Hari Ulang Tahun

1187 Kata
Sudah satu minggu lamanya aku berada di dalam ruangan lembab yang minim akan cahaya itu, dan di setiap paginya, aku selalu mencuri-curi pandang ke arah sekeliling dan berusaha untuk mencari celah untuk melarikan diri, meski itu sangat kecil. Crang!! Crang!! Aku mendengar kode yang di lakukan oleh Emely di pagi itu, dan aku tahu ia bertanya kepadaku dengan berkata, ‘Are u ok?’, dan tentu saja aku langsung menjawabnya dengan berkata, ‘Ok’, namun tentu saja aku menjawabnya dengan kode Morse di sana. Ingatanku kembali kepada malam itu, di mana Mark tidak menyiksaku dan juga aku yakin jika itu bukan Emely, karena pada kenyataannya ketika aku bertanya apakah dia baik-baik saja, dia membalasku dengan berkata bahwa ia baik-baik saja di sana. Merasa penasaran, aku pun berusaha untuk bertanya kepada Emely mengenai orang yang di siksa oleh Mark malam itu, namun sepertinya Emely juga tidak mengetahui apa yang aku ucapkan dengan berkata, ‘What you mean? I don’t understand!’ Jelasnya kepadaku, yang pada akhirnya aku merasa kebingungan dengan diriku sendiri, bingung akan kejadian malam tadi yang aku rasakan, apakah itu hanya sebuah halusinasiku saja? Atau kah itu memang benar terjadi? Aku merasa kacau pada saat itu, namun aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dan kemudian kembali bertanya kepada Emely perihal apa yang harus kita lakukan agar setidaknya kita ada perlawanan untuk terbebas dari Mark pada saat itu. ‘Aku tidak yakin akan hal itu, Sophia … jika memang kita lolos, apakah kita akan berhasil kabur dan tidak tertangkap lagi?’ Pertanyaan Emely pada saat itu lah yang membuatku terdiam dan menyadarinya, ya … apakah kami bisa melepaskan diri dan kabur dari Mark, tanpa tertangkap lagi? Namun aku setidaknya harus melakukan sebuah cara agar setidaknya aku bisa terlolos dari kungkungan dan siksaannya, dan aku merasa bahwa aku harus melakukan sesuatu malam itu. … Waktu bergulir dengan cepat, aku merasa kehausan saat itu … tak ada air yang bisa memuaskan dahagaku pada saat itu. Creng! Pandanganku kini tertuju ke arah pintu, yang kala itu sengaja di pukul oleh Mark yang berlalu begitu saja di sana, dan aku merasa bahwa aku membutuhkan air dan benar-benar butuk, hingga dengan pasrah aku pun memberanikan diri untuk memanggilnya. “Mark!! Mhh … Markh!” ucapku dengan parau, namun untungnya dia mendengar dan menoleh ke arahku yang kini merasa senang ketika ia melihatku saat itu. “Hh … hhh …” napasku memburu, merasa bahwa aku sudah tidak kuat lagi dan membutuhkan sesuatu untuk aku minum. “Kh … kau terlihat tersiksa, Sophia … apa yang kau butuhkan, huh?” tanya Mark yang kini berjalan mendekat ke arahku, dan hal itu membuatku pasrah dan berucap dengan lemas bahwa aku membutuhkan Air, Air lah yang ku butuhkan saat itu. “Airhh … aku butuh air, Mark … ku mohonh … aku haus!” ucapku dengan parau, dan aku yakin ia tidak akan semudah itu memberikan segelas air untukku dan malah memukulku, namun setidaknya aku pasti akan diberikan air setelahnya. Namun, aku tidak pernah menyangka tindakan Mark saat itu mengejutkanku, karena kini tanpa memukul atau terkekeh ia memberikan air kemasan yang ia miliki kepadaku. Aku melihat air kemasan itu masih tersegel, dan bahkan ia membukakan tutup botolnya untukku. “Ini … minumlah airnya!” ucapnya kepadaku seraya menempelkan botol air itu kepadaku, dan tentu saja aku langsung meneguk air itu dengan mencondongkan tubuhku ke bawah agar air itu bisa masuk ke dalam tenggorokanku dengan mudah, mengingat jika kedua tanganku yang terluka di sana tidak dapat bergerak dengan leluasa karena terikat. Glup … Glup! Glup! “Uhuk!!” Aku terbatuk karena ulahku sendiri yang tidak sabaran menegak air tersebut, yang membuat Mark secara mengejutkan berkata, “Minum perlahan! Tidak akan ada yang mengambilnya!” ucap Mark kepadaku, dan baru kali itu aku melihat satu sisi baik dari Mark yang tidak pernah aku sadari selama satu minggu berada di dalam ruangan itu. “Hh … hh … terima kasih!” ucapku dengan pelan, dan kini ia tidak menjawabnya melainkan beranjak dari hadapanku untuk kemudian pergi meninggalkanku di ruangan itu seorang diri lagi, yang tentu saja tindakan itu membuatku bingung sekaligus terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sifatnya menjadi baik seperti itu? Apakah aku tengah berhalusinasi saat ini? itu lah yang ada di dalam benakku saat ini ketika merasa bahwa tindakan Mark sangat aneh di sore hari itu. Namun, ingatanku kembali terputar kepada pak Satpam yang pernah memberikan data-data diri para penghuni apartemen kepadaku, dan aku mengingat jika Mark Lahir pada tanggal 9 agustus, yang tentu saja membuatku kini berusaha untuk menghitung hari dan tanggal, dan ternyata hari itu jatuh pada hari ini! Ini adalah hari ulang tahun darinya! Dan tentu saja hal itu bisa aku manfaatkan sebaik mungkin di sana. Tidak lama dari waktu aku menyadarinya, suara langkah kaki kembali terdengar di lorong itu, membuatku kini tahu jika itu adalah Mark, dan membuatku segera memanggil namanya ketika ia berjalan melalui ruanganku di sana. “M… Mark! Mark!” panggilku kepadanya, yang kembali membuatnya menoleh menatapku di sana, “A… ada yang ingin aku berikan untukmu!” ucapku kepadanya, yang kini dengan jelas aku dapat melihat ia mengerutkan dahinya merasa penasaran dengan apa yang akan aku berikan di sana, sehingga kini ia berjalan kembali masuk ke dalam ruanganku itu. “Apa yang akan kau berikan?” tanya Mark kepadaku, aku berusaha untuk mengembangkan senyuman manisku kepadanya, meski sebenarnya aku merasa takut kepada dirinya saat itu, “B … bisakah kau mendekat? A.. aku sulit memberikannya jika kau berada di situ!” ucapku berusaha agar ia mendekat saat ini kepadaku, namun nampaknya ia tidak mudah tertipu dan kini terkekeh seraya berkata, “Khkh … kau tahu? Jika kau berusaha untuk membuatku mendekat padamu agar kau bisa leluasa menghajar dan meloloskan diri, aku bisa saja langsung mematahkan lehermu saat itu juga!” jelasnya mengancamku, dan hal itu tentu saja membuatku menelan ludahku sendiri, merasa ngeri mendengarnya berkata seperti itu, Aku menggeleng seraya tersenyum dengan tenang. “Ti … tidak mungkin aku melakukannya, aku tidak mampu melakukan hal itu, kau tidak lihat? Kedua tanganku yang sudah terluka ini? Aku bahkan tidak bisa merasakannya!” jelasku meyakinkan Mark pada saat itu, yang pada akhirnya ia pun berjalan mendekatiku di sana, ia berjongkok tepat di hadapanku, “Me … mendekat lah lagi!” ucapnya, dan hal itu membuatnya melangkah satu langkah lagi dan jarak kami hanya satu jengkal saja, dan hal itu membuatku segera mendekat dan mengecupnya dengan cepat. “...” “Se… selamat ulang tahun!” itu lah yang aku ucapkan kepadanya yang terdiam ketika aku mengecupnya di sana, aku sedikit takut karena kini kedua matanya menatapku dengan tajam, dan dengan cepat ia mencekikku dan membuatku terkejut bukan main. “Ught!!” “Kau pikir aku akan lemah ketika kau melakukan itu kepadaku, Huh?!” ucapnya menggeram di sana, dan bahkan cekikkan itu sangat menyiksaku saat itu, aku menggelengkan kepala dengan cepat untuk membantah ucapannya, “A… akuhh … hk… anyahh …ingin… kh … memberhh… ikhan… hadiah!” ucapku terbata kepadanya, yang seketika saja aku merasa kesulitan untuk bernapas, hingga akhirnya aku kembali tidak sadarkan diri karena Mark mencekikku dengan kuat, dan membuatku yakin jika aku tidak akan selamat di hari itu. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN