Di sini lah aku … berada kembal di sebuah ruang yang cukup gelap dengan kedua tangan dan kaki yang kembali terikat dengan rantai, namun bedanya kali ini aku tidak sendirian. Di dalam ruangan yang gelap itu aku dapati dua orang lainnya yang sama persis bersimpuh dengan posisi yang sama seperti diriku, dan bahkan salah satunya aku meyakini jika itu adalah Emely, wanita yang sebelumnya berkomunikasi denganku, dan satu orang lainnya adalah seorang lelaki yang tidak aku ketahui.
“Ketahui lah … tempat ini lebih terpencil dan sepi, jadi berteriak bagi kalian pun percuma! Aku meletakkan kalian di sini untuk sementara, atas saran dari Nicholas! Dan setelahnya, aku akan meminta sarannya untuk eksekusi satu diantara kalian bertiga!” penjelasan Mark pada saat itu, sontak saja membuat bulu kudukku merinding, aku yang bahkan kala itu tidak tertutupi perekat di sekitar mulutku sama seperti kedua yang lainnya pun tidak dapat berkata apa-apa setelah mendengarnya berucap seperti itu.
Aku hanya terdiam menatap dirinya yang kini mengeluarkan handphone untuk menghubungi Nicholas, dan ia melaporkan jika ia sudah membuang tubuh milik Scarlet di hutan yang berada di sekitar Kota Dilate, kota yang tidak pernah di anggap. Dan membuang mayat di sekitar sana adalah hal yang menguntungkan, karena pihak polisi tidak akan pernah mau mendeteksi peristiwa kematian seseorang di kota tersebut, terkecuali orang-orang yang penting yang mati di sana. Mendengar pelaporan itu, membuat setidaknya hatiku merasa lega. Lelaki itu menyetujui ucapanku untuk menyelamatkan Scarlet dan membawanya ke rumah sakit Kota Koaka.
“Ya … aku sudah melemparnya ke tengah hutan Dilate!” jelas Mark kepada Nicholas, dan aku yang mendengarnya kini merasa kesal sekaligus tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Nicholas pada saat itu. Scarlet adalah anaknya, namun kenapa dia dengan tega menabraknya dan membuangnya? Apakah hanya karena ia menyelamatkanku di sana? Itu semua tidak masuk di akal, ia sangat kejam jika hanya karena hal itu! Itu lah yang ada di dalam pikiranku mengenai kenapa Sir Nicholas melakukan tindak kriminal sedangkan dia adalah seorang yang berprofesi sebagai seseorang yang memberantas tindakan tersebut.
“Ya … baik lah, aku akan ke sana!”pandangan dan kesadaranku kini teralihkan kepada Mark yang baru saja berkata demikian, yang kini ia segera memutuskan sambungan telfon itu untuk kemudian pergi dari sana tanpa berbicara apapun kepada kami. Ia pergi dari ruangan itu sebelum akhirnya mengunci pintu besi tersebut, dan setelah aku mendengar suara mobil darinya menyala, aku pun meyakini jika Mark sudah benar-benar pergi.
Pandanganku kala itu langsung tertuju ke arah Emely yang kini dirinya pun menoleh menatapku dengan tatapan yang sangat-sangat berharap saat ini, dan aku secara otomatis tahu jika dari tatapannya saat ini, ia mengharapkan jika aku adalah seseorang yang pernah berbincang dengannya di sana, yang kemudian aku mengangguk menjawab hal itu seraya berkata,
“Ya … Emely, ini aku … Sophia!” ucapku kepadanya yang kini terlihat menghembuskan napasnya dengan lega setelah mendengar aku berkata seperti itu kepadanya.
Cring!! Cring!!
Aku mendengarkan dengan seksama dirinya yang ada di hadapanku yang kala itu mengenakan kode morse, karena mulutnya tertutupi oleh perekat.
Dia adalah Danny, temanku juga!
Mendengarnya memberikan kode itu, tentu saja membuatku terkejut,
“Dia temanmu?? apakah Danny juga adalah teman Mark?” tanyaku kepadanya, yang dengan cepat Emely menganggukkan kepala, pandanganku kini menoleh menatap Danny, tubuhnya dalam kondisi lebih parah di bandingkan denganku dan juga Emely.
“Kita harus segera keluar dari sini apapun caranya!” ucapku bergumam kepada Emely, yang kini ia kembali memberikan kode kepadaku untuk bertanya,
How?
Itu lah yang ia tanyakan kepadaku, yang kini membuatku terdiam dalam beribu pikiranku, mengenai bagaimana cara kami untuk segera keluar dari neraka ini. Mengingat Mark berkata bahwa ia akan meminta saran dari Nicholas untuk mengeksekusi salah satu dari kami saat itu.
Dan secara anehnya, sebuah ide gila pun muncul di dalam benakku saat itu. Dan hal itu adalah membuat dirinya terbuka denganku, sama seperti ketika hari ulang tahunnya di hari kemarin. Ya … kemarin aku merasakan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, ia berbubah drastis, dan membuatku yakin jika sebenarnya Mark membutuhkan seseorang di sisinya, seseorang yang mau mendengarkan segala hal yang ia rasakan, ia ingin membagi rasanya, namun sayangnya ia membagi rasa dengan tindakan yang salah. Dan itu lah tujuanku saat ini. Membuatnya percaya kepadaku dan membuatku bisa leluasa bersamanya untuk menyelamatkan kedua orang ini dan terutama diriku. Yang kini pada akhirnya membuatku terlarut ke dalam pikiranku mengenai apa saja yang harus aku lakukan agar setidaknya Mark terbuka kepadaku secara perlahan.
…
Waktu bergulir dengan cukup lama, tak ada upaya bagiku untuk meloloskan diri seperti halnya Danny yang beberapa menit lalu baru tersadar dari pingsannya dan meronta berusaha untuk melepaskan ikatan itu meski ia terluka cukup parah di lengan, kaki dan bahkan tubuhnya yang setengah terlanjang.
“Nggh!! Ggrrrrhhh!!!” itu lah upaya jeritan yang di lontarkan oleh Danny, sedangkan Emely kini tidak bisa melakukan apapun dan terlihat lemas di sana, hingga akhirnya di dalam benakku kini berpikir, apakah keduanya tidak diberi makanan seperti halnya diriku?
“Hei … Emely …” panggilku dengan pelan kepadanya, yang kini menoleh dengan mata sayunya di sana,
“Apakah Mark memberikan air atau makan kepada kalian?” tanyaku kepadanya, yang kini terkekeh mendengar hal itu, sedangkan Danny masih berteriak-teriak sebisanya di sana, meski aku sudah berkata dan mengingatkan jika tempat ini adalah tempat yang terpencil, setidaknya itu lah yang Mark katakan.
Cring … Cring!
Aku mendengarkan kode yang diberikan oleh Emely pada saat itu,
Makan? Kh … dia tidak memberikan makan kepadaku, ia memberikan sampah dan urinnya untuk aku makan dan itu sangat buruk!
Aku kembali membelalakan kedua mataku mendengarnya, Urin?! ia tidak pernah memberikan urin kepadaku, selain seburuk-buruknya buah-buah yang telah terlewat matang hingga terasa busuk di sana. dan hal itu adalah hal yang tidak aku mengerti, yang menimbulkan sebuah pertanyaan kepadaku di sana.
“Ke…-
Ucapanku seketika terhenti ketika mendengar suara pintu terbuka dan ternyata itu adalah Mark yang datang membawa satu kresek hitam yang aku sendiri pun tidak tahu apa isi dari kantung tersebut.
“MMRRRHHH!!! RRGGG!!!”
Pandanganku kini menoleh dengan singkat ke arah Danny yang menggeram keras seolah mengamuk kepada Mark, yang kala itu membuat Mark yang tengah terduduk di sofa pojok ruangan samping kananku pun menoleh ke arah pojok kiri di mana Danny berada.
“Kh … kau masih tidak terima, huh?” pandanganku kini menatap ke arah Mark yang baru saja beranjak dari sofa tersebut untuk kemudian berjalan perlahan menuju Danny seraya meraih satu stick kasti yang tergeletak di meja pemisah antara Emely dan juga Danny di sana. Yang tentu saja aku akan tahu apa yang terjadi selanjutnya ketika ia membawa tongkat tersebut.
Mark saat itu mengayunkan tongkatnya dan hendak menyerang Danny, yang tentu saja aku langsung berteriak dengan histeris, berusaha untuk menghentikan Mark di sana.
“Stop Mark!” jeritku kepadanya,
BUKKK!!!
“!!” aku hanya bisa memejamkan mataku ketika ia memukulnya di sana, merasa bahwa teriakanku sia-sia saja.
Bugh!
Ught!!
Suara itu terus terdengar oleh indra pendengaranku, yang tentu saja aku merasa tidak kuat dan merasa ketakutan pada saat itu, hingga aku menangis karenanya dan memohon kepada Mark untuk menghentikan aksinya memukuli Danny dengan tongkat tersebut.
“Hik … hk … ku mohon …hentikan Mark, ku mohon …” itu lah isakanku di sana,
“Kh … ada apa, Sophia?? kau merasa kasihan kepadanya? Huh?!” aku mendengar Mark berteriak di sana, dan kembali aku mendengar ia memukulnya.
“Dia tidak pantas di kasihani!!” sambung mark lagi,
BUGHTT!!!
Aku menggelengkan kepala dengan cepat untuk kemudian berkata,
“Aku tidak ingin kau seperti ini Mark!! jangan menjadi monster … aku mohon!” ucapku kepadanya, yang kini suara pukulan itu pun tiba-tiba saja berakhir dan kini aku mendengar suara tongkat tersebut yang beradu dengan lantai, yang membuatku segera menoleh menatap Mark yang ternyata melempar tongkat itu tepat ke hadapanku. Aku menoleh menatapnya yang ternyata tengah menatapku saat ini.
“ Apa?? katakan padaku, apa yang kau ucapkan tadi!” aku yang tengah terisak pun berusaha untuk mestabilkan diriku dan kembali menjelaskan apa yang aku katakan untuknya di sana,
“Tolong jangan seperti ini Mark … aku tidak ingin kau menjadi monster!” ucapku kepadanya yang kini terkekeh mendengar hal itu yang kemudian menyeringai seraya berkata,
“Aku sudah menjadi apa yang tidak kau inginkan, Sophia!” ucapnya kepadaku, dna aku dengan cepat menggelengkan kepala seraya berkata,
“T… tidak … aku yakin … kau tidak sepenuhnya seperti itu! Aku percaya itu … kau masih bisa berubah, ku mohon … hentikan ini!” ucapku kepadanya, dan itu berhadil membungkam dirinya yang terus menatapku dengan ribuan tanda tanya di sana,
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan huh?” tanya Mark kepadaku, dan aku secara otomatis menggelengkan kepala dan berkata,
“Aku mengagumimu sejak awal kita bertemu, dan aku tidak merencanakan apapun… aku tidak ingin seseorang yang aku sukai terlihat mengerikan seperti ini … aku tidak bisa melihatnya seperti ini, Mark! Ku mohon … setidaknya pisahkan aku dengan mereka, jika kau ingin menyiksa mereka dan tutup lah kedua mataku jika kau ingin menyiksaku sepuasmu!” ucapku meminta kepadanya, yang terlihat terdiam mendengarkan ucapan yang aku lontarkan di sana.
Ia kembali terkekeh setelah memikirkan hal itu, dan kemudian berjalan mendekatiku, yang kini berjengit ketakutan.
“Kau baru saja mengatakan bahwa kau menyukaiku?? tidakkah itu adalah sesuatu yang aneh? Setelah aku menyiksamu selama satu minggu ini, Sophia?” aku menggelengkan kepala ketika mendengarnya bertanya, dan aku dengan memberanikan diri berkata,
“AKu tetap menyukaimu … tapi tidak dengan sisi ini, Mark! Untuk apa aku memberimu ciuman ketika kau menyiksa dan akan membunuhku? Aku menyukaimu!” ucapku seraya menatapnya dengan penuh kesungguhan, berusaha agar setidaknya Mark percaya pada perkataanku saat itu.
....