Hadiah (Warning)

1558 Kata
“Hh … hh …” Dengan jelas aku dapat mendengar suara napasku yang mulai menderu-deru, pandanganku yang kala itu hanya dapat melihat gelap, kini samar dan menjadi jelas di saat aku mendapati diriku kini berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak aku kenali. Berkali-kali aku menggelengkan kepalaku ketika merasa pening di sana, dan aku seketika terkejut ketika menyadari bahwa kedua tanganku terangkat dan terikat di sana, yang tentu saja membuatku menjadi ketakutan dan berusaha untuk meronta, melepaskan diri dari ikatan yang terbuat dari besi yang saling berkaitan di sana. “Euhh… heu …. Tolong!!!” aku berteriak sekencang mungkin, ketika menyadari bahwa diriku tidak akan baik-baik saja berada di sana. Alih-alih mendapat bantuan, aku mendengar seseorang tertawa di balik kegelapan yang terletak di pojok ruangan tersebut, yang tentu saja membuat napasku seketika tertahan dan aku berjengit ketakutan ketika menyadari bahwa pergerakanku saat ini tengah di pantau oleh orang yang tertawa di sana. Tap … tap … tap … Seiringan dengan langkah kakinya yang mendekat, membuatku merasa semakin ketakutan karenanya, ya … lelaki itu amat aku kenali, dan kini aku merasa jika aku tidak menyangka akan hal yang terjadi pada saat itu. Mark, lelaki tampan berkulit pucat yang senyumannya sempat aku kagumi itu, adalah seorang psikopat, yang tentu saja aku menarik penilaian itu dari banyaknya photo penyiksaan yang tergantung di dalam ruangan itu. Memikirkan hal itu, tiba-tiba saja membuatku teringat dengan kondiri dari Andrew, yang membuatku mulai mencemaskannya saat itu. “Kau tahu … pada awalnya, aku sengaja membiarkanmu, karena kau adalah orang yang ramah ketika kali pertama kita bertemu! Tapi kenapa? Kau menjadi menyebalkan setelahnya?” itu lah yang di lontarkan oleh Mark yang kini meraih sebuah bangku kayu yang usang di sana, untuk akhirnya terduduk tepat di hadapanku saat itu. Hal yang yang aku rasakan pada saat itu adalah ketakutan, aku tidak tahu apa yang terjadi ketika aku pingsan, namun aku sangat mencemaskan kondisi dari Andrew yang tidak bisa aku pastikan. Hal yang bisa aku lakukan pada saat itu adalha menangis, aku merasa ketakutan dan bahkan ketika Mark tersenyum dengan seringaiannya itu kepadaku. “Hei … Sophia … tidakkah kau penasaran dengan kondisi lelakimu itu, huh?” pandanganku seketika menoleh menatap Mark dengan perasaan takut sekaligus penasaran, yang kini membuatnya tergelak melihatku yang seperti itu, seolah reaksiku adalah sebuah hiburan baginya pada saat itu. “Apa yang terjadi kepadanya, Mark?? aku mohon katakan padaku, apa yang kau lakukan padanya!!” jeritku menggelegar, dan ia yang kala itu tertawa semakin kencang pun kini segera mendekatiku dengan cepat dan meremas daguku seraya berkata, “Aku?? kh … aku hanya membiarkannya kehabisan darah di sana! Tak akan ada yang menemukannya, Andrew telah mati … dan itu karenamu, Sophia!” tubuhku seketika bergetar mendengarnya berkata seperti itu, aku menggelengkan kepalaku tidak mempercayai perkatannya yang kini kembali tertawa ketika melihatku yang seperti itu saat ini, aku menangis dan berusaha untuk meyakini diriku bahwa Andrew selamat dan Mark berbohong pada saat itu. Namun, ketika melihat kedua mata Mark yang menyorotkan kekejaman di sana, membuatku yakin jika Andrew telah tiada. Aku menangis merasa bahwa aku memang lah penyebabnya tewas, aku tidak percaya beberapa detik yang lalu, jelas-jelas aku melihatnya dan ia ada bersamaku, dan kini aku berada di ruangan yang tidak aku ketahui, terikat dengan rantai panjang serta seorang psikopat yang kini tertawa dan terduduk tepat di hadapanku. “A…Aku mohon … Mark, lepaskan aku!” ucapku memohon kepadanya, aku menangis mempelihatkan kelemahanku kepadanya, agar setidaknya membuat Mark merasa iba pada saat itu. Namun, alih-alih merasa iba, lelaki psikopat itu tertawa dan menggelengkan kepalanya di hadapanku. “Oh, Baby ~ kau barus saja datang kemari! Tidak mudah bagiku untuk melepasmu secepat itu! Lagi pula … aku akan melepaskanmu ketika hanya ragamu lah yang tersisa di dalam ruangan ini!” jelasnya dengan seringaian itu, dan pada awalnya seringaian itu terlihat sangat memukau diriku di masa lalu, namun kini … seringaian itu terasa sangat mengerikan dan membuatku takut kepadanya. “...” aku tidak bisa melakukan apapun selain terdiam di dalam isakkanku saat itu, sedangkan Mark kini kembali tersenyum menatapku untuk kemudian beranjak dari kursinya untuk kemudian berkata, “Untuk malam ini, kubiarkan kau … aku tidak mungkin memberikan sebuah hadiah dengan cepat bukan? Jadi … untuk hari ini, tidur lah dengan nyaman dan bermimpi indahlah, karena esok … aku tidak yakin kau akan tertidur atau bermimpi indah lagi, Sophia! Karena aku adalah mimpi buruk bagi mereka dan begitu pun bagimu!” tubuhku bergetar hebat ketika ia berbisik tepat di telingaku, dan pada saat itu aku sama sekali tidak dapat bergerak, bukan karena keterbatasanku yang diikat oleh rantai pada saat itu, namun karena Mark terlihat sangat menyeramkan, dan aku sangat ketakutan karenanya. Setelah membisikkan hal yang membuatku ketakutan pada saat itu, ia pun berjalan pergi meninggalkan diriku di dalam ruangan separuh gelap itu, membiarkanku menangis tersedu-sedu dan berteriak meminta pertolongan, berharap jika setidaknya ada seseorang yang mendengar jeritanku pada malam itu. Aku menyesal … merasa amat menyesal pada saat itu, jika aku dapat mengulang waktu, aku tidak akan memaksakan egoku dan mengikuti apa saran dari Andrew yang mengatakan bahwa kami harus segera pergi dan mengabaikan ruangan terakhir, atau bahkan aku akan mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam ruangan tiga lima sembilan itu, dan langsung melaporkan kepada Sir Nicholas dan membiarkan dirinya yang bertindak. Jika aku melakukan itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi! Andrew akan baik-baik saja jika aku tidak melakukannya, dan bahkan aku tidak akan berada di sini bila aku mengurungkan niatku itu. Semua hal itu membuatku sangat menyesal dan berteriak sekencangnya, merasa marah kepada diriku sendiri. Semua hal yang telah terjadi saat ini, membuatku berharap jika ini adalah mimpi burukku, dan aku ingin segera terbangun dari mimpi itu! Aku tidak ingin ini menjadi nyata, aku tidak ingin … aku ingin pulang, aku ingin terbangun! Namun sekuat apa pun aku berusaha untuk menyadarkan diriku di sana, aku tetap berada di dalam ruangan yang lembab dan gelap itu, dengan kedua tangan serta kaki yang terikat. Hingga aku akhirnya tersadar jika ini bukan lah mimpi, namun ini adalah mimpi buruk yang menjelma menjadi sebuah kenyataan yang menakutkan, hingga aku tidak tahu harus melakukan apa pada saat itu. “Hh … hhh …” Napasku masih menderu-deru pada saat itu, dan aku pun kembali tidak sadarkan diri ketika merasa bahwa seluruh tenagaku sudah terkuras habis pada saat itu, semua tenagaku habis untuk berteriak, meronta dan bahkan berusaha untuk melepaskan diri dari rantai yang mengikatku di dalam ruangan gelap yang tidak ku ketahui. … Blrrbb … Kung … Aku mendengar suara air di sekitarku pada saat itu, dan detik kemudian aku tersadar jika aku tak mampu untuk menghirup udara di sana, yang tentu saja membuatku tersadar dan mendapati diriku tengah ditenggelamkan di dalam sebuah genangan air oleh sebuah tangan yang mendorong kepalaku untuk masuk lebih dalam lagi ke dasar genangan air tersebut. Bohong jika aku tidak panik saat itu, aku meronta sekuat tenaga dan berteriak di dalam air itu, untuk detik kemudian tangan yang mendorongku itu menarikku ke atas, hingga akhirnya aku dapat menghirup udara bebas di sana. Namun, aku tidka serta merta bisa bernapas, karena terkejut aku menjadi terbatuk setelah merasa bahwa air genangan itu masuk ke dalam paru-paruku. “Ah … akhirnya kau terbangun juga!” “Uhuk!! Uhuk!!” pandanganku beralih menatap Mark yang kini berdiri dari sampingku untuk kemudian meraih sebuah tali tambang besar yang kemudian ia lilitkan dengan santai di tangannya hingga pergelangan tangan. “Hh … hh … kenapa kau lakukan ini?? aku tidak berbuat jahat kepadamu, Mark, tapi kenapa kau melakukan ini padaku!!” aku berteriak, merasakan emosi menjulur di hatiku yang kini menjadi terbakar karenanya, pandanganku menatap tajam ke arah Mark yang kini masih melilitkan tali itu dan kemudian mengikatnya, menjadikannya semacam sebuah cambuk yang siap akan ia pecutkan kepadaku, dan aku tahu akan niatnya itu dari kedua matanya yang tersoro ke arahku. Ia menatapku seolah ia ingin menyiksaku detik itu juga. CTAKK!! Aku hanya bisa memejamkan kedua mataku takut, ketika ia dengan sengaja memecut udara kosong di sana untuk membuatku takut akan dirinya. “Kau benar … kau tidak berbuat jahat kepadaku, Sophia … tapi kau menyebalkan! Dan sesuai dengan apa yang aku janjikan semalam, aku akan memberimu hadiah! Jadi bersiap lah!” gumamnya lagi, dan hal itu tentu saja mendatangkan vibes yang tidak aku inginkan di sana. “Anggap saja hadiah ini sebagai balasan dari kue kering yang kau berikan kepadaku, dan juga sapaan menjengkelkan yang selalu kau lontarkan kepadaku, Sophia!” ucapnya di sana seraya mengayunkan tali tambang yang meliliti lengannya di sana kepadaku, ia mengayunkan tali itu dengan sangat-sangat kencang, hingga aku spontan menutup kedua mataku, tidak ingin melihat apa yang akan terjadi kepadaku saat itu. CTAKK!!! Suara pecut yang menggelegar pada saat itu, menyertai rasa sakit yang timbul di lengan kiriku yang terulur, hingga aku menjerit kesakitan saat itu, mengetahui jika Mark tidak main-main atas perkataannya di sana, dan aku sadar jika aku akan disiksa habi-habisan olehnya hari itu. Aku tidak mampu melakukan apapun, dan bahkan aku hanya terus menjerit dan menangis ketika berkali-kali suara pecutan dari tambang itu terdengar di telingaku, dan bersamaan dengan rasa sakit yang terus menderaku hingga dapat dengan samar aku rasakan sebuah cairan kental mengalir dari lengan kiriku yang terus di pecut olehnya. Ia hanya menghajarku di satu titik itu, dan terus melakukannya hingga aku merasa mati rasa karenanya, ia sengaja melakukannya dan aku sadar akan hal itu. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN