terdengar oleh pendengaranku, aku berusaha untuk mencari sesuatu hal di sekitar sana ketika mereka tengah berbincang mengenai apa yang akan di lakukan untuk mengambil yang lainnya di sana. Namun aku sama sekali tidak mendapatkan apapun di dalam mobil itu. Kini aku berusaha untuk memutar otakku agar setidaknya bisa menyelamatkan Scarlet saat ini, dan itu lah yang ada di dalam benakku. Tidak lama dari sana, Mark datang untuk kemudian menutup pintu box yang kami naiki pada saat itu, ia bahkan kembali masuk ke dalam kemudinya untuk kemudian menjalankan mobilnya pergi dari tempat itu, dan aku yakini bahwa ia akan membawa kami pergi jauh dari tempat ini. “Mm … hk … MM!!” ucapku berusaha untuk berbicara dengan Mark, namun karena keterbatasanku dalam berbicara, jadi aku berusaha untuk memanggilnya yang tengah menyetir di sana. Tentu saja hal itu leluasa bisa aku lakukan dan aku yakin ia mendengarkanku, karena pemisah dari tempatku dan dirinya hanya jeruji-jeruji besi di sana. Aku kembali memanggilnya, dan terisak ketika merasa bahwa ia sama sekali tidak mendengarku di sana. “Aku tidak pecaya, kenapa kau melakukan itu Sophia? Kau membuat Scarlet bermasalah dengan Nicholas sekarang!” jelasnya kepadaku, dan aku menangis mendengarnya berkata seperti itu, ia menghentikan laju kendaraannya untuk kemudian menoleh menatapku. “Kita akan pergi jauh dari sini, dan kau tidak bisa melakukan apapun lagi … Sophia!” itu lah yang ia katakan dan aku menangis dengan kencang karenanya. Ia kembali melajukan mobilnya dan aku benar-benar mencemaskan kondisi dari Scarlet saat ini.aku terus menatapnya yang kala itu tergelatak di sampingku, namun seketika aku kembali terkejut ketika ia menggerakkan tangannya di sana, yang membuatku kini tersadar jika Scarlet masih sadar pada saat itu. Yang membuatku merasa bahwa ia harus segera mendapatkan pertolongan di sana. “MMMHHH mmhhh mmmm!!” aku terus berteriak di dalam bungkaman itu, yang pada akhirnya Mark merasa terganggu akan suaraku itu dan segera menepikan lagi mobilnya, “Sekarang apa?!” bentaknya kepadaku, namun aku masih bergumam agar ia mau mendengarkanku di sana, yang syukurnya apa yang aku inginkan dia berikan, ia turun dari kemudinya dan kemudian membuka penutup mulutku dari lewat pembatas jeruji yang dapat di buka itu. “AKu mohon … aku akan melakukan apapun, tapi kita harus menyelamatkan Scarlet, izinkan aku menyelamatkannya, Mark!” ucapku kepadanya, yang kini terlihat menghembuskan napasnya tidak memiliki satu pikiran denganku saat itu, namun aku terus berusaha membujuknya dengan menangis dan memohon kepadanya. “Ku mohon! Hidupnya masih panjang …aku mohon kepadamu Mark … aku mohon!” ucapku menangis kepadanya. “Baiklah …” pandanganku kini menoleh menatapnya yang berkata seperti itu, “Aku akan membawanya ke rumah sakit, tapi berjanji lah untuk tidak berbuat macam-macam! Kita hanya akan membawanya dan pergi dari situ setelahnya!” jelas Mark dan aku mengangguk dengan cepat seraya berkata, ”Aku berjanjih … aku akan bungkam!” ucapku kepadanya, aku merasa lega ketika mendengar kebaikan dair Mark pada saat itu, aku menoleh menatap Scarlet dan kami pun pergi ke rumah sakit sesuai dengan apa yang ia ucapkan. Tak ada celah bagiku untuk kabur, karena Mark mengancamku sebelumnya. Aku memang sudah terlepas dari ikatan dan bekapan itu, dan bahkan membantu Mark untuk membawa Scarlet masuk ke dalam rumah sakit untuk di tangani di sana. Dan seingatku, aku kini berada di kora Koaka, Mark benar-benar membawaku keluar dari kota Iremia, dan itu sangat-sangat membuatku merasa bahwa aku harus pergi darinya, namun aku tidak memilki keberanian karena tidak hanya dirinya yang terlibat saat itu, melainkan Sir Nicholas, ayah dari Scarlet yang baru saja menabrak anaknya sendiri karena telah menyelamatkanku, seseorang yang tidak aku duga sama sekali, ternyata berkaitan dengan pembunuhan dan penyekapan ini. Karena aku tidak bisa menghubungi siapapun pada saat itu, aku pun hanya menitipkan nomor milik Rico untuk meminta sang suster menghubunginya dengan catatan tambahan bahwa ia tidak boleh menghubungi ayah Scarlet, tidak lupa dengan tanda tanganku jika-jika Rico bertanya siapa yang memberikannya. Dan aku mencatat itu ketika Mark tengah lengah, meski pun seperti itu tentu saja rasa takut akan selalu menghantuiku karenanya. Aku kembali masuk ke dalam mobil box uang itu bersamaan dengannya, yang kemudian ia memborgolku ke jeruji itu, meski ya … kali ini aku terduduk di samping kemudi dan ia bahkan dengan sengaja menyuruhku untuk tidur seraya memakai penutup mata di sana, agar supaya aku tidak tahu ke mana tujuan kami selanjutnya di sana. …. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN