Sesuatu yang Disembunyikan

1709 Kata
“...” Alih-alih melakukan sesuatu di sana, Mark hanya terdiam menatap kedua mataku dengan cukup lama, hingga akhirnya ia menghembuskan napasnya di sana dan beranjak dan hendak pergi dari ruangan kami, namun aku teringat dengan kondisi dari emely, yang membuatku segera memanggil Mark kembali. “Mark!” panggilku kepadanya yang kini menghentikan langkah untuk menoleh kepadaku, “B … bolehkan k.. kau memberi air putih untuk wanita itu? Dia terlihat sangat kehausan, aku tidak tega melihatnya … Mark, aku mohon!” ucapku, dan hal itu membuat Mark kembali menghembuskan napasnya mendengar permintaanku di sana. “AKu tidak ingin memberikannya dengan kedua tanganku ini!” ucapnya kepadaku, dan hal itu membuatku dengan cepat berkata, “Kalau begitu biarkan aku yang melakukannya! Aku tidak akan kabur, aku janji!” ucapku kepadanya, dan hal itu membuatnya terdiam untuk menatapku di sana, seolah tengah membaca apa yang akan aku lakukan, namun aku berusah untuk tetang dan berusaha untuk meyakinkan dirinya lagi. Crang!! Aku tertegun ketika ia melepaskan satu ikatan rantai yang mengikatku di sana, dan melonggarkan satu rantai lainnya agar aku tetap terikat dan tidak bisa kabur dari sana. “Berikan lah!” ucapnya seraya memberikan satu kantung plastik hitam itu, yang ternyata isinya merupakan air mineral serta roti, dan hal itu membuatku mengangguk dengan cepat menanggapinya. Aku dengan terburu-buru berusaha untuk membuka botol minum itu, namun aku tidak lagi memiliki kekuatan bahkan hanya untuk melakukannya di sana, dan Mark persis tahu akan hal itu, yang segera saja merampas botolnya untuk kemudian ia bukakan tutupnya. “Berikan dia sebanyak yang kau mau! Dan jangan mencoba untuk menipuku!” ucapnya memberikan botol itu kepadaku, yang membuatku mengangguk menanggapinya dna segera merangkak perlahan untuk menghampiri Emely, aku dengan sengaja tidak memanggil nama Emely di sana, karena hal itu akan membuat Mark curiga. “H .. hei … m.. minum lah!” ucapku kepadanya, aku dengan perlahan melepas perekat yang menutup mulutnya di sana, dan bibir itu terlihat kering dan bahkan berdarah karena menempel dengan perekat tersebut, yang tentu saja hal itu membuatku merasa sangat tidak tega dengan Emely. Aku menempelkan air minum itu kepadanya yang kini dengan segera menegak air itu dengan cepat, seolah kehausan. Aku bahkan bisa mencium bau dari tubuhnya, yang membuatku yakin jika apa yang diucapkan olehnya adalah benar. Aku kembali menangis melihat hal itu, dan aku adalah orang bodoh yang menangisi seseorang yang tengah terluka karena di siksa sedangkan diriku pun sama nasibnya dengan wanita itu. “Kau menangis?! kini apa yang kau tangisi, Huh?” aku mendengar Mark bertanya, dan membuatku kini menoleh menatapnya untuk kemudian menundukkan kepala dan menggelengkan kepalaku untuk menjawabnya, aku dengan perlahan melangkah mundur untuk kemudian memberikan kembali botol minum itu kepada Mark dan mengulurkan tangan kananku yang terlepas dari rantai itu, mengidzinkan dirinya untuk kembali mengikatku di sana, karena ini sudah menjadi bentuk dari kesepakatan tadi. Srak!! “!!” aku menoleh menatapnya yang kini beranjak dari hadapanku, membawa rantai itu dan juga keresek yang sempat ia berikan kepadaku. Aku kini kebingungan karena dia tidak mengikat tangan kananku di sana. “M … Mark … ra… rantainya?” tanyaku kepadanya, yang kini terkekeh mendengar hal itu untuk kemudian berkata, “Aku lelah mengikatnya, jadi kubiarkan itu! Aku memberikan sedikit kebebasan untukmu, Sophia! Hanya untuk hari ini!” ucapnya kepadaku, yang tentu saja hal itu membuatku sangat senang, hingga aku tersenyum mendengarnya, dan di dalam hatiku kini bersorak dan merasa bahwa ini merupakan celah untukku membebaskan kami semua. Mark pergi dari ruangan itu, yang tentu saja aku tersenyum sangat senang, namun detik kemudian ujung mataku kini merasa ada sebuah cahaya yang berkedip tidak terlalu terang di sana, yang membuatku kini berusaha untuk tenang dan menoleh secara natural ke arah cahaya itu, dan aku cukup terkejut karena ternyata ada kamera pengawas di sana, yang kini membuatku merasa bahwa bertindak gegabah adalah hal yang buruk dan itu tidak akan menjadi baik nantinya. Karena hal itu lah … aku kini merasa bahwa Mark ternyata mengawasi tingkah laku kami di sana. Aku menghembuskan napasku dan merasa bahwa satu langkah ini saja sudah cukup, selanjutnya aku hanya perlu melangkah dengan tenang agar Mark tidak curiga kepadaku. “Hei … Kau baik-baik saja?” tanyaku kepada Emely, yang kini ia menolehku dan kemudian berkata, “Terima kasih!” ucapnya kepadaku yang kini membuatku menganggukkan kepala dan kemudian menoleh menatap Danny yang terlihat sangat Shock pada saat itu. “Apa kau baik-baik saja?” tanyaku kepada Danny, namun ia sama sekali tidak berkata satu patah kata pun, “Hei … b .. bisakah kau membukakan penutup mulutnya, aku rasa ia juga be,lum minum!” ucap Emely kepadaku, yang kini membuatku menganggukkan kepala untuk kemudian merangkak dan meraih dengan susah payah, botol minum yang tergeletak di bawah sofa sana yang baru saja di simpan oleh Mark dan terjatuh karena ia menyimpannya dengan tidak benar. “Ught!” Aku berusaha sebisa mungkin untuk meraihnya, dan ketika aku berhasil meraihnya aku sangat senang dan bahkan menoleh menatap Emely yang terlihat senang melihatnya. Aku merangkak dengan perlahan menuju Danny, dan aku sesekali menghembuskan napasku ketika merasa bahwa aku kelelahan di sana. Aku merasa jika tubuhku terasa sangat panas saat ini, namun aku berusaha untuk menyadarkan diriku dan menghampiri Danny yang kini menoleh menatapku. “Hei … maaf, aku hanya bisa memberikan air untukmu!” ucapku, aku membuka dengan perlahan perekat yang menutupi mulutnya itu dan memberikan air tersebut sama seperti Emely, dan setelah ai menegak habis air mineral itu, entah mengapa aku merasa kepalaku sangat-sangat sakit, hingga akhirnya aku merasa bahwa aku tidak dapat mempertahankan kesadaranku di sana, “Sophia!!” itu lah hal terakhir yang aku dengan sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri. … Clak … Srrtt!! Aku mengerutkan dahiku ketika merasakan sesuatu hal yang dingin yang menyentuh dahiku pada saat itu, dan aku memaksakan diriku untuk bisa membuka kedua mataku pada saat itu. Dan kini aku mendapati Mark tengah terduduk di sampingku yang terbaring di atas sofa. Aku melihat dirinya lah yang memberikan handuk dingin itu untukku, yang kini merasa kehausan di sana. ”Ught … haus!” ucapku perlahan, dan tak aku sangka, Mark langsung memberikan segelas air putih kepadaku di sana. “Minumlah!’ ucapnya, dan aku pun dengan perlahan meminum air mineral itu darinya. “Hh … apa yang kau lakukan??” tanyaku ketika aku merasa bahwa tidak ada satu hal pun yang memberatkan diriku pada saat itu, hingga aku akhirnya sadar jika rantai-rantai yang biasanya mengikatku di sana, kini terlepas seluruhnya. Pandanganku kini menoleh menatap Mark yang kembali mengompresku dengan air dingin di sana dan berkata, “Kau ku temukan tergeletak pingsan, dan tubuhmu panas!” ucapnya kepadaku, dan hal itu membuatku menggelengkan kepala dan berkata, “B … bukan … kenapa kau lepaskan pengikatnya?” tanyaku kepadanya yang kini terkekeh di hadapanku untuk kemudian berkata, “Bukankah kau suka jika aku melepaskannya?” tanya Mark kepadaku, dan aku menggelengkan kepala untuk kemudian berkata, “Aku hanya tidak mau kau mencurigaiku … aku tidak akan kabur! Jadi lebih baik diikat dari pada kau mencurigaiku, Mark!” ucapku kepadanya yang kini terkekeh di sana untuk kemudian berucap, “Sebegitunya kah kau menyukaiku, Sophia?” tanyanya, dan aku mengangguk menjawab hal itu, pandanganku kini menoleh menatap ke arah Emely dan juga Danny yang tergeletak di sana seolah mereka tidak bernyawa, yang tentu saja membuatku terkejut melihat kondisi mereka yang seperti itu, “M .. Mark, apa yang kau lakukan kepada mereka?!” tanyaku dengan panik, dan hal itu membuatnya terkekeh untuk kemudian berkata, “Mereka tidur! Kau pikir saat ini sudah jam berapa, huh?” tanyanya, dan pandanganku kini menoleh ke arah sekitar berusaha untuk mencari jam yang ternyata Mark segera memperlihatkan jam tangan miliknya di sana, yang kini menunjukkan pukul satu malam. “...” aku terdiam melihatnya, dan kemudian menganggukkan kepala menanggapi hal itu. Dan kini aku menjadi merasa akward dengan Mark, karena saat ini dirinya menatapku dengan tatapan yang cukup membuatku tidak nyaman di sana. “Hei, Sophia!” panggilnya kepadaku, dan kini aku segera menoleh untuk kemudian menatap kedua matanya di sana, “Y…Ya?” tanyaku kepadanya yang kini menghembuskan napasnya, hingga napas hangatnya itu menerpa permukaan wajahku, namun itu terasa dingin karena kini aku tengah demam. “Jika aku membebaskan dirimu … apakah kau akan tetap menyukaiku? Ataukah kau akan menjauhiku?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Mark pada saat itu, membuatku terkejut sekaligus kebingungan di sana. Apakah dia akan segera melepaskanku? Itu lah yang ada di dalam pikiranku saat ini, namun ketika aku merasa bahwa ada hal yang aneh dari tatapannya saat ini, menjawab kata Ya … mungkin akan menjadi sesuatu hal yang buruk terjadi, dan begitu pun dengan sebaliknya, yang pada akhirnya aku tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan menarik tengkuknya untuk kemudian aku kecup dia dengan lembut, berusaha agar membuatnya mengerti jika aku mencintainya, meski pada kenyataannya aku melakukan itu hanya berusaha agar ia percaya dan dekat denganku. Aku mengecupnya dengan cukup lama, dan aku cukup terkejut ketika aku mendengar suara jatuhnya satu benda yang terdengar nyaring di atas lantai dekat kami dan ia yang kini membalas kecupanku dan membuatnya menjadi lebih serius lagi. Ok … katakan saja aku sangat ketakutan pada saat itu, karena aku berciuman dengan seorang psikopat pada saat ini, namun aku tidak bisa melakukan apapun selain mengikutinya agar setidaknya ia percaya jika aku mencintainya dan menyukainya. Ujung mata kiriku kini berusaha untuk menoleh ke arah bawah, merasa penasaran dengan benda yang terjatuh di sana, yang ternyata hal itu membuatku terkejut ketika ternyata benda tersebut adalah pisau, dan kini aku tercekat di dalam ciumannya, nyaris saja ia membunuhku di sana. Dan kini membuatku berpikir apa jadinya jika aku menjawab pertanyaannya tadi dengan gegabah? Mungkin ia sudah akan menusuk dan membunuhku malam itu juga. Aku tidak akan pernah menyangka jika malam itu, adalah malam yang cukup serius yang aku hadapi, Mark nyaris membunuhku di sana, beruntungnya ia mengurungkan niatnya dan menciumku dengan penuh nafsu, seolah ia ingin melakukan itu kepada seorang wanita, namun entah mengapa ia segera menghentikannya dan langsung kambali mengikatku di sana dan mengatakan bahwa aku tidak perlu mengingat hal tersebut, dan Mark pun pergi begitu saja yang membuatku merasa bahwa ada sesuatu hal yang ia sembunyikan dariku, dan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun setidaknya, aku merasa Mark akan dekat denganku cepat atau lambat, dan itu adalah langkah yang bagus. … 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN