Kegelapan yang aku rasakan itu perlahan menjadi terang dan kian terang, hingga pada akhirnya aku terbangun dan merasakan jika tubuhku kini tengah terbaring di sesuatu yang lebih empuk, di bandingkan lantai dan juga dinding yang biasanya aku sadari ketika merasa lelah terduduk, dan bahkan tidak lagi tidur dengan posisi tubuh yang condong ke depan karena ikatan dari kedua rantai yang mengikat kedua lenganku di sana.
Pandanganku kini menoleh ke arah kanan dan kiri untuk mendapati jika aku tidak berada di ruangan yang biasanya aku singgahi, ya … ruangan itu berbeda dari yang sebelumnya. Tidak gelap, dan lembab. Namun terang karena adanya lampu dan hangat karena aku kala itu terbaring di atas kasur yang cukup empuk.
Tidak terkejut sampai di sana, aku kembali dikejutkan ketika menyadari jika kedua tanganku yang aku sadari terluka saat itu kini telah di perban dengan rapih, seolah seseorang baru saja menyelamatkanku dari Mark yang berusaha untuk membunuhku beberapa waktu sebelumnya, yang tentu hal itu membuatku kini menghembuskan napas merasa lega akan hal itu.
Cklek!
Pandanganku kini tertuju ke arah pintu yang terbuka di sana, dan aku terkesiap ketika menyadari bahwa yang datang ke dalam ruangan itu adalah Mark! Ya … dia yang datang dengan membawa semangkuk bubur serta air putih yang ia bawa di atas nampan yang tentu saja membuatku kini merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat di saat itu.
“Kau sudah tersadar?” pertanyaannya kala itu tak aku indahkan, aku mengerjap berusaha untuk menyadarkan diriku pada saat itu, apakah aku masih berada di alam mimpiku? Ataukah justru ini adalah ilusi semata dari rasa sakit yang tidak bisa tertahankan di saat itu?
Karena aku tak kunjung menjawabnya, ia pun akhirnya kembali bertanya kepadaku dan kembali menyadarkanku jika ini adalah nyata dan sangat amat nyata, karena pasalnya saat itu ia meletakan bubur yang terasa hangat itu di atas pangkuanku.
“Kau baik-baik saja?” itu lah yang Mark tanyakan kepadaku, dan hal itu membuatku kini mengangguk menanggapi pertanyaannya di sana.
“Y … ya … aku baik!” ucapku kepadanya yang kini mengangguk menanggapi hal itu untuk kemudian terduduk di samping ranjangku dan kemudian berkata,
“Eum … maafkan aku atas perlakuanku pagi tadi kepadamu, Sophia!” ucapnya kepadaku, dan hal itu membuatku kini mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan perubahan sikap yang diperlihatkan oleh Mark kepadaku pada saat itu, karena setahuku, Mark adalah seorang psikopat yang tidak memiliki hati, yang pada akhirnya aku yang merasa penasaran ini pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
“Kenapa?” tanyaku kepadanya yang kini mengerutkan dahi mendengar pertanyaanku yang sepertinya belum terdengar jelas olehnya, dan pada akhirnya aku kembali bertanya kepadanya dengan kalimat yang jelas,
“Kenapa secara tiba-tiba sikapmu berubah kepadaku?” itu lah yang aku tanyakan kepada Mark yang ada di hadapanku yang kini menatapku dengan sangat aneh, yang kemudian Mark pun berkata,
“Itu … karena kau adalah orang yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, Sophia!” jelasnya kepadaku, dan jujur … aku terkejut dengan apa yang ia katakan di sana, yang tentu saja membuatku kembali bertanya,
“Apa?? kenapa bisa seperti itu?” tanyaku kepadanya, dan membuatnya kini tersenyum dengan ketir seraya berkata,
“Itu bukan urusanmu … makan lah … dan setelahnya aku akan mengantarmu kembali ke sel mu!” ucapnya kepadaku, ia kembali berubah menjadi orang yang berbeda persekian detik, yang membuatku cukup kaget dan ketakutan saat ini.
“T.. tunggu! A… aku tidak mengerti, kenapa kau seperti ini kepadaku, Mark?” tanyaku kepadanya, namun aku terentak kala Mark kembali menyentakku dengan keras dan berkata,
“Lakukan perintahku atau aku akan membunuhmu Sophia!!” itu lah geramnya dan aku segera mengangguk takut menanggapi ucapan itu.
“M … Mark, jika kau tidak memiliki teman … a .. aku bisa menjadi temanmu!” ucapku kepadanya yang kini menolehku dengan tajam seraya berkata,
“Aku tidak butuh teman, Sophia … makan lah sebelum kesabaranku habis!” ucapnya kepadaku, yang pada akhirnya aku pun melahap bubur pemberiannya itu dengan lahap, dan itu adalah bubur gandum instan, meski pun hanya itu saja, namun aku merasa sangat senang karena setidaknya aku makan makanan yang layak di bandingkan dengan buah-buahan busuk yang selalu ia bawa untukku.
…
Baiklah … katakan saja jika aku tinggal di tempat yang nayaman untuk waktu yang sangat singkat, sebelum akhirnya ia kembali membawaku ke sebuah ruangan tempat di mana pertama kalinya aku di sekap, yang tentu saja perjalanan dari ruangan itu ke ruanganku sangat jauh, dan ia dengan sengaja menutup kedua mataku dengan kain sertta menutup kepalaku dengan kantung kain, ia juga sengaja mengikat kedua tanganku agar aku tidak lepas atau kabur darinya.
Dan kini, di sini lah aku … berada di ruangan gelap nan lembab lagi, dengan kedua tangan serta kaki yang kembali di ikat seperti pertama kali aku di sekap, posisi itu tetap sama, aku bersimpuh dengan kedua tangan yang terangkat karena terikat di sana.
Aku terdiam dan teringat dengan sorot mata dari Mark yang menatapku beberapa waktu yang lalu, aku merasa bahwa dari dalam tatapan itu terdapat sorot mata kesepian darinya, seolah ia menantikan sebuah kasih sayang, yang membuatku yakin jika kala itu ia sangat menginginkan kasih sayang.
“Apakah aku harus memberikan apa yang ia dambakan?” gumamku dengan pelan, karena pada saat itu aku sendirian di dalam ruangan gelap nan lembab tersebut.
Sungguh? Apakah aku harus melakukannya? Itu lah yang ada di dalam benakku saat itu, merasa keraguan mulai menyeruak masuk ke dalam diriku ketika memikirkannya. Yang membuatku tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya harus aku lakukan kala itu.
Di saat pikiranku tengah larut pada saat itu, seseorang datang dan mengejutkanku, karena pada kenyataannya orang yang datang bukanlah Mark, melainkan Scarlet, yang tentu saja hal itu sangat mengejutkanku setengah mati, ketika melihatnya dengan histeris memanggil namaku dan segera berlari mendekatiku untuk kemudian melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan serta kakiku di sana.
“S… Scarlet?” tanyaku kepadanya yang kini terlihat cemas dan khawatir di sana,
“Kita harus segera pergi dari sini, Scarlet!” ucapnya kepadaku yang kini membuatku mengerutkan dahi dan kembali bertanya,
“Ba … bagaimana bisa kau menemukanku!” itu lah yang ada di dalam benakku yang pada akhirnya melontarkan hal itu kepadanya.
“Ini bukan saatnya untuk berbincang, ayo kita pergi!” ucap Scarlet kepadaku, yang kini menarikku untuk terbangkit dari sana. Aku merasa bahwa hari itu adalah mimpi bagiku, karena hal-hal tak terduga datang kepadaku secara terus menerus.
…