Scarlet Story

1498 Kata
2 weeks ago Scarlet point of view.  Malam itu, aku tengah berbaring di kamarku. Seperti biasa aku tidak bisa tertidur dan mengalami insomnia. Bukan karena stress atau semacamnya, itu karena memang aku memiliki penyakit bawaan seperti itu, namun Ayahku tidak mengetahuinya sama sekali dan aku sendiri pun tidak memiliki niat untuk memberitahukan hal ini kepada ayahku. Dan malam itu menunjukkan pukul dua belas tepat, dan aku masih belum kunjung bisa memejamkan mataku yang membuatku kala itu memilih untuk mendengarkan lagu yang aku sukai lewat handphone dan headsetku itu. Entah mengapa, malam itu aku merasa sangat-sangat haus, hingga aku merasa sakit di sekitar tenggorokanku pada saat itu dan ya … aku merasa jika aku harus segera membasuhnya agar setidaknya itu membuatku menjadi nyaman. Aku membalikkan badanku untuk meraih gelas air minumku yang tergeletak di atas meja, namun aku teringat di saat itu jika aku tidak menyiapkannya seperti biasa, yang tentu saja hal seperti itu membuatku merasa sangat-sangat jengkel. “Ck! Hah … apa boleh buat!” itu lah yang aku gumamkan sebelum dengan malasnya aku melepas headset yang menempel di kedua telingaku saat itu, untuk kemudian beranjak pergi ke dapur demi mendapatkan segelas air segar yang aku inginkan di sana. Langkah kakiku saat itu berjalan dengan perlahan dan malas menuju dapur, namun sebuah suara yang cukup ribut dari luar sana, membuatku kini menoleh menatap ke arah pintu dengan cepat, dan bahkan dengan sekilas aku mendengar sebuah suara teriakan perempuan yang aku kenali, ya … tetanggaku itu. Dahiku mengerut ketika mendengar suara tersebut, dan aku berusaha untuk kembali menajamkan pendengaranku untuk mendengarnya karena aku takut-takut salah, dan ternyata suara itu tidak kembali terdengar, hingga aku merasa bahwa dugaanku benar, itu hanya suara lain yang salah ku tangkap. Karena merasa jika keadaan baik-baik saja, aku pun mengambil air minum dari dalam kulkas dengan santai dan kembali ke dalam kamarku seraya membawa botol air tersebut. … Waktu bergulir dengan cepat, aku yang sudah terbangun di sana pun kini meraih ponsel yang tergeletak di samping kasurku, dan mendapati jika waktu kini menunjukkan pukul delapan, dan aku sudah memiliki delapan notifikasi di sana. Dan aku sadar jika itu adalah keempat temanku yang pastinya mengingatkanku jika rencana kami untuk menonton pun pasti akan di laksanakan, dan pasti akan terjadi. Hingga akhirnya aku membaca satu persatu notifikasi di sana dan membuatku tahu jika mereka saling mengirim lokasi mereka saat ini. Pandanganku kini menatap satu chat yang mereka berikan yang saat itu bertanya, ‘Hei, mana Scarlet apakah dia tidak akan ikut?’ dan pertanyaan macam itu lah yang tidak aku sukai, hingga dengan cepat membalasnya dengan mengirimkan pesan berupa, “Tentu aku akan ikut! Aku masih berada di rumahku, tapi aku yakin aku akan datang lebih cepat dari kalian semua!” itu lah yang aku kirimkan kepada mereka, untuk kemudian segera saja aku beranjak dari kasur untuk bersiap-siap pergi dan mendahului mereka seperti apa yang aku katakan kepada mereka. Hari itu adalah hari libur, dan aku dengan sengaja mengenakan baju cassual, dengan celana bergo panjangku yang berwarna hitam, baju panjang crop top, tas kecil serta topi berwarna pink yang senada dengan baju crop top ku di sana. Aku sengaja berdandan seperti itu karena aku akan bermain dengan teman-temanku dan aku tahu jika style itu adalah yang paling tepat di hari itu, mengingat cuaca akan sangat cerah. Setelah merasa puas dengan outfitku itu, aku pun menoleh menatap ke arah jam yang kini sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan aku memiliki waktu setengah jam untuk datang lebih awal dari keempat temanku itu. Aku berjalan keluar dari kamarku dan mendapati jika ayahku tidak ada di sana, dan aku tahu jika ia pasti sudah pergi lebih awal karena tugasnya yang menurutku cukup berat di sana. Karena tidak ada siapapun aku pun tidak perlu berbasa-basi dan melenggang pergi dari apartemenku itu. Aku berjalan menuju pintu lift yang terletak di ujung sana, namun alih-alih hanya pintu lift yang aku dapati di sana, kini banyak sekali orang berada di apartemenku, atau lebih tepatnya mereka adalah orang-orang berjas hitam serta medis yang tengah melakukan sesuatu hal di apartemen nomor tiga lima sembilan, yang tentu saja hal itu kembali membuatku penasaran karenanya. Aku bergerak ke sana dan ke mari agar aku dapat melihat dengan jelas mengenai apa yang sebenarnya tengah mereka lakukan di sana, dan aku terkejut bukan main ketika melihat tubuh dari Mr.Andrew kini tengah diangkut menggunakan ranjang dan tubuhnya kala itu sangat-sangat lemas, seolah dia sekarat, dan darah membasahi seluruh tubuhnya di sana. “Ada apa ini?” tanyaku dengan terkejut, yang kini membuat lelaki berjas hitam yang berada tepat di hadapanku saat itu menoleh menatapku dan kemudian berkata, “Kami mendapatkan sinyal penyerangan dari Andrew … eum, apakah anda sudah lama berada di sini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki itu, membuatku mengangguk menanggapinya, “Eum, maafkan aku … apakah kalian melihat seorang wanita di dalam sana?!” pandanganku kini beralih menatap Rico, ya … adik dari tetangga sebelahku kini berada tepat di samping kami dengan raut wajah yang panik pada saat itu, “Adakah seseorang yang menghilang?” tanya lelaki itu, dan Rico segera saja menganggukkan kepalanya untuk kemudian berkata, ”Ya! Kakakku … dia sulit aku hubungi sejak malam tadi, dan aku tidak menemukan dirinya di apartemennya! Dia tidak membawa barang-barang berharga mau pun uang sepeser pun! Dan itu membuatku khawatir!” itu lah yang di ucapkan oleh Rico, yang akhirnya membuatku teringat dengan suara teriakan itu,  “Hh …” aku mulai merasa tidak enak dan aku merasa harus ikut membantunya mencari Sophia. “Kami akan menindak lanjutkan hal ini, karena kemungkinan ada kaitannya dengan penyerangan dari Mr.Andrew! Eum .. apakah kakak anda dekat dengan Mr.Andrew?” tanya lelaki itu kepada Rico yang kini menganggukkan kepala menanggapinya, “Ya … setahuku mereka berteman!” itu lah yang di katakan oleh Rico, yang membuat lelaki itu mengangguk untuk kemudian mencatat hal yang ia dapatkan dari Rico, “Berikan saya nama, photo dan kali terakhir anda melihatnya!” jelas lelaki tersebut kepada Rico yang kini membuat Rico pun menjawab, “Sophia, ini photonya dan … aku belum pernah lagi menemuinya, namun aku selalu berhubungan dengannya!” ucap Rico kepada lelaki itu yang kini menoleh menatap Rico dengan serius, dan aku dengan segera menjawabnya dengan berkata, “Ah! Aku bertemu dengannya dua hari yang lalu, ia pergi ke kantor mengenakan outfit semi formal!” jelasku kepadanya yang kini menolehku dan mengangguk untuk kemudian mencatat apa yang aku katakan kepadanya. “Kau bertemu dengannya dua hari yang lalu?!” pandanganku kini menoleh menatap Rico, untuk kemudian aku menganggukkan kepala menjawab hal itu, “Ya … aku bertemu dengannya lusa pagi, sebelum aku berangkat sekolah!” jelasku kepadanya, dan hal itu membuat Rico terlihat semakin khawatir di sana, dan aku menjadi merasa tidak enak karena mengatakan apa yang aku saksikan di sana. “Baiklah … selanjutnya kami akan berusaha membantu mencari keberadaan dari Sophia, untuk saat ini anda bisa menunggu di rumah hingga kami menghubungi anda1” itu lah yang di ucapkan oleh lelaki itu sebelum pergi meninggalkan aku bersama dengan Rico di lorong apartemen itu. “Eum … Rico, sebenarnya apa yang terjadi?? apakah kau mengetahui sesuatu?? karena aku rasa … Mr.Andrew tidak pernah bermasalah dengan siapa pun selama berada di apartemen ini!” jelasku kepadanya yang kini membuat Rico terlihat sangat kebingungan dan terlihat sangat khawatir, yang membuatku menjadi tidak tega jika harus meninggalkannya seorang diri di sana, yang karenanya aku merasa jika mungkin akan ada baiknya jika aku menemaninya hingga aku pun memutuskan untuk mengingkari ucapanku kepada teman-temanku tentang rencana di hari itu. … “Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun pagi tadi Lisa temannya memberitahukan kepadaku jika Sophia akan pergi ke ruang tiga lima sembilan!” ucapan Rico pada saat itu, membuatku mengerutkan dahi mendengarnya berkata seperti itu, “a… apa?? apa hubungannya hal itu dengan Lisa??” tanyaku kepada Rico yang kini menoleh menatapku untuk kemudian terduduk di sofa apartemen kak Sophia, setelah sebelumnya ia mengajakku untuk masuk dan berbincang di sana. “HH … dia mengatakan jika lelaki yang menerornya adalah seseornag yang berasal dari sana! Dia sangat ketakutan dan bahkan tidak ingin mengucapkan namanya meksi pun ia tahu siapa orangnya, Scarlet!” jelas Rico kepadaku, yang tentu saja hal itu merupakan hal yang sangat-sangat utama, Lisa tahu orangnya, namun ia ketakutan dan itu pasti lah orang yang sangat menyeramkan baginya. “Apakah kau sudah melaporkannya kepada polisi?” tanyaku kepadanya yang kini berucap, “Ya! Aku melaporkannya kepada I.F Corp!” ucapan Rico pada saat itu mengejutkan diriku, karena pasalnya perusahaan itu adalah perusahaan keamanan yang berbasis internasional dan pasti lah sangat mahal dan bahkan polisi pun kalah dengan mereka. “J … jadi kau yang membawa mereka?” tanyaku kepadanya yang kini menganggukkan kepala untuk kemudian berkata, “Aku melapor dan bersamaan dengan itu, mereka mendapatkan sinyal dari Andrew yang ternyata lelaki itu adalah pengacara dari I.F Corp!” jelas Rico kepadaku yang kini membuatku akhirnya tahu jika Mr.Andrew bukanlah pengacara yang main-main di sana, pantas saja ia memiliki kesibukan dan karisma tersendiri. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN